Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 83 Sebuah rencana


__ADS_3

Siapa yang tidak marah jika diperlakukan seperti itu oleh istri sendiri? Begitu pula dengan Raymond yang merasa direndahkan dan harga dirinya diinjak-injak oleh istrinya. Memang hal yang biasa baginya diperlakukan seperti itu oleh istrinya.


Bahkan keluarga istrinya pun memegang kendali atas hidupnya. Tapi kali ini menurut Raymond sangat parah karena dia diusir turun dari mobil milik istrinya ketika masih berada di tengah jalan.


Apalagi Raymond masih dalam keadaan lemah dan masih belum terlalu kuat untuk berjalan jauh. Dia tidak marah pada siapapun karena dia menyalahkan dirinya sendiri yang harusnya bisa tegas sedari dulu pada saat menolak pernikahannya bersama dengan Tania.


Ini salahku, aku yang terlalu percaya diri merasa bisa mengubah sikap dan sifat Tania. Dan nyatanya, kini aku yang direndahkan olehnya, Raymond berkata dalam hatinya.


Dengan langkah kaki yang berat dan kepala yang masih sedikit pusing, Raymond berjalan menyusuri jalan menuju ke rumahnya. Ada kalanya dia berpegangan pada pohon ketika rasa pusing di kepalanya tidak tertahankan.


Mobil Tania masih berada di sana. Dia memperhatikan suaminya dari dalam mobilnya. Dia mencebik kesal ketika melihat suaminya berpegangan pada pohon.


“Ngeyel banget sih jadi orang. Sudah dikasih yang enak malah milih hidup sengsara. Kalau seperti ini, aku juga kan yang susah,” ucap Tania dengan kekesalannya melihat Raymond yang terlihat kesakitan karena tidak menurut padanya.


Dengan berat hati dia mengemudikan mobilnya dan berhenti tepat di depan suaminya. Perlahan kaca jendela mobil itu terbuka dan menampakkan wajahnya pada suaminya sambil berkata,


“Naiklah! Aku berubah pikiran!”


Mobil yang tiba-tiba berhenti di depan Raymond membuatnya terkejut. Tapi dia tahu jika mobil tersebut adalah mobil milik istrinya. Dia menghentikan langkahnya dan melihat ke arah jendela mobil tersebut. Dia ingin tahu, apalagi yang akan dilakukan oleh istrinya itu.


Namun, ketika mendengar seruannya dari dalam mobilnya, Raymond menghela nafasnya dengan berat. Baru saja dia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa tegas pada Tania. Dan sekarang dia seperti dipermainkan oleh nasib.


Raymond diam saja, dia tidak bergeming menanggapi permintaan dari istrinya. Dalam hatinya dia berkata,


Mungkin inilah saatnya aku harus bisa tegas padanya. Dan jika perpisahan adalah jalan keluarnya, aku rela meskipun Velicia sudah tidak mau bersamaku.


Langkah kakinya menuruti hatinya untuk menuntun Raymond melewati mobil istrinya. Sayangnya, itu tidak mudah. Seperti biasanya, Tania tidak menyerah begitu saja.


“Aku bilang masuk!” teriak Tania dengan kerasnya.


Teriakan Tania benar-benar membuat Raymond menghentikan langkahnya. Dia melihat ke sekitarnya di mana semua orang telah mengalihkan perhatiannya padanya. Malu, itulah yang dirasakan oleh Raymond saat ini.


Niat hati dia ingin bertindak tegas pada istrinya. Tapi, kini seolah mejadi boomerang baginya. Dia dipermalukan oleh istrinya di hadapan orang banyak. Dan akhirnya, dia kembali mengalah.

__ADS_1


Dengan besungut kesal, Raymond berjalan masuk ke dalam mobil Tania. Dia membuka pintu mobil belakang,  berniat untuk duduk di kursi belakang kemudi, yang artinya duduk di kursi belakang Tania.


“Kamu pikir aku supir? Duduklah di depan jika kamu masih mau aku hargai sebagai seorang suami,” ucap Tania dengan nada kesal dan melihat Raymond dengan tatapan tajamnya.


Lagi, Raymond menghela nafasnya dengan kesal. Rasanya dia tidak bisa bernafas dengan bebas. Kini dia tahu rasanya hidup yang dijajah dan tidak bisa hidup dengan bebas. Begitulah hidup Raymond saat ini. Dia merasa hidupnya seolah terjajah mulai dari dia menikah dengan Tania, hingga sekarang ini.


Beep… beep… beep…


Suara klakson kendaraan yang bersahut-sahutan membuat Raymond terpaksa menutup kembali pintu mobil belakang yang sudah dibukanya. Segera dia berpindah ke pintu depan dan membukanya untuk duduk di kursi depan sebelah pengemudi.


Raymond segera memakai sabuk pengamannya dan segera memejamkan matanya agar istrinya tidak mengajaknya berbicara.


Tania menatap kesal suaminya yang lebih memilih memejamkan matanya daripada berbincang dengannya. Tapi dia tidak bisa lebih banyak mengomelinya lagi karena suara klakson dari beberapa kendaraan kembali terdengar.


“Woiii… Jalan!”


“Ini bukan jalan nenek moyang kalian!”


“Ganggu lalu lintas saja!”


Beberapa orang berteriak dari dalam mobil mereka. Hal itu membuat Tania harus segera melajukan mobilnya meskipun dia masih ingin berdebat dengan suaminya.


Sekilas Tania melirik suaminya yang masih saja memejamkan matanya. Entahlah Raymond hanya berpura-pura tidur atau memang dia benar-benar tertidur.


Setelah Tania memarkir mobilnya di depan rumah mereka, barulah Raymond membuka matanya. Setelah itu Raymond bergegas turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumahnya tanpa menunggu istrinya.


Tania tersenyum sinis melihat suaminya yang sedang berjalan masuk ke dalam rumahnya sambil berkata,


“Ternyata kamu benar-benar berpura-pura tidur. Lihat saja Ray, aku akan membuatmu kembali menjadi Raymond milik Tania yang selalu menurutiku seperti dulu.”


Setelah itu Tania masuk ke dalam rumah dan dia mencari keberadaan suaminya di ruang kerjanya. Dia tersenyum ketika melihat suaminya terbaring dengan mata yang terpejam dan memakai selimut sebatas pinggangnya di atas ranjang mereka.


Rupanya kamu benar-benar sakit Ray. Aku kira kamu berada di ruang kerjamu dan membaca buku-bukumu untuk menghindariku. Ternyata aku salah. Aku akan memperlakukanmu lebih baik lagi mulai sekarang,Tania berkata dalam hatinya.

__ADS_1


Tania meninggalkan kamar tersebut untuk membiarkan suaminya beristirahat. Dia berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman dingin di dalam lemari es. Masih dengan pintu lemari es yang terbuka, Tania meminum orange jus yang sudah dituang ke dalam gelasnya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.


Dia mengambil ponselnya dari saku celananya. Kemudian dia mengutak-atik ponselnya itu dan tersenyum sambil berkata,


“Baiklah, kita akan segera bertemu dan bersenang-senang.”


Tring!


Suara notifikasi ponsel Velicia berbunyi. Ferdi yang berada di dalam kamar tersebut menoleh ke arah ponsel istrinya. Entah mengapa Ferdi ingin sekali mengetahui ponsel istrinya yang akhir-akhir ini tidak pernah terlepas dari tangannya.


Mendekatlah dia ke arah meja yang terletak di sebelah ranjang mereka, tepatnya meja yang berada di sisi kiri, di mana Velicia biasa tidur di sisi tersebut.


Diambilnya ponsel tersebut dan dibacanya pesan yang baru saja diterima. Ternyata Ferdi dengan mudahnya membuka ponsel istrinya. Rupanya Velicia lupa mengganti password ponselnya. Dan password tersebut masih sama dengan yang dulu Velicia gunakan, sehingga dengan mudahnya suaminya bisa membukanya.


Setelah Ferdi dan Velicia menikah, mereka berdua saling bertukar password ponsel karena permintaan Ferdi yang tidak ingin diselingkuhi oleh istrinya. Nyatanya password Ferdi berubah setelah dia mengganti ponselnya. Dan itu tidak diketahui oleh istrinya.


Entah pesan apa yang dibaca oleh Ferdi di ponsel Velicia. Dia mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan tersebut. Setelah itu dia mengembalikan ponsel istrinya di tempatnya semula.


Ceklek!


Pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar itu terbuka.


Ferdi yang sudah duduk kembali di sofa kamarnya sambil membaca sebuah buku beralih memandang ke arah pintu kamar mandi. Dia tersenyum  melihat istrinya yang terlihat segar setelah mandi. Kemudian dia berkata,


“Bunda, besok kan weekend. Aku akan mengajakmu jalan-jalan. Sepertinya sudah lama kita tidak menikmati waktu bersama saat weekend,”


Velicia tersenyum tipis mendengar perkataan suaminya. Dengan tangan yang masih mengeringkan rambutnya menggunakan handuk, dia berkata,


“Bukan sepertinya lagi. Kita memang sudah tidak pernah menikmati waktu bersama karena Mas Ferdi sibuk dengan yang lainnya.”


“Bunda, sudah deh jangan mulai lagi. Aku benar-benar ingin membuat hubungan kita  kembali seperti dulu. Dan satu lagi, akhir-akhir ini aku mungkin bersikap menyebalkan. Dan itu karena aku sedang stress dengan pekerjaanku. Aku sudah berkonsultasi dengan dokter tentang itu. Percayalah…,” sahut Ferdi berusaha menjelaskan pada istrinya dengan mengiba padanya.


Sepertinya inilah yang terbaik. Aku akan mencobanya terlebih dahulu. Semoga semuanya akan kembali seperti yang dulu, Velicia berkata dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2