Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 21 Pertemanan


__ADS_3

Tania dan Velicia berjabatan tangan. Mereka saling melemparkan senyumnya mengiringi jabatan tangan mereka.


"Apa kita bisa berteman Velicia?" tanya Tania setelah jabatan tangan mereka terlepas.


Velicia tersenyum sambil mengangguk setuju untuk menjawab pertanyaan Tania. Kemudian dia berkata,


"Oh iya, apa kamu orang baru di daerah sini?" 


"Iya, aku baru pindah ke daerah ini bersama dengan suamiku," jawab Tania sambil tersenyum pada Velicia.


Kemudian dia kembali melihat ke arah anak-anak yang ada di hadapannya. Bibir Tania melengkung ke atas ketika melihat anak-anak kecil di hadapannya itu sedang bertingkah lucu dengan temannya.


"Sepertinya kamu suka dengan anak kecil," ucap Velicia sambil memperhatikan wajah Tania yang tersenyum ketika melihat murid-murid Velicia yang sedang bermain di hadapan mereka.


Tania tersenyum getir mendengar pertanyaan dari Velicia. Kemudian tanpa menoleh ke arah Velicia dia menjawab,


"Iya benar. Rasanya dengan melihat mereka bisa mengurangi kesedihanku."


Velicia mengernyitkan dahinya, sepertinya dia merasa Tania senasib dengannya. Tanpa mau menduga-duga, Velicia kembali bertanya pada Tania.


"Apa ada sesuatu yang membuatmu bersedih? Kamu bisa bercerita padaku jika kamu tidak keberatan. Tapi jika kamu keberatan, aku tidak akan memaksamu."


Tet… tet… tet…


Bel berbunyi sebagai tanda masuk untuk anak-anak tersebut. 


"Bunda… Bunda…," ucap beberapa anak yang berlari ke arah Velicia dan berhambur memeluknya.


Velicia tertawa dan memberikan tangannya untuk dicium punggung tangannya oleh mereka semua.


Tawa Velicia yang bahagia dan anak-anak yang sangat senang bersama Velicia membuat Tania memandang iri pada mereka.


Dia ingin merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh Velicia.


"Anak-anak… semuanya berbaris dahulu ya…," seru Velicia sambil tersenyum riang pada mereka semuanya.


Badan Velicia memang masih sedikit lemas. Tapi semangatnya untuk mengajar dan bertemu anak didiknya membuat keadaan  dirinya lebih baik lagi.


Velicia hendak melangkah meninggalkan Tania, tapi sebelumnya dia berpamitan pada Tania.

__ADS_1


"Aku harus mengajar dulu."


"Velicia, aku belum mempunyai anak," ucap Tania yang berusaha menghentikan Velicia dan berusaha agar teman barunya itu tidak marah padanya karena tidak menjawab pertanyaannya.


Velicia menoleh kembali ke arah Tania. Kemudian dia tersenyum dan berkata,


"Ve, panggil saja aku Ve. Dan aku pun sama denganmu. Jadi, kamu jangan bersedih mengenai hal itu."


Tania terhenyak mendengar perkataan Velicia. Dia mengernyitkan dahinya karena merasa jika apa yang dia dengar tidak mungkin sama dengan apa yang dimaksudkan oleh Velicia.


Dia melihat sosok Velicia yang sangat keibuan sehingga anak-anak sangat menyukainya.


"Maksud kamu…," pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Tania mengambang karena dia ragu untuk mengatakannya.


Velicia tersenyum pada Tania dan dia menganggukkan kepalanya pada Tania yang dirasa Velicia tahu akan apa yang dimaksudkannya.


Tania membisu, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar dan lihat. Seorang wanita cantik yang bersikap sangat keibuan ternyata sama dengannya, dia belum mempunyai anak.


"Bunda… Bunda Velicia…," seru seorang anak yang memanggil Velicia dari tempat mereka berbaris sast ini.


Velicia menoleh ke arah yang memanggilnya. Kemudian dia kembali menoleh pada Tania sambil berkata,


Tania pun mengangguk dan mempersilahkan Velicia untuk bekerja. Sedangkan dia masih saja berada di sana memperhatikan Velicia mengajar anak-anak tersebut.


"Sangat beda sekali dengan diriku yang setiap hari berjumpa dengan mahasiswa," ucap Tania dengan tersenyum getir.


Dia merasa jika lebih menarik mengajari anak-anak TK daripada mahasiswa yang tidak mempunyai tingkah lucu seperti anak-anak TK di hadapannya saat ini.


Tidak ada bosannya dia memperhatikan Valecia yang sedang mengajar anak-anak TK itu. Hingga waktu berlalu, Tania pun masih berada di sana.


Entah mengapa dia merasa ingin dekat dengan Velicia. Mungkin karena mereka sama-sama belum dianugerahi anak, sehingga Tania merasa bisa dengan mudahnya bercerita padanya.


Di saat anak-anak sedang istirahat untuk memakan bekal makan mereka, Tania menghampiri Velicia untuk berbicara padanya.


"Ve, bisa kita bicara sebentar?" tanya Tania yang sudah berada di dekat Velicia.


Velicia tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan Tania padanya.


Tania duduk di sebelah Velicia. Dia memandangi murid-murid Velicia yang sedang memakan bekal mereka dengan sangat gembira. 

__ADS_1


"Aku dan suamiku sudah menikah selama kurang lebih satu tahun. Dan kami masih belum diberikan keturunan sampai saat ini," tutur Tania tanpa menoleh pada Velicia yang duduk di sampingnya.


Velicia terhenyak dan menoleh ke arah Tania ketika dia menceritakan tentang masalah rumah tangganya pada Velicia.


Velicia diam, tapi dia masih memperhatikan Tania. Dia belum berkomentar apapun karena menunggu Tania menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu.


Menurut Velicia posisinya saat ini hanya menjadi pendengar setia saja karena Tania belum meminta pendapatnya, sehingga Velicia tidak berani untuk memberikan komentar apapun padanya.


"Saat aku berjalan pulang setelah mengantarkan suamiku bekerja di daerah sekitar sini, aku melihat sekolah ini sangat menyenangkan. Suara teriakan dan tawa bahagia anak-anak membawa langkah kakiku datang ke tempat ini," ucap Tania yang masih memandang anak-anak sambil tersenyum.


Velicia masih diam mendengarkan cerita Tania tanpa memberikan komentar sedikitpun.


"Aku sangat menginginkan kehadiran anak dalam pernikahan kami. Tapi… entah mengapa sepertinya itu berat," Tania menyambung kembali ceritanya.


Beberapa saat kemudian Tania bertanya pada Velicia,


"Bagaimana denganmu Ve?"


Velicia tersenyum mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Tania padanya.


"Aku tidak jauh berbeda denganmu. Bahkan bebanku lebih berat darimu," jawab Velicia sambil tersenyum getir mengingat kejadian yang terjadi akhir-akhir ini.


Tania menoleh ke samping, dia menatap penuh tanya pada Velicia yang sedang duduk di sampingnya dan menatap padanya.


"Maksudmu…," Tania menggantungkan kalimatnya karena ragu untuk meneruskannya.


"Ibu mertuaku sangat frustasi karena kami belum memiliki keturunan. Dan kamu harus tau Tania, kami sudah menikah selama lima tahun. Bisa kamu bayangkan bukan bagaimana rasanya selama itu kita sebagai wanita belum dikaruniai seorang anak pun dan sangat mendambakan kehadiran anak dalam keluarga kecil kita," tutur Velicia sambil tersenyum getir melihat Tania yang terlihat kaget mendengar ceritanya.


"Jadi, aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu saat ini Tania, karena aku rasa kisahku lebih berat darimu," ucap Velicia sambil terkekeh.


Tania memegang kedua tangan Velicia dan menatap dalam manik matanya. Kemudian dia berkata,


"Itu karena aku tidak memiliki mertua Ve. Suamiku seorang yatim piatu yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya sejak kecil."


Velicia tersenyum getir mendengar perkataan dari Velicia. Dia mengingat kisahnya sendiri ketika Tania menceritakan kisah hidup suaminya.


"Bagaimana dengan kedua orang tuamu Tania? Apa mereka juga menekanmu?" tanya Velicia sambil menatap intens mata Tania.


Tania tersenyum mendengar pertanyaan Velicia. Kemudian dia terkekeh sambil berkata,

__ADS_1


"Sebenarnya mereka juga menginginkan kehadiran cucu dari kami. Tapi… mau bagaimana lagi, Tuhan belum memberikan kami keturunan. Jadi mau bagaimana lagi?"


__ADS_2