
Tania sangat senang ketika keinginannya telah terpenuhi. Setelah berbulan-bulan dia menahan keinginannya untuk bertemu dengan suaminya, kini semuanya sudah terpenuhi.
Dia memegang tangan suaminya untuk mengarahkannya agar suaminya itu memeluknya.
"Cincin kamu mana Sayang?" Tanya Tania dengan nada menyelidik ketika tidak melihat cincin pernikahan mereka pada jari Raymond.
Seketika Raymond membuka matanya, dia teringat jika cincin pernikahannya waktu itu dia simpan ketika bersih-bersih rumah barunya.
"Cincinnya aku simpan di laci di dalam lemari," jawab Raymond sambil mengingat-ingat kejadian waktu itu.
"Di mana? Biar aku yang ambil," ucap Tania sambil beranjak duduk dari tidurnya.
Kemudian Tania turun dari ranjang dan berjalan menuju lemari yang ada di dalam kamar tersebut.
Raymond pun beranjak duduk dari tidurnya. Dia tahu jika Tania, istrinya itu pasti akan segera mengambilnya. Karena dia tahu bagaimana sifat dan sikap istrinya itu sehingga dia tidak pernah berbohong padanya.
"Di sini kan Sayang?" tanya Tania pada suaminya sambil membuka lemari dan menoleh ke belakang.
Raymond pun menganggukkan kepalanya. Dia sudah lelah dan ingin segera memejamkan matanya untuk beristirahat agar dia bisa menjelang paginya dengan badan serta pikiran yang segar.
Tania membuka laci yang ada di dalam lemari tersebut. Dia tersenyum lebar melihat cincin pernikahan milik Raymond benar-benar ada dalam laci tersebut.
Kemudian dia kembali ke ranjangnya dengan wajah yang sumringah.
"Sini aku pakaikan," ucap Tania sambil menarik tangan Raymond dan menyematkan cincin pernikahan mereka di jari Raymond.
"Taruh di rumah saja ya. Aku tidak terbiasa memakai cincin," ucap Raymond ketika Tania memakaikan cincin padanya.
Seketika wajah Tania berubah menjadi kesal. Dia melihat Raymond dengan wajah cemberut sambil berkata,
"Kamu sengaja melepas cincin ini agar orang mengira kamu belum menikah?"
Raymond menghela nafasnya mendengar pertanyaan dari istrinya. Dia lupa jika istrinya posesif padanya. Semua hal yang menyangkut dengan dirinya pasti akan dia curigai.
"Tidak, aku tidak mungkin melakukan itu. Lagian apa tujuan aku untuk melakukan itu?" tanya Raymond dengan suara lembutnya, dia tahu jika istrinya itu akan semakin menjadi-jadi jika dibantah.
"Ya… kali aja biar bisa selingkuh mungkin," jawab Tania dengan menatap Raymond dengan tatapan menyelidik.
Raymond kembali menghela nafasnya mendengar perkataan dari istrinya itu. Dia sungguh tidak mengira jika Tania, istri posesifnya akan berpikiran sejauh itu.
__ADS_1
Akhirnya dia tidak menolak untuk memakai cincin pernikahan mereka kembali. Sebenarnya dia tidak ada niatan untuk melepasnya, dia hanya tidak suka memakai perhiasan apapun. Terutama karena dia laki-laki. Dan kini dia harus mengalah demi istrinya.
"Selingkuh? Hahaha… kamu ini ada-ada saja. Istri satu saja belum habis, masa' iya aku berselingkuh?" ucap Raymond sambil terkekeh.
Mendengar perkataan dari suaminya, Tania merasa lega. Memang benar jika banyak sekali kaum hawa yang mendekati suaminya itu, hanya saja Raymond tidak pernah goyah oleh perempuan manapun meskipun mereka sebelum menikah waktu itu. Sebab itulah Tania tidak khawatir ketika melepaskan Raymond berada di kota lain berjauhan dengannya.
Tania tersenyum dan memeluk suaminya dengan erat. Kemudian dia berkata,
"Aku sayang banget sama kamu. Aku cinta banget sama kamu Sayang. Jangan pernah khianati aku."
Raymond merasa bersalah pada istrinya yang hidup berjauhan dengannya. Dipeluknya dengan erat tubuh istrinya itu. Kemudian dia mengajaknya untuk berbaring dan tidur dalam pelukannya.
Keesokan harinya Tania mengantarkan Raymond menuju tempat kerjanya. Dia menggandeng mesra tangan suaminya. Tangannya bergelayutan manja pada lengan suaminya sepanjang perjalanan menuju tempat kerja Raymond.
"Sayang, masih jauh ya?" tanya Tania dengan suara manjanya pada Raymond.
Raymond tersenyum dan menoleh ke samping di mana istrinya berada. Kemudian dia bertanya,
"Kamu capek?"
Tania menoleh ke arah Raymond dan mengangguk lemah menjawab pertanyaan suaminya itu.
Raymond menghentikan langkahnya dan dia menghadap istrinya. Tentu saja Tania ikut menghentikan langkahnya dan juga menghadap ke arah Raymond.
Seketika wajah Tania menjadi kesal mendengar perkataan Raymond sambil berkata,
"Aku kan ingin mengantar suamiku ke tempat kerjanya. Sayangnya suamiku tidak mau diantar menggunakan mobil."
Raymond terkekeh mendengar ucapan Tania. Istrinya itu memang manja karena berasal dari keluarga berada yang sangat terpandang di kotanya, sehingga dia tidak pernah merasakan kesulitan dalam hidupnya.
"Terus habis ini kamu pulangnya gimana? Aku pesankan taksi ya," ucap Raymond seraya mengajak istrinya kembali berjalan.
"Emmm… aku tunggu kamu aja ya," jawab Tania dengan manja.
Raymond kembali menghentikan langkahnya dan menghadap Tania, serta memandangnya dengan tatapan keberatan.
Tania mengerti arti tatapan dari suaminya. Dia tidak bisa merayunya jika Raymond sudah seperti itu.
"Baiklah, aku naik taksi nanti," ucap Tania sambil menarik tangan Raymond yang berada dalam gandengannya untuk segera kembali berjalan bersamanya.
__ADS_1
Raymond pun kembali berjalan bergandengan bersama dengan Tania hingga sampai di depan sekolahan tempat dia mengajar.
Raymond bekerja sebagai guru di sebuah sekolah SMA swasta terpandang di kota tersebut. Prestasi dan kepintarannya membuat sekolah tersebut tertarik untuk menjadikan Raymond sebagai salah satu guru di sekolahan tersebut.
"Sudah, sampai sini saja ya. Bel masuk akan segera berbunyi," ucap Raymond sambil melepas tangan Tania yang berada di lengannya.
Dengan berat hati Tania melepas tangannya dari lengan Raymond. Dengan wajahnya yang dibuat sesedih mungkin Tania berkata,
"Sampai jumpa, nanti aku jemput ya. Jaga hati ya Sayang, jangan sampai selingkuh."
Sontak saja Raymond terkekeh mendengar ucapan Tania dengan ekspresi seperti itu.
"Sudahlah, kamu cepatlah pulang dan hati-hati ya," tutur Raymond sambil melambaikan tangannya sebelum dia melangkah pergi masuk ke dalam sekolahan.
Tania pun melambaikan tangannya untuk membalas lambaian tangan suaminya sebagai tanda perpisahan mereka.
"Hufffttt… sekarang aku harus pergi ke mana ya? Aku malas jika hanya berdiam diri di rumah sendirian saja," ucap Tania sambil berjalan ke arah jalan yang dilewatinya tadi bersama dengan Raymond.
Dia berjalan mengikuti jalan yang ada di hadapannya. Sampai lah dia pada sebuah bangunan yang sangat menarik perhatiannya.
Tanpa berpikir panjang, masuklah dia ke dalam bangunan tersebut.
Dia tersenyum bahagia melihat banyaknya anak kecil yang bermain dengan lucunya dan sangat gembira di halaman bangunan tersebut.
"Maaf Bu, ada yang bisa saya bantu?"
Tiba-tiba terdengar suara wanita yang mengusik perhatian Tania ketika melihat anak-anak yang sedang bermain di hadapannya.
Tania menoleh ke arah sumber suara dan dia mendapati seorang wanita cantik yang tersenyum manis padanya.
"Maaf Bu, ada perlu apa ya Ibu datang ke sini?" tanya wanita cantik itu kembali pada Tania.
"Saya hanya mengikuti langkah kaki saya saja yang menuntun saya datang ke tempat ini ketika melihat anak-anak yang bermain dengan sangat riang dan gembira," jawab Tania dengan senyum sambil melihat ke arah anak-anak yang sedang bermain bersama.
"Anak-anak memang obat yang paling ampuh untuk kita. Apalagi ketika kita sedang sedih," ucap wanita cantik tersebut menimpali perkataan Tania.
Tania menoleh ke arah wanita cantik tersebut. Kemudian dia mengulurkan tangannya pada wanita cantik tersebut berniat untuk berkenalan dengannya.
"Perkenalkan, nama saya Tania. Sepertinya kita bisa berteman. Pikiran anda sama dengan pikiran saya," ucap Tania sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Wanita cantik itupun tersenyum dan membalas uluran tangan Tania sambil berkata,
"Saya Velicia, guru mereka semua di sekolah ini."