Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 71 Kekecewaan Raymond


__ADS_3

Perjalanan Raymond dan Velicia terasa singkat, hanya saja kebahagiaan yang mereka rasakan mewakili perasaan mereka saat ini. Mereka saling mencintai dan mereka saling ingin memiliki. Tidak ada yang bisa menggantikan perasaan itu. Hingga mereka mengambil keputusan untuk mengkhianati pasangan mereka.


Tidak ada yang tahu bagaimana beban perasaan yang mereka alami. Perselingkuhan, tidak ada sekalipun dalam benak mereka untuk melakukannya.


Namun, apa daya jika usaha mereka untuk melupakan rasa itu tidak bisa dengan mudah mereka lakukan. Setiap mereka berusaha untuk melupakan, maka rasa itu akan dengan mudahnya datang menghampiri mereka.


Bayang-bayang kebersamaan mereka dan bayangan akan senyuman manis masing-masing membuat mereka semakin rindu ingin bertemu.


Karena itulah mereka memutuskan untuk bahagia meskipun harus bersikap egois terhadap pasangannya.


Raymond pulang dengan wajah sumringahnya. Entah mengapa perasaan bahagianya itu masih saja memenuhi hatinya. Tidak ada orang yang ingin melepaskan kebahagiaan, begitu pula dengan Raymond. Dia enggan menghilangkan kebahagiaan itu dari hatinya.


“Kamu sudah pulang Sayang?”


Terdengar suara wanita yang akhir-akhir ini tinggal bersamanya sedang menyapanya. Ternyata Tania sedang menunggunya di ruang tamu.


Senyum Raymond seketika pudar setelah mendengar suara istrinya. Dia merasa kebahagiaan yang baru saja dibangunnya seketika roboh karena kehadiran Tania dalam hidupnya.


“Katanya hari ini kamu tidak pulang karena berkunjung ke rumah orang tua kamu?” tanya Raymond dengan ragu sambil meletakkan tas yang dibawanya di sofa.


“Apa karena itu kamu telat?” tanya Tania sambil menatap lekat manik mata suaminya.


“Maaf,” ucap Raymond sambil menundukkan kepalanya.


Tania tersenyum pada suaminya. Kemudian dia berkata,


“Hei, kenapa kamu harus minta maaf?”


“Entahlah,” ucap Raymond sambil tersenyum getir.


Kemudian dia berdiri dari duduknya sambil berkata,


“Aku akan membersihkan badanku.”

__ADS_1


“Sayang, apa kamu tadi berbelanja sesuatu? Ada pengeluaran senilai lima ratus enam puluh lima ribu rupiah,” ucap Tania ketika Raymond baru melangkahkan kakinya selangkah meninggalkannya.


Deg!


Seketika Langkah Raymond terhenti. Kemudian Raymond membalikkan badannya menghadap istrinya, menatapnya dengan penuh tanda tanya.


Tania tersenyum padanya sambil memperlihatkan layar ponselnya di hadapan suaminya. Kemudian dia


berkata,


“Raymond Sayang, kamu ada di dalam genggamanku. Jadi, kamu tidak bisa berulah.”


Raymond tersenyum kecut, dia terlihat sangat kecewa melihat apa yang dilakukan oleh istrinya. Itulah yang membuat Raymond selama ini tidak bisa mencintainya meskipun dia telah berusaha sebisa mungkin untuk menerimanya sebagai istrinya dan mencoba dengan keras untuk mencintainya.


“Hanya ingin makan bersama anak-anak saja. Bukankah kita harus berbagi jika kita mampu?” ucap Raymond, setelah itu dia memakai tasnya di pundaknya dan berjalan menuju ruang kerjanya.


Tania tersenyum sinis mendengar pertanyaan dari suaminya. Dalam hatinya dia berkata,


Berbagi? Memang kita harus berbagi, tapi tidak dengan berbagi perasaan dan tubuh.


Aku akan mencari tahu kebenarannya, Raymond. Tunggu saja dan lihat saja apakah kamu bisa lepas dari genggamanku,Tania berkata dalam hatinya.


Di ruang kerjanya, Raymond tampak sedang berpikir. Kedua tangannya memegangi kepalanya dan menutupi wajahnya yang menunduk. Dia sedang memikirkan tentang hidupnya. Tentang perasaan terlarangnya bersama dengan Velicia.


Sungguh dia tidak ingin melepaskan wanita yang kini telah memiliki hatinya. Penghuni hatinya itu telah mengenalkannya dengan rasa cinta dan kebahagiaan sehingga dia tidak mau mengusirnya dari hatinya.


Awalnya dia dan Velicia ingin menyerah dengan perasaan mereka karena mereka merasa bersalah pada pasangan mereka dan mereka sadar jika rasa mereka itu salah. Sayangnya, sikap pasangan mereka yang membuat mereka kecewa dan sakit hati itu membuat mereka ingin lepas dari belenggu pernikahan yang hanya membuat mereka tidak bahagia.


Ceklek!


Tiba-tiba saja pintu ruang kerja Raymond terbuka. Sontak saja Raymond menoleh ke arah pintu tersebut dan mendapati sosok istrinya yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum padanya.


“Sayang, ayo kita tidur,” ucap Tania sambil berjalan mendekati suaminya.

__ADS_1


Raymond menghela nafasnya dan menatap wajah istrinya yang seperti menyimpan sesuatu dalam senyumannya.


“Ayo kita tidur. Jangan pikirkan pekerjaan kamu yang hanya menyita waktu dan tenagamu saja,” ucap Tania sambil menarik tangan suaminya.


Raymond tidak bergeming, dia menatap istrinya dengan tatapan keberatan. Dia sangat keberatan sekali dengan ucapan Tania yang sedari dulu selalu merendahkan pekerjaannya saja.


“Aku suka dengan pekerjaanku dan aku sangat menikmatinya. Tolong jangan kamu memandang rendah pekerjaanku,” tutur Raymond dengan tatapan yang terlihat kesal pada istrinya.


Tania melepaskan tangan suaminya. Kemudian dia melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil berkata,


“Bukannya aku memandang rendah pekerjaanmu, tapi ini memang fakta. Kamu mengabdikan waktu, tenaga dan pikiranmu pada pekerjaan yang membayarmu hanya sedikit saja. Coba jika kamu mengikuti permintaan orang tuaku untuk menggantikan mereka, pasti kamu tidak akan selelah ini.”


Raymond berdiri dari duduknya dan dia memandang istrinya dengan tatapan kekecewaan. Setelah itu dia berkata,


“Apa karena itu kamu mengatakan pada kepala sekolah tempat aku bekerja bahwa aku seorang profesor?”


“Iya benar. Sebenarnya kamu mampu. Kamu yang terbaik di antara kami, sayangnya kamu lebih memilih untuk berhenti dan bekerja sebagai seorang guru di sekolah itu,” jawab Tania dengan berapi-api.


“Kamu berbohong, aku tidak suka,” sahut Raymond dengan kesal.


“Kamu kira aku suka dibohongi? Ingat Ray, aku juga tidak suka jika dibohongi,” ucap Tania dengan tatapan sinisnya.


Raymond memandang istrinya dengan tatapan tidak percaya. Dia seorang laki-laki yang lembut dan penyayang, sehingga sedari dulu dia ingin mempunyai seorang istri yang sama dengannya. Seorang istri yang lemah lembut dan penyayang seperti Velicia.


Berbeda jauh dengan Tania yang sok berkuasa dan selalu menginginkan agar semua  keinginannya selalu dipenuhi serta cenderung menjadi pemimpin. Hal itu juga berlaku pada Raymond yang harus menuruti perintah Tania dan dia seolah berada dalam genggaman istrinya sehingga dia tidak bisa bergerak dengan bebas sedikit pun.


Raymond sendiri tidak habis pikir, bagaimana caranya istrinya itu bisa memegang kendali untuk transaksi bank miliknya. Meskipun Tania adalah istrinya, pihak Bank tidak akan dengan mudahnya bisa, memberikan kuas padanya tanpa seijin Raymond.


Namun, Raymond Kembali tersadar jika mertuanya merupakan seorang yang dihormati dan tentu saja bisa dengan mudahnya Tania mendapatkan akses untuk akun bank milik Raymond.


“Apa kamu malu denganku yang bukan seorang profesor dan tidak sederajat denganmu?” tanya Raymond dengan sedikit kesal.


Wajah Tania seketika berubah menjadi kesal mendengar pertanyaan dari suaminya. Dia berjalan maju mendekati suaminya dan menatapnya penuh dengan kekesalan.

__ADS_1


“Aku akan ke rumah orang tuaku sekarang,” ucap Tania dengan besungut kesal dan berjalan meninggalkan suaminya.


__ADS_2