
Di rumahnya, Raymond berada di ruang kerjanya. Dia melihat video yang sedang viral di media sosial ketika istrinya menghajar dan memaki Velicia. Jari tangannya bergerak untuk menghentikan video tersebut dan membesarkan gambar Velicia yang sedang duduk di jalanan setelah didorong dan dihajar oleh Tania.
Dibacanya komentar video itu satu persatu. Semuanya mengutuk dan memaki Velicia. Dia mengingat kembali ancaman dari Ferdi, suami wanita yang dicintainya. Kemudian dia membaca kembali komentar-komentar pedas yang menghujat Velicia.
Dia merasa bimbang antara meninggalkan Velicia atau menggandeng tangannya untuk menghadapi semuanya berdua. Jujur saja jika Raymond sangat ingin bersama dengan Velicia, bergandengan tangan di hadapan orang banyak dan menghadapi semuanya berdua. Tapi, dia masih berpikir kembali untuk kebaikan Velicia. Bukan untuk kebaikannya ataupun orang lain.
Keesokan harinya Raymond memantapkan dirinya atas apa yang sudah menjadi keputusannya semalam. Hari ini dia mempersiapkan semuanya dan menyelesaikan urusannya dengan sekolah tempat dia mengajar.
Sepulang dari sekolahan tempat dia mengajar, dia mampir ke sebuah showroom mobil yang menjadi tempat dia menitipkan mobilnya setelah dia membelinya waktu itu.
Tentu saja Tania tidak mengetahui tentang mobil yang dibelinya karena uang yang dipakainya bukan dari rekening yang bisa diakses oleh Tania.
“Ternyata keputusanku benar untuk membeli mobil dan menitipkannya di showroom ini. Jika Tania tau tentang ini, sudah pasti aku tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi,” ucap Raymond sambil melihat mobilnya yang akan dikendarainya.
Kemudian dia mengendarai mobil tersebut menuju ke suatu tempat yang mengarah ke luar kota. Raymond sudah memutuskannya dan dia sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang.
...----------------...
Hari ini Velicia tetap di rumah. Dia menemani ibu mertuanya yang masih menginap di sana. Bahkan ibu mertuanya itu tidak mau ditinggal olehnya. Dia selalu meminta Velicia untuk selalu berada di sisinya.
Malam harinya, ketika Bu Anisa sedang tertidur, Velicia keluar dari kamarnya. Dia merasa pengap dan ingin menghirup udara bebas. Keluarlah dia dari kamar ibu mertuanya itu dan berjalan menuju teras rumahnya.
Duduklah dia di kursi yang ada di teras rumahnya. Dihirupnya udara malam itu dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Setelah itu dia menundukkan kepalanya. Beban pikirannya terlalu banyak hingga membuat kepalanya terasa sangat berat. Dijambaknya rambutnya itu berharap agar bisa meringankan rasa berat yang ada di kepalanya.
Tiba-tiba saja suara deru mobil menghentikan apa yang sedang dilakukannya. Ditatapnya mobil suaminya yang baru memasuki halaman rumahnya itu berharap ada berita baik untuknya yang dibawa oleh suaminya.
Ferdi turun dari mobilnya sambil memandang istrinya yang menatapnya dengan tatapan memohon. Dia melihat banyak sekali beban pikiran yang dimiliki oleh istrinya itu. Terlihat jelas dari wajahnya yang sangat kusut meskipun penampilannya seperti biasanya.
“Ngapain di luar?” tanya Ferdi sambil berjalan mendekati istrinya.
Velicia memandang suaminya dan tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
“Ibu di mana? Apa Ibu baik-baik saja?” tanya Ferdi pada istrinya agar istrinya mau berbicara padanya.
__ADS_1
“Ibu sedang tidur,” jawab Velicia sambil melihat jari tangannya dan memainkannya.
“Apa kamu akan menjual rumah ini?” tanya Velicia sambil menoleh ke arah suaminya dan menatapnya dengan serius.
Ferdi duduk di kursi sebelah Velicia dan dia menoleh ke arah Velicia ketika istrinya itu sedang bertanya padanya. Kemudian dia berkata,
“Iya. Tadi aku mengiklankannya untuk dijual. Kenapa?”
“Tadi ada yang datang untuk melihat-lihat dan mereka bilang jika mereka sudah menghubungi Mas Ferdi,” ucap Velicia sambil menatap lurus ke depan, ke arah jalanan.
“Apa mereka sudah datang ke sini?” tanya Ferdi kembali.
Velicia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan suaminya padanya. Dia enggan berkata-kata dan hanya menatap lurus ke depan, tanpa melihat ke arah suaminya.
“Semoga ada yang cocok dan segera membelinya,” ucap Ferdi sambil menatap lurus ke depan, ke arah jalanan.
Seketika Velicia menoleh ke arah suaminya. Dia menatap heran pada suaminya sambil berkata,
“Kenapa harus dijual? Bukannya rumah ini sesuai dengan keinginanmu?”
Velicia menghela nafasnya dan memejamkan matanya. Kemudian dia menatap suaminya sambil berkata,
“Mas Ferdi, tolong lepaskan aku. Aku mohon.”
Ferdi menghela nafasnya. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah lainnya dan berkata,
“Aku tidak mendengar apa pun. Hubungan kita masih tetap sama. Aku adalah suamimu. Dan kamu adalah istriku. Kamu akan tetap menjadi Bundanya Lili dan Bundanya Cinta. Semuanya tetap sama. Tidak ada yang berubah. Di dalam hidupku tidak akan ada perceraian. Anggap saja kita telah bermain dengan api dan kita sudah selesai memainkannya. Jadi, tolong lupakan semuanya.”
Velicia memejamkan matanya dan menghela nafasnya berkali-kali ketika mendengar penuturan dari suaminya. Kemudian dia menatap suaminya sambil berkata,
“Aku sudah mencobanya berkali-kali. Bahkan ribuan kali sudah aku mencobanya. Tetapi aku tidak bisa melakukannya.”
“Aku akan membantumu agar kamu bisa melupakan semua itu. Dan aku akan bersikap lebih baik lagi padamu,” ucap Ferdi dengan antusias.
__ADS_1
Velicia kembali menghela nafasnya. Kemudian dia menatap lekat mata suaminya sambil berkata,
“Mas, masalahnya ini bukan tentang usaha Mas Ferdi.”
Velicia menjeda ucapannya dan dia kembali menghirup udara dan menghelanya. Kemudian dia kembali menatap intens manik mata suaminya yang masih menatapnya sambil berkata,
“Masalahnya aku tidak mencintaimu.”
Deg!
Hati Ferdi seolah tertusuk oleh ribuan jarum dan teriris oleh benda tajam. Baru kali ini dia mengetahui isi hati istrinya yang sesungguhnya. Dihirupnya udara dalam-dalam dan menghelanya perlahan. Kemudian dia berkata,
“Apa kamu tau jika memang begitulah awal orang-orang menikah. Mereka menikah tanpa adanya cinta dan mereka hidup bersama? Mereka menyatukan perbedaaan yang mereka miliki dalam ikatan pernikahan.”
“Aku tau. Bahkan kita dulu menikah juga belum ada rasa cinta. Kamu mengajakku menikah agar aku tidak hidup sendirian dan mempunyai keluarga. Tapi aku tidak ingin hidup seperti itu lagi. Aku tidak ingin hidup tanpa arti dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan hari kemarin. Aku tidak ingin menghapus kenangan satu hari pun dalam hidupku,” Velicia menjeda perkataannya.
Dia menguatkan hatinya agar bisa jujur berbicara pada suaminya tentang apa yang dirasakannya. Selang beberapa detik kemudian dia kembali meneruskan perkataannya.
“Karena sekarang aku tau bagaimana rasanya ketika hatiku berdebar dan bagaimana rasanya merindukan seseorang yang ada dalam hatiku.”
Ferdi mengalihkan pandangannya ke lain arah. Dia sangat sakit mendengar perasaan istrinya pada pria lainnya. Bahkan istrinya itu mengungkit perasaannya sebelum menikah dengannya.
Memang awalnya Velicia tidak menolak Ferdi ketika dia melamarnya. Dia hanya mengatakan pada Ferdi jika tidak ada rasa cinta padanya saat ini. Dan Ferdi pun mengatakan bahwa rasa cinta itu pasti ada sesudah mereka menikah dan hidup bersama.
Selain itu Ferdi juga mengatakan bahwa Velicia tidak akan hidup sendiri lagi jika sudah menikah. Serta dia akan mendapatkan keluarga baru jika menikah dengannya. Kemudian Ferdi mengajaknya bertemu dengan ibunya dan memperkenalkannya sebagai calon istrinya pada ibunya.
Ferdi tahu jika Velicia yang baik hati dan tidak bisa marah itu akan menerima lamarannya, meskipun dengan terpaksa.
Dengan percaya dirinya dia berjanji dalam hatinya akan mempertahankan Velicia sampai kapan pun. Kini perasaan Velicia sudah menemukan pemiliknya. Dan itu karena ulahnya sendiri yang tidak bisa menghargai dan menjaga istri yang dengan susah payah didapatkannya.
Ferdi sudah tidak tahan lagi mendengar pengakuan istrinya tentang perasaannya. Dia berdiri dari duduknya sambil berkata,
“Aku akan masuk ke dalam. Mungkin ibu sudah bangun sekarang.”
__ADS_1
Tanpa diketahui mereka berdua, Bu Anisa mendengar pembicaraan mereka dari balik tembok. Dan dia segera berjalan cepat meninggalkan tempat itu ketika mendengar Ferdi akan masuk ke dalam rumah.