
“Kenapa kamu kaget seperti itu Ferdi?” tanya Bu Anisa yang merasa heran melihat ekspresi putranya saat ini.
“Ibu, kenapa pagi-pagi sekali ke sini? Ibu mengagetkanku saja,” jawab Ferdi sambil terlihat salah tingkah di hadapan ibunya.
“Ibu sengaja ke sini pagi-pagi untuk memberimu makanan yang baru saja Ibu masak,” jawab Bu Anisa.
Kemudian dia melihat ke arah dapur yang terlihat sepi dan matanya seperti sedang mencari-cari sesuatu sambil berkata,
“Velicia ke mana? Apa dia sedang mandi? Atau sedang ke pasar?”
“Dia sedang bekerja,” jawab Ferdi yang terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Bu Anisa mengernyitkan dahinya mendengar apa yang dikatakan oleh putranya. Kemudian dia memicingkan matanya sambil berkata,
“Bukankah dia sedang libur?”
Ferdi salah tingkah mendengar pertanyaan dari ibunya. Dia lupa jika Velicia sedang libur sekarang ini. Kini dia bingung akan mengatakan apa pada ibunya. Untung saja ponsel Ferdi menyelamatkannya. Dering ponselnya itu mengalihkan perhatian Bu Anisa dan Ferdi.
“Halo,” ucap Ferdi pada nomor yang tidak dikenalnya.
Aku Tania, istri Raymond. Apa istrimu tidak pulang semalam? tanya Tania dari seberang sana melalui telepon.
Ferdi melihat ke arah ibunya yang sedang mendekatkan telinganya pada ponsel Ferdi yang sedang digunakannya. Ferdi salah tingkah karena dia tidak bisa dengan leluasa menjawab telepon tersebut yang menanyakan tentang istrinya.
“Tidak,” jawab Ferdi singkat agar ibunya tidak curiga.
Suamiku tidak pulang kemarin malam. Aku rasa mereka sedang bersama. Apa kamu tidak ingin mencarinya? ucap Tania dari seberang sana.
Masih dengan telinga yang menempel pada ponsel Ferdi, Bu Anisa berkata dengan lirih,
“Apa Velicia tidak pulang semalam?”
Sontak saja Ferdi mematikan telepon tersebut karena kaget mendengar pertanyaan dari ibunya. Dia terlihat salah tingkah seperti sedang ketahuan mencuri sesuatu.
“Apa Velicia tidak pulang semalam karena pergi dengan pria yang menjadi selingkuhannya?” tanya Bu Anisa kembali pada putranya.
__ADS_1
“Aku akan pergi sekarang,” ucap Ferdi seraya tangannya mengambil kunci mobilnya.
Brak!
Ferdi menutup pintu rumahnya dengan terburu-buru hingga pintu itu tertutup dengan sangat keras dan meninggalkan ibunya sendirian di dalam rumah yang kaget mendengar suara bantingan pintu dari Ferdi.
Dia meninggalkan rumah tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan ibunya tentang keberadaan istrinya.
Di dalam mobilnya dia menghubungi Tania untuk menanyakan keberadaannya. Dia ingin bertanya lebih lanjut pada tania tentang keberadaan istrinya.
Di sinilah mereka berdua berada. Di sebuah café yang ada di pertengahan kota, kini mereka berdua bertemu.
“Jadi, apa anda tahu di mana istri anda dan suami saya berada sekarang? Anda bilang semuanya sudah berakhir. Dan apa yang terjadi sekarang? Mereka berdua tidak pulang dan entah menginap di mana sekarang. Bahkan ponselnya saja tidak bisa dihubungi,” ucap Tania sambil menatap kesal pada Ferdi yang sedang duduk di hadapannya.
“Istri saya bukan wanita seperti itu. Saya yakin dia tidak akan gegabah melakukan hal seperti itu,” jawab Ferdi dengan tegas dan wajahnya yang datar.
“Apa kamu masih tidak mengerti juga?” tanya Tania dengan tatapan sangat kesal.
Suasana antara mereka berdua terasa sangat dingin dan tidak bersahabat. Mereka sama-sama dengan pemikirannya masing-masing.
Merasa Ferdi tidak menjawabnya, dia kembali berkata,
“Aku tidak akan bercerai dengannya. Dan aku akan menemukannya dan menjaganya agar tidak bertemu dengan wanita lain.”
“Apa kamu tau di mana suamimu berada?” tanya Ferdi dengan antusias.
“Aku akan mencari tau dan akan mengabarimu nanti, jika aku sudah menemukan keberadaan mereka,” jawab Tania sambil berdiri dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu.
Di sebuah daerah yang sangat indah, seorang wanita dan pria berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan di sekitar pegunungan.
“Udara yang bersih, tempat yang indah, matahari yang cerah dan berjalan bergandengan dengan orang terkasih membuatku tidak takut untuk menghadapi semuanya,” ucap Raymond sambil berjalan dan mengayun-ayunkan gandengan tangan mereka.
“Apa kamu sedang membaca puisi Ray?” tanya Velicia sambil tersenyum manis pada Raymond.
“Aku mencoba membuat puisi untuk mengesankanmu. Karena aku tau, kamu sangat suka sastra,” jawab Raymond sambil tersenyum malu pada Velicia.
__ADS_1
“Aku sudah terkesan dengan semua yang kamu perbuat,” jawab Velicia dengan senyum manisnya.
“Aku yakin kamu bisa lebih bagus lagi membuat karya sastra karena kamu penulis yang berpotensi,” ucap Raymond sambil tersenyum.
Velicia menghentikan langkahnya dan menatap serius pada Raymond. Kemudian dia berkata,
“Seorang penulis yang berpotensi?”
Raymond menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis pada Velicia yang sepertinya ingin menanyakan sesuatu padanya lewat tatapan matanya.
“Ray, apa kamu pikir aku benar-benar bisa menjadi seorang penulis?” tanya Velciia ragu.
“Tentu saja. Ada yang mengatakan bahwa hanya orang yang mau menjadi penulis yang benar-benar bisa menjadi seorang penulis,” jawab Raymond dengan antusias.
“Benarkah?” tanya Velicia kembali dengan senyum yang terlihat ragu.
Raymond memeluk Velicia untuk menguatkannya dan menjauhkan keraguannya sambil berkata,
“Mulai sekarang, kamu harus berani melakukan apa yang kamu inginkan. Hiduplah untuk dirimu sendiri. Dan jangan lagi hidup untuk menuruti kemauan orang lain. Sudah cukup pengorbananmu selama ini. Berbahagialah dan hadapi masa depanmu dengan cerah.”
Setelah itu Raymond melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Velicia untuk mengajaknya kembali berjalan berkeliling daerah tersebut.
Mereka melewati sawah yang terlihat menghijau dan menyegarkan. Kemudian mereka berjalan menyusuri sungai dan bermain air di sana. Tawa mereka terlihat sangat bahagia tanpa beban ketika mereka bermain air dan saling melempar air dengan senangnya.
Di tempat yang berbeda, Ferdi merasa sangat frustasi. Dia tidak berangkat bekerja dan mengambil cuti untuk beberapa hari. Bu Anisa terlihat kesal sekaligus kasihan pada putranya.
Dia mengerti jika perbuatan Velicia tidak sepenuhnya kesalahannya. Dia juga menyalahkan Ferdi yang selama ini tidak mau mempunyai anak yang kemungkinan besar bisa mengikat Velicia agar tidak bisa pergi dari rumah meskipun dia sudah menemukan pria lainnya.
Tok… tok… tok…
Suara pintu yang diketuk membuat Ferdi yang sedang berbaring di kamar dan Bu Anisa yang sedang berada di dapur, segera berjalan ke arah pintu.
“Apa itu Velicia? Mungkin dia kehilangan kunci rumah,” ucap BU Anisa pada Ferdi sambil bersiap membuka pintu rumah tersebut.
Seketika raut wajah Bu Anisa berubah menjadi kesal setelah membuka pintu dan melihat orang yang berada di depan pintu tersebut.
__ADS_1