Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 6 Tragedi makan siang


__ADS_3

Pagi ini Ferdi sangat kecewa dengan Velicia, istrinya. Begitu pula dengan Velicia yang juga sangat kecewa pada suaminya. Ferdi membuatnya bertambah kesal pagi ini. Sikapnya yang semalam masih terekam jelas di benaknya. Dan paginya pun dikacaukan oleh omelan suaminya itu.  


Lengkap sudah kekecewaannya pagi ini. Sikap suaminya yang dulunya sangat manis padanya, kini sangat membuatnya kesal di setiap kesempatan.


Di dalam kantornya, Ferdi sedang duduk termenung. Dia memikirkan apa yang dikatakan oleh istrinya.


"Kenapa Pak, mukanya kusut amat? Si Amat aja gak kusut tuh mukanya," ucap Lani pada Ferdi sambil menunjuk laki-laki yang bernama Amat sedang membersihkan kaca.


"Ck, kamu tuh. Udah… kerja sana, jangan ganggu orang lain yang sedang bekerja," Ferdi menegur Lani yang setiap harinya selalu mengganggunya.


"Lagi kerja? Siapa? Bapak? Gak salah Pak? Bapak kan lagi melamun," sahut Lani dengan tawa riangnya.


"Sudahlah. Kamu pergilah ke mejamu," Ferdi mengusir Lani dengan menampakkan wajah kesalnya.


Lani mencebik kesal. Dia selalu berakhir diusir oleh Ferdi setiap kali mendekatinya. Jika dia bertanya tentang pekerjaan, pasti dijawab oleh Ferdi, tapi jika Lani bertanya tentang pribadinya, pasti dia akan bernasib seperti sebelum-sebelumnya.


Ferdi tidak terlalu senang jika ditanya tentang pribadinya karena sering sekali rekan-rekan kerja yang seangkatan dengan dia selalu meledeknya karena belum juga mempunyai anak. Sebab itulah dia tidak mau merespon jika ada pertanyaan tentang pribadinya.


"Kenapa cemberut gitu? Diusir lagi sama Pak Ferdi?" tanya Dina, teman Lani yang meja kerjanya berdekatan dengannya.


Lani menganggukkan kepalanya dengan lemas. Dia duduk di kursinya dan menoleh ke arah Ferdi untuk melihatnya apakah Ferdi melihatnya juga. Nyatanya Ferdi lebih sibuk dengan layar komputernya.


Lani pun kembali memutar kepalanya dan meletakkannya pada meja kerjanya. Rasanya dia enggan mengerjakan pekerjaannya karena Ferdi mengusirnya dengan wajah yang menampakkan kemarahan.


"Lagian kamu ngapain sih selalu mendekati Pak Ferdi? Jangan-jangan kamu suka ya sama Pak Ferdi? Mendingan kamu batalkan saja keinginanmu itu, karena istri Pak Ferdi sangat cantik. Bahkan perempuan yang ada di ruangan ini saja tidak ada yang menandingi kecantikannya," tutur Dina lirih sambil mendekat ke wajah Lani yang sedang meletakkan kepalanya di atas meja.


Seketika Lani menegakkan kepalanya. Kemudian dia berkata,


"Serius?" 


Dina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Lani padanya.


"Jadi penasaran. Seperti apa sih istrinya Pak Ferdi?" tanya Lani pada Dina yang sudah kembali mengerjakan pekerjaannya.

__ADS_1


"Cari tau aja sendiri. Dan cepat kerjakan pekerjaanmu sekarang daripada nanti kamu dimarahi oleh Pak Ferdi lagi," tutur Dina pada Lani.


Lani menggeser kursinya mendekati Dina yang sedang fokus pada layar komputernya. 


"Ck, kamu itu Din, aku kan jadi tambah penasaran jadinya. Kamu pernah bertemu dengannya?" tanya Lani berbisik di telinga Dina.


"Sudah, bersama yang lainnya," jawab lirih Dina yang masih fokus pada pekerjaannya.


"Kapan?" tanya Lani kembali dengan suara lirih.


"Pada saat menempati rumah barunya. Kami semua diundang datang ke rumahnya," jawab Dina sambil menekan-nekan keyboard nya dengan jari lentiknya.


"Pasti aku belum magang di sini ya?" tanya Lani kembali dengan wajah sedihnya.


"Belumlah. Kamu kan baru beberapa bulan yang lalu magang di sini. Coba kamu cek di media sosial milik Pak Ferdi, barangkali saja ada fotonya. Eh tapi gak mungkin deh orang seperti Pak Ferdi punya akun media sosial," ucap Dina sambil terkekeh lirih.


Mata Lani berbinar dan senyumnya merekah mendengar perkataan Dina yang menyuruhnya melihat media sosial milik Ferdi, tapi seketika senyumnya hilang dan matanya kembali sayu setelah mendengar jika Ferdi kemungkinan tidak mempunyai akun media sosial.


Di jam makan siang, Lani mencoba keberuntungannya. Dia berpura-pura tidak membawa dompetnya untuk bisa lebih dekat dengan Ferdi.


"Pak Ferdi, maaf… mmm… apakah saya bisa meminjam uang untuk makan siang? Dompet saya tertinggal Pak. Pasti nanti akan saya ganti Pak," ucap Lani dengan memasang wajah melasnya.


Ferdi menghela nafasnya. Tadinya dia akan berjalan kaki menuju tempat makan yang menyajikan makanan rumahan, tapi jika bersama dengan Lani, kemungkinan mereka akan makan di restoran fast food atau cafe yang menyajikan makanan kekinian.


"Ini uangnya, cukup kan?" ucap Ferdi sambil mengulurkan uang seratus ribu di depan Lani.


Lani menatap Ferdi tak berkedip. Dia tidak menyangka jika Ferdi sekaku itu. Tadinya Lani bermaksud mengajak Ferdi makan berdua saja, tapi dia takut jika Ferdi menolaknya, sehingga dia mengubah rencana lain dengan cara meminjam uang pada Ferdi.


"Lah terus Bapak gak jadi makan siang?" tanya Lani menelisik dengan memandang Ferdi tepat di depan wajahnya tanpa berkedip.


Ferdi gugup ditatap seperti itu oleh Lani. Tidak ada yang berani melakukan hal seperti itu pada Ferdi. Bahkan Velicia pun tidak pernah berani melakukannya, karena Velicia benar-benar gadis yang pendiam dan penurut. Itulah yang membuat Ferdi yakin menjadikannya sebagai istrinya meskipun dia seorang yatim piatu.


"Saya akan makan di tempat makan yang menyajikan makanan rumahan," jawab Ferdi sambil melangkah mundur satu langkah agar tidak terlalu dekat dengan Lani.

__ADS_1


"Aku ikuuuuut…," seru Lani sambil memegang tangan Ferdi.


"Bukannya kamu suka makanan yang kekinian? Mending kamu ke fast food atau cafe saja," tutur Ferdi sambil menghempaskan tangan Lani yang memegang tangannya.


"Sudah bosan Pak. Mendingan saya ikut Bapak saja, siapa tau saya cocok dengan masakan mereka," ucap Lani dengan wajah memohonnya.


Ferdi kembali menghela nafasnya, dia tidak menyangka jika Lani tipe perempuan yang pantang menyerah, sehingga membuat Ferdi takut dekat dengannya.


 "Ayo Pak… buruan… keburu jam makan siangnya sudah habis," ucap Lani sambil menarik tangan Ferdi sehingga mau tidak mau Ferdi ikut berjalan bersama dengan Lani.


Sesampainya di tempat makan tersebut, Lani dan Ferdi segera memesan makanan yang mereka inginkan.


"Pak, ternyata makanan di sini enak-enak ya Pak. Pas banget rasanya," tutur Lani setelah menelan makanannya.


Ferdi hanya tersenyum, dia serasa sedang bersama dengan adik perempuannya. Dulu Ferdi mempunyai adik perempuan, tapi di usianya yang ke tujuh belas, sebuah tabrakan maut yang menewaskan adik Ferdi meninggal secara langsung di tempat kejadian.


Lani banyak berbicara menceritakan apapun untuk membangkitkan suasana agar tidak kaku.


Tawa Lani mampu membuat Ferdi ikut tertawa. Dan kini Lani bisa mengajak bicara apapun dengan Ferdi karena kedekatan mereka saat ini lebih dari yang sebelum-sebelumnya.


Setelah jam pulang sekolah, pekerjaan Velicia sudah selesai. Dia dan teman-temannya berniat untuk makan siang bersama sekalian pulang setelahnya.


Velicia kini sedang berburu makan siang bersama dengan teman-temannya sesama guru di sekolah yang sama dengannya mengajar. Dia mengajak temannya itu datang ke tempat makan yang menyajikan masakan rumahan.


Ternyata keinginan mereka sama, antara Ferdi dan Velicia, sama-sama sedang menginginkan masakan rumahan dari tempat makan yang sama dengannya.


"Mas Ferdi?" 


 


   


 

__ADS_1


__ADS_2