
Pagi itu Raymond melakukan perjalanan untuk pergi ke kota. Sebenarnya dia sangat khawatir pada Velicia yang ditinggalkannya sendirian di tempat mereka tinggal saat ini. Dan dia juga cemas akan apa yang dilakukannya nanti.
Raymond cemas jika nantinya dia tidak di terima oleh suami Velicia. Tapi dia tidak bisa mundur, semua harus dilakukannya demi kehidupan damai mereka berdua. Dia tidak bisa membiarkan wanita yang dicintainya hidup dalam bayang-bayang rasa bersalahnya.
Setelah perjalanan yang memakan waktu berjam-jam, Raymond sampai di kota yang sebelumnya mereka tinggali. Mobilnya diparkirkan tepat di depan rumah Ferdi.
Raymond turun dengan hati yang gundah. Dihirupnya nafas dalam-dalam dan dihelanya secara perlahan. Dia diam sejenak dengan memandangi bangunan rumah tersebut untuk memantapkan hatinya.
Kemudian dia menghela nafasnya kembali sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Ferdi.
Bel pagar rumah Ferdi berbunyi. Ferdi mengacuhkannya karena dia malas untuk beraktifitas. Sayangnya bel tersebut kembali berbunyi, sehingga mau tidak mau Ferdi harus membukakan pintu rumahnya agar dia tidak terganggu dengan suara bel tersebut.
Dengan berat hati Ferdi melangkahkan kakinya untuk membukakan pagar pintu rumahnya. Kakinya kini terasa ringan ketika melihat sosok pria yang ingin sekali dihajarnya.
Dengan kemarahan yang menggebu-gebu, Ferdi mengepalkan tangannya sangat erat dan dia berjalan dengan sangat cepat untuk membuka pagar tersebut.
“Maaf, apa kita bisa berbicara sebentar?” tanya Raymond sambil menatap Ferdi dengan tatapan memohon.
Ferdi segera membuka lebar pagar rumahnya untuk memberi akses masuk bagi Raymond sambil berkata,
“Masuklah.”
Raymond pun segera masuk dan dia menunggu Ferdi untuk memandu jalannya masuk ke dalam rumahnya.
“Duduklah,” ucap Ferdi sambil menatap tajam pada Raymond.
Raymond hanya berdiri sambil menatap Ferdi dengan tatapan penuh permohonan. Sedangkan Ferdi menatapnya dengan tatapan bengis seolah dia ingin menghabisi Raymond saat itu juga.
Tiba-tiba Raymond berlutut di depan Ferdi yang sedang duduk di hadapannya sambil berkata,
“Maaf. Maafkan saya. Ini semua salah saya. Velicia tidak melakukan kesalahan apa pun. Aku benar-benar minta maaf. Aku akan mengambil alih hukumannya. Jadi saya mohon, maafkan Velicia.”
Sontak saja dada Ferdi bergemuruh. Kemarahan itu kembali datang ketika mendengar apa yang dikatakan oleh pria yang membawa istrinya pergi dari rumahnya.
Tangannya kembali mengepal sangat kuat dan dadanya naik turun dengan nafas yang memburu, memperlihatkan begitu besarnya kemarahannya saat ini.
Seketika dia berdiri dari duduknya dan dengan berapi-apinya dia berkata,
“Memaafkanmu? Kamu pikir aku seorang berhati baik yang bisa memaafkan pria yang mencuri istriku dan membawanya kabur entah ke mana?”
“Saya benar-benar menyesal. Tolong maafkan saya,” ucap Raymond sambil menundukkan kepalanya dan bersujud di depan Ferdi.
__ADS_1
“Kamu pikir bisa menghadapi semua orang setelah apa yang kalian lakukan?” tanya Ferdi dengan emosinya yang menggebu-gebu dan meninggikan suaranya.
“Maaf. Saya benar-benar minta maaf,” ucap Raymond dengan tulus hingga terdengar mengiba di telinga Ferdi.
“Bangun! Bangun ku bilang!” seru Ferdi seolah tidak ingin dibantah.
Bangunlah Raymond dengan segera. Rencana dia untuk meminta pengampunan baginya dan Velicia, untuk itu dia tidak boleh melawan apa pun yang dilakukan Ferdi padanya.
“Apakah Velicia memintamu untuk melakukan ini?” tanya Ferdi setelah Raymond berdiri di hadapannya.
“Tidak,” jawab Raymond sambil menatap mata Ferdi agar Ferdi yakin akan jawaban yang diberikannya.
“Apakah Velicia memintamu untuk meyakinkan suaminya?” tanya Ferdi kembali.
“Tidak. Aku datang sendiri ke sini untuk meminta pengampunanmu,” jawab Raymond dengan hati-hati.
“Di mana Velicia berada?” tanya Ferdi dengan rasa ingin tahunya.
“Maafkan aku. Velicia sangat tersiksa karena merasa bersalah sekarang ini. Itulah sebabnya saya datang ke sini untuk meminta pengampunan bagi kami berdua,” jawab Raymond dengan wajah bersalahnya.
“Tersiksa? Tersiksa katamu?” tanya Ferdi dengan meninggikan suaranya.
Sontak saja Ferdi mencengkeram kerah baju Raymond dengan sekuat tenaganya dan wajah yang penuh dengan amarahnya sambil berkata,
“Apa katamu? Membiarkannya pergi? Melepaskannya? Untuk apa aku melepaskannya dan membiarkannya pergi?”
“Aku mohon,” ucap Raymond dengan tulus sehingga permohonannya itu benar-benar terasa di hati Ferdi.
Ferdi melepaskan kerah baju Raymond. Kemudian dia membalikkan badannya sambil berkata,
“Hentikan permohonanmu dan cepatlah pergi dari sini. Bawalah segera Velicia pulang ke rumah ini.”
Dengan berat hati Raymond keluar dari rumah tersebut tanpa diantar oleh Ferdi. Dia masih belum bisa meminta maaf pada Ferdi dan memintanya untuk melepaskan Velicia.
Ferdi sangat frustasi. Sangat terlihat dari penampilannya yang acak-acakan seperti orang yang tidak terurus. Rumahnya sangat berantakan. Banyak cup mi instant yang berserakan, belum dibuang setelah dia memakannya.
Sore harinya, setelah Lani pulang kerja, dia segera menuju ke rumah Ferdi dengan membawakan makanan untuknya. Matanya seketika berbinar ketika melihat pagar rumah Ferdi terbuka.
Segeralah dia masuk melewati pagar yang masih terbuka tadi. Dan kini senyumnya mengembang ketika pintu rumah Ferdi terbuka separuh. Sepertinya Raymond tidak menutup kembali pintu rumah dan pagar setelah dia keluar dari rumah Ferdi.
Lani menghela nafasnya ketika melihat Ferdi yang sedang tidur di sofa dengan beberapa cup mi instant di meja yang ada di depannya. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
“Hufffttt… Tidak bisa dipercaya….”
Kemudian dia mendekati Cinta yang sedang tidur di tempat tidurnya. Dia menuangkan makanan ke dalam wadah makanan milik Cinta dan mengusap lembut bulu Cinta sambil berkata,
“Cinta, ini Bunda datang. Bunda kangen sama Cinta.”
Kemudian dia mengambil cup mi instant yang kosong itu dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu dia membersihkan meja tersebut menggunakan lap yang diambilnya dari dapur.
Ternyata Ferdi terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Lani. Dengan mata yang masih terpejam, dia bangun dan duduk dengan kepala disandarkan pada punggung kursi. Kemudian dia berkata,
“Ibu, ngapain Ibu ke sini lagi? Kan sudah Ferdi bilang, gak usah datang ke sini lagi. Ferdi bukan anak kecil lagi.”
“Aku bukan Ibunya Pak Ferdi,” ucap Lani sambil berdiri di hadapan Ferdi.
Sontak saja Ferdi membuka matanya dan kaget ketika melihat lani sudah berdiri di hadapannya. Kemudian dia berkata,
“Kamu? Kenapa kamu ada di sini? Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Tentu saja karena aku mengkhawatirkanmu,” jawab Lani sambil tersenyum manis pada Ferdi.
Ferdi mengernyitkan dahinya mendengar jawaban yang keluar dari mulut Lani. Lalu dia berkata,
“Khawatir? Kenapa kamu mengkhawatirkan aku?”
“Bagaimana lagi. Bukannya aku menginginkan untuk mengkhawatirkanmu. Tapi aku benar-benar khawatir padamu,” jawab lani dengan cerianya.
“Apa maksudmu? Tidak ada yang menyuruhmu untuk mengkhawatirkanku. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkanku,” ucap Ferdi tanpa melihat ke arah Lani.
“Apa benar-benar Bapak tidak mengerti dengan perasaanku?” tanya Lani dengan mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal pada Ferdi.
“Memangnya kamu siapa, bisa-bisanya kamu menyuruhku mengerti perasaanmu?” tanya Ferdi dengan kesalnya dan menaikkan suaranya.
“Pak…,” ucap Lani dengan ekspresi tidak percayanya karena Ferdi tidak pernah menaikkan nada bicaranya ataupun membentaknya.
“Keluar! Jangan pernah datang ke sini lagi jika kamu tidak ingin melihatku marah padamu. Cepat keluar!” seru Ferdi mengusir lani tanpa menoleh ke arahnya.
Lani menghela nafasnya dan memberanikan dirinya untuk berbicara pada Ferdi yang sedang dalam keadaan marah padanya.
“Pak Ferdi, istri Bapak pergi ke seseorang yang dicintainya. Itu sebabnya aku datang. Aku datang ke sini untuk seseorang yang aku cintai,” ucap Lani dengan suara yang sedikit bergetar.
Ferdi meneteskan air matanya mendengar apa yang diucapkan Lani tentang Velicia dan tentang perasaan Lani padanya.
__ADS_1