
"Pantas saja, waktu itu Mas Ferdi menolak ketika aku ajak berhubungan pada saat aku sedang dalam masa subur. Apa waktu itu Mas Ferdi melakukannya?" tanya Velicia sambil tersenyum sinis mengingat tentang vasektomi yang dilakukan oleh suaminya.
"Ve, kita akan membicarakannya nanti. Aku sedang menyetir sekarang. Tolong jangan mempengaruhi emosiku," ucap Ferdi sambil mengemudikan mobilnya.
Velicia kembali tersenyum sinis. Kemudian dia berkata,
"Sebaiknya sekarang saja aku antarkan Mas Ferdi ke rumah sakit."
Ferdi menghentikan mobilnya karena kini mereka sudah berada di depan rumah mereka.
"Kita sudah sampai di rumah Ve. Ayo kita turun. Ingat kata dokter, kamu harus beristirahat," ucap Ferdi sambil melepas sabuk pengamannya.
Velicia menghela nafasnya. Berat, sangat berat sekali dirasakannya. Hanya saja dia sudah memilih untuk bertahan dan mencoba percaya pada suaminya.
Dia hanya ingin memiliki keluarga utuh yang bahagia, sehingga tidak masalah baginya untuk bertahan sedikit saja sebelum mendapatkan kebahagiaan.
Velicia turun dari mobil setelah Ferdi membuka pintu mobilnya. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah dengan Ferdi yang membawa tas keperluan Velicia selama beberapa hari dirawat di klinik.
"Kalian sudah pulang?"
Terdengar suara wanita yang menyapa mereka dari dalam rumah ketika mereka berjalan masuk ke dalam rumah.
Sontak saja Ferdi dan Velicia menoleh ke arah orang tersebut yang sedang berjalan mendekati mereka.
Velicia menghela nafasnya ketika mengetahui bahwa orang yang menyambutnya adalah ibu mertuanya.
Dulu dia sangat senang dengan kehadiran ibu mertuanya. Tapi sekarang, dia menjadi tertekan setiap kali ibu mertuanya datang berkunjung ke rumah mereka.
Bukan Velicia tidak tahu diuntung atau tidak sayang dengan ibu mertuanya. Dia merasa beruntung karena sejak menikah dengan Ferdi, dia merasa memiliki keluarga.
Namun, kehadiran ibu mertuanya itu menjadi tekanan bagi Velicia semenjak ibu mertuanya menuntut kehadiran anak dan selalu menyalahkan Velicia karena belum juga hamil.
Kenapa hanya perempuan saja yang disalahkan jika pasangan suami istri belum dikaruniai keturunan? Apa mereka tidak berpikir jika dari pihak suami yang bermasalah?
__ADS_1
"Ibu?!" ucap Ferdi ketika ibunya sudah berada di depan mereka.
"Kenapa kalian kaget begitu? Ayo cepat kalian makanlah, sudah Ibu siapkan di meja makan. Jangan sampai Valencia sakit lagi," ucap Bu Anisa sambil memandang Ferdi dan Velicia secara bergantian.
Setelah itu Bu Anisa kembali masuk ke dalam rumah dan berjalan ke arah dapur.
Ferdi menoleh ke arah Velicia dan merangkul pundaknya sambil berkata,
"Ayo kita masuk. Kita makan dulu, setelah itu kamu beristirahatlah di dalam kamar."
Velicia menurut, tanpa berkata apapun dia ikut suaminya menuju ke meja makan. Ternyata di sana sudah ada Bu Anisa yang duduk di kursi tempat dia biasanya duduk ketika makan bersama dengan mereka.
"Sebaiknya kamu berhenti bekerja saja Ve. Kamu kelelahan dan makananmu sepertinya tidak sehat. Lihatlah, kamu jadi sakit seperti ini," ucap Bu Anisa ketika Velicia dan Ferdi baru saja duduk di kursi mereka.
Velicia memejamkan matanya saat mendengar perkataan ibu mertuanya yang terdengar seperti omelan di telinganya.
"Sudahlah Bu, biarkan Velicia makan dulu," sahut Ferdi menimpali ucapan ibunya.
Bu Anisa menatap sinis pada Ferdi, kemudian dia menatap Velicia yang hanya diam saja tanpa mengambil makanan di piringnya. Kemudian dia berkata,
Sontak saja Ferdi dan Velicia terhenyak. Mereka kaget mendengar Bu Anisa yang lagi-lagi membahas masalah keturunan.
Velicia tersenyum sinis melihat makanan yang tersedia di meja makan tersebut. Semua makanan yang tersaji di sana adalah makanan kesukaan Ferdi. Dan itu membuat Velicia sangat geli mendengar apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya.
Makanan biar aku cepat sembuh? Makanan yang mana? Ini semua makanan kesukaan anak Ibu. Dan aku yang sedang sakit ini disuruh makan makanan seperti ini? Apa kalian berdua, ibu dan anak memikirkan aku yang sedang sakit ini? Bukankah seharusnya aku masih harus memakan makanan yang lebih gampang dicerna?
Velicia hanya bisa berkata dalam hatinya. Rasanya konyol sekali dia saat ini. Mengharapkan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah didapatkannya.
"Maaf Bu, saya mau istirahat di kamar dulu," ucap Velicia sambil bersiap beranjak dari kursinya.
Namun, Bu Anisa menghentikannya dengan pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa? Apa masakan Ibu tidak sesuai dengan selera kamu?"
__ADS_1
Velicia menghentikan gerakannya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya.
"Bukan seperti itu Bu. Hanya saja Ve masih harus makan makanan yang mudah dicerna," ucap Velicia sambil memandang ibu mertuanya.
Ferdi merasa tertohok. Dia merasa dirinya sangat bodoh bisa melupakan hal yang sangat penting untuk istrinya yang sedang sakit.
"Maaf, aku lupa. Sebentar lagi aku akan belikan kamu bubur ya," ucap Ferdi sambil menatap dengan perasaan bersalah pada istrinya.
Bu Anisa menghela nafasnya sambil tersenyum sinis melihat Ferdi berkata seperti itu pada istrinya.
Dia merasa jika putranya terlalu mengalah dan memanjakan istrinya sehingga akhir-akhir ini istrinya selalu membuatnya kesusahan.
"Dulu Ibu tidak pernah membeli makanan. Ibu selalu memasak sendiri meskipun sedang sakit," ucap Bu Anisa di sela kunyahan makannya.
Velicia yang sudah dalam keadaan membalikkan badannya, dia tersenyum sinis mendengar ucapan dari ibu mertuanya. Kemudian dia berkata tanpa menoleh ke belakang di mana ibu mertuanya dan suaminya sedang duduk.
"Nanti saya akan memasaknya sendiri Bu. Sekarang saya mengantuk."
Setelah mengatakannya, Velicia berjalan menuju kamarnya. Sungguh sakit sekali hatinya atas sikap dan ucapan dari ibu mertuanya dan suaminya yang seperti tidak pernah memperhatikan perasaan Velicia.
Masuklah dia ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Diputarnya kran air agar suara isakan tangisnya tidak terdengar oleh siapapun.
Apa benar keputusanku untuk tetap mempertahankan rumah tanggaku? Apa aku masih bisa bertahan dalam situasi seperti ini? Velicia berkata dalam hatinya di sela isakan tangisnya.
Setelah melihat Velicia masuk ke dalam kamar. Ferdi meletakkan sendok dan garpunya, kemudian dia melihat ke arah ibunya sambil berkata,
"Bu, aku mohon jangan ungkit lagi masalah anak. Velicia masih sakit Bu. Dia butuh istirahat dan dokter juga melarangnya untuk mempunyai beban pikiran terlebih dahulu agar dia bisa cepat sembuh."
Sontak saja Bu Anisa menatap Ferdi dengan penuh kemarahan sambil berkata,
"Ferdi, kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Kamu menyalahkan Ibu? Berani sekali kamu! Demi seorang wanita yang tidak bisa memberikanmu seorang anak, kamu berani pada Ibumu ini hah?"
"Bu, ini bukan salah Velicia," sahut Ferdi tanpa sadar.
__ADS_1
"Lalu salah siapa?" tanya Bu Anisa sambil memelototkan matanya pada Ferdi