Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 34 Penyebab sakitnya Velicia


__ADS_3

Ferdi memandang istrinya dengan tatapan tidak percaya. Sudah dijelaskan olehnya bahwa dia tidak berselingkuh, tapi tetap saja istrinya itu masih menanyakan padanya tentang hubungannya bersama dengan Lani.


"Dia pegawai magang di divisi ku. Dan hubungan kami hanya sebatas itu. Kami tidak berselingkuh. Kamu jangan asal menuduh kami," ucap Ferdi dengan tegas dan sedikit emosi.


Velicia tersenyum meremehkan dengan air matanya yang masih saja menetes di pipinya. Rasanya dia sudah sangat lelah dan dia sudah tidak tahan lagi untuk menjalaninya.


"Apa itu benar Mas? Lalu bagaimana bisa kamu langsung berlari menemuinya setelah dia meneleponmu? Sedangkan aku saja yang tadi meneleponmu untuk datang ke sini, dengan entengnya kamu menunggu jam pulangmu Mas. Bagaimana jika seandainya aku sekarat pada saat itu? Apa kamu bisa bertemu denganku?" ucap Velicia berapi-api dengan tersenyum sinis pada Ferdi disertai air matanya yang mengalir tak terbendung di pipinya.


Ferdi terhenyak mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Dia tidak berpikir sama seperti istrinya. Dalam hatinya dia sangat merasa bersalah karena kebodohannya itu, kini istrinya menjadi salah paham padanya.


"Maaf, maafkan aku. Aku memang bodoh. Aku tidak berpikir hingga ke sana," tutur Ferdi dengan tatapan bersalah pada Velicia.


Velicia tersenyum sinis padanya. Kemudian dia berkata,


"Mungkin saja yang ada di dalam pikiran dan hatimu hanya perempuan itu Mas. Aku tidak ada di dalam pikiran dan hatimu, hingga kamu sama sekali tidak khawatir ketika mendengar aku sakit. Terbukti bukan, ketika perempuan itu meneleponmu, tanpa berpikir panjang kamu mendatanginya dan meninggalkan istrimu yang sedang sakit ini sendiri."


"Jangan salah paham Ve. Dia bilang sedang kecelakaan. Dan kamu kan sudah menerima perawatan. Jadi aku pikir-"


"Kecelakaan yang bagaimana yang bisa menelepon sendiri untuk mengatakan kabarnya Mas? Pikir dong Mas. Jika seandainya yang mengabarkan itu orang lain, aku masih bisa terima. Tapi ini…. Ah sudahlah Mas, aku malas membahasnya. Hanya akan menambah sakit hatiku saja. Bahkan kamu tidak tahu kenapa aku bisa dirawat di sini," sahut Velicia dengan kemarahannya yang berapi-api.


Ferdi menghela nafasnya. Sebenarnya dia tidak mau bertengkar dengan istrinya. Bahkan dalam agendanya tadi, saat ini seharusnya dia sudah beristirahat dan bertengkar tidak ada dalam agendanya.


"Aku pikir kamu sudah baik-baik saja Ve. Jadi aku tidak-"


"Bahkan kamu sedari tadi belum menanyakan keadaanku Mas. Bagaimana kamu bisa tau jika aku baik-baik saja?" sahut Velicia sambil tersenyum sinis pada Ferdi.


"Benarkah? Mungkin aku lupa. Maaf," ucap Ferdi sambil memandang Velicia dengan penuh rasa bersalah.


Velicia lelah, dia hanya diam dan berniat untuk mendengarkan saja apa yang diucapkan oleh suaminya. Bahkan perutnya kembali sakit karena terlalu berapi-api marah pada suaminya.

__ADS_1


Lani sedari tadi berada di balik tembok kamar inap Velicia. Dengan membawa botol besar mineral water, dia berdiri di depan pintu mendengarkan percakapan Ferdi dengan Velicia.


Tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas ketika mendengar perdebatan antara Ferdi dengan Velicia yang membawa-bawa namanya. Sepertinya dia senang karena apa yang diucapkan oleh Velicia memang sangat menyenangkan hatinya, seolah-olah Ferdi lebih memikirkannya daripada Velicia yang berstatus sebagai istrinya.


Setelah tidak lagi mendengar ada suara perdebatan lagi dari dalam, Lani membuka pintu kamar inap Velicia dan masuk ke dalamnya.


Ceklek!


Pandangan mata Ferdi mengarah pada pintu yang dibuka oleh Lani. Sedangkan Velicia yang sudah malas melihat wajah Lani, dia segera merebahkan badannya dan memejamkan matanya, berpura-pura untuk tidur.


"Ini Bu minumannya," ucap Lani sambil meletakkan botol minuman tersebut di atas meja yang terdapat di sebelah bed pasien.


Velicia tidak menyahut, dia diam saja dan matanya terpejam dengan rapat berpura-pura untuk tidur.


"Sebaiknya kamu pulang saja. Ini sudah malam," ucap Ferdi dengan tegas tanpa berbasa-basi atau memanggil namanya.


Wajah Lani yang semula tersenyum sumringah, kini seketika menjadi sedih mendengar perkataan Ferdi yang seolah mengusirnya.


"Aku mau menginap di sini saja Pak. Dan saya mengucapkan terima kasih atas pembayaran biaya rumah sakit tadi Pak," tutur Lani tanpa beban dan tersenyum lebar pada Ferdi.


Sontak saja Velicia membuka matanya dan dia duduk menghadap ke arah Ferdi.


"Mas Ferdi membayar biaya rumah sakitnya?" tanya Velicia seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. 


Kemudian dia tersenyum sinis melihat ke arah Ferdi dan Lani secara bergantian. Setelah itu dia berkata,


"Tadi saja protes masalah biaya kamar ku yang menurut Mas Ferdi terlalu berlebihan. Tapi… buat perempuan lain tidak masalah. Aku sangat kecewa sama kamu Mas. Silahkan Mas Ferdi bawa perempuan itu keluar dari kamar ini, karena yang membayar kamar ini bukan kamu Mas. Bahkan kamar ini sudah dibayar oleh orang yang menolongku."


Lani membelalakkan matanya, dia tidak menyangka jika Velicia masih bisa mendengar suaranya. Dia benar-benar mengira jika Velicia sudah tertidur.

__ADS_1


Ferdi tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Mulutnya ingin menyangkal dan berkata bahwa itu semua tidak benar.


Namun, setelah dipikir-pikir, semua yang dikatakan oleh Velicia sangatlah benar. Sehingga dia tidak bisa menyangkalnya.


"Tapi dia hanya meminjam uangku saja Ve. Aku tidak membayari biaya perawatannya," ucap Ferdi sambil memandang Velicia dengan tatapan memohon.


Velicia tidak menjawabnya. Dia hanya tersenyum sinis pada Ferdi.


Ferdi beralih menoleh ke arah Lani dan disambut senyuman manis oleh Lani. Kemudian dia berkata,


"Lan, katakan pada istriku yang sebenarnya agar dia tidak salah paham padamu."


"Saya? Apa yang harus saya jelaskan Pak?" tanya Lani dengan wajah polosnya seolah dia tidak tahu apa-apa.


"Jelaskan tentang apa yang terjadi," ujar Ferdi dengan kesal pada Lani.


"Emmm… tentang Pak Ferdi yang datang sebagai penolongku?" tanya Lani seolah tidak mengetahui apa yang terjadi.


Velicia tersenyum kecut mendengar perkataan dari Lani. Kemudian dia berkata,


"Mas… Mas… Mas Ferdi itu aneh. Mas bisa menjadi pahlawan bagi perempuan lain, tapi… Mas Ferdi jadi penyebab sakitnya aku, istri Mas Ferdi sendiri."


"Aku? Maksud kamu apa Ve?" tanya Ferdi sambil duduk di bed pasien berhadapan dengan Velicia.


"Mas Ferdi tau jika aku sakit karena minuman yang diberikan oleh Ibumu itu? Bahkan kamu dan Ibumu saja tidak peka, dengan keadaanku yang sakit kalian tetap memberikanku makanan yang sangat sulit dicerna oleh lambungku," ucap Velicia sambil tersenyum kecut pada Ferdi.


"Apa?" 


Ferdi sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Dia tidak menyangka jika minuman herbal itu bisa memperparah penyakit Velicia.

__ADS_1


Velicia tersenyum getir melihat Ferdi kaget. Lalu dia berkata,


"Tanyakan saja pada dokter yang menanganiku Mas. Dia pasti akan menceritakan semuanya padamu karena kamu adalah… suamiku."


__ADS_2