
Tring!
Lamunan Raymond terganggu oleh suara notifikasi pesan dari ponsel yang ada di tangannya. Bibirnya melengkung ke atas kala melihat nama wanita yang sedari tadi memenuhi pikirannya.
“Ve?!” celetuk Raymond dengan wajah sumringahnya.
Tanpa menuggu lama jari tangan Raymond membuka pesan tersebut. Seketika matanya terbelalak karena kaget membaca isi pesan dari Velicia. Matanya berkaca-kaca membaca berulang-ulang pesan dari wanita yang selalu membuat hatinya merindunya.
“Tidak. Apa maksud semua ini? Apa dia salah mengirimkan pesan? Tapi dia menyebut namaku. Apa yang terjadi? Bukankah kita tadi baru bertemu dan baik-baik saja? Bahkan tadi kita… Aaahhh… Apa yang sebenarnya terjadi? Apa dia ketahuan? Aku harus menemuinya,” ucap Raymond dengan panik.
Dengan segera dia mengambil payung keluar dari rumahnya dan berjalan menuju rumah Velicia. Di sepanjang jalan dia tak henti-hentinya menghubungi Velicia dan mengirimkannya beberapa pesan. Sayangnya semua pesan tidak terbalas. Bahkan semua pesan itu tidak dibaca oleh Velicia.
Begitu juga dengan panggilan teleponnya yang semuanya menjadi panggilan tak terjawab. Bahkan setelah panggilan terakhirnya, ponsel Velicia tidak aktif. Rupanya Velicia telah mematikan ponselnya.
Sama seperti Raymond, Velicia sangat tersiksa dengan perasaannya. Tidak henti-hentinya air matanya menetes di pipinya. Terlebih pada saat dia memejamkan matanya, berharap agar dia bisa tertidur dan melupakan semuanya.
Namun, air matanya menetes dengan sendirinya. Masih dalam posisi tidur di ranjangnya, tangan Velicia mengusap kasar air mata yang menetes dari matanya yang terpejam sambil berkata,
“Lancang sekali air mata ini. Aku tidak ingin menangisi semua ini karena aku wanita jahat. Aku harus menerima semuanya dengan ikhlas karena aku sudah tau akan akibatnya.”
Di luar rumah Velicia, masih dengan ditemani rintiknya hujan di malam itu, Raymond berdiri dengan jarak yang tidak jauh dari rumah tersebut. Dia berdiri di bawah pohon dengan menatap kamar yang lampunya terlihat menyala.
Ingin sekali dia menerobos masuk ke dalam rumah yang ada di hadapannya itu dan menemui kekasih hatinya. Tapi dia sadar bahwa posisinya tidak mengijinkan di untuk melakukannya karena akan membahayakan Velicia. Dia takut jika wanita yang sudah bersuami itu akan terluka jika hubungan mereka diketahui oleh orang lain.
“Aku hanya ingin melihat dia sekali saja, meskipun itu dari jarak jauh. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja,” ucap Raymond sambil bersiap melangkah ke arah rumah Velicia.
Baru selangkah Raymond berjalan, dia menghentikan langkahnya ketika melihat seorang pria dengan memakai payung berwarna hitam berjalan masuk membuka pagar rumah yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
“Apa dia suami Velicia? Sepertinya dia baru saja pulang dari bekerja,” ucap Raymond sambil menatap pria tersebut yang kini sedang melipat payungnya dan membuka pintu rumah tersebut.
Raymond melihat jam yang melingkar pada tangan kanannya. Kemudian dia berkata,
“Apa setiap hari dia pulang selarut ini? Tidak salah jika Velicia merasa kesepian dan mencurigainya telah berselingkuh. Apalagi Velicia telah menemukan barang milik wanita lain di mobilnya. Lalu, apa salahnya jika Velicia dan aku mencari kebahagiaan sendiri. Rumah tangga kami sama-sama tidak sehat. Dan aku ingin mengakhirinya karena aku menginginkan untuk bisa bersatu dengan kebahagiaanku.”
Kini Raymond tampak seperti seorang stalker yang mengintai rumah seseorang. Bahkan dia tidak bisa dengan terang-terangan menemui wanita yang dicintainya. Betapa tersiksanya perasaan Raymond saat ini setelah dia menerima pesan perpisahan yang dikirim oleh wanita yang dicintainya itu. Dan kini dia hanya bisa berdiri di depan rumahnya tanpa bisa bertemu dengannya.
Tadinya Raymond berniat akan bertamu dengan menyamar sebagai seseorang yang sedang mencari temannya dengan skenario salah alamat. Sayangnya suami Velicia lebih dahulu sampai di rumah, sehingga dia tidak mau mengambil resiko yang membuat Velicia membencinya.
Setelah beberapa saat Raymond berada di sana tanpa adanya tanda-tanda Velicia keluar dari rumahnya, Raymond pulang dengan suasana hati sedih. Dia merasa galau dan bimbang, hingga dia tidak ingin melakukan apapun.
“Habis dari mana? Kamu membawa payung, tapi kenapa badanmu masih basah?” tanya Tania menyelidik.
Raymond hanya berlalu tanpa berniat menjawab pertanyaan dari istrinya. Dia enggan membuka suaranya, apalagi menjawab pertanyaan yang dilontarkan istrinya padanya. Dia yakin jika nantinya jawaban apapun yang keluar dari mulutnya akan berakhir perdebatan di antara mereka.
Namun, Raymond masih saja tidak bergeming. Dia tetap tidak bersuara, seolah dia menulikan telinganya. Dan sikap Raymond itu berhasil membuat Tania menjadi sangat kesal padanya.
Di sisi lain, tepatnya di rumah Velicia, Ferdi yang baru pulang dari bekerja merasa rumahnya sangat kosong meskipun dia tahu jika istrinya sudah berada di rumah. Dia menatap sekeliling ruangan rumahnya yang sepi bagai tak berpenghuni.
“Bunda… Bunda… Sayang… di mana kamu?!” seru Ferdi sambil berjalan ke dapur untuk mencari istrinya.
“Tidak ada, di mana dia?” Ferdi bermonolog sambil matanya masih mencari keberadaan istrinya.
“Oh iya lupa,” ucapnya kemudian sambil mengeluarkan tumbler miliknya dari dalam tasnya.
Kemudian dia membuka tutup botol tumbler tersebut dan membuang isi dari dalam tumbler itu ke dalam wastafel.
__ADS_1
“Kenapa dibuang?”
Mata Ferdi terbelalak karena terkejut tiba-tiba mendengar suara istrinya yang sedari tadi dicarinya dan kini sudah berada di belakangnya.
Dengan perlahan Ferdi menoleh ke belakang dan dia tersenyum kaku ketika melihat istrinya melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil menatap ke arahnya.
“Bunda, dari mana saja? Dari tadi aku mencarimu,” ucap Ferdi dengan raut wajah seperti orang yang sedang terpergok melakukan sesuatu.
“Kamar. Kenapa kopinya dibuang?” tanya Velicia sambil menunjuk ke arah wastafel menggunakan dagunya .Ferdi terlihat salah tingkah dan senyumnya pun terlihat sangat dipaksakan. Kemudian dia menjawab,
“Oh itu, tadi belum sempat minum. Dan pada saat akan minum, ternyata kopinya sudah dingin. Maka dari itu aku tidak jadi meminumnya.”
Velicia memicingkan matanya melihat wajah suaminya. Dengan senyum sinisnya Velicia berkata,
“Bukannya Mas Ferdi pecinta kopi? Sangat tidak mungkin sekali jika tidak menyempatkan diri meminum kopi,” ucap Velicia seraya mengambil botol yang berisi minuman dingin dari dalam lemari es yang terletak tidak jauh dari tempat Ferdi berdiri saat ini.
Seketika Ferdi merasa tertohok. Dia tidak menyangka jika istri penurut dan pendiamnya itu kini bertindak seolah sedang menyelidikinya.
Melihat Ferdi yang terdiam dengan wajah terkejutnya itu, Velicia tersenyum sinis pada suaminya dan berjalan dengan membawa botol yang berisi minuman tadi menuju kamarnya.
Setelah berjalan beberapa langkah, Velicia menghentikan langkahnya dan berkata,
“Ah, aku lupa memasak dan aku tidak mood memasak saat ini. Lebih baik Mas Ferdi memasak sendiri saja. Atau membelinya di luar.”
Brak!
Velicia menutup pintu kamarnya seolah melampiaskan kekesalannya. Dan Ferdi yang sedang mematung karena terkejut dengan sikap istrinya itu, kini dia berjingkat kaget mendengar suara pintu yang ditutup Velicia dengan kerasnya. Dalam hatinya dia berkata,
__ADS_1
Apa dia marah karena kopi buatannya aku buang? Apa hanya karena kopi dia bisa semarah itu? Sekarang dia benar-benar aneh.