Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 112 Perasaan bersalah


__ADS_3

Kepala Velicia berada di dada Raymond. Dalam pelukan pria yang sangat mencintainya itu, dia merasakan kenyamanan dan ketenangan pada saat dia tidur. Dalam hati Velicia berkata,


Rasanya hangat, nyaman dan tenang. Tidak seperti pada saat aku tidur bersama Mas Ferdi yang selalu membelakangiku. Ah… mengingat namanya, aku jadi merasa aneh. Aku merasa ingin menangis. Apa yang kulakukan dan kurasakan saat ini rasanya seperti mimpi yang tidak pernah ku ungkapkan kepada siapa pun. Rasa bahagia untuk saling memiliki yang sangat membuatku melambung tinggi. Hanya langit biru dan tempat untuk berbaring saja sudah cukup buatku untuk merasa memiliki dunia ini jika bersama dengan pria ini, pria yang sangat mencintaiku.


“Ve, apa kamu ingat saat kita pertama kali bertemu?” tanya Raymond sambil mengusap lembut rambut wanita yang dicintainya.


Velicia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Raymond. Kemudian dia menganggukkan kepalanya dan berkata,


“Bagaimana kesan pertamaku saat kamu melihatku?”


Raymond mengingat saat pertama kali mereka bertemu. Kemudian dia tersenyum sambil berkata,


“Kamu sangat cantik, senyuman manismu sangat menarik perhatianku. Hanya dengan melihatmu saja aku bisa tau jika kamu orang yang sangat baik dan berhati lembut. Sayangnya aku melihat kesedihan dan kesepian dari matamu. Karena itulah aku ingin berada di sisimu.”


Velicia tersenyum sambil menatap lembut manik mata Raymond dan berkata,


“Emmm… jadi seperti itu…,”


“Kalau aku bagaimana? Apa kesan pertamamu ketika melihatku?” tanya Raymond sambil menatap intens manik mata Velicia.


Velicia membayangkan ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya. Lalu dia berkata,


“Kamu sangat tampan Ray. Senyummu bisa mengalihkan semua pikiranku ketika melihatnya. Tapi, entah mengapa aku melihat dirimu seperti orang yang kesepian saat itu.”


“Ah… aku tampak sangat menyedihkan rupanya,” ucap Raymond yang disambut kekehan dari Velicia.


“Ternyata kita berdua sama-sama terlihat sangat menyedihkan,” sahut Velicia sambil tersenyum lebar.


Raymond pun ikut tersenyum lebar mendengar perkataan dari wanita yang tidur dalam pelukannya saat ini. Kemudian dia mencium dengan lembut dahi wanitanya itu sambil memejamkan matanya, untuk menyalurkan semua perasaan cintanya. Kemudian dia memeluk erat tubuh kekasih hatinya itu sambil berkata,


“Ayo kita tidur. Kita jelang esok yang lebih membahagiakan untuk kita.”


Mereka berdua pun memejamkan matanya dan saling memeluk erat sambil membawa harapan mereka dalam tidurnya, berharap esok menjelang akan terkabul semua yang mereka harapkan.


Di tengah hutan Velicia sendirian sambil berteriak memanggil nama Raymond. Dia berjalan menyusuri hutan seorang diri dengan bertemankan cahaya bulan yang menunjukkan jalan untuknya. Dia ketakutan mencari Raymond yang tidak lagi berada di sisinya.


Dengan perlahan dia menapaki jalan yang sedikit terjal dengan ranting dan bebatuan di setiap jalan yang dilewatinya. Tak hanya itu saja, tebing yang curam siap menerimanya jika dia tidak hati-hati dengan jalannya.

__ADS_1


Dia menemukan seseorang di depannya, sayangnya yang kini di hadapannya itu bukan pria yang sedang dicarinya. Cahaya bulan mengenai wajah orang yang ada di hadapannya. Sontak saja Velicia terkejut dan membelalakkan matanya ketika melihat wajah pria yang telah ditinggalkannya.


“Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku?” ucap Ferdi dengan wajah datarnya.


Velicia ketakutan, dia berbalik arah dan dia kembali terkejut ketika melihat seseorang yang melihatnya dengan tatapan penuh dengan kemarahan.


“Selama ini aku benar-benar baik padamu. Aku sudah menganggapmu sebagai putriku sendiri. Beraninya kamu melakukan itu pada putra kesayanganku?” ucap Bu Anisa dengan sangat sinis pada Velicia.


Kemudian dia berbalik ke arah lainnya. Sayangnya seseorang dengan wajah yang familiar, kini menghadangnya.


“Rupanya di sini tempatmu melarikan diri? Apa kamu pikir bisa melarikan diri dariku?” ucap Tania dengan emosinya yang meledak-ledak.


Velicia ketakutan dengan semua orang yang menghadangnya di setiap sisi. Dan Tania berjalan semakin maju dengan tatapan mata yang seolah akan menghabisi Velicia.


Velicia melihat ke arah belakangnya. Matanya berkaca-kaca melihat tebing yang curam berada di belakangnya. Tebing itu terlihat sangat menyeramkan seolah siap menerima dirinya yang akan terjatuh ke tempat itu.


Tania tersenyum sinis pada Velicia sambil berjalan maju dan kedua tangannya bergerak seolah ingin mencekik leher Velicia. Reflek kaki Velicia bergerak mundur.


“Emmm… mmm… Tidak…! Jangan…!” teriak Velicia yang sudah berada di batas tebing tersebut.


“Tolong…!!!” teriak Velicia yang sedang terjatuh ke dalam tebing sambil mengulurkan tangannya meminta pertolongan.


Tangan Raymond mengusap lembut air mata Velicia yang terlihat sangat ketakutan. Dia membawa tubuh Velicia ke dalam pelukannya dan mengusap lembut punggungnya untuk menenangkannya sambil berkata,


“Tenanglah. Tidak apa-apa. Ada aku di sini.”


Velicia merasa nyaman dalam pelukan Raymond, tapi matanya kini tertuju pada dua cincin yang tergeletak di atas meja dekat ranjang mereka.


Cincin itu adalah cincin pernikahan mereka. Beberapa hari mereka bersama, membuat Raymond dan Velicia sepakat melepaskan cincin pernikahan mereka bersama pasangan mereka.


Velicia menatap dua cincin tersebut dengan perasaan bersalah. Dia tersiksa dengan rasa bersalahnya hingga terbawa dalam mimpi tidurnya.


Raymond mengerti kegelisahan hati wanita pujaan hatinya. Dia merasa bersalah karena membawanya jauh dari kehidupannya. Tapi bagaimanapun juga ini pilihan mereka berdua.


Perlahan Raymond bisa membuat Velicia bercerita. Tanpa rasa terbebani dan tanpa rasa takut, Velicia bercerita sambil memejamkan matanya di dalam pelukan Raymond.


Seperti terhipnotis oleh perlakuan Raymond, Velicia bercerita sambil memejamkan matanya hingga dia tidur terlelap dalam pelukan Raymond.

__ADS_1


Keesokan paginya, Raymond sudah berpakaian rapi. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk meminta pengampunan pada suami Velicia. Dia tidak ingin Velicia tersiksa oleh rasa bersalahnya pada suami dan mertuanya yang selama ini menjadi keluarganya.


“Ray, apa kamu yakin akan pergi ke sana?” tanya Velicia dengan tatapan yang seolah enggan untuk ditinggalkan Raymond seorang diri.


“Kita tidak bisa selamanya menjalani hidup kita dengan melarikan diri seperti ini. Aku tidak ingin membuatmu merasa tersiksa melakukan ini,” ucap Raymond sambil tersenyum dan mengusap lembut rambut Velicia.


“Kalau begitu kita harus pergi berdua. Aku akan ikut denganmu,” sahut Velicia yang terlihat sangat cemas.


Raymond tersenyum dan menggelengkan kepalanya menanggapi permintaan Velicia. Dia tidak ingin Velicia merasakan sakitnya dicaci dan mungkin akan dipukul sepertinya waktu itu. Dia tidak ingin Velicia mengalami masa-masa sulitnya meminta maaf pada orang terdekat yang kecewa padanya.


“Untuk hari ini, biar aku saja yang datang dan meminta maaf. Kita berdua bisa pergi bersama bertemu dengan mereka lain kali,” ucap Raymond yang tersenyum mencoba menenangkan hati Velicia.


Terlihat jelas raut wajah Velicia yang penuh dengan kecemasan dan ketakutan. Dia benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada Raymond sehingga dia tidak kembali karena bertemu dengan mereka.


“Aku akan segera kembali. Jangan khawatir,” ucap Raymond sambil mengusap pipi Velicia.


“Kamu benar-benar akan kembali bukan?” tanya Velicia dengan tatapan yang seperti tidak ingin ditinggalkan oleh Raymond.


“Tentu saja. Aku akan segera kembali karena wanita yang aku cintai sedang menungguku sendirian di sini. Untuk saat ini, tunggulah sebentar di sini,” ucap Raymond sambil menatap intens manik mata Velicia agar percaya padanya.


Velicia menganggukkan kepalanya walaupun berat rasanya untuk melepaskan pria yang sangat dicintainya pergi seorang diri tanpanya.


Raymond mencium kening Velicia dengan lembut dan lama, untuk menyalurkan seluruh perasaannya. Setelah itu Raymond tersenyum sambil melambaikan tangannya berjalan meninggalkan tempat itu.


“Ray!” seru Velicia sambil berlari menuju ke arah Raymond.


Raymond pun membalikkan badannya mendengar suara wanita yang sangat dicintainya memanggil namanya.


Velicia sedikit berjinjit dan tangannya menarik sedikit kerah Raymond dan…


Cuup!


Bibir Velicia menempel pada bibir Raymond hanya sekilas. Setelah itu Velicia berkata,


“Cepat pulang Ray, aku menunggumu.”


Raymond tersenyum bahagia. Dia kembali membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Velicia yang masih berdiri di tempatnya.

__ADS_1


“Semoga kamu baik-baik saja Ray. Dan cepatlah pulang. Aku tidak mau sendirian tanpamu. Aku rasa waktu akan teras lama menunggumu kembali,” ucap Velicia sambil menatap nanar punggung pria yang namanya sudah melekat dengan indah dalam hatinya.


__ADS_2