Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 74 Kenyataan pahit


__ADS_3

Velicia memasuki café dan melihat Tania sedang duduk di salah satu meja café tersebut. Segera dia mendekati Tania karena dia takut temannya itu akan marah jika menunggunya terlalu lama.


“Tania! Sudah lama menunggu?” sapa Velicia ketika baru duduk di kursi dekat Tania.


Tania melihat ke arah Velicia dan dia tersenyum padanya sambil berkata,


“Lumayan sih.”


“Maaf ya,” ucap Velicia dengan wajah bersalahnya.


Tania tertawa melihat reaksi Velicia yang merasa sangat bersalah padanya. Kemudian dia berkata di sela tawanya,


“Bercanda Ve. Jangan dimasukkan hati.”


Raut wajah Velicia pun berubah menjadi sumringah. Senyumnya yang sedari tadi selalu ada ketika bersama dengan Raymond, kini kembali terlihat pada wajah Velicia.


“Maaf Ve jika aku mengganggumu dan memaksamu untuk menemuiku. Aku sedang ada masalah dan aku tidak tau harus berbagi cerita pada siapa untuk meminta pendapat,” ucap Tania sambil tersenyum getir pada Velicia.


Velicia mengerutkan dahinya mendengar apa yang dikatakan oleh temannya itu. Kemudian dia berkata,


“Masalah? Masalah apa Tan?”


“Sepertinya suamiku mempunyai wanita lain,” jawab Tania sambil tersenyum getir.


Velicia teringat akan dirinya sendiri sehingga dia kini bersimpati pada Tania. Memang benar jika dia sakit hati dan sedih ketika mengetahui perselingkuhan suaminya. Mereka memang belum membahasnya kembali, hanya saja Velicia bertambah yakin jika suaminya mempunyai hubungan dengan Lani karena kedekatan mereka yang tidak lazim sebagai rekan kerja.


“Kamu yakin Tan?” tanya Velicia dengan memperhatikan secara seksama raut wajah Tania.


Bukannya Velicia tidak percaya dan meragukan perkataan Tania, hanya saja Tania sudah terbiasa bercanda, sehingga velicia sedikit meragukan ucapan dari Tania.


“Firasatku mengatakan seperti itu Ve. Suamiku sudah berubah, tidak seperti dulu lagi sikapnya padaku. Bahkan aku menemukan sesuatu di dalam tasnya beberapa hari yang lalu,” tutur Tania pada Velicia.

__ADS_1


“Barang apa Tan?” tanya Velicia dengan rasa ingin tahunya.


“Ada barang yang tidak mungkin dimiliki oleh suamiku,” jawab Tania sambil tersenyum getir.


Velicia membelalakkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Tania padanya. Dia merasakan kembali apa yang dirasakannya kala itu. Saat di mana dia menemukan lipstik dan cermin rias kecil milik Lani di dalam mobil suaminya.


“Kenapa Ve, apa kamu kaget mendengarnya dan merasa iba padaku?” tanya Tania sambil tersenyum pada Velicia.


“Bukan begitu Tan, aku seperti merasakan kembali apa yang pernah aku rasakan,” jawab Velicia sambil tersenyum kecut pada Tania.


Sontak saja Tania terkejut dan mendekatkan kursinya lebih dekat pada kursi Velicia. Kemudian dia berkata,


“Suami kamu selingkuh juga Ve?”


Velicia tersenyum getir dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh Tania padanya.


“Ve… maaf,” ucap Tania sambil memegang tangan Velicia.


“Tidak masalah Tan. Santai saja.”


Tania membalas senyuman Velicia dan dia mengingat sesuatu ketika melihat ke arah meja mereka. Kemudian dia tertawa sambil berkata,


“Ya ampun Ve… maaf, aku belum memesan makanan dan minuman. Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku akan memesan dulu,” ucap Tania sabil berajak dari duduknya dan mengambil dompet dari dalam tasnya.


Velicia hanya tersenyum melihat Tania yang sedang berjalan menuju tempat order makanan dan membayarnya di kasir.


Tiba-tiba saja ponsel Tania berdering. Velicia tidak berani mengangkatnya. Sayangnya, ponsel tersebut berada di atas meja dan terletak di samping tangan Velicia yang berada di atas meja.


Seketika mata velicia membelalak sempurna, bahkan tangannya menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut, serta mata Velicia yang berkaca-kaca melihat layar ponsel Tania yang menyala dengan foto Raymond bertuliskan kata suamiku disertai tanda hati sebagai nama kontak yang tersimpan.


Sungguh Velicia tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat ini. Hatinya sangat sakit, jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Serta nafasnya seperti terhenti, sangat sulit bernafas sehingga tenggorokannya tercekat, tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Seketika dunia Velicia terasa runtuh. Laki-laki yang sangat dicintainya adalah suami dari temannya sendiri. Dengan segera dia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari café tersebut.


 Setelah memesan makanan dan membayarnya, Tania kembali ke mejanya. Dahinya mengkerut ketika tidak melihat Velicia di sana. Kemudian dia berkata,


“Di mana dia? Bukannya dia tadi duduk di sini?”


Mata Tania melihat ke seluruh café mencari keberadaan Velicia. Lalu dia kembali berkata,


“Apa dia sedang ke toilet ya?”


Namun dia sadar, dia tidak akan mendapatkan jawaban apapun jika tidak bertanya pada orang lain. Sontak saja dia menghentikan waiter yang sedang berjalan melewatiya.


“Maaf, apa kamu melihat teman saya yang tadi duduk di sini?” tanya  Tania pada waiter tersebut sambil menunjuk kursi yang diduduki oleh Velicia.


“Oh Mbak yang tadi duduk di sini? Tadi dia sepertinya terburu-buru keluar dari café ini,” jawab waiter tersebut sambil menunjuk kursi yang tadi diduduki oleh Velicia.


Seketika Tania terkejut mendengar jawaban dari waiter tersebut. Ternyata apa yang dipikirkannya salah. Velicia tidak berada di toilet dan kini dia sendirian di café itu dengan makanan dan minuman yang sudah dipesannya.


“Lalu, bagaimana dengan makanan dan minuman ini? Lagian kenapa Ve bisa kabur begitu saja? Apa dia sedang ada masalah? Ah, sebaiknya aku hubungi dia. Aku akan tanyakan kenapadiapergi terburu-buru tanpa berpamitan padaku terlebih dahulu,” Tania bermonolog sambil mencari kontak telepon Velicia pada ponselnya.


Di jalanan sekitar café Velicia berjalan layaknya zombie yang berjalan tanpa arah sambil menangis di sepanjang jalan. Hingga dia terjatuh dalam posisi duduk ketika berpapasan dengan orang dan sedikit menyenggol pundaknya.


“Maaf Mbak, saya tidak sengaja,” ucap perempuan muda yang tadinya berjalan tergesa-gesa, kini berjongkok ingin menolong Velicia.


Tangis Velicia semakin kencang ketika dalam posisi duduk di trotoar jalan karena terjatuh tadi. Perempuan muda yang menabraknya dan sedang mengulurkan tangannya karena ingin membantunya berdiri itu, kini menjadi ketakutan sehingga dia meninggalkan Velicia seorang diri di sana.


Masih dalam posisi duduk tadi, Velicia meletakkan kakinya di depan dadanya dan menyembunyikan wajahnya pada pangkuannya. Pecahlah sudah tangis Velicia, dia tidak bisa menahan lagi tangisnya. Rasa sakit hati dan kesedihannya membuatnya semakin terlihat seperti orang yang tersakiti.


Aku menerima hukumannya sekarang. Aku merebut cinta seorang suami dari istrinya. Dan parahnya lagi, istrinya itu adalah temanku. Betapa malangnya aku. Baru saja aku menerima cinta dan perhatian, serta merasakan kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan. Baru kali ini aku mencintai laki-laki dengan begitu besarnya. Kenapa harus suami Tania?


Velicia berkata dalam hatinya diiringi tangisannya yang semakin lama semakin menjadi. Dalam tangisnya itu dia berpikir tentang kelanjutan hubungannya bersama dengan Raymond.

__ADS_1


__ADS_2