
Isakan tangis Velicia diredam menggunakan bantalnya. Entah mengapa hatinya begitu sakit dan ditumpahkannya melalui tangisannya.
Air matanya seolah tak ada habisnya. Mungkin karena rasa sakit hati yang sangat dalam sehingga banyaknya air mata itu menyatakan banyaknya rasa sakit hati yang dirasakannya.
Lambat laun mata Velicia terpejam. Mungkin karena dia terlalu lelah menangis hingga matanya terpejam dengan sendirinya.
Di luar kamar terdapat Ferdi yang sedang menonton televisi dengan mengusap bulu halus Lili yang berada di sebelahnya.
"Ferdi, tolong kamu siapkan meja makannya," seru Bu Anisa dari dapur sambil meneruskan kegiatan memasaknya.
Ferdi pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk membantu ibunya.
Sesuai yang diperintahkan oleh ibunya, Ferdi menata meja makan. Dia menyiapkan piring, gelas dan sebagainya di atas meja makan tersebut.
Dia menoleh ke arah ibunya yang sedang menuang masakannya ke dalam sebuah wadah.
Velicia saja gak pernah menyuruh-nyuruh aku. Apa aku yang selama ini kelewatan gak bisa bantu dia mengurus rumah ya sehingga dia sekarang ini menjadi seperti membangkang padaku, Ferdi berkata dalam hatinya.
Bu Anisa berjalan ke arah meja makan dengan membawa masakannya. Sedangkan Ferdi memperhatikan ibunya hingga sampai ke meja makan.
"Lihat apa kamu Fer? Cepat kamu ambil nasinya di dapur. Ibu sudah siapkan di wadahnya. Kamu tinggal bawa saja ke sini," ucap Bu Anisa sambil menata meja meja makan yang sudah ditata oleh Ferdi.
"Kenapa ditata lagi Bu? Kan udah ditata Ferdi barusan," ucap Ferdi seolah tidak terima hasil menatanya ditata ulang oleh ibunya.
"Kamu kalau menata asal-asalan. Udah sana ambil nasinya. Dan panggil itu istrimu, suruh makan biar gak sakit-sakitan," tukas Bu Anisa sambil menata meja makan.
Ferdi mencebik kesal. Dia kesal dengan ibunya yang asal menyuruh dan terkesan tidak menghargai hasil kerja orang lain.
Dengan kesalnya Ferdi berjalan meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
"Ferdi! Ambil nasinya!" seru Bu Anisa sambil melihat ke arah Ferdi yang berjalan ke arah kamar.
__ADS_1
Ferdi menulikan telinganya seolah dia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.
Dia tetap saja berjalan menuju kamarnya untuk memanggil istrinya. Entah mengapa rasa kesalnya mengalahkan ketakutannya untuk melawan ibunya.
Masih terdengar suara ibunya yang mengomeli dirinya. Benar-benar diabaikan olehnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Ceklek!
Dibukanya pintu kamarnya dan matanya menelisik keberadaan istrinya. Tampak Velicia yang berbalut selimut tebal hingga di atas leher dan wajahnya sedikit ditutup menggunakan bantal.
Ditutupnya pintu kamar tersebut dan mendekatlah Ferdi ke arah ranjang. Dia mencoba untuk mendekati istrinya agar bisa kembali menjadi Velicia yang dulu.
"Bunda… Bunda… Sayang… bangunlah. Kita makan dulu ya, setelah itu tidurlah lagi," ucap Ferdi sambil mengusap-usap rambut Velicia.
Velicia merasa terganggu dengan usapan tangan Ferdi pada rambutnya dan suara Ferdi yang masuk ke dalam indera pendengarannya, dia membuka matanya secara perlahan.
Tanpa bersuara Velicia menatap suaminya seolah bertanya ada apa dia membangunkannya.
"Kita makan dulu yuk. Ibu udah masak buat kita. Setelah itu kamu tidur lagi," ucap Ferdi sambil mengusap dengan lembut rambut Velicia.
"Bunda menangis? Kenapa? Apa ada yang sakit? Kenapa Sayang… bilang dong sama Ayah," ucap Ferdi yang terlihat cemas pada Velicia.
Tiba-tiba air mata Velicia menetes dengan sendirinya. Dia merasa terharu dengan sikap Ferdi saat ini. Sikap Ferdi yang seperti awal mereka berpacaran hingga beberapa tahun kemudian menghilang dengan sendirinya.
Kenapa baru sekarang kamu mengkhawatirkan aku Mas? Di saat aku sudah lelah, kamu datang kembali membawa perhatianmu yang sangat aku butuhkan, Velicia berkata dalam hatinya sambil menatap Ferdi dengan air matanya yang mengiringinya.
Ferdi segera menghapus air mata Velicia. Dia sangat merasa iba melihat istrinya menangis di hadapannya.
"Maafkan aku Sayang. Aku tau, aku yang salah. Aku lupa untuk membereskan semuanya. Tolong maafkan aku. Jangan menangis lagi ya," ucap Ferdi sambil mengusap jejak air mata di pipi Velicia.
Bukan hanya masalah itu Mas. Semuanya, aku butuh penjelasanmu semuanya Mas. Apakah kamu benar-benar selingkuh dan aku butuh dukunganmu untuk mengatakan pada Ibumu agar membiarkan kita hidup tenang tanpa ada tekanan darinya.
__ADS_1
Ingin sekali Velicia mengatakan itu semua pada Ferdi, hanya saja bibirnya tak mampu mengucapkannya. Bahkan tenggorokannya seperti tercekat, melarangnya untuk mengatakan itu semua.
"Sudah ya, kita makan dulu sekarang," ucap Ferdi sambil membantu Velicia untuk berdiri.
Velicia mencoba berdiri, sayangnya kakinya tidak kuat untuk menahan tubuhnya.
Ferdi segera mendudukkan kembali Velicia di atas ranjang. Dia berjongkok untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan istrinya. Tangan Ferdi berpindah pada kedua pipi Velicia, dia menatap intens manik mata istrinya itu.
Wajah Velicia yang masih sedikit pucat membuat Ferdi merasa trenyuh. Dia kembali menempelkan tangannya pada dahi istrinya untuk mengukur suhu badannya.
"Apa kamu mau makan di sini saja? Biar aku bawakan makanannya ke sini. Atau kamu mau makan di meja makan bersama denganku dan Ibu?" tanya Ferdi dengan suara lembut sambil menatap Velicia.
"Apa Ibu tidak keberatan jika aku makan di sini?" tanya Velicia dengan suara lemah.
Ferdi tersenyum berharap untuk bisa menenangkan kegelisahan hati istrinya. Kemudian dia berkata,
"Tenang saja, biar aku yang mengatakan pada Ibu," ucap Ferdi dengan suara lembut sambil tersenyum manis dan mengusap pipi Velicia.
Luluh sudah hati Velicia. Seolah dia lupa jika kemarin dia memergoki Ferdi makan siang dengan mesra bersama Lani, rekan kerjanya.
Mata Velicia berkaca-kaca, dia merasa suaminya kini telah kembali lagi bersamanya. Sungguh sangat bahagia hatinya saat ini.
Velicia menganggukkan kepalanya, dia menyetujui perkataan suaminya yang menyuruhnya untuk makan di dalam kamar tersebut.
Ferdi tersenyum setelah melihat Velicia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkannya.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku akan mengambilkan makanan untukmu," ucap Ferdi sambil beranjak, kemudian dia berjalan keluar dari kamar itu.
Bu Anisa memperhatikan Ferdi yang keluar dari kamar tanpa kehadiran Velicia bersamanya.
"Mana Velicia istrimu itu? Kenapa dia tidak ikut keluar kamar bersamamu?" tanya Bu Anisa dengan matanya yang mengarah pada pintu kamar Ferdi dan Velicia.
__ADS_1
"Ve masih sakit Bu. Badannya lemah, biar dia makan di dalam kamar saja," jawab Ferdi sambil berjalan menghampiri ibunya yang duduk di meja makan.
"Istri macam apa itu? Mertua sudah capek-capek memasakkan makanan untuk menantunya tapi dia tidak mau makan bersama mertuanya," ucap Bu Anisa dengan mengeluarkan kekesalannya.