
Ferdi kaget mendengar ucapan ibunya. Tidak pernah terpikir olehnya jika Velicia, istrinya itu sedang hamil saat ini.
Apa benar Velicia hamil? Apa karena itu dia muntah-muntah tadi? Ferdi berkata dalam hatinya.
Sejenak dia berpikir dan dia baru sadar jika Velicia sedang menunggunya untuk membawakan minuman hangat untuknya.
Segera dia berjalan menuju kamarnya agar istrinya tidak menunggunya terlalu lama.
Ferdi meletakkan gelas tersebut di atas meja yang ada di dekat ranjangnya. Kemudian dia mencoba membangunkan istrinya agar segera meminum minuman hangat yang baru saja dibuatnya.
"Sayang… Bunda… ini minumannya. Diminum dulu ya," ucap Ferdi sambil mengusap rambut Velicia untuk membangunkannya.
Mata Velicia sedikit demi sedikit terbuka. Masih saja tubuhnya terlihat sangat lemah. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat.
"Diminum dulu ya," ucap Ferdi sambil membantu Velicia duduk dan bersandar pada kepala ranjang.
Velicia meminum minuman itu sedikit demi sedikit. Kemudian dia berkata,
"Mas, tolong ambilkan obatku di dalam tasku."
Ferdi pun menurut, dia mengambil beberapa obat yang berada dalam tas Velicia.
"Ini obatnya," ucap Ferdi sambil memberikan obat tersebut pada Velicia.
Velicia menerima obat tersebut dan meminumnya. Lalu dia berkata,
"Mas, aku mau tidur dulu. Tolong bangunkan aku nanti agar aku tidak terlambat bekerja."
Ferdi menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan istrinya.
"Baiklah. Sekarang tidurlah yang nyenyak," ucap Ferdi sambil membenarkan selimut yang menutupi tubuh Velicia.
Setelah melihat Velicia memejamkan matanya, dia duduk di sofa dan mengingat kembali peristiwa semalam saat mereka memadu kasih menghabiskan malam mereka.
Ferdi tersenyum karena dia merasa senang setelah sekian lama mereka tidak menghabiskan malam mereka seperti itu. Biasanya mereka hanya melakukannya biasa saja dan tidak ada kepuasan seperti malam kemarin.
Kemudian dia kembali membaringkan tubuhnya di sebelah Velicia. Baru saja dia memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponsel Ferdi.
Diambilnya ponselnya itu dari meja yang ada di samping ranjangnya. Dahi Ferdi mengernyit ketika dia melihat nama si pengirim pesan yang tertera pada layar ponselnya.
Lani, pegawai magang yang selalu berusaha mendekatinya itu kini mengirimkan pesan padanya.
Pak, saya sedang sakit sekarang. Saya ijin tidak masuk bekerja hari ini. Apakah Bapak bisa menyempatkan waktu untuk menjenguk saya di rumah? Saya sendirian Pak, bisakah Bapak datang menjenguk?
__ADS_1
Ferdi hanya membacanya saja tanpa berniat untuk membalasnya. Kemudian dia kembali merebahkan tubuhnya di sebelah istrinya.
Selang beberapa waktu kemudian, alarm dari ponsel Velicia berbunyi hingga membangunkan Ferdi.
Ferdi melihat ponselnya yang tidak mengeluarkan bunyi alarm, kemudian dia melihat ponsel Velicia dari tempatnya saat ini sedang menyala dan mengeluarkan bunyi alarm.
Dia berusaha menggapai ponsel tersebut tapi nihil, usahanya tidak berhasil. Ponsel Velicia ada pada meja di dekat ranjang sisi Velicia.
"Bunda… Ve, itu alarm kamu berbunyi," ucap Ferdi sambil membangunkan Velicia dengan mengguncang-guncang sedikit tubuhnya.
"Hmmm…," gumam Velicia sambil tangannya meraih ponselnya yang berada di meja sebelahnya.
Mata Velicia terbuka sedikit untuk melihat jam yang tertera pada layar ponselnya dan mematikan alarm ponselnya.
Dia mencoba duduk untuk mengumpulkan tenaganya sebelum dia turun dari ranjangnya.
Perutnya masih sedikit nyeri dirasanya ketika berdiri dari duduknya. Setelah dia berjalan menuju kamar mandi, rasa sakit itu menghilang.
Sepertinya aku sudah bisa beraktifitas kembali, Velicia berkata dalam hatinya.
Di dalam kamar mandi, dia merasa badannya sangat kedinginan, bahkan dia menggigil ketika air menyiram tubuhnya.
Segeralah dia memakai handuknya dan berganti dengan pakaian yang lebih tebal.
"Mas… Mas Ferdi… Mas… Bangun. Cepatlah mandi sebelum Ibu memanggil kita untuk keluar," ucap Velicia sambil menggoyang-goyangkan lengan Ferdi agar segera bangun.
Mata Ferdi terbuka dan dengan malasnya dia berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Velicia seperti biasanya menyiapkan semua yang dipakai Ferdi untuk bekerja, mulai dari pakaian luar dan dalam, celana, dasi, jas serta kaos kakinya.
Setelah beberapa saat, Ferdi keluar dan memakai apa yang telah disiapkan oleh istrinya.
Ternyata Velicia sudah tidak ada dalam kamar tersebut. Dia sudah berada di dapur membuat minuman hangat untuk dirinya sendiri dan membuatkan kopi untuk suaminya.
Bu Anisa sudah selesai memasak dan dia sudah menata semua makanan untuk sarapan mereka di atas meja makan.
"Maaf Bu tadi saya sedang kurang enak badan, jadi saya tidur sebentar agar bisa beraktifitas lagi," ucap Velicia lirih penuh permohonan maaf.
"Tidak apa-apa. Cepat makanlah dan jangan lupa minum obat herbal seperti biasanya," tutur Bu Anisa sambil menata piring untuk mereka bertiga.
Obat herbal? Ah… kenapa di saat perutku seperti ini obat herbal itu kembali hadir? Apa aku tidak bisa menolaknya sekali ini saja? Tapi, apa Ibu akan menerima penolakanku? Hahaha… kamu pikir bisa Ve? Velicia berkata dalam hatinya dan menertawakan keadaan dirinya saat ini.
"Pagi Bu," sapa Ferdi setelah berada di dekat meja makan tersebut.
"Kalian berdua makanlah yang banyak agar tenaga kalian cepat pulih dan bisa beraktifitas malam lagi," tutur Bu Anisa sambil meletakkan nasi pada piringnya.
__ADS_1
Sontak saja Ferdi dan Velicia saling memandang. Pikiran mereka tertuju pada kejadian semalam.
Apa Ibu mendengarnya? Velicia bertanya dalam hatinya.
Ferdi hanya tersenyum dan memakan makanannya dengan santai. Baginya tidak masalah jika ibunya mendengar aktifitas mereka di malam hari karena mereka sudah menjadi suami istri. Dan menurut Ferdi Ibunya pasti senang karena ibunya itu sangat menginginkan cucu dari mereka.
Setelah mereka makan, Velicia membantu membersihkan meja makan. Ketika akan membantu mencuci piring dia dihentikan oleh ibu mertuanya.
"Biarkan saja Ibu yang mencucinya. Lebih baik sekarang kamu minum saja obat herbal yang ada di dalam lemari es," ucap Bu Anisa sambil mematikan keran air yang akan digunakan oleh Velicia mencuci piring.
Velicia tidak bisa menolak lagi, dia segera mengambil obat herbal tersebut dari lemari es dan meminumnya meskipun dia tidak suka.
"Ferdi, kamu juga jangan lupa meminum obat herbal milikmu setiap malam. Ingat ya, minumnya hanya ketika akan tidur," tutur Bu Anisa sambil mencuci peralatan makan bekas mereka sarapan tadi.
"Iya… iya…," jawab Ferdi malas.
Sebenarnya dia sama seperti Velicia, mereka sama-sama tidak menyukai meminum obat herbal tersebut. Tapi mereka harus memaksakan untuj meminumnya agar hidup mereka aman dari omelan Bu Anisa.
Velicia menahan sekuat tenaga rasa mual ketika meminum obat herbal tersebut. Dia memaksakan agar obat itu bisa masuk ke dalam perutnya.
"Bu, saya pergi bekerja dulu. Apa Ibu mau pulang bareng sama Ve?" tanya Velicia setelah berhasil meminum satu bungkus obat herbal yang dibawa Bu Anisa untuknya.
"Kalian berangkatlah terlebih dahulu. Biar Ibu yang membereskan rumah kalian. Setelah itu Ibu akan pulang sendiri," jawab Bu Anisa sambil meletakkan peralatan dapur setelah di cuci.
"Baiklah, kalau begitu kami berangkat dulu Bu," ucap Velicia sambil mencium punggung tangan Bu Anisa.
"Ferdi berangkat dulu Bu," ucap Ferdi sambil mencium punggung tangan Bu Anisa.
Setelah itu mereka berdua berjalan keluar rumah bersama.
"Sini Mas dasinya aku rapikan," ucap Velicia sambil menghadap ke arah Ferdi ketika sudah berada di halaman rumah mereka.
Ferdi pun menurut. Dia tersenyum pada istrinya. Hal seperti inilah yang dia inginkan setiap harinya. Tidak ada pertengkaran di antara mereka.
"Sudah selesai. Ve berangkat dulu ya Mas. Mas Ferdi hati-hati di jalan," ucap Velicia sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Kamu juga hati-hati ya," ucap Ferdi melepas kepergian Velicia.
Mereka mengambil arah jalan yang berbeda. Velicia ke kanan dan Ferdi ke kiri.
Velicia berjalan seperti biasa, menyusuri trotoar jalan menuju ke tempat bekerjanya. Tiba-tiba saja perutnya sangat sakit hingga dia mengeluarkan air matanya dan berjongkok untuk menahan rasa sakit yang sudah tidak tertahankan.
"Ve! Velicia! Sadarlah! Ve!"
__ADS_1