Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 70 Menenangkan hati


__ADS_3

Raymond dan Velicia melakukan hal di luar batas mereka. Keputusan mereka berdua untuk mencurahkan perasaan mereka itu tiba-tiba hadir di saat mereka merasa saling membutuhkan.


Rasa tidak ingin terpisahkan dan rasa ingin memiliki satu sama lain membuat mereka larut dalam suasana.


Kini mereka sudah melakukan penyatuan mereka. Apa yang mereka rasakan saat ini mewakili perasaan mereka masing-masing. 


Rasa bersalah pada pasangan mereka masing-masing sudah pasti ada. Tapi mereka memilih untuk bahagia.


Tuhan...Aku ingin bahagia. Maaf jika aku egois. Tapi kali ini aku mohon, ijinkan aku merasakan kebahagiaan bersama orang yang aku cintai, Raymond berkata dalam hatinya.


Mata Velicia perlahan terbuka, dia kaget, tapi sedetik kemudian bibirnya melengkung ke atas mendapati wajah orang yang kini mengisi hatinya.


Raymond sudah membuka matanya sejak tadi, tapi dia masih enggan memalingkan perhatiannya. Dia masih betah memandang wajah cantik wanita yang kini telah bersemayam dalam hatinya.


Raymond pun tersenyum ketika wanita yang ada di hadapannya itu juga tersenyum padanya.


Velicia, dia lah wanita yang kini namanya terukir dengan indah di hati Raymond. Dan hanya Velicia lah yang bisa membuat Raymond tenang, nyaman dan bahagia. Dia merasa benar-benar dicintai dan mencintai.


Sama seperti Raymond, Velicia pun merasakan hal yang sama. Sehingga dia tidak ingin melepaskannya.


Dan sama seperti Raymond juga, Velicia juga ingin bahagia. Dia ingin merasakan dicintai dan mencintai secara utuh, tanpa adanya air mata dalam pernikahannya.


"Ray, bukannya saat ini kita harus pulang?" tanya Velicia lirih sambil menatap intens manik mata Raymond yang sedang menatapnya.


"Iya. Sayang sekali bukan? Kapan kita bisa seperti ini tanpa khawatir akan jam pulang?" ucap Raymond tanpa berpikir.


Mereka berdua masih betah menatap satu sama lain dengan posisi kepala mereka berada di bantal dan berhadap-hadapan.


Velicia diam, dia tidak menjawab karena tidak mengerti jawaban apa yang akan diberikannya.


Mereka berdua sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana kelanjutan hubungan mereka.


Yang mereka tahu, saat ini mereka mencoba untuk bahagia. Dan mereka memutuskan untuk mencurangi pasangan mereka.


"Kita pulang sekarang saja Ray," ucap Velicia lirih dan terdengar kekecewaan ketika mengatakannya.


"Baiklah. Mungkin nanti akan ada saatnya kita bisa bersama seperti ini lebih lama lagi," ucap Raymond lirih tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik wanita yang dicintainya.


Velicia tersenyum manis pada pria yang kini dicintainya lebih dari apapun. Dia menganggukkan kepalanya pada Raymond sebagai tanda bahwa mereka akan pulang sekarang juga.

__ADS_1


Kini, mereka berdua berada dalam sebuah bus yang mengantarkan mereka pulang. Mereka duduk berdampingan dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lainnya.


Raymond menyelipkan headset di telinga bagian kanan Velicia dan dia memakainya di telinga kiri. Dengan berbagi headset, Raymond berhasil menambah suasana romantis di antara mereka.


Lagu yang romantis dengan suasana sepi di dalam bus membuat Velicia dan Raymond bebas mengekpresikan rasa cinta mereka.


Rasa cinta yang membuat mereka menjadi seorang penjahat, mengambil kepemilikan dari pasangan mereka.


Mereka berdua turun di halte yang sama, tapi sayangnya mereka harus berjalan secara terpisah karena arah rumah mereka yang berbeda.


Sesampainya di rumah, Velicia kaget mendapati suaminya yang sepertinya sedang menunggunya.


Ferdi berjalan menghampiri istrinya dan tiba-tiba saja dia memeluk istrinya sambil berkata,


"Maafkan aku Bunda. Mari kita hidup bahagia bersama selamanya, hingga maut yang memisahkan."


Deg!


Jantung Velicia serasa berhenti berdetak. Dia merasa bersalah pada suaminya. Inilah Velicia yang sebenarnya, dia selalu merasa bersalah meskipun orang tersebut sudah banyak melukai hatinya.


Velicia hanya diam saja, dia tidak bisa menanggapi perkataan suaminya. Bahkan dia hanya seperti boneka yang menurut ketika digerakkan.


"Apa Bunda memaafkanku?" 


Seketika Velicia ingat akan kekesalan dan kemarahannya pada suaminya. Dan dia ingat akan kehadiran Lani di antara mereka berdua.


Kenapa aku bisa lupa dengan masalah ini? Apa mungkin karena aku bahagia bersama dengan Raymond? Padahal karena masalah ini juga yang membuatku menjadi sedih dan dihibur oleh Raymond dengan diajaknya pergi ke pantai. Apa benar aku bisa memaafkan suamiku ini? Suami yang sudah berselingkuh. Tapi, aku kini juga sama. Aku berselingkuh dengan Raymond. Lalu, apa aku harus memaafkan suamiku karena kita sama-sama telah berselingkuh?


Velicia sibuk dengan pemikirannya, dia berkata dalam hatinya tanpa mendengarkan apa yang dilihat oleh Ferdi.


"Aku ke dalam dulu Mas," ucap Velicia ketika dia sudah tersadar dari lamunannya.


Segera dia berjalan dengan cepat meninggalkan Ferdi yang memandangnya dengan heran.


Dalam kamar mandi, Velicia melihat dirinya pada cermin yang ada di hadapannya.


Ditatapnya cermin tersebut dengan seksama. Dia memandang dirinya sendiri yang tidak memakai sehelai benang pun. Kemudian dia berkata dalam hatinya,


Apa ini aku? Kenapa aku bisa seberani itu? Apa karena rasa cintaku yang teramat sangat untuknya, sehingga aku mempunyai kekuatan untuk melakukannya?

__ADS_1


Dipegangnya semua bagian wajahnya, hingga tangannya itu berakhir memegang bibirnya. Ada bayangan Raymond yang sedang menciumnya pada cermin yang ada di hadapannya.


Sungguh sangat bahagia hatinya meskipun hanya dengan membayangkan kembali kejadian yang sudah terjadi. Bahkan detak jantungnya pun sama seperti pada saat mereka melakukannya.


Tok… tok… tok… 


"Bunda… Bunda… apakah kamu sedang ada di dalam?" tanya Ferdi dari depan pintu kamar mandi sambil mengetuk pintu tersebut.


 


Velicia tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara ketukan pintu kamar mandi tersebut. Dan bayangan Raymond menghilang ketika dia mendengar suara suaminya yang memanggil-manggil namanya.


Segeralah dia memakai pakaian tidurnya dan membuka pintu kamar mandi tersebut.


Tampak Ferdi sedang berdiri di depan pintu menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.


Tanpa mengatakan apapun, Velicia melewati suaminya dan berjalan menuju meja riasnya.


Disisirnya rambut indah miliknya yang berwarna hitam legam panjang sepunggung. 


Ferdi berjalan menghampirinya sambil berkata,


"Biar aku sisirkan Bunda."


Velicia hanya diam saja ketika tangan Ferdi mengambil alih sisir yang ada di tangannya.


Mata Velicia berkaca-kaca, dia merasa sangat bersalah pada suaminya. Dalam hatinya dia berkata,


Kenapa kita jadi seperti ini Mas? Apa yang membuat kita menjadi saling berpaling jika kamu bisa semanis ini padaku? 


Merasa istrinya sudah tenang, Ferdi segera mengatakan apa yang ingin dia katakan pada istrinya.


"Bunda, tadi Bunda ke mana saja?" tanya Ferdi dengan hati-hati, dia takut jika istrinya kembali marah padanya.


Seketika perasaan bersalah pada suaminya sedikit berkurang ketika dia mengingat hubungan suaminya dengan Lani.


"Menenangkan hati," jawab Velicia dengan tegas.


Kemudian dia beranjak ke ranjangnya dengan menghadap ke lain arah, memunggungi suaminya yang selalu memunggunginya ketika sedang tidur.

__ADS_1


__ADS_2