Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 46 Beruntung memilikimu


__ADS_3

Setelah beberapa saat, Ferdi datang tanpa membawa bubur yang rencananya akan dia beli sewaktu mengantarkan ibunya pulang.


Ceklek!


Ferdi membuka pintu rumah dan kaget ketika masuk ke dalam rumahnya.


"Kok lampunya menyala? Padahal tadi kan sebelum berangkat sudah aku matikan," ucap Ferdi dengan suara lirih.


Kemudian dia masuk ke dalam rumahnya dengan langkah perlahan-lahan dan hati-hati.


Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara berisik dari arah dapur.


Dilihatnya dengan hati-hati ke arah dapur. Ternyata suara tersebut datang dari peralatan dapur yang telah digunakan Velicia yang sedang memasak.


Ferdi mendekat ke arah Velicia yang masih asik dengan kegiatan memasaknya. Bahkan Velicia tidak menyadari jika suaminya sudah ada di dekatnya.


"Ve, kamu sudah bangun?" tanya Ferdi ketika sudah berada di dekat istrinya.


Velicia menoleh ke arah belakangnya dan dia melihat suaminya di sana.


"Dari mana kamu Mas?" 


Bukannya Velicia menjawab pertanyaan Ferdi, dia malah balik bertanya pada suaminya itu.


"Dari mengantar Ibu pulang. Kamu sedang memasak apa Ve? Bukannya kamu harus istirahat?" tanya Ferdi kembali sambil memegang kedua pundak istrinya menggunakan kedua tangannya.


Velicia tersenyum getir mendengar pertanyaan dari suaminya. Dengan tangan yang masih mengaduk-aduk bubur dalam panci tersebut dia berkata,


"Masak bubur, aku lapar. Meskipun aku harus istirahat, aku harus masak karena perutku harus diisi. Dan gak ada yang mau menyediakan bubur buatku."


Hati Ferdi seperti dihantam batuan besar yang menancap meninggalkan bekas mendalam.


Mendengar perkataan istrinya itu merupakan sindiran yang paling menusuk dalam hatinya selama lima tahun pernikahan mereka.


"Maaf Ve. Tadi aku memang berniat mengantarkan Ibu sekalian membelikanmu bubur. Tapi sayangnya pada saat aku sudah berada di sana, mereka sudah tutup. Maafkan aku ya Sayang," ucap Ferdi dengan penuh penyesalan sambil melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya yang sedang memasak.


Velicia kembali tersenyum getir. Dia tidak ada niatan untuk melepaskan tangan suaminya yang sedang memeluknya karena sudah lama sekali dia menantikan saat-saat seperti sekarang ini. 

__ADS_1


Dulu ketika awal mereka menikah, Ferdi sangat romantis dan perhatian padanya. Sayangnya, waktu mengikis semua perhatian dan waktu bersama mereka.


Ferdi yang sekarang cuek serta berbeda dari yang sebelumnya. Bahkan Velicia merindukan keromantisan dan perhatian yang dulu sering diberikan oleh Ferdi padanya.


Tanpa menyingkirkan tangan suaminya yang sedang memeluknya, Velicia memindahkan bubur yang sudah matang itu ke dalam mangkuk yang sudah dia sediakan semenjak tadi.


Bahkan dia memakan bubur tersebut sambil berdiri di dekat kompor tempatnya memasak.


"Ve, makannya sambil duduk, jangan berdiri," tutur Ferdi sambil melepaskan tangannya dari pinggang Velicia.


Ada rasa sedih dan kecewa dalam hati Velicia ketika suaminya itu melepaskan pelukannya.


Namun, memang benar apa yang dikatakan oleh suaminya. Seharusnya dia makan sambil duduk, bukan berdiri seperti sekarang ini.


Segera dia membawa mangkok bubur panasnya itu dengan sangat hati-hati menuju ke meja makan. 


Dalam hati Velicia menertawakan kebodohannya yang mengharapkan sesuatu yang lebih dari suaminya.


Bukankah seharusnya kamu membawakan mangkok buburku yang panas ini Mas?


Velicia berkata dalam hatinya ketika melihat suaminya berjalan menuju meja makan sambil membawa botol minuman yang diambilnya dari lemari es.


Setelah itu Velicia memakan sedikit demi sedikit buburnya tanpa bersuara. Dia hanya memandang ke arah buburnya dan meniupinya sebelum masuk ke dalam mulutnya.


Sedangkan Ferdi sedari tadi memperhatikan istrinya sambil tersenyum dan meminum minuman yang diambilnya dari lemari es tadi.


"Ve, kamu wanita yang mandiri dan tentu saja sangat cantik meskipun dalam kondisi sakit seperti sekarang. Aku beruntung sekali memilikimu menjadi istriku," ucap Ferdi sambil tersenyum memandang istrinya yang sedang duduk di hadapannya sambil memakan bubur buatannya sendiri.


Velicia tersenyum mendengar pujian dari suaminya. Sayangnya itu tidak membuat hatinya senang. Bahkan sikap mandirinya itu membuat suaminya cuek padanya karena merasa istrinya bisa melakukan apapun sendiri tanpa bantuannya.


"Tadi Ibu pulang jam berapa Mas?" tanya Velicia untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


"Habis kita makan tadi langsung pulang," jawab Ferdi sambil tersenyum pada istrinya.


"Lalu, apa Mas Ferdi mampir di rumah Ibu dulu?" tanya Velicia menyelidik.


"Tidak. Ibu menyuruhku cepat pulang karena sudah malam dan kamu sendirian di rumah," jawab Ferdi tanpa berpikir.

__ADS_1


Velicia tersenyum tipis mendengar jawaban dari suaminya. Sambil menyuapkan bubur itu ke dalam mulutnya, dia berkata dalam hatinya,


Lalu kamu ke mana saja Mas? Bukannya seharusnya kamu sudah sampai rumah sedari tadi? Apa kamu lama karena mencarikan bubur untukku? 


Velicia hendak menanyakan itu semua pada suaminya. Hanya saja dia enggan karena takut kecewa mendengarkan jawaban yang keluar dari mulut suaminya.


Setelah dirasa sudah cukup untuk mengisi perutnya, Velicia beranjak dari duduknya dan membuang sisa bubur yang ada dalam mangkoknya. 


Dicucinya semua peralatan dapur yang sudah dia pakai serta perlengkapan makan yang bekas dipakainya tadi.


Bahkan dalam kondisi aku yang lemah seperti ini pun kamu biarkan aku melakukan ini sendiri Mas. Setidaknya aku hanya berharap kamu menanyakan apa aku baik-baik saja, menanyakan keadaanku, dan membantuku untuk merawat diriku. Apa itu berat bagimu Mas?


Velicia berkata dalam hatinya sambil mencuci perlengkapan makannya. Dengan senyum getirnya itu dia merasakan kembali sakit hati yang selama ini telah dirasakannya.


Setelah semua selesai, Velicia kembali ke dalam kamarnya tanpa mengajak Ferdi masuk untuk mengikutinya.


Sedangkan Ferdi yang sedang memanjakan Lili memandang heran istrinya yang seolah mengacuhkannya meskipun melewatinya.


Segera Ferdi meninggalkan Lili sendiri dengan mengembalikannya ke tempat tidurnya. Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya untuk menyusul istrinya.


Ferdi memeluk tubuh Velicia dari belakang ketika velicia tidur membelakanginya.


Bukan maksud Velicia tidur membelakangi suaminya, hanya saja tadi dia tidur belum ada suaminya di sana, sehingga dia menghadap ke arah yang nyaman untuknya.


Dia merasakan tangan suaminya itu memeluknya. Dan dia tidak meresponnya dengan menghadap balik ke suaminya. Dia diam saja seolah benar-benar sudah tertidur dengan nyenyaknya.


Pagi harinya Velicia merasakan tubuhnya sudah sedikit membaik. Dan seperti biasanya, dia tidak mau bermalas-malasan di rumah.


Dia bersiap-siap untuk bekerja, setelah itu dia membangunkan suaminya.


"Mas bangun, sudah siang," ucap Velicia sambil mengguncang lirih lengan suaminya.


Ferdi pun membuka matanya dan dia beranjak dari tidurnya menuju ke kamar mandi yang ada dalam kamarnya.


Setelah beberapa lama dia keluar dari dalam kamar mandi dan memakai pakaian lengkap dengan dasinya yang sudah disiapkan oleh Velicia.


Mata Ferdi menyusuri ke seluruh ruangan untuk mencari sosok istrinya. Sayangnya tidak ada Velicia dalam kamar tersebut.

__ADS_1


"Di mana dia?" ucap Ferdi dengan cemas.


__ADS_2