
Keesokan harinya, Raymond memberanikan dirinya untuk berkunjung ke rumah orang tua Tania. Dia sudah memantapkan hatinya untuk menjalankan rencananya. Semuanya sudah dipertimbangkan olehnya. Dia hanya berharap jika nantinya semua akan berjalan sesuai rencananya.
Tok… tok… tok…
Pintu rumah orang tua Tania diketuk oleh Raymond. Hatinya sungguh berdebar menghadap kedua orang tua Tania. Bukan berdebar karena senang, tapi dia takut jika kedua orang tua Tania akan mempersulit hidupnya dan Velicia.
Ceklek!
Pintu rumah tersebut dibuka oleh Rania. Mama dari Tania itu menyapa menantunya sambil tersenyum padanya.
“Eh Raymond. Tumben ke sini pagi-pagi sekali. Mau jemput Tania ya? Ya sudah, silahkan masuk. Mama akan panggilkan Tania.”
Raymond berjalan masuk ke dalam mengikuti mama Tania di belakangnya. Ternyata di ruang tamu sedang ada papa Tania yang sedang membaca koran sambil menikmati kopinya.
“Pa, ini ada Raymond datang,” ucap Rania pada suaminya sambil berjalan ke arahnya.
Dimas yang sedang membaca koran, kini melipat korannya dan menoleh ke arah Raymond yang kini sudah berdiri di hadapannya.
“Tumben Ray pagi sekali. Mau jemput Tania ya?” sapa Dimas pada Raymond yang terlihat tegang berdiri di hadapannya.
Tanpa menjawab pertanyaan dari papa Tania, tiba-tiba Raymond berlutut di hadapan Dimas. Sontak saja papa dan mama Tania itu terkejut dan wajahnya tampak bingung, tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan oleh Raymond.
“Maafkan saya,” ucap Raymond sambil menundukkan kepalanya dan berlutut di hadapan Dimas dan Rania.
“Ray!” celetuk Tania yang baru saja masuk ke dalam ruang tamu.
Seketika perhatian Dimas dan Rania beralih pada Tania. Mereka memandang putri mereka dan menantu mereka secara bergantian.
Masih dengan posisi Raymond yang berlutut, dia berkata dengan tegas,
“Maaf, saya akan menceraikan Tania.”
__ADS_1
Sontak saja Tania, Dimas dan Rania kaget mendengar penuturan Raymond yang terlihat sangat serius. Terutama Tania yang terlihat sangat marah mendengar suaminya yang akan menceraikannya. Tangannya mengepal dengan erat dan dadanya merasa bergemuruh seolah akan meledak.
“Raymond, Tania, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya mama Tania yang terlihat bingung dengan apa yang sedang terjadi.
“Ada apa ini sebenarnya? Apa kalian tidak ingin menjelaskannya pada kami?” tanya Dimas yang tidak kalah bingung dengan istrinya.
Masih dengan menundukkan kepalanya, Raymond menghela nafasnya untuk menguatkan dirinya sebelum dia menjelaskan pada kedua orang tua Tania.
“Ray, kamu gila?!” seru Tania sambil mencengkeram kerah baju Raymond hingga Raymond terpaksa ikut berdiri mengikuti tangan Tania yang mencengkeram kerah bajunya.
“Kita tidak akan bercerai! Kita akan pindah dari sini!” seru Tania kembali dengan memperlihatkan wajah emosinya.
“Hentikan! Sebaiknya kalian selesaikan terlebih dahulu masalah kalian!” seru Dimas dengan tegas.
Raymond melepaskan dengan paksa kedua tangan Tania yang mencengkeram kerahnya. Kemudian dia berkata,
“Maaf, keputusan saya sudah bulat. Saya akan menceraikan Tania. Permisi,” ucap Raymond dengan tegas.
Kemudian dia berlalu pergi meninggalkan Tania yang masih syok mendengar kata cerai keluar dari mulut suaminya.
Tania berkali-kali menghubungi ponsel Raymond, tapi tidak ada satu pun dari panggilan tersebut yang dijawab oleh Raymond.
Ponsel Raymond berkali-kali berdering dan hanya menjadi panggilan tak terjawab semenjak tadi.
Tidak sampai situ saja, Tania mengirim pesan sangat banyak untuk menyuruh Raymond agar mengangkat teleponnya. Sayangnya semua pesan itu diacuhkan oleh Raymond.
Tania yang sangat dikuasai oleh emosi segera mencari cara lain untuk menghentikan suaminya. Dia menghubungi Ferdi saat itu juga dan menyuruhnya untuk menghalangi Raymond yang mungkin saja akan menjemput Velicia.
Tania berpikiran jika suaminya akan pergi bersama dengan Velicia setelah Raymond mengatakan akan menceraikannya di hadapan kedua orang tuanya. Kenekatan Raymond itu tidak biasa sehingga Tania berpikiran seperti itu.
Dengan segera Ferdi keluar dari kantornya tanpa mengatakan apa pun pada semua orang yang ada di ruangan tersebut. Dia terburu-buru menuju mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Begitu pula dengan Tania. Dengan tergesa-gesa dia menuju rumah Raymond. Sayangnya jarak antara rumah orang tuanya dengan rumah Raymond jauh, karena itulah dia memerintahkan Ferdi untuk bergerak terlebih dahulu.
Pagi itu Bu Anisa sudah pulang ke rumahnya dengan diantar oleh Ferdi bersamaan dengan dia berangkat kerja. Kini, Velicia tinggal sendiri di rumahnya. Semakin dia berdiam diri, semakin dia teringat akan apa yang sedang terjadi pada dirinya.
“Huuufffttt… lebih baik aku belanja saja. Mungkin dengan aku menyibukkan diri bisa melupakan sejenak semua yang terjadi,” ucap Velicia sambil beranjak dari duduknya dan mengambil tasnya.
Velicia berjalan melewati jalan yang biasanya dilewatinya. Semuanya masih sama, kecuali tatapan mata orang -orang yang menatapnya dengan tatapan yang sangat merendahkannya.
Mereka menatapnya seolah-olah mereka jijik melihat Velicia. Mereka berbisik-bisik membicarakannya, menghujatnya dan merendahkannya.
Sayangnya pendengaran Velicia sangat tajam. Dia mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan tentang dirinya. Dia hanya bisa berpura-pura untuk tidak mendengarnya. Meskipun dalam hatinya dia menangis.
“Bukankah dia si perusak rumah tangga yang viral itu ya?” ucap seorang wanita yang dengan terang-terangan menyindir Velicia ketika berpapasan dengannya.
“Eh iya benar. Dia si perebut suami orang,” ucap orang yang ada di sebelahnya dengan suara yang tidak kalah keras.
Sontak saja semua tatapan mata orang yang ada di jalanan mengarah padanya. Mereka semua menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah mereka sedang menghakiminya.
“Dasar pelakor tidak tau malu!” seru seorang wanita sambil tersenyum sinis pada Velicia.
Seketika tubuh Velicia lemas mendengar semua hujatan yang secara terang-terangan diberikan padanya. Tangannya bergetar dan hatinya sangat sakit mendengar semua caci maki yang ditujukan padanya.
Mereka semua saling menyahuti mengatakan Velicia sebagai pelakor dan mengutuknya sebagai wanita perusak rumah tangga orang. Suara-suara itu bersahut-sahutan sehingga membuat telinga Velicia menjadi sakit.
Ditutupnya kedua telinganya menggunakan kedua tangannya. Dengan lancangnya air matanya pun mengalir membasahi pipinya. Tubuhnya yang lemas tidak bisa membawanya pergi dari tempat itu.
Dia berjongkok dengan kedua tangannya yang masih menutupi telinganya sambil berurai air mata. Suara suara mereka masih menusuk di indera pendengarnya meskipun sudah ditutupinya.
Tiba-tiba saja ada tangan kekar dengan bau parfum yang dikenalinya sedang memegang tangannya. dia mendongakkan kepalanya dan tersenyum dengan bibir yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
Laki-laki itu bagaikan pahlawan bagi Velicia yang menolongnya di tempat yang sangat menyiksanya. Laki-laki tersebut menatapnya dengan lembut dan tersenyum padanya sambil berkata,
__ADS_1
“Ayo kita pergi.”
Seperti orang yang terhipnotis. Tenaga Velicia kembali ada. Dia berdiri dan berjalan bersama laki-laki tersebut dengan tangannya yang masih digandengnya.