Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 30 Andai saja


__ADS_3

"Ve, apa kamu tidak menghubungi suamimu?" tanya Raymond setelah kepergian dokter yang memeriksanya.


Velicia melihat jam yang menggantung pada dinding ruangan tersebut. Kemudian dia tersenyum getir mengingat bukan suaminya yang menolongnya, melainkan Raymond yang selalu datang di saat yang tepat, di mana dia sedang membutuhkan pertolongan seseorang.


"Dia pasti masih kerja Ray," jawab Velicia lirih sambil tersenyum getir.


"Dia bisa ijin pulang Ve. Tidak mungkin dia akan membiarkan istrinya yang tiba-tiba masuk rumah sakit sendirian di sana," tutur Raymond sedikit emosi.


Velicia tersenyum pada Raymond, dia sangat menghargai Raymond yang menurutnya sangat mengkhawatirkannya.


"Apa mungkin dia mau?" tanya Velicia sambil tersenyum getir.


Raymond mengernyitkan dahinya. Dia merasa heran, tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Velicia.


"Ada apa sebenarnya Ve?" tanya Raymond menyelidik.


Tiba-tiba air mata Velicia menetes begitu saja. Dia tidak berniat untuk memperlihatkannya pada Raymond, hanya saja air matanya keluar dengan sendirinya.


Velicia cepat-cepat mengusap air matanya dan dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Raymond.


"Gak ada apa-apa Ray," jawab Velicia sambil tersenyum.


Raymond menatap iba pada Velicia yang memaksakan senyumannya pada wajah pucatnya itu.


"Ve, kita sudah berjanji untuk berteman. Jadi, kita bisa berbagi masalah, siapa tau aku bisa bantu kamu," tutur Raymond sedikit memaksa.


"Nanti Ray. Sepertinya aku gak bisa cerita sekarang," ucap Velicia sambil tersenyum pada Raymond.


"Maaf Ve, aku hanya ingin tau saja. Apa suamimu tau penyakitmu ini?" tanya Raymond mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya.


"Kenapa kamu bertanya tentang itu Ray?" 


Velicia tidak menjawab pertanyaan Raymond, dia malah berbalik tanya pada Raymond.


"Aku gak ada maksud apa-apa sih Ve. Hanya saja jika suamimu tau penyakitmu ini, harusnya dia memberimu makanan dan minuman yang tidak memperparah penyakitmu ini," ujar Raymond dengan tegas.


Lagi-lagi Velicia tersenyum getir. Dalam hatinya dia mengatakan jika apa yang dikatakan oleh Raymond sama dengan yang dipikirkannya waktu itu.


Memikirkan hal itu hanya membuatnya kecewa. Dan kini dia lebih kecewa lagi karena penyakitnya bertambah parah karena tidak ada pengertian dari suaminya dan ibu mertuanya.


"Ray… kamu berkata seperti itu seolah aku berpenyakitan saja," ucap Velicia sambil terkekeh berniat untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


"Ve, aku serius. Bahkan aku dan istriku saja belum juga mendapatkan keturunan sampai sekarang. Tapi, kita tidak pernah sampai mengorbankan kesehatan kita," ucap Raymond yang kali ini berkata lembut pada Velicia.

__ADS_1


Velicia merasa terpojok. Dia merasa memang harus sharing dengan orang yang bernasib sama sepertinya. Tapi sayangnya dia belum siap membuka semua cerita kehidupan rumah tangganya.


"Pikiran orang berbeda-beda Ray. Aku janji akan bercerita padamu, tapi gak sekarang Ray," ucap Velicia dengan memberinya senyuman manisnya yang menghiasi wajah pucatnya.


"Ya sudah, aku gak bisa paksa kamu untuk bercerita sekarang padaku. Tapi aku siap mendengarkan ceritamu kapan saja. Aku tunggu janjimu itu Ve," ucap Raymond sambil menghela nafasnya setelah mendengarkan jawaban dari Velicia.


Velicia mengangguk lemah dan dia baru ingat jika tadinya dia akan berangkat bekerja.


"Ray, apa kamu tidak berangkat bekerja?" tanya Velicia sambil menatap Raymond dengan lekat.


Raymond tersenyum pada Velicia dan berkata padanya,


"Aku tidak kerja hari ini."


"Apa karena menolongku?" tanya Velicia yang merasa sungkan pada Raymond.


"Bukan Ve. Kamu gak perlu cemas. Aku sudah ijin tadi," jawab Raymond sambil tersenyum manis pada Velicia agar dia tidak terbebani oleh rasa bersalahnya.


"Pulanglah Ray. Aku bisa sendiri di sini. Kamu gak perlu khawatir, banyak perawat di sini yang bisa membantuku," ucap Velicia yang sangat merasa bersalah pada Raymond.


"Kamu mengusirku Ve?" tanya Raymond dengan menatap intens mata Velicia.


 


Hanya saja dia tidak mau menyita waktu Raymond, apalagi dia sudah mengetahui bahwa Raymond tidak sendiri lagi, dia sudah mempunyai istri.


"Bukan begitu Ray. Aku hanya tidak mau membuang waktumu. Dan pastinya kamu sudah ditunggu oleh istrimu di rumah," jawab Velicia dengan suara melemah.


Melihat Velicia yang semakin lemah membuat Raymond tidak tega untuk meninggalkan Velicia sendirian tanpa ada orang yang menemaninya.


"Baiklah Ve, aku akan pulang jika suamimu datang ke sini," ucap Raymond dengan tegas seolah tidak bisa dibantah.


"Tapi Ray-"


"Lagi pula istriku gak ada di rumah. Dia sedang pergi bersama dengan temannya. Jadi, daripada aku di rumah sendirian mending di sini saja menemani kamu. Itu jika suamimu gak bisa ke sini. Tapi jika suamimu bisa datang ke sini, aku akan pergi sekarang juga."


Raymond menyela perkataan Velicia yang akan membantah keinginannya.


Velicia kembali menghela nafasnya berat. Dia tidak mengira jika Raymond bisa memaksanya untuk menghubungi suaminya.


Tangan Velicia mencoba meraih tasnya yang ada di atas meja di sebelah bed nya.


Raymond segera membantu untuk mengambilkan tas Velicia.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Velicia lirih sambil menatap Raymond.


Raymond pun hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis pada Velicia.


"Halo, Mas, aku sekarang ada di Klinik yang ada di daerah rumah. Aku harus dirawat di sini. Apa Mas Ferdi bisa datang untuk menemaniku sekarang?" tanya Velicia dengan suara lemah pada suaminya yang ada di seberang sana.


Kamu dirawat di Klinik? Kok bisa? Kenapa? pertanyaan berturut-turut diajukan Ferdi pada Velicia.


"Nanti saja aku ceritakan Mas. Apa Mas Ferdi bisa datang sekarang?" tanya Velicia kembali dengan penuh harap.


Sepertinya kalau sekarang gak bisa. Aku usahakan pulang tepat waktu agar bisa datang ke sana sebelum malam, ucap Ferdi sambil melihat jam yang melingkar pada tangan kanannya.


Velicia memejamkan matanya, hatinya terasa sangat sakit mendengar jawaban dari suaminya. Bahkan dalam keadaan dia masuk rumah sakit saja suaminya itu sepertinya lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan istrinya yang sedang sakit dan membutuhkannya.


"Bagaimana Ve? Apa suamimu bisa datang sekarang?" tanya Raymond setelah Velicia mematikan teleponnya.


Velicia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dalam hatinya dia berkata,


Kamu baik sekali Ray. Kenapa bukan kamu saja yang menjadi suamiku? Ah… apa yang ku katakan? Gak mungkin Raymond bisa menjadi suamiku. Sudahlah Ve… jangan bermimpi! Bahkan suamimu sendiri saja mengabaikanmu saat ini.


"Apa ini artinya aku harus pergi sekarang?" tanya Raymond sambil terkekeh.


Velicia pun tersenyum dan berkata dengan suara lemahnya,


"Pergilah Ray, istrimu pasti sudah menunggumu di rumah. Jangan biarkan dia sendirian."


"Seperti aku," ucap Velicia lirih untuk menyambung ucapannya.


Telinga Ryamond mendengarnya. Memang, indera pendengaran Raymond sangatlah peka. Dia mendengar semua suara meskipun dalam keadaan bising.


"Ve! Sepertinya aku di sini saja hingga suamimu datang," ucap Raymond sambil duduk di sebelah bed Velicia.


"Pulanglah Ray. Aku akan sangat marah jika kamu masih tetap di sini.  Aku hanya gak mau menyusahkan kamu Ray. Mengertilah…," sahut Velicia dengan tatapan penuh permohonan pada Raymond.


Raymond menghela nafasnya, dia merasa kalah pada Velicia yang bersikap seperti itu. Dia beranjak dari duduknya dan berkata,


"Baiklah, aku akan pergi Ve. Tapi ingatlah pesan dokter. Dan jangan lupa mengabariku," tutur Raymond sebelum melangkah pergi.


"Ah aku baru ingat… Aku harap kamu akan tetap menghubungiku jika membutuhkan bantuanku. Apapun itu Ve, aku akan menolongmu. Ingatlah!" tutur Raymond sebelum keluar dari kamar Velicia.


Velicia pun mengangguk dan tersenyum pada Raymond. Setelah itu Raymond benar-benar keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Velicia sendirian di dalam ruangan tersebut.


Melihat punggung Raymond sudah menghilang tertutup pintu ruangan itu, Velicia berkata dalam hatinya,

__ADS_1


Andai saja kamu seperti Raymond Mas, pasti aku tidak akan stres dan tidak akan sakit seperti ini sekarang.


__ADS_2