
Velicia terbangun dari tidurnya. Dia merasakan tenggorokannya sangat kering. Bangunlah dia dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamarnya menuju dapur.
Kosong, sepi dan sangat tenang keadaan rumahnya saat ini. Bahkan dia merasa kesepian dalam kesendiriannya.
Dilihatnya jam yang menggantung di dinding ruang makan sambil tangannya memegang gelas yang sedang terisi air panas dari dispenser.
"Aaaawww…!!!"
Prang!
Velicia terkena air panas yang meluap dari gelas yang berasal dari air dispenser yang masih menyala. Sontak saja gelas itu terlepas dari tangan Velicia karena tangannya merasa kepanasan terkena air panas tersebut.
Segera dimatikannya dispenser tersebut. Dan dengan langkah lemahnya Velicia mengambil alat-alat untuk membersihkan pecahan gelas tersebut.
Setelah pecahan gelas tersebut sudah berhasil dibersihkan, dia membungkusnya ke dalam kantong plastik dan membuangnya ke tempat sampah.
Diambilnya peralatan untuk mengepel lantai. Dengan nafas yang terengah-engah, karena merasa sangat lelah dia tidak melihat ada bekas tumpahan air yang ditumpahkannya tadi.
Bruuuk!
Veliica jatuh terduduk di lantai bekas tumpahan air tersebut.
Velicia menghela nafasnya, setelah itu dia tertawa sambil berkata,
"Nasibmu malang sekali Ve. Ketika sakit pun kamu bisa mengalami hal seperti ini. Dan yang paling menyedihkan adalah suamimu tidak ada bersamamu saat ini."
Sungguh konyol sekali dirasa oleh Velicia saat ini. Dia menertawakan nasibnya seperti orang bodoh yang menertawakan nasibnya sendiri.
"Sakit semua badanku. Tapi tak sebanding dengan sakit hatiku," ucapnya sambil tersenyum getir dengan tangannya yang masih memegang gagang pel.
Ternyata Ferdi masih belum pulang. Dia sekarang sedang berada di suatu tempat.
"Terima kasih Pak. Bapak selalu menolong saya. Entah apa yang terjadi jika tadi Bapak tidak ada di sana," ucap Lani dengan menampakkan wajah sedihnya.
"Jangan terlalu dibesar-besarkan. Tadi saya hanya kebetulan saja lewat di sana," tukas Ferdi sambil fokus dengan kemudi dan jalanan yang ada di depannya.
__ADS_1
"Saya rasa tidak. Bapak itu sudah ditakdirkan untuk selalu menolong dan menjaga saya," sahut Lani dengan sangat yakin.
"Jangan berlebihan begitu. Saya hanya menolong kamu sebagai manusia yang harus saling tolong menolong," tutur Ferdi dengan bijaknya.
Sontak saja bibir Lani mengerucut mendengar jawaban dari Ferdi. Kemudian dia mengalihkan pembicaraannya pada hal lainnya agar dirinya tidak kecewa mendengarnya.
"Ini mobil Bapak?" tanya Lani sambil mendekat ke arah Ferdi.
"Iya," jawab Ferdi singkat.
"Mobil baru Pak?" tanya Lani kembali sambil memandang wajah Ferdi dengan jarak dekat dari arah samping.
"Iya. Kasihan istri saya pasti capek setiap hari jalan kaki ke tempat kerjanya. Kalau punya mobil kan aku bisa mengantarnya," jawab Ferdi tanpa menoleh ke arah Lani yang masih berada dekat di sampingnya.
Mendengar kata istri keluar dari mulut Ferdi, membuat Lani kembali merasa kesal.
"Beruntung sekali istri Pak Ferdi mendapatkan suami seperti Bapak. Seandainya saja saya mempunyai suami seperti Bapak, pasti saya akan sangat bahagia dan merasa menjadi wanita yang sangat beruntung sedunia," ujar Lani dengan nada sedih.
Ferdi tersenyum mendengar perkataan dari Lani. Nyatanya apa yang dikatakan oleh Lani tidak dirasakannya saat ini. Bahkan hubungannya dengan Velicia sedang tidak baik-baik saja.
Mengingat tentang Velicia, dia jadi ingat jika istrinya itu tidak suka dengan adanya Lani didekatnya.
"Lain kali jangan keluar sendirian malam hari seperti ini kalau tidak mau diganggu orang seperti tadi," tutur Ferdi sambil fokus mengemudi.
"Lalu perginya sama siapa Pak? Apa Bapak mau mengantarkan saya?" tanya Lani sambil menghentikan gerakannya yang sedang mencari sesuatu dalam tasnya.
"Ya sama pacar kamu," jawab Ferdi singkat tanpa menoleh ke arah Lani.
"Saya jomblo Pak. Masih mencari laki-laki yang seperti Bapak," ucap Lani dengan tegasnya.
Ferdi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Setelah beberapa saat, Ferdi sekilas melirik ke arah Lani karena tidak ada suara sama sekali darinya.
Ternyata Lani sedang memoles bibirnya menggunakan lipstik yang dia cari dari tasnya.
"Kamu suka sekali memakai makeup. Pantas saja laki-laki tadi menggoda kamu. Harusnya malam-malam begini tidak usah memakai makeup. Apalagi sangat berlebihan seperti itu," ucap Ferdi sambil fokus mengemudi.
Lani menghentikan gerakannya. Dia menutup lipstiknya dan meletakkan lipstik serta cermin kecil yang dipakainya tadi di atas pangkuannya.
__ADS_1
"Memangnya istri Bapak tidak suka memakai makeup ya?" tanya Lani sambil memandang Ferdi.
"Dia wanita yang sederhana dan cantik apa adanya. Bahkan jika memakai makeup hanya makeup tipis dan natural saja," jawab Ferdi dengan bangganya membicarakan istrinya sambil tersenyum.
Lani memandang kesal melihat Ferdi yang terlihat bahagia membicarakan istrinya. Tapi dia tidak memungkiri bahwa memang Velicia adalah wanita cantik yang sederhana tanpa menggunakan banyak polesan.
"Berarti Bapak setiap hari mengantar jemput istri Bapak?" tanya Lani menyelidik.
Ferdi menggelengkan kepalanya dan matanya masih fokus pada jalanan yang ada di depannya. Kemudian dia berkata,
"Dia itu wanita mandiri. Bahkan aku saja tidak pernah melakukan apapun di rumah. Semuanya dia yang mengerjakannya."
Kenapa dia sangat sempurna sekali? Bahkan aku tidak semandiri itu. Pantas saja Pak Ferdi sangat bangga padanya, Lani berkata dalam hatinya sambil melirik ke arah Ferdi.
"Ini kan rumahmu?" tanya Ferdi sambil menghentikan mobilnya.
Mobil Ferdi berhenti di depan satu bangunan yang bertuliskan 'Kos Wanita' di depan pagar bangunan tersebut.
"Kos-kosan Pak, bukan rumah," jawab Lani seolah mengoreksi ucapan Ferdi.
"Ya sama saja. Sudahlah cepatlah turun. Istri saya sudah menunggu sedari tadi," ucap Ferdi seolah mengusir Lani keluar dari mobilnya.
Lani memberengut kesal sambil turun dari mobil Ferdi. Karena kesalnya itu dia tidak memperhatikan semua barangnya.
Setelah menurunkan Lani, Ferdi dengan segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
"Semoga saja warung buburnya masih buka," ucap Ferdi sambil mengemudikan mobilnya.
Sesampainya di depan warung bubur tersebut dia harus menelan kekecewaan karena warung bubur tersebut ternyata sudah tutup.
Ferdi melihat ke arah jam tangan yang melingkar pada tangan kanannya. Kemudian dia menghela nafasnya karena jarum jam tersebut menunjukkan jam sepuluh lebih enam menit.
"Pantas saja sudah tutup. Kenapa tadi aku harus bertemu dengan Lani dan mengantarkannya pulang terlebih dahulu? Harusnya tadi aku membelikan Velicia bubur terlebih dahulu sebelum mengantarkan Lani pulang. Ah… bodohnya aku," Ferdi bermonolog menyesali kebodohannya.
Sedangkan di rumahnya, Velicia masih berusaha membereskan kekacauan yang diakibatkan oleh kecerobohannya.
Velicia duduk di kursi makan dengan segelas teh hangat yang menani kesendiriannya. Dilihatnya jam dinding yang menggantung pada dinding yang tidak jauh dari tempatnya berada.
__ADS_1
"Sudah jam sepuluh lewat dua puluh menit. Ke mana Mas Ferdi pergi? Apa dia mengantarkan Ibu? Tapi kenapa lama sekali?" ucap Velicia dalam kesendiriannya.