Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 57 Cincin pernikahan yang menjadi saksi


__ADS_3

"Pulang kerja Ve?" tanya Raymond mencoba untuk mencairkan suasana dan menghilangkan situasi yang canggung di antara mereka.


Velicia tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. Kemudian pandangannya kembali ke arah anak-anak yang sedang bermain bersama.


Raymond duduk di sebelah Velicia. Dia juga sering melihat anak-anak yang sedang bermain. Rasanya hatinya tenang. 


Sepertinya mereka berdua sama-sama menyukai anak-anak. Hanya saja mereka berdua sama-sama belum mempunyai anak dari pernikahan mereka.


Mereka berdua duduk sambil memperhatikan anak-anak yang sedang bermain di taman bermain tersebut.


"Mereka lucu ya?" tanya Velicia sambil tersenyum getir melihat anak-anak tersebut asik bermain.


Raymond menoleh ke arah Velicia yang ada di sampingnya, kemudian dia kembali menghadap ke arah depan di mana anak-anak sedang bermain bersama.


"Senyum dan tawa mereka sebagai obat kelelahan orang dewasa seperti kita. Serta senyum dan tawa mereka bisa menular pada kita sehingga kita ikut tersenyum dan tertawa bersama mereka," jawab Raymond menanggapi pertanyaan dari Velicia padanya.


Velicia tersenyum tipis mendengar apa yang diucapkan oleh Raymond. Dalam hati dia berkata,


Seandainya Mas Ferdi mempunyai pikiran seperti kamu Ray, pasti saat ini aku sudah berada di sini untuk menemani anakku bermain bersama teman-temannya.


Raymond melihat jam yang melingkar pada tangan kanannya. Kemudian dia kembali melihat ke arah anak-anak yang sedang bermain itu. Wajahnya menampakkan kegalauan.


"Mmm… Ve, apa kamu tidak pulang? Sekarang sudah hampir petang," tanya Raymond dengan ragu.


Ternyata Raymond galau karena dia tidak tega untuk meninggalkan Velicia sendirian di taman itu.


Sedangkan dia telah menerima pesan dari istrinya jika mereka akan makan malam bersama istrinya.


Kini Raymond seolah berada di antara dua pilihan. Memilih untuk segera pulang karena janji makan malamnya bersama dengan istrinya atau tetap di taman tersebut untuk menemani Velicia.


"Aku enggan pulang Ray. Aku ingin sejenak menjauh dari kehidupanku," jawab Velicia sambil tersenyum getir pada Raymond.


Raymond menatap iba pada Velicia. Dia tahu jika kini Velicia sedang mempunyai masalah. 


Dengan pikiran yang mantap, Raymond tetap berada di tempat itu untuk menemani Velicia yang sedang sedih.

__ADS_1


Sungguh tidak peka jika Velicia tidak mengetahui kegelisahan hati Raymond. Dia mengerti jika mungkin saja Raymond berada di sana karena dia, karena ingin menemaninya.


"Ray, pulanglah terlebih dahulu. Aku tau jika kamu ingin pulang sekarang. Pulanglah Ray, aku akan baik-baik saja. Aku akan pulang ketika anak-anak sudah sepi,.pulang ke rumah mereka masing-masing," tutur Velicia sambil menatap dalam mata Raymond.


Tatapan Velicia itu membuat Raymond semakin tidak tega meninggalkannya. Berdirilah Raymond dari duduknya dan dia mengulurkan tangan kanannya yang jari manisnya melingkar cincin pernikahannya.


Velicia menatap pada jari tangan Raymond yang memakai cincin pernikahan mereka. Hatinya terasa seperti tercubit ketika melihatnya.


Sadarlah Ve, lihatlah jarinya yang sudah memakai cincin itu. Sadarlah dan bangunlah dari mimpimu! Velicia menyadarkan dirinya dalam hatinya.


Tapi entah mengapa tangan Velicia sebelah kanan pun menerima uluran tangan Raymond.


Jari manisnya yang memakai cincin pernikahan pun terlihat dengan jelas oleh Raymond.


Tangan mereka yang sama-sama memakai cincin pernikahan itu pun saling bertautan. 


Dengan saling melempar senyum Velicia berdiri dari duduknya dan berjalan sambil bergandengan tangan dengan Raymond.


Entah apa yang mereka pikirkan sehingga mereka saling enggan melepas tautan tangan mereka.


Tenang, nyaman dan bahagia yang mereka rasakan saat ini. Hingga mereka lupa akan status mereka dan lupa akan keinginan mereka untuk saling menjauh.


"Ve, kita berteduh sebentar di sini. Apa kamu kedinginan?" ucap Raymond sambil menelisik tubuh Velicia dengan memutar-mutar tubuh Velicia.


Velicia terkekeh melihat Raymond yang gelisah padanya. Kemudian dia berkata,


"Tenang saja Ray, kamu kan tau jika aku suka hujan. Jadi jangan khawatirkan aku. Aku malah lebih takut jika kamu nantinya akan sakit karena hujan-hujanan."


Raymond pun terkekeh mendengar jawaban dari Velicia. Seolah alam berpihak pada mereka, petir dan kilat tiba-tiba menyapa mereka. Dan hujan pun turun dengan bertambah derasnya.


Sontak saja Velicia lebih mendekat ke arah Raymond dan dengan refleknya Raymond pun membawa tubuh Velicia ke dalam pelukannya.


Hangat, tenang dan nyaman, itulah yang mereka berdua rasakan saat ini. Raymond sedikit mengurai pelukannya dan mata mereka saling menatap dalam, menyelami perasaan mereka saat ini.


Tanpa mereka sadari, bibir mereka berdua saling menempel. Tangan Raymond lebih erat memeluk Velicia dan tangan Velicia pun berpindah, kini tangannya melingkar pada leher Raymond.

__ADS_1


Merasa Velicia tidak menolaknya, Raymond pun membuka bibirnya dan memperdalam ciuman mereka.


Velicia pun menyambut ciuman dari Raymond. Mereka kini memperdalam ciumannya. Menikmati perasaan mereka dan menikmati kebersamaan mereka.


Entah setan apa yang merasuki mereka. Yang mereka tahu saat ini hati dan tubuh mereka menginginkan hal itu.


Cedarrrr!


Petir kembali menyapa mereka. Entah kini petir itu merayakan kedekatan mereka atau malah memperingatkan mereka.


Suara petir yang menggelegar itu membuat ciuman mereka terhenti. Mereka berdua melepas ciumannya dan saling menatap. Kemudian mereka saling tersenyum dan kembali saling berpelukan.


Raymond heran pada dirinya sendiri. Dia tidak pernah merasakan hal itu dengan istrinya. Bahkan dia merasa canggung ketika Tania memeluknya atau menciumnya dan dia ragu ketika akan memegang atau memeluk tubuh Tania.


Setiap Tania menanyakan hal itu, pasti Raymond menjawabnya dengan jawaban yang sama, dia belum terbiasa dengan kehadiran Tania dalam hidupnya.


Berbeda sekali dengan apa yang dirasakannya pada Velicia. Dengan refleknya dia bisa memegang tangan, memeluk dan mencium Velicia.


Dan Velicia pun merasakan hal yang sama pada Raymond. Dia tidak bisa lagi menolak keinginan hatinya untuk lebih dekat dengan Raymond.


"Ve, aku sebenarnya masih ingin bersamamu, tapi sepertinya kita harus berpisah. Hari sudah mulai gelap dan kita harus pulang sekarang," ucap Raymond dengan suara lembut serta menatap dalam manik mata Velicia.


Velicia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan dari Raymond.


Raymond melepas jas yang dipakainya dan meletakkannya di atas kepala mereka berdua untuk bersiap memayungi kepala mereka berdua.


"Ayo Ve kita menerjang hujan," ucap Raymond sambil tersenyum bahagia pada Velicia.


Senyum bahagia Raymond pun menular pada Velicia. Dia tersenyum bahagia sambil mengangguk menyetujui ajakan Raymond padanya.


"Satu… dua… tiga…," ucap Raymond untuk menghitung persiapan lari mereka.


Dengan bahagianya mereka berdua berlari kecil di bawah hujan dengan berpayungan jas milik Raymond.


Tawa bahagia mereka seolah tidak ada beban dalam hidup mereka. Dan kebahagiaan mereka itu membuat pikiran serta hati mereka menjadi lebih bahagia serta kesedihan mereka pun hilang seketika.

__ADS_1


"Dari mana kamu hujan-hujanan seperti itu?" tanya Ferdi ketika Velicia memasuki rumah mereka dengan keadaan sedikit basah.


"Kamu kehujanan Sayang? Lagian kenapa kamu baru pulang sih? Harusnya kamu pulang tadi sebelum hujan biar tidak kehujanan," ucap Tania ketika menyambut Raymond masuk ke dalam rumah dengan keadaan sedikit basah.


__ADS_2