Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 28 Kebetulan yang tidak direncanakan


__ADS_3

"Sayang, hari ini aku gak ngantar kamu ya. Aku nanti ada keperluan lain," ucap Tania sambil memakaikan dasi pada kerah leher suaminya.


"Mau ke mana?" tanya Raymond sambil melihat wajah istrinya yang sedang merapikan dasinya setelah selesai terpasang.


"Mau bertemu dengan teman," jawab Tania sambil memandang wajah suaminya.


Raymond mengernyitkan dahinya, seolah dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan istrinya. Kemudian dia bertanya,


"Kamu punya teman di sini?" 


"Ada dong. Kami baru bertemu kemarin dan kita langsung memutuskan untuk berteman," jawab Tania sambil tersenyum lebar.


"Perempuan?" tanya Raymond sambil memandang wajah istrinya dengan penasaran.


"Perempuan dong. Kalau laki-laki nanti kamu cemburu," jawab Tania sambil terkekeh.


Raymond pun ikut terkekeh. Kemudian dia berkata,


"Kenapa harus cemburu? Bukannya laki-laki dan perempuan bisa berteman?" 


"Pasti nanti ada cemburunya," jawab Tania seolah tidak mau terbantah.


"Ya asal tidak macam-macam aja. Beres kan?" ucap Raymond sambil tersenyum.


Raymond berjalan menuju meja makan. Kemudian Tania mengikutinya sambil berkata,


"Kamu beneran gak cemburu Sayang kalau aku berteman dengan laki-laki?"


"Silahkan. Aku yakin kamu bisa mengatur perasaan kamu," jawab Raymond yang sudah duduk di kursi makan.


Tania menatap wajah suaminya, dia merasa jika suaminya tidak mencintainya karena tidak cemburu padanya.


"Sayang, kamu cinta sama aku kan?" tanya Tania dengan menatap intens mata suaminya, mencoba mencari jawaban dari mata itu.


Raymond yang sedang mengoles selai almond pada rotinya, kini pandangannya beralih pada istrinya yang berada di depannya.


"Lalu untuk apa kita menikah?" ucap Raymond sambil tersenyum pada istrinya.


Tania tersenyum senang mendengar jawaban dari Raymond. Dia lega mendengar jawaban dari suaminya meskipun hanya berupa pertanyaan balik padanya. Karena dia tahu, sedari dulu suaminya itu tidak pernah mengatakan kata sayang ataupun cinta padanya.


"Ini kopinya, minumlah. Aku membawanya dari Brasil bulan lalu khusus untukmu," tutur Tania sambil memberikan secangkir kopi yang telah dibuatnya.


Raymond pun meminum kopi buatan istrinya yang dikatakannya berasal dari Brasil.


"Bagaimana? Enak bukan?" tanya Tania dengan antusias dan kedua tangannya menopang dagunya.


Raymond tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia melihat jam yang melingkar pada tangan kanannya.

__ADS_1


"Aku harus berangkat sekarang. Kamu hati-hati ya," ucap Raymond sambil beranjak dari duduknya.


Tania mengangguk dan segera beranjak mendekatkan wajahnya pada wajah Raymond.


Dahi Raymond mengernyit, dia tidak mengetahui maksud dari istrinya yang seperti itu.


Melihat ekspresi Raymond yang seperti itu, Tania menunjuk pipinya dan berkata,


"Cium."


Raymond tersenyum mendengar ucapan istrinya. Kemudian dia mencium pipi Tania sebelum dia meninggalkan Tania di rumah itu sendirian.


"Hati-hati dan cepat pulang ya…," seru Tania sambil melambaikan tangannya mengiringi kepergian suaminya.


Raymond pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya serta membalas lambaian tangan istrinya.


Di jalan menuju tempat kerjanya, Raymond melihat seseorang yang tidak asing menurut penglihatannya.


Dia berhenti untuk memastikan orang yang dilihatnya. Dan bibirnya tersenyum ketika orang yang dilihatnya itu sudah pasti orang yang dikenalnya.


Namun, beberapa detik kemudian wajahnya berganti dengan cemas ketika melihat orang tersebut meringis menahan sakit dan memegangi perutnya.


"Ve!" seru Raymond ketika melihat Velicia berjongkok dengan memegangi perutnya.


Raymond segera berlari mendekati Velicia dan berdiri tepat di hadapan Velicia yang sedang berjongkok.


Velicia melihat ada sepasang sepatu di hadapannya. Mendongaklah dia ke atas untuk mengetahui pemilik sepatu tersebut.


Wajah Raymond terlihat cemas ketika melihat wajah pucat Velicia yang berkeringat dan air mata yang membanjiri pipinya.


"Ve, kamu kenapa?" tanya Raymond sambil berjongkok di hadapan Velicia.


"Perutku sakit sekali Ray," jawab Velicia lirih dengan menahan rasa sakitnya.


"Ayo ku bantu kamu ke rumah sakit," tutur Raymond sambil membantu Velicia berdiri.


Velicia berdiri dibantu oleh kedua tangan Raymond. Tapi sayangnya kepalanya serasa berputar-putar dan badannya sangat lemah sehingga tidak bisa menopang tubunya sendiri.


"Ve! Velicia! Ve! Sadarlah!" seru Raymond ketika mendapati Velicia tidak sadarkan diri pada pelukannya.


Untung saja saat itu kedua tangan Raymond membantunya untuk berdiri sehingga ketika Velicia pingsan, tangan Raymond sudah ada untuk menangkap tubuhnya.


Raymond segera menggendong Velicia ala bridal style berjalan mencari taksi untuk membawanya ke rumah sakit.


Sayangnya pagi itu lalu lintas sangat padat dikarenakan jam sibuk yang tentu saja hampir semua kendaraan umum penuh dengan penumpang. Tak terkecuali taksi. 


Dia tidak menemukan taksi yang lewat di daerah tersebut. Dengan paniknya Raymond tetap berjalan dengan menggendong Velicia menuju klinik yang waktu itu mereka datangi.

__ADS_1


Rencananya Raymond akan membawa Velicia ke rumah sakit yang lebih besar karena menurutnya lebih lengkap peralatan dan tim medisnya. Sayangnya tidak ada taksi yang bisa mengantar mereka.


Jauhnya jarak, lamanya perjalanan dan beratnya tubuh Velicia tidak lagi dirasanya. Raymond tetap berusaha sekuat tenaga agar dia bisa dengan cepat sampai di Klinik tujuannya.


"Dokter, cepat tolong dia. Tiba-tiba saja dia pingsan. Sepertinya dia merasakan sakit di perutnya," ucap Raymond pada dokter yang sedang mengobrol dengan perawat di meja resepsionis.


"Cepat bawa ke sana," tutur dokter tersebut sambil menunjuk ruang pemeriksaan.


Raymond segera membawanya masuk ke dalam ruang perawatan dan meletakkannya pada bed pemeriksaan.


"Silahkan keluar dulu Pak, biar kami memeriksanya terlebih dahulu," ucap perawat yang membantu dokter memeriksa Velicia.


Raymond pun keluar dari ruangan tersebut, tapi pandangannya masih saja tidak mau teralihkan dari Velicia yang masih belum sadarkan diri.


Selang beberapa saat kemudian dokter tersebut keluar dari ruang pemeriksaan untuk menemui Raymond.


"Maaf Pak, sepertinya pasien harus segera dirawat. Kali ini kami tidak akan membiarkan dia untuk pulang sebelum keadaannya membaik," ucap dokter tersebut pada Raymond.


Raymond melihat Velicia yang tampak terbaring lemas dengan wajah yang sangat pucat sekali dalam keadaan belum sadarkan diri.


"Apa sangat parah sekali dok?" tanya Raymond dengan memperlihatkan wajah yang penuh kecemasan.


"Maag dan asam lambungnya sudah kronis Pak, jika tidak ditangani dengan baik akan berbahaya," tutur dokter tersebut dengan tegas.


"Baiklah Pak, lakukan saja yang terbaik untuknya," ucap Raymond dengan mantap menyetujui saran dari dokter tersebut.


Dokter itu pun menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,


"Saya permisi dulu Pak, silahkan Bapak mengurus pemindahan kamarnya," tukas dokter tersebut sebelum pergi meninggalkan Raymond.


Namun, baru satu langkah dia berjalan, dokter tersebut kembali menoleh dan berkata,


"Maaf Pak, kalau boleh tau, makanan atau minuman apa yang dikonsumsi oleh pasien sebelum dia pingsan?" 


Raymond terhenyak mendapati pertanyaan dari dokter tersebut. Dia tidak serumah dengan Velicia, jelas saja dia tidak mengetahui apa yang dimakan atau diminum Velicia pagi ini sebelum dia berangkat bekerja.


 "Maaf Pak saya kurang tau," jawab Raymond ragu.


Dokter itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,


"Sebaiknya kita lakukan tes darah saja Pak agar tau penyebab pasien jadi seperti ini."


Raymond pun menghela nafasnya, dia melihat ke arah Velicia dan anehnya dia merasakan apa yang dirasakan oleh Velicia. Rasa sedih dan sakit dalam dirinya.


"Mohon lakukan yang terbaik untuknya dok," ucap Raymond penuh harap pada dokter tersebut.


Drrtt… drrttt… drrrttt…

__ADS_1


Ponsel dalam saku Raymond bergetar. Segera diambilnya ponselnya itu dan dilihatnya.


"Gawat, aku terlambat datang ke sekolah," ucap Raymond ketika melihat nomor dari kantor sekolahan.


__ADS_2