
Dalam perjalanan pulang, Tania merasa jika suaminya menjadi pendiam. Dia sadar jika Raymond seorang yang pendiam, sama seperti Velicia. Tapi saat ini Tania merasa suaminya itu menjadi lebih diam dari sebelumnya.
“Sayang, apa ada masalah?” tanya Tania saat mereka makan malam di rumah.
Raymond yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya, kini menghentikan gerakannya. Kemudian dia menatap istrinya dengan wajah datar selama beberapa detik. Kemudian dia kembali mengaduk-aduk makanannya seolah dia tidak bernafsu untuk memakan makanan tersebut.
“Kenapa dari tadi kamu diam saja?” tanya Tania kembali dengan rasa ingin tahunya.
Raymond menghela nafasnya seperti orang yang tidak memiliki harapan lagi. Kemudian dia berkata,
“Aku…,” Raymond menggantungkan perkataannya, dia ragu sehingga tidak bisa mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
“Ada apa?” tanya Tania dengan antusias.
Raymond meletakkan sendok dan garpunya. Kemudian dia kembali memandang istrinya sambil berkata,
“Tania, sepertinya aku perlu waktu untuk sendiri.”
Tania merasa seperti sedang ditolak oleh suaminya. Dia hanya melihat suaminya yang berjalan masuk ke dalam kamarnya.
“Raymond kenapa sih kok jadi aneh gitu?” ucap Tania lirih sambil memandang punggung suaminya yang masuk ke dalam kamar mereka.
Di dalam kamarnya, Raymond sedang berpikir. Dia sangat frustasi memikirkan nasib percintaannya. Dia sangat khawatir pada Velicia, karena takut jika dia akan terluka apabila semuanya terungkap. Tapi, dia ingin sekali bersamanya.
Raymond berjalan mondar-mandir dengan sesekali menjambak rambutnya. Dia mencoba mencari jalan keluar agar mereka tetap bisa bertemu.
Akhirnya, Raymond memutuskan untuk menghubungi Velicia malam itu. Dia berharap jika Velicia tidak menghindari panggilan telepon darinya. Sepanjang telepon itu berdering, dia berdoa dalam hatinya agar Velicia segera menerima panggilan teleponnya.
Setelah tiga kali Raymond melakukan panggilan telepon itu, Velicia mengangkatnya tepat pada panggilan yang ketiga.
“Halo… Ve, apa kamu belum tidur?” tanya Raymond melalui telepon.
__ADS_1
Kurang lebih selama dua puluh detik Velicia hanya terdiam. Dia memejamkan matanya dan mengigit bibir bawahnya ketika mendengar suara laki-laki yang sedari tadi dirindukannya. Kemudian dia berkata dengan suara yang bergetar,
Belum. Kamu?
“Aku juga belum. Aku merindukanmu,” ucap Raymond sambil melihat langit malam dari balkonnya.
Velicia kembali terdiam setelah mendengar perkataan dari Raymond. Dalam hatinya dia berkata,
Aku juga merindukanmu Ray.
Karena tidak ada jawaban dari Velicia, Raymond kembali mengatakan sesuatu untuk bahan pembicaraan mereka.
“Hari itu aku tidak bisa menghapus nomormu. Maafkan aku Ve,” ucap Raymond dengan raut wajah sedihnya.
Perkataan Raymond itu sampai di telinga velicia dengan penuh kesedihan meskipun dia tidak bisa melihat wajah Raymond ketika mengatakannya.
“Ve, apa kamu masih di sana?” tanya Raymond cemas karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari Velicia.
Ya, jawab Velicia singkat.
Velicia menggigit jari kukunya berusaha untuk menahan tangisnya. Dalam hatinya berkata,
Kamu tidak tau Ray, hati dan jiwaku menangis sepanjang perjalanan pulang tadi. Dan malam ini, aku tidak bisa lagi menahan air mataku. Ku tutupi air mataku dengan selimut agar suamiku tidak mengetahuinya. Dan sekarang, aku mohon jangan membuatku menangis lagi. Aku takut jika rasa cintaku akan bertambah banyak sebanyak air mataku yang keluar untukmu.
Tania tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dia ingin menanyakan tentang perubahan sikap suaminya yang menjadi lebih pendiam itu setelah mereka makan di café tadi.
Pintu kamar dibuka oleh Tania. Dia mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan kamarnya. Sayangnya dengan hanya berbekal lampu tidur saja dia tidak melihat keberadaan suaminya.
Masuklah dia ke dalam kamarnya dengan pelan-pelan kerena takut akan mengganggu suaminya yang sedang beristirahat. Seketika matanya membelalak ketika melihat suaminya sedang berdiri di balkon kamarnya dengan cahaya lampu yang temaram.
Tania menghentikan langkahnya dan menatap suaminya dengan penuh tanda tanya. Sangat jelas terlihat dari tempatnya saat ini suaminya sedang menelepon seseorang dengan wajah yang serius. Lama dia berdiri di sana dan tidak bergerak sedikit pun agar suaminya tidak mengetahui keberadaannya di sana.
__ADS_1
Sedang berbicara dengan siapa dia? Sepertinya serius sekali. Apa ada hubungannya dengan perubahan sikapnya tadi? Tania berkata dalam hatinya.
...----------------...
Di rumah Velicia, dia masih tidak bisa tidur karena memikirkan tentang dirinya dan Raymond. Bahkan ketika suaminya sudah tertidur pun dia masih belum bisa memejamkan matanya. Rasanya jiwanya saat ini ingin melompat menemui laki-laki yang dicintainya.
Drrrttt… drrrttt… drrrttt…
Velicia merasakan ponselnya bergetar dari bawah bantalnya. Dia sudah mengubah password ponselnya setelah pulang dari café tadi. Dan kini dia selalu membawa ponselnya ke mana pun dia pergi. Ketika tidur pun dia meletakkan ponselnya di bawah bantalnya.
Diambilnya ponselnya itu dari bawah bantalnya. Matanya terbelalak ketika melihat nama Raymond tertera pada layar ponselnya. Dia segera membawa ponsel tersebut keluar dari kamarnya.
Velicia menghela nafasnya berkali-kali, mencoba untuk menenangkan dirinya. Ketika akan ditekan tombol hijau, panggilan itu berhenti.
Dia memandangi layar ponselnya, berharap agar Raymond kembali menghubunginya. Dan benar saja dua detik kemudian layar ponsel itu kembali menyala. Dan nama Raymond kembali muncul di layar ponselnya.
Bohong jika Velicia menghapus nomor Raymond. Memang dia berharap bisa mengikhlaskan dan melupakannya, sayangnya hatinya tidak rela untuk menghapus namanya dan menyingkirkannya dari hidupnya. Jadi, sangat tidak mungkin jika dia bisa menghapus nomor Raymond dari ponselnya.
Diangkatnya telpon tersebut dan didengarkannya suara Raymond yang sangat dirindukannya. Hatinya sangat tersayat mendengar suara pilu kekasih hatinya yang mengatakan bahwa dia tidak bisa hidup tanpanya. Begitu pula dengan dirinya. Mereka sama-sama tersiksa dengan perasaan cinta mereka.
Selama beberapa saat Velicia dan Raymond mengobrol dengan canggung di telepon. Mereka berdua larut dalam kerinduan mereka sehingga mereka tidak menyadari bahwa waktu mereka untuk bertelepon sudah lama.
Tiba-tiba saja Ferdi terbangun dari tidurnya karena merasa tenggorokannya kering. Setelah matanya terbuka, dia tidak menemukan istrinya.
“Di mana Velicia? Kenapa dia tidak ada di sini?” ucap Ferdi sambil matanya berkeliling seisi ruangan kamar tersebut.
“Mungkin dia ada di toilet,” ucap Ferdi kembali sambil beranjak turun dari ranjangnya.
Kemudian dia mencoba membuka pintu toilet, tapi dengan mudahnya pintu itu terbuka. Dia masuk ke dalam toilet tersebut dan seperti dugaannya, istrinya tidak ada di sana.
Ditutupnya kembali pintu toilet tersebut dan dia beranjak keluar dari kamarnya berniat untuk mengambil minuman. Matanya tertuju pada sosok wanita yang dicarinya. Velicia, istrinya itu sedang berada di dekat jendela dengan membuka jendela rumahnya sambil menatap langit malam.
__ADS_1
Ferdi ingin memanggilnya, tapi diurungkannya karena dia melihat istrinya itu sedang menelepon. Entah mengapa hati Ferdi merasa cemas. Dia tidak pernah melihat istrinya itu menelepon larut malam seperti itu. Apalagi Velicia tidak memiliki orang tua atau pun keluarga dekat yang bisa dihubunginya.
Sedang bicara dengan siapa dia? Kenapa sepertinya serius sekali? Ferdi berkata dalam hatinya sambil memperhatikan istrinya dari tempatnya saat ini.