
Teriakan Ferdi yang terdengar sangat bahagia itu berhasil mengganggu indera pendengaran Velicia yang sedang berada dalam kamarnya.
Ceklek!
Velicia keluar dari dalam kamarnya. Dia tersenyum kecut melihat Ferdi yang terlihat sangat bahagia sedang bermain bersama dengan kucing asing.
"Siapa dia Mas?" tanya Velicia sambil tersenyum getir.
Ferdi menoleh ke arah Velicia dan dia tersenyum dengan lebarnya menandakan bahwa dia sedang bahagia saat ini.
"Ini Cinta. Dia pengganti Lili. Lucu kan?" tutur Ferdi sambil menggendong Cinta berjalan mendekati Velicia.
Velicia tersenyum sinis melihat Ferdi memperkenalkan anak kucing tersebut dengan nama Cinta.
"Cinta, ini Bunda, Bundanya Cinta. Kamu gak boleh nakal ya, harus menurut sama Bunda," ucap Ferdi sambil menyerahkan Cinta pada Velicia.
"Bunda? Jadi sekarang aku jadi Bundanya Cinta?" tanya Velicia dengan memperlihatkan wajah tidak percayanya.
Ferdi tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan istrinya.
Velicia tersenyum tidak percaya, bahkan kini dia menertawakan dirinya sendiri dalam hatinya.
Namun, perhatian Velicia teralihkan pada anak kucing persia berwarna abu-abu itu, Cinta menjilati tangan Velicia sambil mengeong melihat Velicia.
Hati Velicia tergerak, kekesalannya pada anak kucing yang bernama Cinta itu kini sirnalah sudah.
Wajah lucu dan menggemaskan dari Cinta mampu membuat bibir Velicia bergerak melengkung ke atas dengan sendirinya.
Dengan refleknya Velicia mengusap dengan lembut bulu halus dan lebat milik Cinta. Dia merasakan seperti menemukan Lili kembali.
Memang hati Velicia yang lembut itu dengan gampangnya bisa tergerak dan luluh pada apapun. Dia wanita penyayang dan baik hati, hingga dengan gampangnya dia bisa memaafkan kesalahan suaminya selama ini.
Apalagi dengan adanya perasaannya pada Raymond, dia merasa bersalah pada suaminya dan dengan mudahnya dia memaafkan suaminya.
"Lucu kan Bunda? Mulai sekarang, Bunda rawat Cinta baik-baik agar tidak ada kejadian seperti yang dialami oleh Lili," ucap Ferdi sambil mengusap lembut bulu Cinta yang ada dalam gendongan Velicia.
Velicia beralih memandang suaminya setelah mendengar perkataannya. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Maaf Mas, sebaiknya Cinta kita rawat bersama. Bukannya Mas Ferdi Ayahnya? Jika hanya aku saja yang merawatnya, aku takut Cinta akan terlantar karena aku juga bekerja, sama seperti Mas Ferdi," tutur Velicia dengan tegas dan tatapan matanya mengisyaratkan ketegasannya dalam berbicara pada suaminya.
Dahi Ferdi mengernyit. Dia merasa aneh dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Bukannya Bunda lebih dulu pulang dibandingkan aku?" tanya Ferdi dengan heran.
"Tidak selalu bukan? Aku juga ingin bersenang-senang menghabiskan waktuku dengan temanku, sama seperti Mas Ferdi," jawab Velicia sambil tersenyum pada suaminya.
Kemudian Velicia berjalan menuju sofa dan duduk di sana dengan memangku Cinta. Sedangkan Ferdi, dia merasa tertohok dengan perkataan istrinya yang seolah menyindirnya.
"Aku gak setiap hari pulang telat Bun," protes Ferdi sambil berjalan ke arah Velicia.
"Aku gak pernah ngomong kalau Mas Ferdi selalu telat. Dan aku juga mau mengatakan jika minggu ini aku akan pergi ke acara reuni SMA di rumah temanku," tutur Velicia tanpa menghadap ke arah suaminya, dia lebih asik bermain bersama Cinta.
Ferdi memandang heran pada istrinya. Selama ini istrinya itu tidak pernah keluar rumah tanpa dirinya. Ke mana-mana selalu bersama dengan dirinya.
Hanya saja ketika Velicia sedang bekerja, Ferdi tidak berada bersamanya karena mereka sama-sama bekerja.
Dan akhir-akhir ini Velicia sering sekali pulang telat serta pergi keluar rumah tanpa dirinya. Hal itu yang membuat Ferdi merasa heran.
Apalagi saat ini sering sekali Ferdi merasa jika sikap istrinya itu sedikit berbeda. Banyak hal yang membuatnya terlihat canggung serta janggal di mata Ferdi.
Sontak saja Velicia merasa bingung, dengan cepatnya dia mencari alasan agar suaminya tidak mengantarnya.
"Rumahnya di luar kota. Mas Ferdi gak usah mengantar, biar aku berangkat bersama dengan teman-teman yang lain saja," jawab Velicia dengan sedikit gugup.
Ferdi mengernyitkan dahinya, dia kembali merasakan keanehan dengan jawaban istrinya.
"Kenapa harus ke luar kota Bunda? Kenapa gak di sini saja? Sekolah Bunda kan ada di kota ini," tanya Ferdi menyelidik.
Velicia menghela nafasnya mendengar pertanyaan dari suaminya yang seolah keberatan akan kepergiannya.
"Temanku baru pindah ke luar kota bersama suaminya. Kita pergi ke sana sekalian merayakan acara menempati rumah barunya," jawab Velicia tanpa melihat ke arah suaminya.
Velicia memang tidak bisa berbohong. Wajah dan gelagatnya pasti bisa terbaca dengan mudah oleh orang yang melihatnya.
Dengan segera dia meletakkan Cinta di atas tempat tidur milik Lili, kemudian dia berjalan masuk ke dalam kamarnya agar suaminya tidak lagi banyak bertanya padanya.
__ADS_1
Ferdi menghela nafasnya dengan berat. Dia melihat ke arah sofa yang didudukinya dan kembali menghela nafasnya.
Sepertinya malam ini aku harus benar-benar tidur di sini, Ferdi berkata dalam hatinya sambil mengusap dudukan sofa yang didudukinya.
Diambilnya bantal dan selimut dari kamar lainnya. Dia tidak berani masuk ke dalam kamarnya agar istrinya tidak bertambah marah padanya.
Di dalam kamarnya, Velicia merasa bersalah pada suaminya. Tetapi sekelebat bayangan Lani yang tersenyum di depan rumahnya membuat rasa bersalah pada suaminya itu hilang seketika.
"Sepertinya kita harus mencari kesenangan sendiri-sendiri," ucap Velicia lirih sambil tersenyum getir.
Sungguh Velicia tidak pernah mengharapkan jika rumah tangga mereka akan seperti itu. Bahkan membayangkannya saja dia tidak akan pernah sanggup.
Dia pun tidak bisa membayangkan bagaimana akhir dari kisah mereka. Saat ini dia hanya bisa mengikuti alur kehidupan mereka.
"Maafkan aku Tuhan, aku hanya ingin bahagia. Aku hanya ingin merasakan dicintai dan mencintai lebih dari hanya sekedar menyukai. Tolong ijinkan aku merasakan kebahagiaan dalam hidupku," ucap Velicia lirih sambil menatap langit-langit kamarnya sebelum dia memejamkan matanya.
Hari itu tiba. Hari di mana Velicia akan bertemu dengan Raymond dan mereka akan bersama menikmati hari libur mereka.
Velicia tersenyum melihat bayangan dirinya dalam cermin yang ada di hadapannya.
"Ah cantiknya…," ucap Velicia sambil tersenyum bahagia.
Pagi ini dia memakai celana jeans dengan atasan berwarna pink yang terkesan girly dengan aksen renda di dadanya.
"Sudah jam tujuh, aku harus segera menyiapkan sarapan agar dia tidak menunggu terlalu lama," ucap Velicia lirih sambil melihat ke arah jam yang melilit di tangan kirinya.
Tampak Ferdi yang bermain dengan Cinta di depan televisi. Tanpa menyapa Ferdi dan Cinta, Velicia segera berjalan menuju dapur dan bergegas membuat kopi untuk suaminya dan jus buah untuk dirinya sendiri, serta menyiapkan roti tawar dengan selain di atas meja makan.
"Makan dulu Mas. Sarapannya sudah siap," seru Velicia dari meja makan.
Mendengar seruan dari istrinya, Ferdi segera meletakkan anak kucing yang dianggapnya seperti anaknya itu di atas tempat tidurnya. Kemudian dia bergegas berjalan menuju ruang makan agar istrinya tidak terlalu lama menunggunya.
"Sarapannya cuma ini Bunda?" tanya Ferdi sambil menunjuk roti yang sudah diolesi dengan selai di atas piringnya.
"Iya. Maaf Mas, aku buru-buru," jawab Velicia setelah menelan makanannya.
Ferdi menatap makanan di atas piringnya itu sambil menghela nafasnya. Dengan terpaksa dia memakannya meskipun tidak berselera.
__ADS_1
"Bunda pergi ke acara pindahan rumah teman kamu dengan menggunakan tas ransel? Kenapa tidak memakai tas kecil saja?" tanya Ferdi dengan tatapan heran melihat tas ransel yang akan dibawa Velicia pergi saat ini.