
Ferdi terbelalak mendengar perkataan dari ibunya. Dia tidak mengira jika ibunya akan bereaksi seperti itu. Yang dia takutkan sekarang adalah Velicia mendengar perkataan ibunya tadi.
Ferdi menoleh ke arah belakang, di mana kamarnya berada. Dia melihat pintu kamar karena ingin mengetahui kehadiran istrinya. Dia takut jika istrinya sudah berdiri di depan pintu kamar tersebut.
"Ibu, kenapa Ibu berbicara seperti itu? Velicia sedang sakit Bu. Badannya masih lemah dan lebih baik dia makan di dalam kamar saja," ucap Ferdi seraya mengambil nasi dalam piring yang dia bawa.
"Lalu, kalian akan makan berdua di dalam kamar dan membiarkan ibu makan sendiri di sini?" tanya Bu Anisa yang tidak terima jika makan sendirian.
"Tidak Bu, Ferdi akan menemani Ibu makan di sini," ucap Ferdi sambil duduk bersiap menyendokkan makanannya ke dalam mulutnya.
Bu Anisa tersenyum, dia tahu jika Ferdi, putranya itu tidak akan berani membantahnya.
Ceklek!
"Aku akan makan bersama kalian."
Tiba-tiba pintu kamar Ferdi dan Velicia terbuka. Tampak Velicia yang berdiri dengan berpegangan erat pada gagang pintu. Wajah pucatnya itu tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang dideritanya.
Ferdi segera meletakkan sendoknya dan dia beranjak dari duduknya. Kemudian dia berjalan menghampiri Velicia sambil berkata,
"Bunda, kenapa kamu turun dari ranjang?"
"Kamu masih sangat lemah, harusnya kamu beristirahat saja di dalam," ucap Ferdi ketika sudah berada di depan Velicia.
Velicia tersenyum lemah. Wajah pucatnya itu menampakkan kesedihan.
"Aku masih kuat Mas," ucap Velicia lemah.
Ferdi menghela nafasnya. Dia tahu jika istrinya hanya berbohong. Sudah terlihat jelas jika tubuhnya masih lemah dengan wajahnya yang masih pucat.
Dengan segera Ferdi memegang pundak Velicia sambil berkata,
__ADS_1
"Biar aku bantu."
Ferdi memapah Velicia berjalan menuju meja makan. Dengan langkah yang sangat lamban mereka sampai di meja makan.
Bu Anisa menghela nafasnya sambil menatap Velicia dan menggelengkan kepalanya, seolah dia tidak menyukai apa yang dilakukan oleh Velicia.
Ferdi memberikan piringnya yang sudah berisi nasi beserta lauk pauknya pada Velicia. Kemudian dia mengambil piring yang sudah tersedia di meja makan tersebut dan mengambil nasi serta lauk pauknya untuk dirinya sendiri.
Bu Anisa memperhatikan setiap gerakan Ferdi dan Velicia. Bahkan dia tersenyum sinis melihat Ferdi yang memberikan piringnya yang berisikan nasi beserta lauk pauknya itu pada Velicia.
Dengan senyum sinisnya itu Bu Anisa menertawakan Ferdi yang sedang melayani istrinya.
Harusnya kamu yang dilayani oleh istrimu. Kenapa kamu yang melayaninya? Bu Anisa berkata dalam hatinya sambil tersenyum sinis.
Sedangkan Velicia tidak melihat ke arah ibu mertuanya sama sekali. Dia lebih baik cepat memakan makanannya dan kembali beristirahat di kamarnya.
Hatinya kembali sakit ketika mendengar suara ibu mertuanya yang sedang membicarakannya terdengar jelas hingga ke dalam kamarnya.
Lain halnya dengan Ferdi. Dia ingin menghidupkan suasana makan itu menjadi lebih hidup. Dia merasa canggung berada di antara istrinya dan ibunya yang sudah bisa dipastikan jika istrinya mendengar semua yang dikatakan ibunya sewaktu istrinya itu berada di dalam kamar.
"Bagaimana dengan istrimu? Bukankah badannya sedang lemah? Apa akan baik-baik saja jika kamu meninggalkannya untuk mengantarkan ibu?" tanya Bu Anisa yang seolah menyindirnya.
Sontak saja Velicia mendongakkan kepalanya, dia mengalihkan perhatiannya dari makanan yang ada di hadapannya pada ibu mertuanya.
"Ve baik-baik saja Bu. Tidak akan terjadi apa-apa pada Ve meskipun ditinggal Mas Ferdi mengantarkan Ibu pulang," ucap Velicia sambil menampakkan senyumannya pada wajah pucatnya itu.
Bu Anisa memandang Velicia secara intens selama beberapa saat. Kemudian dia berkata,
"Lebih baik Ibu menginap di sini saja. Toh di rumah Ibu juga sendirian. Mending Ibu menginap di sini malam ini."
Seketika mata Ferdi terbelalak. Sungguh dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ibunya akan mengomel pada mereka berdua.
__ADS_1
Dan satu hal yang membuat Ferdi resah. Tentang tidurnya nanti malam. Dia ragu jika Velicia mengijinkannya tidur di dalam kamar sedangkan hari ini dia melihat istrinya itu sedang menangis karena dirinya.
"Kenapa Ibu tiba-tiba menginap di sini? Lebih baik Ibu pulang saja. Di rumah pasti akan berantakan jika ditinggalkan oleh Ibu. Ibu tau sendiri kan jika anak-anak kos itu paling malas jika disuruh bersih-bersih rumah," ucap Ferdi yang dengan berpikir cepatnya untuk mencari alasan agar ibunya tidak menginap di rumahnya malam ini.
Tampak Bu Anisa sedang berpikir. Beberapa saat kemudian dia berkata,
"Besok pagi Ibu akan pulang."
"Hufffttt…," Ferdi menghela nafasnya setelah mendengar jawaban dari Ibunya.
Seketika selera makannya hilang. Dia merasa gagal menghalangi niat ibunya untuk menginap di rumahnya malam ini.
Velicia hanya tersenyum getir sambil meneruskan makannya. Makanan yang ada di hadapannya kini seolah tidak berasa, hambar dirasakan oleh lidahnya.
Sepertinya aku harus lebih mempersiapkan diri menghadapi Ibu malam ini, Velicia berkata dalam hatinya sambil memasukkan makanan yang ada dalam sendoknya.
Kemudian mereka memakan makanannya dalam keadaan hening. Hingga makanan yang ada dalam piring mereka habis tak bersisa.
Velicia memaksakan makanan itu agar bisa tertelan olehnya. Karena dia tidak mau jika ibu mertuanya itu mengoceh jika makanan yang dimasaknya tidak dimakan habis oleh mereka.
Perut Velicia terasa tidak nyaman. Mual, perih dan melilit dirasakannya hingga membuat kepalanya pusing dan berputar-putar.
Sekuat tenaga Velicia mencoba menahan rasa tidak nyaman dan sakitnya itu. Dia berharap agar tidak memuntahkan kembali makanan tersebut ketika berada di hadapan ibu mertuanya.
Kenapa aku harus memakan makanan ini? Harusnya aku memakan bubur, seperti yang diberikan Raymond tadi padaku, Velicia mengeluh dalam hatinya.
Kemudian dia memandang ke arah suaminya dan ibu mertuanya secara bergantian. Melihat wajah mereka berdua membuat rasa kecewa dan sakit hati Velicia kembali terasa. Dalam hatinya dia berkata,
Kenapa mereka tidak memikirkanku pada saat memberikan makanan ini padaku? Kenapa Raymond, orang yang baru kenal denganku bisa memikirkan hal seperti itu?
Velicia kembali tersenyum getir. Bahkan hanya tentang makanan saja yang merupakan hal sepele bagi semua orang bisa terpikirkan dan menjadi hal penting bagi Raymond.
__ADS_1
Dia bahkan menasehatiku tentang pentingnya makan meskipun tidak sedang bernapsu. Dan bubur, makanan sepele itu bisa terpikirkan olehnya, Velicia kembali berkata dalam hatinya mengingat Raymond yang sedang menasehatinya melalui telepon dengan nada khawatirnya dan dia mengingat kembali bubur kiriman dari Raymond yang benar-benar enak dan pas di lidahnya yang masih terasa pahit.
Apa aku terlalu mengharap hal yang lebih dari suamiku? batin Velicia sambil menatap Ferdi yang sedang meminum kopi buatan ibunya.