Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 65 Penolakan


__ADS_3

Raymond pulang dengan lesu setelah Velicia pulang terlebih dahulu. Dia membawa payung lipat milik Velicia yang diletakkannya dalam tas miliknya.


Ceklek!


"Baru pulang? Bagaimana acaranya?" 


Raymond terhenyak kaget, ketika dia baru membuka pintu rumahnya sudah disambut dengan beberapa pertanyaan dari istrinya.


Tania tersenyum manis sambil berjalan mendekati suaminya. Dia memeluk erat suaminya sambil berkata,


"Sayang, aku sangat merindukanmu."


Raymond hanya diam seperti patung yang dipeluk oleh seseorang. Tania merasakannya, dia lebih mengeratkan lagi pelukannya agar suaminya mau membalas pelukannya.


"Kamu gak kangen aku Sayang?" tanya Tania menyelidik sambil mendongakkan kepalanya agar melihat wajah suaminya.


Raymond tersenyum paksa sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian tangannya mencoba membalas pelukan istrinya, tapi tangannya terasa enggan menyentuh tubuh istrinya.


Dia memaksakan tangannya agar membalas pelukan istrinya. Ternyata, tangan Raymond hanya bergerak kaku menepuk punggung istrinya.


Tania mengurai pelukannya. Kemudian dia mengatakan, 


"Sayang, kita lakukan malam ini agar kita segera memiliki anak."


"Ehmmm… aku… aku capek sekarang," ucap Raymond sambil tersenyum kaku.


Senyum manis Tania seketika sirna. Dia merasa ada yang aneh dengan suaminya.


"Kamu kenapa sih Sayang? Dari awal aku berada di rumah ini aku merasa seperti tamu bagimu," ucap Tania dengan kesal dan suaranya meninggi.


"Bukan begitu, aku hanya sudah terbiasa sendiri tanpa kamu di sini. Maafkan aku," tutur Raymond mengatakan apa yang memang dirasakannya.


"Kamu harus mulai terbiasa dengan kehadiranku meskipun aku jarang nantinya berada di sini, karena aku istrimu," sahut Tania dengan sangat kesal.


Raymond tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil berkata,


"Baiklah."


"Sebagai gantinya, besok kita akan pergi ke suatu tempat dan kamu dilarang protes," ucap Tania yang kemudian berjalan meninggalkan Raymond agar suaminya itu tidak mempunyai kesempatan untuk menolaknya.


Raymond hanya bisa membuka mulutnya tanpa bisa mengatakan apa yang akan dikatakannya. Dia hanya bisa memandang punggung istrinya yang berjalan meninggalkannya masuk terlebih dahulu ke dalam kamarnya.


Helaan nafas Raymond membuatnya terlihat sangat keberatan dengan rencana istrinya. Sayangnya dia tidak bisa berbuat apapun.

__ADS_1


Dia merasa jika dirinya bukanlah miliknya sendiri. Sejak dia menikah dengan Tania, Raymond menjadi milik keluarga Tania. Apapun yang Tania dan kedua orang tuanya perintahkan padanya, tidak akan bisa ditolaknya.


Dengan langkah beratnya Raymond masuk ke dalam ruang kerjanya. Diletakkannya tas yang dibawanya tadi pada meja kerjanya yang ada di ruang kerjanya.


Kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


"Sayang, aku siapkan pakaiannya ya," seru Tania dari depan pintu kamar mandi.


Raymond mematikan air dari showernya. Kemudian dia membuka sedikit pintu kamar mandinya, hanya beberapa sentimeter saja sehingga dirinya tidak tampak dari luar. Kemudian dia berkata,


"Terima kasih."


Kemudian dia menutup pintunya dan kembali menyalakan air showernya.


Tania terdiam. Dia canggung dengan ucapan terima kasih yang selalu diberikan oleh Raymond padanya.


Ucapan terima kasih itu terasa kaku dan terlalu formal baginya. Hingga dia benar-benar bukan seperti istri Raymond. Dia seperti seorang yang dihormati oleh suaminya sendiri.


Setelah Tania menyiapkan pakaian untuk suaminya, dia segera berjalan keluar kamar menuju ruang kerja suaminya.


Dia berniat mencari tahu apa saja yang dilakukan seharian ini oleh suaminya. Dibukanya tas yang tadi dibawa oleh suaminya.


Matanya memicing ketika menemukan payung lipat berwarna pink di dalam tas tersebut.


"Punya siapa ini? Tidak mungkin ini milik Raymond," ucap Tania sambil memperhatikan payung tersebut yang sedang dipegangnya.


Ceklek!


Suara pintu yang dibuka dan masuklah Raymond ke dalam ruang kerjanya.


Seketika dia kaget mendapati istrinya yang kini sudah berada di ruang kerjanya.


"Sayang, sudah lama kita tidak melakukannya. Aku menginginkannya sekarang," ucap Tania sambil memeluk suaminya dari belakang.


Tangan Tania melingkar erat pada pinggang Raymond. Dari belakang tubuh Raymond, Tania mencoba membangkitkan rasa yang membuat suaminya menginginkannya.


Sayangnya usaha Tania sia-sia. Raymond melepaskan tangan Tania dari pinggangnya. Dan dia menghadap ke arah istrinya.


"Aku benar-benar lelah hari ini. Maaf ya," ucap Raymond dengan lembut.


"Kenapa kamu bisa berubah seperti ini? Bukannya kamu kemarin ingin mendaftarkan pernikahan kita? Berarti kamu ingin kita segera memiliki anak bukan? Tapi sekarang…."


Tania tidak bisa meneruskan kata-katanya. Suaranya meninggi beriringan dengan emosinya ketika mengingat payung yang ditemukannya dalam tas suaminya tadi.

__ADS_1


Raymond memeluk tubuh istrinya dengan ragu dan kaku. Dia sadar betul sekarang ini akan perasaannya. 


Pelukan kaku itu hanya sebentar, setelah itu Raymond melepaskannya dan menatap mata istrinya sambil berkata,


"Maaf."


Tania tersenyum kecut mendengar permintaan maaf suaminya dengan matanya yang benar-benar menunjukkan penyesalan.


Kini yang ada di pikiran Tania adalah, suaminya itu benar-benar menyesal karena membuatnya kecewa atau karena benar-benar melakukan sesuatu sesuai dengan kecurigaan Tania pada suaminya?


Tunggu saja Ray, aku akan mencari tahu semuanya. Dan kamu akan menyesal nantinya jika kamu benar-benar melakukan hal itu, Tania berkata dalam hatinya.


"Sayang, ayo kita tidur sekarang," ucap Tania dengan manja sambil menarik lengan suaminya.


Raymond tetap bertahan pada tempatnya saat ini. Dia tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya, sehingga Tania merasakan penolakan dari suaminya.


"Kenapa? Katanya tadi kamu lelah? Ayo kita tidur sekarang," ucap Tania dengan menatap intens manik mata suaminya.


"Ehmmm… sebentar lagi. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu. Lebih baik kamu tidur terlebih dahulu. Setelah pekerjaanku sudah selesai, aku akan menyusulmu ke kamar," tutur Raymond sambil membuka beberapa buku yang ada di atas meja kerjanya.


Tania menatap suaminya dengan tatapan penuh curiga. Tapi dia merasa percuma dan membuang-buang waktunya saja karena suaminya itu kini lebih asik dengan buku-bukunya.


Tanpa berkata-kata, Tania meninggalkan suaminya yang masih berada di dalam ruang kerjanya.


Raymond menatap kepergian istrinya dengan tatapan bersalah. Dia memang merasa bersalah pada istrinya itu, tapi dia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.


Maafkan aku Tania. Selama ini aku sudah mencoba untuk mencintaimu, tapi perasaan cinta itu tidak kunjung tumbuh. Selama ini aku sudah banyak mengorbankan diriku untuk menuruti semua keinginanmu dan keluargamu. Sekarang aku ingin lepas dari bayang-bayangmu, Raymond berkata dalam hatinya sambil melihat ke arah pintu yang baru saja dilewati oleh istrinya.


Di dalam kamarnya, Tania berjalan mondar-mandir sambil memikirkan tentang apa yang dicurigainya dari suaminya.


Selama beberapa menit, Raymond tak juga masuk ke dalam kamarnya. Dan itu membuat Tania ingin menyusul suaminya untuk segera tidur bersamanya.


"Sayang, kenapa lama sekali? Aku sudah menunggumu sedari tadi," ucap Tania sambil melingkarkan tangannya pada pundak suaminya.


"Aku masih belum selesai, lebih baik kamu tidur dulu sa-"


Ucapan Raymond belum selesai, bahkan kini matanya terbelalak ketika mendapati Tania duduk di pangkuannya.


Dengan cepatnya tangan Tania melepas kancing piyamanya hingga memperlihatkan lingerie yang dipakainya.


"Tania, maaf. Aku mau selesaikan ini dulu. Sebaiknya kamu tidurlah terlebih dahulu," ucap Raymond sambil memindahkan Tania dari pangkuannya sehingga kini Tania berdiri di sampingnya.


Mata Tania membelalak karena terkejut dengan sikap Raymond yang semakin jelas menolaknya.

__ADS_1


Tania melipat kedua tangannya di depan dadanya dan matanya memicing menatap suaminya penuh dengan kecurigaan sambil berkata,


"Kenapa? Kenapa kamu menolakku? Apa kamu memiliki wanita lain?"


__ADS_2