Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 55 Rasa kehilangan


__ADS_3

Dokter segera memeriksa Lili, tapi sayangnya Lili sudah tidak bisa bertahan lagi. Dia meninggal ketika sedang diperiksa. 


Tangis Velicia pecah. Dia merasa telah menelantarkan Lili yang sudah dirawatnya setelah beberapa lama.


Dia tidak membenci Lili. Bahkan dia suka dengan kehadiran Lili karena dia bisa terhibur di kala dia sedang sendirian. 


Namun, ketika suaminya datang, posisi Lili menggantikan dirinya. Bahkan terkadang dia cemburu ketika suaminya lebih memanjakan Lili dibandingkan dirinya yang hanya dijadikan seperti seorang pembantu yang mengurusi rumah mereka.


"Lili… Lili… di mana dia? Bagaimana keadaannya?" seru Ferdi ketika memasuki klinik hewan tersebut.


Velicia menoleh ke arah pintu dan tangisnya semakin menjadi ketika melihat suaminya sudah berada di sana.


"Apa yang terjadi Bunda? Di mana Lili? " tanya Ferdi dengan paniknya.


Velicia hanya bisa menangis, dia tidak bisa berkata-kata. Bahkan tak ada yang bisa dikatakannya karena dia merasa sangat bersalah.


"Bunda, katakan, di mana Lili? Apa yang terjadi?" Ferdi kembali bertanya sambil menggerak-gerakkan dengan kasar lengan Velicia.


Tangis Velicia semakin tergugu diperlakukan seperti itu oleh Ferdi. Bahkan dokter yang sedang berada di dalam sedang membereskan jasad Lili segera keluar mendengar keributan yang disebabkan Ferdi dan Velicia.


"Ada apa ini?" tanya dokter hewan tersebut.


"Lili, mana Lili dok? Bagaimana keadaannya?" tanya Ferdi pada dokter tersebut tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan dari dokter tersebut yang ditujukan padanya dan Velicia.


 "Maaf Pak, kucing anda tidak bisa diselamatkan," jawab dokter tersebut sambil membuka pintu ruang pemeriksaannya.


Dalam ruangan tersebut nampak Lili yang tergeletak pada bed pemeriksaan. Dengan cepatnya Ferdi berjalan cepat mendekati Lili. Dan dia menangis sambil mengusap-usap bulu Lili yang sangat halus dan lembut.


Velicia merasa teramat sangat bersalah melihat suaminya menangisi Lili yang sudah tidak bernyawa lagi. Dalam hatinya dia berkata,


Sepertinya aku yang salah. Aku tidak bisa menjaga Lili dengan baik. Mungkin karena itu Mas Ferdi tidak yakin denganku jika aku bisa merawat anak kami, sehingga dia belum percaya padaku dan belum menginginkan anak dariku.

__ADS_1


Ferdi mengusap air matanya dengan kasar. Kemudian dia menggendong Lili dan membawanya keluar disertai isakan tangisnya. Velicia membayar biaya perawatan Lili sebelum keluar dari klinik tersebut.


Velicia kini benar-benar takut pada suaminya dan dia ragu untuk mendekatinya. Dia berjalan di belakang suaminya dengan perasaan bersalahnya.


Ferdi tidak menoleh ke arah belakang sekalipun. Dia larut dalam kesedihannya karena kehilangan Lili, anak kucing yang beberapa waktu lalu diadopsinya.


Dengan perasaan sedihnya itu Ferdi menggendong Lili hingga sampai di rumah mereka.


Tanpa mengganti pakaiannya, Ferdi segera menguburkan Lili di halaman rumah mereka. 


Dengan wajah datarnya itu dia mengabaikan Velicia yang selalu ada di dekatnya, menemaninya dan membantunya ketika menguburkan Lili.


Setelah selesai menguburkan Lili. Ferdi hanya diam seolah tidak melihat Velicia yang dengan setianya sedari tadi mendampinginya.


Dia sibuk dengan kesedihannya dan pemikirannya sendiri tanpa memikirkan dan memperhatikan istrinya yang juga sama sedihnya seperti dirinya.


Bahkan Velicia selalu menyalahkan dirinya atas meninggalnya Lili. Dia selalu sedih ketika melihat peralatan makan milik Lili, bak pasir milik Lili dan tempat tidur yang biasanya digunakan oleh Lili.


Velicia tidak bisa protes ataupun marah pada suaminya. Dia merasa dirinya lah penyebab dari semuanya. Penyebab dari kematian Lili dan penyebab dari kesedihan suaminya.


Akhirnya malam ini Velicia tidur seorang diri dalam kamarnya. Dia mengunggah foto Lili pada story media sosialnya. Dan hanya dalam hitungan detik saja ada pesan masuk mengomentari unggahan story nya.


Bibir Velicia melengkung ke atas, dia tersenyum melihat pesan yang ternyata dikirimkan oleh Raymond.


Apa itu Lili? Kucing yang kamu rawat selama ini?


Hati Velicia senang, hanya saja dia ragu untuk membalas pesan tersebut. Dia telah berjanji pada dirinya untuk menghindari rasa yang mungkin akan berkembang jauh dalam hatinya. 


Dia takut jika nantinya dia akan jatuh cinta pada Raymond. Dia tahu jika perasaan itu salah.


Dia sudah bersuami dan Raymond sudah beristri. Mereka sama-sama sudah memiliki pasangan. Lantas, apakah Velicia bisa mengenyahkan rasa itu?

__ADS_1


Aku bisa. Aku harus bisa. Ini salah, aku gak boleh melakukan ini. Aku harus bisa menghentikan rasa ini sebelum rasa ini berkembang terlalu jauh, Velicia berkata dalam hatinya.


Diletakkannya ponsel tersebut di atas meja yang berada di samping ranjangnya tanpa membalas pesan dari Raymond.


Dipejamkannya kedua matanya, berharap dirinya akan cepat tertidur dan berharap esok akan menjadi hari yang lebih baik dibandingkan hari ini yang menguras pikiran dan perasaannya.


Raymond memandangi layar ponselnya. Dia menunggu balasan dari Velicia. Entah mengapa dirinya mengirimkan pesan itu pada Velicia. Padahal dengan sangat kerasnya dia menghentikan dirinya untuk memikirkan ataupun mendekati Velicia.


Dia sangat sadar sekali akan posisinya dan posisi Velicia. Dia sadar jika tidak seharusnya perasaan itu ada di antara mereka. 


Namun, hatinya tidak bisa dicegah. Hatinya pada Velicia merasakan hal yang berbeda dengan istrinya. Bahkan dia lebih nyaman bersama dengan Velicia dibandingkan dengan Tania, istrinya.


Sadar Raymond, sadar. Sadarlah. Dia sudah mempunyai suami dan kamu juga sudah mempunyai istri, Raymond memperingati dirinya sendiri dalam hatinya.


"Sayang, kenapa belum tidur? Lagi menunggu aku ya? Maaf ya aku kemalaman. Gak setiap hari kok pulang jam segini. Ini tadi kebetulan mereka mengajak untuk makan malam. Kamu sudah makan malam kan?" ucap Tania sambil merangkul punggung Raymond yang sedang duduk dari belakang.


Raymond menganggukkan kepalanya. Entah apa yang dirasakannya, dia tidak merasa marah ataupun kesal pada istrinya. Dia tahu jika itu mungkin karena dia belum mencintai sepenuhnya Tania.


"Tania, apa besok kita pergi untuk mendaftarkan pernikahan kita?" tanya Raymond dengan ragu-ragu.


Tania melepaskan pelukannya dan dia berjalan memutar untuk bisa berada di depan suaminya.


"Kenapa terlalu buru-buru? Bagiku pernikahan kita sudah sah di depan agama meskipun pernikahan kita belum terdaftar di KUA. Apa kamu khawatir aku akan berselingkuh? Tenang saja, aku tidak akan berselingkuh meskipun banyak laki-laki yang mendekatiku," ucap Tania sambil tersenyum bangga pada Raymond.


Raymond menatap Tania dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Entah dia harus senang karena istrinya tidak mau mengesahkan pernikahan mereka atau karena dia tidak yakin dengan hatinya yang bisa menahan rasanya jika bertemu dengan Velicia.


Yang dia tahu sekarang adalah dia sudah berusaha semaksimal mungkin agar dirinya dan hatinya tidak salah arah. 


Dia ingin mengesahkan pernikahan mereka di KUA agar ada benteng yang menghalangi rasanya pada Velicia. Sayangnya istrinya itu tidak mau bekerja sama dengannya.


Entah kini apa yang akan terjadi pada perasaannya itu. Dia akan tetap berusaha menahan perasaannya, hanya saja dia tidak akan pernah tahu akan hasilnya.

__ADS_1


Semoga saja aku dan Velicia sama-sama bisa menahan perasaan ini agar tidak berkembang lebih jauh lagi, Raymond berkata dalam hatinya.


__ADS_2