Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 64 Bundanya Cinta?


__ADS_3

"Mana ponselmu?" tanya Bu Anisa pada Velicia sambil mengulurkan tangannya.


Dengan ragu Velicia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Dia enggan menyerahkan ponselnya itu pada ibu mertuanya karena dia takut nantinya akan terjadi pertengkaran antara suaminya dengan ibu mertuanya.


Dengan cepatnya tangan Bu Anisa meraih ponsel yang ada di tangan Velicia. Dahinya mengkerut ketika ponsel Velicia tidak bisa dibukanya.


"Ve, ini bagaimana cara membukanya?" tanya Bu Anisa sambil memberikan ponsel tersebut pada Velicia.


Velicia pun menerima ponsel tersebut dan membukakan kunci password nya. Setelah itu dia mencari nomor ponsel suaminya yang ada pada kontak teleponnya dan menyerahkannya kembali ponsel tersebut pada ibu mertuanya.


Segera di teleponnya putranya itu. Dengan nafas yang memburu, Bu Anisa menghubungi nomor ponsel Ferdi.


Halo, Bunda, Cinta sakit, ucap Ferdi dengan suara lirih menahan kesedihan.


"Ini Ibu. Kamu di mana Ferdi? Ibu sedari tadi menunggu di depan rumahmu," tanya Bu Anisa melalui telepon pada Ferdi.


Ibu? Ibu kenapa ada di situ? Mana Velicia? Kenapa HP nya ada pada Ibu? tanya Ferdi yang kaget mendapati ibunya yang memakai ponsel istrinya.


"Istrimu ada di samping Ibu. Katakan, ada di mana kamu sekarang?" tanya Bu Anisa dengan tidak sabaran.


Berikan teleponnya pada Ve Bu, aku akan bicara padanya.


Bukannya menjawab pertanyaan ibunya, Ferdi malah menyuruh ibunya untuk menyerahkan ponsel yang dipakainya pada Velicia.


Bu Anisa pun memberikan ponselnya pada Velicia sambil berkata,


"Ini, bicaralah. Ferdi ingin bicara padamu."


Velicia menerima ponsel tersebut dan berbicara pada suaminya.


"Halo, Mas Ferdi di mana?"


Bunda, aku berada di klinik hewan biasanya. Cinta tiba-tiba lemas. Dia sakit, jawab Ferdi dengan suara lirih menahan kesedihannya.


Seketika Velicia membelalakkan matanya, mulutnya terbuka karena terkejut mendengar perkataan dari suaminya dan reflek tangannya menutup mulutnya.


"Aku akan segera ke sana Mas," jawab Velicia dengan paniknya.


Segera Velicia mengakhiri teleponnya dan memasukkan kembali ponselnya tersebut pada saku celananya.

__ADS_1


"Bu, Mas Ferdi ada di klinik hewan. Cinta sedang sakit, jadi saya akan pergi ke sana sekarang. Ibu mau menunggu di rumah atau-"


"Cinta? Siapa itu Cinta?" tanya Bu Anisa dengan rasa ingin tahunya.


Velicia ragu memberitahukan tentang Cinta pada ibu mertuanya. Dia tahu betul jika ibu mertuanya itu tidak menyukai adanya kucing di rumah mereka.


"Emmm itu Bu, anak kucing peliharaan Mas Ferdi untuk menggantikan Lili," jawab Velicia dengan ragu.


"Ibu ikut. Ibu ingin tau bagaimana khawatirnya Ferdi pada anak kucingnya daripada mempunyai anak sendiri," sahut Bu Anisa dengan memperlihatkan kekesalannya.


Velicia memegang kedua tangan ibu mertuanya itu dan berkata,


"Bu, Ve mohon jangan bertengkar dengan Mas Ferdi. Kita bicarakan baik-baik nanti ketika kita sudah berada di rumah."


Bu Anisa menatap lembut mata menantunya itu. Kemudian dia berkata,


"Kamu baik sekali Ve. Bahkan sangat baik. Mungkin kamu terlalu baik untuk Ferdi, putra Ibu. Maafkan Ibu jika selama ini menyalahkanmu karena belum juga memiliki keturunan."


Perlahan bulir air mata Velicia menetes. Dia tidak menyangka jika ibu mertuanya itu akan meminta maaf padanya setelah dia mengetahui kebenarannya.


Ternyata Ibu masih sebaik dulu. Aku yakin kita nantinya akan kembali seperti dulu lagi. Aku akan meyakinkan Mas Ferdi untuk mau melakukan operasi lagi agar kita bisa cepat memiliki keturunan, Velicia berkata dalam hatinya sambil mengusap bulir air matanya yang jatuh ke pipinya.


Ceklek!


Velicia dan Bu Anisa masuk dengan perlahan ke dalam klinik hewan tersebut. Dia melihat Ferdi sedang menerima Cinta dari gendongan dokter hewan yang menanganinya.


"Cinta, ini Bunda. Sini gendong Bunda dulu," ucap Lani sambil mengambil Cinta dari gendongan Ferdi.


Seketika bibir Velicia terbuka. Tadinya dia akan memanggil suaminya, tapi dia dikejutkan dengan Lani yang memanggil dirinya sebagai bunda untuk Cinta.


Melihat reaksi kaget dari menantunya yang ada di sampingnya, Bu Anisa segera memanggil putranya itu dengan kekesalannya yang tidak bisa dibendung lagi.


"Ferdi!" seru Bu Anisa sambil berjalan mendekati Ferdi.


Sontak saja Ferdi dan Lani menoleh ke arah sumber suara. Mata Ferdi terbelalak mendapati ibunya yang memperlihatkan kemarahannya saat ini.


Setelah itu dia beralih memandang istrinya yang berdiri di dekat pintu sambil menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya dan memandang ke arahnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ibu, kenapa Ibu malam-malam ada di sini?" tanya Ferdi tanpa memandang ke arah ibunya, matanya tetap memandang ke arah istrinya yang diam saja, tidak mau berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Anak kurang ajar! Ibunya datang malah ditanya seperti itu," ucap Bu Anisa dengan ketus dan melihat ke arah Lani dengan tatapan tidak suka.


Lani tersenyum manis pada Bu Anisa, tapi senyuman manis dari Lani itu tidak disambut hangat oleh Bu Anisa. Wajah ketus Bu Anisa ketika melihat Lani mengatakan segalanya, mengatakan ketidaksukaannya pada dirinya.


Ferdi meraih Cinta dari gendongan Lani dan membawanya berjalan mendekati Velicia.


"Bunda, Cinta sakit. Tiba-tiba saja dia lemas tadi," ucap Ferdi mencoba memberitahukan pada istrinya tentang keadaan Cinta, yang sudah dianggap seperti anak mereka sendiri.


Velicia merasa hatinya sakit mendengar kata Bunda. Bukan dia tidak mau dipanggil Bunda untuk Cinta, kucing mereka. Tapi, dia merasa sakit hati ketika mendengar Lani menyebut dirinya sebagai Bunda bagi Cinta. Velicia merasa jika tempatnya telah diambil alih oleh Lani.


"Bunda, ini Cinta. Apa Bunda tidak mau menggendongnya? Mungkin dia sakit karena merindukan Bunda," ucap Ferdi sambil memberikan Cinta di hadapan Velicia.


Velicia tersenyum sinis. Dalam hati dia menertawakan ucapan Ferdi yang mengatakan bahwa Cinta merindukan dia.


"Bukannya Bundanya Cinta wanita itu?" tanya Velicia dengan senyum sinisnya.


Seketika mata Ferdi terbelalak mendengar pertanyaan dari istrinya. Dia tidak mengira jika istrinya mendengar ketika Lani menyebut dirinya Bunda bagi Cinta.


"Dia kan yang memberikan Cinta pada kita Bunda," jawab Ferdi dengan tatapan memohon pengertian pada Velicia.


Velicia kembali tersenyum sinis. Dia melihat keadaan sekitar yang masih ada perawat di tempat itu.


Sabar Ve, kamu harus bisa menahan emosi kamu. Sekarang kamu ikuti saja alurnya, Velicia berkata dalam hatinya.


"Ehemmm… bagaimana keadaan Cinta?" tanya Velicia dengan senyum kakunya.


"Dia terserang flu, sekarang kita hanya menunggu obatnya saja," jawab Ferdi dengan senyum manisnya pada istrinya.


Tampak Lani terlihat kecewa melihat Ferdi dan Velicia berbicara dan tersenyum bersama. 


Hal itu tidak luput dari pandangan Bu Anisa yang masih saja terlihat kesal padanya.


"Mbak, mbak gak pulang?" tanya Bu Anisa pada Lani dengan ketus.


Seketika Lani menoleh ke arah sampingnya yang sudah ada Bu Anisa di sana. Dia melihat ketidaksukaan dari mata Bu Anisa padanya.


Dengan senyum manisnya dia mendekati Bu Anisa dan berniat untuk mencoba mengambil hatinya.


"Ibu, bagaimana keadaan Ibu?" tanya Lani dengan bersikap semanis mungkin pada Bu Anisa.

__ADS_1


"Ibu? Siapa Ibumu? Aku bukan Ibumu!" ucap Bu Anisa dengan tatapan sinis pada Lani.


__ADS_2