
Genggaman tangan Raymond dan Velicia membuat hati mereka bahagia, tenang dan nyaman. Hanya dengan bergandengan tangan saja membuat dunia mereka menjadi indah.
Akankah bisa tetap menggenggam tangannya seperti ini? Apa bisa bergandengan tangan dan saling menggenggam tanpa bersembunyi seperti sekarang ini? Velicia berkata dalam hatinya.
Aku ingin tetap menggandengnya seperti sekarang ini. Dan aku tidak ingin melepaskan tangan wanita yang aku cintai. Bisakah aku tetap menggenggam tangannya? Raymond berkata dalam hatinya.
“Sekali lagi. Satu… dua… tiga… Senyum…,” seru waitress yang sedang mengabadikan momen kebersamaan mereka.
Mereka berempat pun senyum mengikuti arahan yang diberikan oleh waitress tersebut yang bertindak layaknya seorang photographer ketika mengambil foto mereka.
Bahkan Raymond dan Velicia yang tadinya berwajah datar, kini mereka berdua tersenyum memperlihatkan aura kebahagiaan pada wajah mereka. Berkat genggaman tangan itu senyum mereka berkembang. Dan berkat genggaman tangan itu sedikit bisa mengobati lara hati yang sedang mereka rasakan.
“Sudah Bu. Ini, silahkan dilihat hasilnya,” ucap waitress tersebut sambil memberikan ponsel tersebut pada Tania.
Genggaman tangan Raymond dan Velicia terlepas. Hanya sekejap mereka merasakan kebahagiaan. Dan saat itu juga mereka harus menghadapi kenyataan bahwa genggaman tangan mereka harus terlepas.
“Emmm Mas… Aku akan ke toilet dulu,” ucap Velicia lirih pada suaminya.
Ferdi yang sedang melihat layar ponselnya, menoleh pada istrinya. kemudian dia berkata,
“Oh iya. Hati-hati.”
Raymond melirik dan mendengarkan perbincangan suami istri itu. Dia merasa bahwa inilah kesempatannya untuk berbicara dengan Velicia. Dia ingin mengatakan apa yang selama ini dirasakannya ketika Velicia memutuskan untuk tidak saling bertemu.
“Aku akan menerima telepon dulu,” ucap Raymond pada istrinya sambil menunjukkan ponselnya.
Tania yang sedang melihat-lihat hasil foto tadi tersenyum senang dan menanggapi perkataan suaminya tanpa melihat ke arahnya.
“Iya. Jangan lama-lama.”
Raymond berjalan cepat ke arah jalanan yang dilalui oleh Velicia. Dia berharap bisa menemuinya sebelum pasangan mereka mencari mereka.
__ADS_1
Dada Velicia merasa sesak. Semua kesedihannya terasa menggumpal di dadanya. Bahkan air matanya tidak bisa ditahannya. Air mata itu lolos begitu saja ketika Velicia berjalan masuk ke dalam toilet.
Grep!
Tangan Velicia dipegang dengan erat oleh seseorang hingga dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang. Matanya terbelalak, bibirnya bergetar dan bulir air matanya kembali menetes ketika melihat orang yang meraih tangannya saat ini adalah laki-laki yang selalu ada dalam hatinya. Bahkan namanya terukir dengan indahnya dalam hati Velicia, sehingga nama itu sangat sulit untuk dihilangkannya.
“Maaf. Maaf karena aku tidak bisa menahannya. Aku ingin selalu menggandeng tangan ini,” ucap Raymond dengan wajah mengiba dan melihat ke arah tangannya yang sedang memegang tangan Velicia.
Dengan deraian air matanya, Velicia melihat ke arah tangannya yang dipegang erat oleh Raymond. Dia mencoba melepaskannya meskipun hatinya berkata jangan.
Begitu pula dengan Raymond, dia tidak ada keinginan sedikit pun untuk melepaskan tangan yang susah payah diraihnya.
Merasa Velicia tidak menolaknya, Raymond meraih tubuh Velicia ke dalam pelukannya sambil berkata,
“Aku merasa tidak bisa hidup tanpamu,” ucap Raymond dengan suara yang bergetar karena air matanya kini menetes di pipinya.
Mendengar hal itu, hati Velicia semakin sakit. Bahkan saat ini dia merasa sangat tersiksa akan perasaan cintanya. Air matanya pun semakin deras tak terbendung. Rasa sesak dalam hatinya karena perpisahan mereka, kini sedikit lega karena tangisannya.
Velicia pun terbawa suasana. Dia tidak lagi memikirkan kehadiran suaminya dan juga istri Raymond di sana. Dia sibuk menenangkan hatinya yang terluka. Pelukan Raymond dan semua pernyataan cintanya seperti obat yang menyembuhkan lukanya.
Setelah kesadaran Raymond kembali, dia segera menarik Velicia masuk ke dalam salah satu bilik toilet dan menutup pintu tersebut, serta menguncinya.
Di dalam sana Raymond kembali memeluk erat tubuh Velicia untuk menyalurkan semua perasaannya yang telah menyiksanya.
Velicia menggigit bibir bawahnya. Dengan sekuat tenaga dia meredam suara tangisnya agar tidak terdengar oleh siapa pun meskipun air matanya dengan lancangnya keluar membasahi pipinya.
Setelah beberapa saat, Raymond mengurai sedikit pelukannya dan menatap lekat wajah wanita yang selalu dirindukannya. Kemudian dia mendekatkan bibirnya pada telinga Velicia dan berbisik,
“Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Hingga aku merasa gila karena tidak bisa bertemu denganmu. Aku mohon, jangan lakukan itu padaku.”
Velicia semakin kuat menggigit bibir bawahnya karena hatinya bertambah sakit mendengar penuturuan dari laki-laki yang dicintainya. Sehingga air matanya semakin deras keluar dari pelupuk matanya.
__ADS_1
Melihat hal itu, Raymond tidak bisa lagi menahan rasanya. Dia tidak bisa melihat air mata kesedihan keluar dari mata indah wanita yang dicintainya. Baginya hanya air mata kebahagiaan saja yang boleh keluar dari mata itu.
Raymond mendekatkan wajahnya pada wajah Velicia, bibirnya mendekat dan mencium dengan lembut kedua mata Velicia bergantian. Dia melakukan itu untuk menghentikan air mata Velicia agar tidak lagi keluar.
“Jangan menangis lagi,” ucapnya lirih sambil menatap intens manik mata kekasihnya itu.
Velicia pun menganggukkan kepalanya menanggapi permintaan Raymond. Tapi ketika matanya berkedip, air matanya pun dengan lancangnya kembali menetes.
Raymond kembali mencium kedua mata Velicia secara bergantian. Kemudian dia mencium hidungnya, kedua pipinya secara bergantian dan terakhir dia mencium bibir Velicia dengan lembut dan penuh dengan perasan.
Dalam ciuman itu mereka berdua menyalurkan perasaan cinta mereka, kasih sayang mereka dan rasa tidak mau kehilangan. Mereka menginginkan kebersamaan dan tidak ingin kehilangan cinta mereka yang membuat mereka tersiksa.
Setelah beberapa saat, Raymond melepaskan ciuman itu dan menghapus jejak air mata di wajah cantik wanita yang menjadi pujaan hatinya.
Tatapan mereka masih beradu. Hingga setelah mereka merasa aman, Velicia keluar terlebih dahulu meninggalkan Raymond yang masih berada di dalam sana.
Velicia kembali duduk di sebelah suaminya dengan menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya dengan mengurai rambutnya menutupi wajahnya. Dia hanya tidak mau jika Tania yang duduk di depannya mengetahui jejak air mata pada wajahnya.
“Lama sekali ke toilet. Apa perutmu sakit lagi?” tanya Ferdi lirih di sebelah telinga istrinya.
Velica menggelengkan kepalanya tanpa bersuara sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh suaminya padanya.
Ferdi merasa aneh dengan sikap istrinya saat ini. Dia tersenyum kaku pada saat Tania memperhatikan dirinya yang sedang bertanya pada istrinya.
Tania pun merasa aneh dengan Velicia yang bersikap tidak seperti tadi. Dia ingin bertanya padanya, tapi ketika bibirnya terbuka akan mengatakan sesuatu, Raymond datang dan duduk di sebelahnya, sehingga dia mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Velicia.
Ternyata Raymond tidak bisa menahan pandangannya. Matanya selalu menatap ke arah Velicia. Dia takut jika wanita yang dicintainya itu kembali menangis seperti tadi.
Tania akan bertanya pada suaminya tentang apa yang dilakukannya tadi sehingga dia menunggu lama. Tapi, kata-kata itu tidak bisa keluar karena Tania melihat pandangan suaminya mengarah pada Velicia. Bahkan pandangan suaminya itu tidak terputus sama sekali.
Tania memandang suaminya dan Velicia secara bergantian. Dia merasa aneh dengan situasi saat ini. Dalam hatinya dia berkata,
__ADS_1
Ada apa ini? Kenapa situasinya jadi aneh seperti ini?