Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 117 Takdir


__ADS_3

Velicia mengingat kembali perkataan Lani yang menemuinya untuk menyuruhnya melepaskan Ferdi. Diakuinya jika keberanian Lani sangat luar biasa karena dia bisa dengan percaya dirinya menemui Velicia.


Dia berani memperjuangkan cintanya hingga dia berani menemuiku. Sedangkan aku setiap hari bagaikan burung yang ada di dalam sangkar dan hatiku sudah dibawa terbang oleh sang elang. Bahkan dia tidak tau jika aku sangat ingin sekali melepaskan suamiku. Aku sangat tersiksa setiap hari hidup seperti ini.


Memang benar jika Velicia terlihat sangat tersiksa. Setiap hari hidupnya seperti tidak bernyawa. Tidak ada emosi dan tidak ada semangat yang diperlihatkannya. Hari demi hari dia meringkuk dalam kesedihan. Mereka belum pindah dari kota itu karena pengajuan pindah Ferdi masih dalam tahap pemrosesan.


Sedangkan Raymond dan Tania sudah pindah di luar negeri, seperti yang direncanakan oleh Tania. Raymond sama seperti Velicia yang hanya seperti boneka bagi pasangannya. Mereka berdua tidak bisa merubah hatinya meskipun telah berusaha sangat keras untuk mengubahnya.


Di suatu siang, Velicia datang ke kantor untuk menemui suaminya. Dia sudah memikirkannya dan dia memutuskan sesuatu yang menurutnya untuk kebaikan bersama.


Semua mata mengarah padanya. Bahkan dia mendengar banyak hal dari orang-orang yang membicarakannya kala itu.


“Itu istri Pak Ferdi yang viral karena selingkuh?” ucap seseorang yang sedang melihat ke arah Velicia.


“Ternyata dia tidak secantik yang dulu. Harusnya dia berdandan sebelum datang ke tempat kerja suaminya,” sahut seseorang lagi di antara mereka.


Velicia menghela nafasnya. Dia memejamkan matanya dan menulikan telinganya, berharap tidak bisa mendengarkan semua perkataan buruk mereka tentangnya.


Tidak berapa lama setelah itu Ferdi datang dan mengajaknya ke café yang ada di sekitar kantornya. Dia memandang istrinya yang polos tidak berhias. Hingga dalam hatinya dia mengakui kecantikan Velicia yang sangat natural dan membuatnya jatuh cinta sejak dulu ketika mereka pertama kali bertemu hingga sekarang setelah istrinya itu melukai hatinya.


“Tumben ke sini? Apa mau mengajakku makan siang?” tanya Ferdi setelah mereka duduk berhadapan di sebuah café.


“Aku ingin mengatakan sesuatu. Hufffttt… aku sudah memikirkannya berhari-hari dan aku sedih memutuskan jika aku tidak bisa lagi hidup seperti ini. Aku tidak sanggup. Rasanya aku tersiksa hidup berpura-pura baik-baik saja dengan membohongi semua orang. Jadi, tolong ceraikan aku. Aku mohon padamu,” tutur Velicia dengan wajah memohon.


“Aku baik-baik saja. Itu yang terpenting. Dan jangan dengarkan perkataan orang lain,” sahut Ferdi dengan menatap istrinya secara intens.


“Aku yang tidak baik-baik saja. Dan aku tidak bisa berpura-pura tidak mendengarnya ketika suara mereka dengan jelasnya menusuk di telingaku,” ucap Velicia dengan tatapan memohon pada suaminya.


“Jadi kamu ingin bercerai? Bukannya aku sudah bilang jika kamu tidak punya pilihan. Kamu hanya perlu menerima hukumanmu,” ucap Ferdi dengan sangat tegas.


“Aku sudah dihukum. Aku menerima hukuman itu sekarang. Setiap hari terasa neraka bagiku. Aku tersiksa setiap hari menjalani kehidupanku,” ucap Velicia dengan lemah dan terlihat sangat memohon pada suaminya.


Ferdi menghela nafasnya dan dia mengalihkan pandangannya ke arah lainnya sambil berkata,


“Dengar baik-baik. Aku tidak akan menceraikanmu sampai kapan pun.”


Setelah mengatakan itu, Ferdi meninggalkan Velicia yang masih duduk di sana dengan dua gelas orange juice yang masih belum tersentuh sama sekali.


Ferdi menyalahkan dirinya sendiri ketika dia mengingat kembali perlakuan buruknya pada istrinya selama ini. Di setiap langkahnya menuju kantornya, dia menyesali semua yang telah dilakukannya hingga membuat istrinya ingin lepas darinya.


Sedangkan Velicia, dia mengingat Raymond ketika dia berjalan pulang menyusuri jalanan yang menjadi kenangannya bersama dengan pria yang dicintainya. Semilirnya angin yang menerpa wajahnya membuatnya ingat akan sesuatu ketika mereka berada di daerah pegunungan kala itu. Kemudian dia berkata dalam hatinya,


Aku tidak yakin jika aku bisa melupakanmu. Bahkan aku tidak yakin jika aku bisa hidup tanpamu. Bagaimana denganmu Ray?

__ADS_1


Raymond pun demikian. Meskipun dia berada di negara lain, hati dan cintanya tetap ada untuk Velicia. Dia tidak bisa melupakan wanita yang sudah berhasil merebut hatinya. Bahkan bayangan hari-harinya ketika bersama dengan Velicia yang tinggal di daerah pegunungan kala itu selalu terbayang di pelupuk matanya hingga terlihat sangat nyata untuknya.


Hari kepindahan Ferdi ke cabang baru sudah ditentukan. Malam ini dia harus bekerja lembur untuk menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum pindah ke cabang kota lainnya.


Berkali-kali dia menghubungi Velicia, tapi tidak ada jawaban sama sekali, hingga panggilan teleponnya itu semua berakhir sebagai panggilan tak terjawab.


Entah mengapa hati Ferdi tidak tenang. Dia sangat khawatir dengan istrinya. Setelah berkali-kali dia gagal menghubungi istrinya, dia mengirimkan beberapa pesan pada istrinya yang mengabarkan bahwa dirinya harus bekerja lembur malam ini.


Namun, dari semua pesan itu tidak ada yang terbaca sama sekali. Hingga setelah beberapa menit setelah dia mengirim pesan tersebut, dia memutuskan untuk pulang saat itu juga. Pikiran Ferdi hanya satu, dia takut jika istrinya kembali pergi bersama dengan Raymond,seperti waktu itu.


Di dalam kamar mandi, Velicia yang sedang mencuci mukanya melihat ke arah cermin yang ada di hadapannya. Bayangan ketika awal pertemuannya dengan Raymond dan hari-hari mereka ketika bersama kembali hadir.


Semuanya terlihat begitu jelas di cermin tersebut seolah film yang sedang diputar secara berurutan. Hatinya sakit dan terasa sangat perih hingga membuatnya menangis menjerit. Dipukulnya cermin tersebut menggunakan botol shampoo yang ada di rak dekat Velicia berdiri.


Pyar!


Pecahan kaca itu berserakan di lantai dan wastafel yang ada di hadapannya. Tangisannya sangat pilu dan menyayat hati. Rasa sakit yang dirasakannya saat ini tidak pernah dirasakannya sebelumnya, hingga dia ingin sekali menghentikan rasa itu.


Diambilnya pecahan kaca yang ada di wastafel depannya. Tanpa pikir panjang lagi, Velicia menggoreskan pecahan kaca itu pada pergelangan tangannya hingga darahnya jatuh di lantai.


Tidak lama setelah itu Ferdi terburu-buru masuk ke dalam rumahnya. Dia mencari istrinya ke seluruh ruangan rumahnya.


Brak!


“Bunda bangun!” ucap Ferdi sambil berusaha menyadarkan istrinya.


Dengan segera Ferdi menggendong istrinya masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.


Setelah mereka sampai di rumah sakit, Velicia segera ditangani oleh dokter di ruang IGD. Ferdi menatap nanar istrinya yang pergelangan tangannya sedang dijahit oleh dokter tersebut.


Setelah beberapa saat, pertolongan mereka sudah selesai dan mereka hanya menunggu Velicia sadarkan diri. Dokter dan perawat meninggalkan Ferdi untuk menunggu Velicia hingga Velicia sadar.


Setelah beberapa saat, Velicia sadar dan dia mendapati Ferdi sedang menatap pergelangan tangan Velicia yang diperban. Setelah itu Velicia duduk dengan menundukkan kepalanya dan bersandar pada punggung ranjang.


“Ve, mari kita bercerai,” ucap Ferdi sambil menatap lurus ke depan tanpa memandang wajah istrinya.


Setelah itu dia beranjak dari duduknya dan meninggalkan Velicia sendiri di sana. Di sebuah bangku yang ada di taman rumah sakit tersebut, Ferdi menangis. Dia tidak bisa lagi menahan kesedihannya. Air matanya itu adalah air mata kesedihan yang berasal dari kebodohannya karena selama ini dia telah menyia-nyiakan istri yang terbaik menurutnya.


Begitu pula dengan Velicia. dia juga mengeluarkan air matanya karena merasa sedih dengan nasibnya. Jalan hidupnya tidak seindah bayangannya selama ini.


Ferdi dan Velicia sama-sama terluka. Kesalahan mereka berawal karena tidak adanya kejujuran di antara mereka hingga berujung perpisahan. Semua itu menjadi cerita tersendiri untuk kehidupan mereka.


...----------------...

__ADS_1


Di negara lainnya, sepasang suami istri sedang memeriksakan kehamilan di sebuah rumah sakit ternama. Dokter menyatakan jika Tania tidak hamil. Bahkan dokter sudah memeriksanya berkali-kali dan hasilnya pun sama.


“Tidak! Pasti anda berbohong. Hasil dari testpack saya mempunyai dua garis dan itu menunjukkan bahwa saya sedang hamil,” seru Tania tidak terima dengan hasil pemeriksaan dari dokter kandungan tersebut.


Raymond tidak tega melihat istrinya menangis histeris seperti itu. Dia memeluknya dan menenangkannya dalam ruangan dokter tersebut.


...----------------...


Keesokan harinya, Velicia membawa kopernya keluar dari rumah Ferdi dengan diantarkan oleh Ferdi hingga depan rumahnya.


“Ve, aku minta maaf. Selama ini aku benar-benar membuatmu tersiksa dan tidak bahagia,” ucap Ferdi sambil memandang wajah wanita yang kini menjadi mantan istrinya.


Velicia tersenyum pada pria yang pernah menjadi suaminya itu. Kemudian dia berkata,


“Aku pergi sekarang.”


Langkah kaki Velicia terasa ringan meninggalkan rumah yang sudah seperti sangkarnya selama ini. Dia merasa lebih bebas dan lebih hidup sekarang. Berbeda dengan beberapa hari yang lalu.


Sedangkan Ferdi menatap nanar mantan istrinya yang terlihat lebih bersemangat dan lebih hidup lagi daripada hari-hari kemarin.


Saat itu juga, Velicia pergi ke rumah persembunyian Raymond yang merupakan peninggalan kedua orang tuanya. Dia hanya mengikuti ke mana kakinya melangkah. Dan langkah kakinya membawanya ke tempat itu.


“Indah sekali pemandangannya. Mulai sekarang aku akan menjadi diriku sendiri. Bukan menjadi istri dari seseorang dan bukan menjadi menantu dari seseorang. Aku akan menjadi Velicia dan hidup sesuai dengan kemauanku,” ucap Velicia sambil tersenyum bahagia melihat pemandangan di sana.


Suasana alam yang menyegarkan itu membuat Velicia ingin menggoreskan penanya pada sebuah kertas kosong. Kata demi kata dirangkainya dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


Tiba-tiba Velciia melihat sepasang sepatu yang ada di depannya. Sontak saja dia mendongak ke atas dan matanya berkaca-kaca dengan bibirnya yang melengkung ke atas, tersenyum melihat sosok orang yang ada di hadapannya.


“Apa kabarmu Ve?” tanya orang tersebut pada Velicia.


“Ray,” celetuk Velicia menatap orang yang ada di depannya.


Mereka berdua bertemu dengan tidak sengaja. Takdir kembali mempertemukan mereka. Begitu panjang jalan yang mereka tempuh untuk bisa bersama menyatukan cinta mereka. Kini tidak ada lagi penghalang di antara mereka. Kini kebahagiaan yang mereka inginkan sudah menyapa mereka.


Keduanya tersenyum bahagia dan saling memeluk untuk menyalurkan perasaan rindu dan cinta mereka yang sangat menyiksa.


“Aku mencintaimu Ve.”


“Aku juga mencintaimu Ray.”


                                                                                   


........TAMAT.......

__ADS_1


__ADS_2