Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 41 Meratapi nasib


__ADS_3

Velicia iba melihat suaminya yang meneteskan air mata. Baru kali ini dia melihat air mata suaminya setelah mereka lima tahun berumah tangga.


Kedua tangannya meraih tubuh suaminya dan membawanya ke dalam pelukannya. Diusapnya punggung suaminya itu untuk menenangkannya.


"Harusnya Mas Ferdi gak usah takut, Mas gak sendirian, ada aku di sini. Aku istri Mas dan aku siap membantu kapanpun Mas butuhkan," ucap Velicia ketika masih dalam posisi memeluk suaminya.


"Aku malu padamu Ve. Aku ingin terlihat sempurna di hadapanmu," ucap Ferdi lirih sambil tangannya membalas pelukan Velicia.


"Apa dengan tidak memiliki anak bisa terlihat sempurna Mas? Justru kita terlihat tidak sempurna di hadapan orang-orang," sahut Velicia menanggapi ucapan Ferdi.


"Mas, bisakah aku meminta sesuatu padamu?" ucap Velicia ketika memeluk tubuh suaminya.


"Apa itu Ve?" tukas Ferdi yang masih betah memeluk istrinya.


Velicia melepaskan pelukannya dan duduk kembali di hadapan suaminya. Kemudian dia menatap dalam mata suaminya itu sambil berkata, 


"Lakukan operasi agar kita bisa mempunyai keturunan."


Ferdi terkejut mendengar permintaan Velicia. Dia pikir Velicia hanya sekedar tahu dan tidak mengerti sebanyak itu. 


Jujur saja jika Ferdi sebenarnya sangat takut dengan operasi jenis apapun itu. Operasi besar ataupun operasi kecil, dia sangat takut.


Hanya saja saat itu dia berniat untuk menunda memiliki keturunan. Tapi, entah mengapa sampai detik ini jika ditanya apa dia sudah siap memiliki anak, pasti dia akan menjawab belum siap.


"Bagaimana Mas, apa Mas Ferdi mau melakukannya? Aku akan sangat bahagia jika Mas Ferdi mau melakukan operasi itu," ucap Velicia dengan tatapan memohon pada suaminya.


Melihat tatapan mata istrinya yang memohon padanya, dia menjadi tidak tega. Tapi ketakutannya itu lebih besar daripada rasa tidak teganya pada Velicia.


"Tapi Ve, aku belum siap. Aku-"


"Kapan Mas Ferdi merasa sudah siap? Ini sudah lima tahun Mas. Seharusnya kita sudah mempunyai anak yang lucu saat ini," sahut Velicia dengan tatapan mengiba pada suaminya.


"Kamu tidak tau Ve, karena kamu tidak merasakannya," ucap Ferdi yang menanggapi ucapan Velicia.


Velicia tertawa, dia merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. 

__ADS_1


"Mas lupa jika aku seorang yatim piatu sejak kecil? Apa yang tidak bisa aku rasakan Mas? Apa yang Mas Ferdi rasakan juga sama seperti apa yang aku rasakan," ucap Velicia sambil terkekeh.


 Aku sangat takut dioperasi Ve.


Tentu saja kalimat itu tidak bisa terucap dari bibirnya. Kalimat tersebut hanya bisa dikatakannya dalam hatinya.


Ferdi masih saja diam, dia sibuk dengan pikirannya dan sibuk menimpali permintaan Velicia dalam hatinya.


"Jika Mas Ferdi masih keberatan, aku anggap Mas Ferdi tidak lagi mau mempertahankan rumah tangga kita," ucap Velicia dengan tegas dan menatap dalam mata suaminya.


Tampak jelas Ferdi sangat terkejut. Sama sekali dia tidak mempunyai niatan untuk berpisah dengan Velicia. Bahkan dia mempercepat menikahi Velicia karena dia sangat mencintainya dan tidak mau orang lain memilikinya, meskipun dia sendiri tidak yakin jika dia mau mempunyai anak.


"Tidak Ve, aku mohon jangan tinggalkan aku," ucap Ferdi sambil memegang kedua tangan Istrinya.


"Maka, lakukanlah operasi itu Mas, agar kita bisa memiliki anak," tutur Velicia dengan sangat lembut dan menatap wajah Ferdi dengan tatapan mengiba.


Seolah terhipnotis oleh suara lembut dan tatapan mata Velicia, Ferdi mengangguk menyetujui permintaan istrinya.


Velicia tersenyum senang melihat anggukan kepala Ferdi sebagai jawaban dari permintaannya.


Ferdi menatap heran pada istrinya. Dahinya mengernyit melihat istrinya yang seolah menolak untuk dipeluknya.


"Aku ingin bertanya sesuatu padamu Mas. Sejak kapan Mas Ferdi berhubungan dengan wanita itu?" tanya Velicia menyelidik.


Tampak Ferdi sedang berpikir, kemudian dia berkata,


"Apa maksudmu Lani?"


Velicia tersenyum getir mendengar nama wanita itu disebut oleh suaminya.


"Terserah siapa namanya, aku gak peduli. Aku hanya peduli pada diriku sendiri," jawab Velicia dengan tersenyum sinis padanya.


Ferdi menghela nafasnya kasar, dia merasa sedang menggali kuburannya sendiri.


Seharusnya tadi aku bisa mengalihkan pikiran Velicia dari Lani agar dia tidak kembali marah padaku, Ferdi berkata dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku bisa bersumpah padamu jika aku tidak punya hubungan khusus dengannya. Kami hanya sebatas hubungan teman kerja saja. Tidak lebih dari itu," ucap Ferdi sambil menatap mata Velicia dan memegang kedua tangannya untuk meyakinkan istrinya.


Velicia tersenyum meremehkan pada Ferdi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Kemudian dia menghempaskan kedua tangan Ferdi yang sedang memegang kedua tangannya.


Ferdi kembali dikejutkan oleh sikap istrinya yang kembali marah padanya. Baru saja dia merasa lega karena istrinya sudah kembali menjadi Velicia yang penuh kasih sayang padanya. Ternyata sikapnya itu kembali berubah ketika membahas hubungannya dengan Lani.


"Ve, ada apa? Aku sudah jujur padamu, kenapa kamu bersikap seperti ini?" tanya Ferdi dengan suara mengiba pada Velicia.


Velicia kembali tersenyum meremehkan pada Ferdi. Kemudian dia berkata,


"Jujur? Apa benar kalian tidak mempunyai hubungan dekat selain sebatas teman kerja?" pertanyaan yang diajukan oleh Velicia ini seolah menyindir Ferdi.


"Hubungan kita memang sebatas teman kerja," ucap Ferdi dengan yakin.


"Aku tidak yakin, jika teman kerja bisa suap-suapan ketika makan di tempat umum," ucap Velicia sambil tersenyum sinis pada Ferdi.


Sontak saja Ferdi membelalakkan matanya. Bahkan tenggorokannya terasa tercekat ketika akan mencoba membela dirinya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Velicia.


"Kenapa Mas? Apa Mas Ferdi kaget dan ingin tau bagaimana bisa aku mengetahuinya?" ucap Velicia sambil tersenyum sinis dan menatap penuh luka pada suaminya.


"Tapi aku… bukan aku, itu… dia…," Ferdi benar-benar tidak bisa mengatakan apa yang ingin dia katakan.


Lidah Ferdi serasa kaku, dia tidak bisa mengatakan apa yang sudah ada di kepalanya.


Velicia tertawa seperti orang bodoh ketika melihat suaminya terbata-bata mengatakan pembelaan dirinya. 


Dia menertawakan dirinya sendiri yang bisa terjebak dalam kondisi seperti itu. Menjadi seorang istri yang suaminya tidak menginginkan kehadiran seorang anak dan menjadi seorang istri yang mengetahui perselingkuhan suaminya tapi tetap saja masih bisa menerima keadaan suaminya.


"Kenapa Mas? Apa kamu bingung untuk membela dirimu sendiri?" tanya Velicia di sela tawanya.


Ferdi menghela nafasnya kasar dan menjambak rambutnya dengan frustasi. Dan dalam hatinya dia merutuki kebodohannya.


Bodohnya aku. Kenapa aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya? Ada apa dengan lidahku yang tidak mau bekerja sama dengan pikiranku? 


Ferdi mencoba berkali-kali mengambil nafas dalam-dalam dan menghelanya. Kemudian dia berkata,

__ADS_1


"Tolong dengarkan penjelasanku."


__ADS_2