
Raymond dan Velicia berlari kecil di bawah hujan dengan berpayungan jas milik Raymond hingga pertigaan yang memisahkan arah rumah mereka.
Tatapan mata mereka mengatakan jika mereka enggan berpisah. Sayangnya waktu tidak berpihak pada mereka. Kini mereka harus berpisah.
Velicia berlari kecil ke arah rumahnya. Untung saja saat ini hujan sudah agak reda. Hanya gerimis yang menjadikan suasana romantis saat ini.
Raymond masih memperhatikan Velicia hingga dia menghilang dari pandangannya.
Rasa kosong dan kehilangan itu kini mulai kembali terasa. Itulah yang mereka berdua rasakan saat ini.
Setelah Velicia menghilang dari pandangannya, Raymond segera berjalan pulang menuju rumahnya.
Dengan langkah ringan dan senyum menghiasi wajahnya yang sedikit basah, Velicia memasuki rumahnya tanpa memikirkan kekesalannya pada suaminya.
"Dari mana kamu hujan-hujanan seperti itu?" tanya Ferdi ketika Velicia memasuki rumah mereka dengan keadaan sedikit basah.
Sontak saja Velicia terkejut dan dia kembali teringat akan kekesalannya pada suaminya.
Tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya, Velicia berjalan meninggalkan suaminya yang berada di depannya.
Velicia mengacuhkan suaminya meskipun mereka berjalan berpapasan. Dia segera masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya.
Ketika dia berhadapan dengan cermin, dia melihat bayangan dirinya bersama dengan Raymond. Semua yang dilihatnya pada cermin itu terasa nyata dan masih bisa dirasakannya.
Dipegangnya bibirnya itu sambil melihatnya dari cermin. Masih terasa hangat dan menyenangkan ciumannya bersama dengan Raymond.
Tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas, tersenyum mengingat ciuman mereka tadi. Hatinya sangat berbunga-bunga dan jantungnya berdetak sangat cepat meskipun hanya mengingatnya saja.
Tiba-tiba Ferdi masuk ke dalam kamarnya dan berjalan mendekati Velicia. Terlihat jelas kegugupan dari wajah dan cara berjalan Ferdi saat ini.
Velicia hanya melirik tanpa berniat untuk bertanya padanya. Dia benar-benar berniat untuk mengacuhkan suaminya. Kekesalan hatinya kini kembali terasa kala melihat wajah suaminya.
Grep!
Tiba-tiba Ferdi memeluk Velicia dari belakang. Dia memejamkan matanya sambil berkata,
"Bunda, maafkan aku. Sama sekali aku tidak berniat untuk membuatmu marah," ucap Ferdi sambil membuka matanya dan melihat ke arah cermin yang memperlihatkan mereka berdua.
__ADS_1
Velicia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia sama sekali tidak mengira dengan apa yang dilakukan oleh suaminya sekarang ini.
Dia hanya terdiam sambil melihat wajah suaminya dari cermin yang ada di hadapannya. Dia ingin mengetahui kesungguhan dari apa yang dikatakan oleh suaminya.
Wajah suaminya itu membuat Velicia menjadi iba padanya. Kekesalannya menjadi luluh dan hatinya menjadi tergerak untuk memaafkan suaminya.
Bukan karena rasa cintanya pada suaminya yang membuat Velicia memaafkannya, tapi karena rasa bersalahnya pada suaminya yang membuat hatinya tidak keras lagi pada suaminya.
Rasa bersalah itu datang karena hatinya yang mencintai pria lain. Dipegangnya jemari tangannya dan diputar-putarnya cincin pernikahannya bersama dengan Ferdi.
Dia ingin merasakan getaran apa dalam hatinya sekarang ini pada suaminya. Nyatanya dia merasa gelisah dan kosong.
Berbeda ketika dirinya bersama dengan Raymond. Hatinya terasa nyaman, tenang, bahagia, merasa diperhatikan dan dicintai.
"Sayang, apa kita bisa melakukannya sekarang?" tanya Ferdi sambil mencium tengkuk istrinya.
Dengan segera Velicia berdiri dari duduknya sambil berkata,
"Aku lapar, aku harus memasak."
Sedangkan Ferdi menatap nanar punggung istrinya yang seolah menolaknya sebagai suaminya.
Dia tidak menyalahkan Velicia karena dia sadar diri jika dialah yang terlalu keras dan egois pada istrinya.
Seharian tadi dia berpikir dalam kesendiriannya ketika Velicia meninggalkannya dalam keadaan marah padanya.
Dia merasa bersalah pada istrinya dan merasa jika dirinya yang menyebabkan kemarahan istrinya.
Segera dia keluar dari kamarnya untuk menyusul istrinya. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk meminta maaf kembali pada istrinya.
"Bunda sedang masak apa?" tanya Ferdi sambil mendekati Velicia yang sedang memasak.
'Hanya membuat nasi goreng. Aku sudah sangat kelaparan dan nasinya masih banyak. Aku buat saja semuanya menjadi nasi goreng. Apa kamu tidak keberatan Mas? Jika Mas Ferdi keberatan, aku akan memasakkan nasi lagi untukmu Mas," ucap Velicia sambil mengaduk-aduk nasi goreng yang ada di wajan.
"Aku suka nasi goreng buatanmu. Aku makan itu saja. Bunda tidak usah memasak nasi lagi," tutur Ferdi sambil bersandar pada tembok yang tidak jauh dari kompor tersebut dan memandang wajah Velicia.
Velicia mengerti jika suaminya sedang memperhatikannya, dia merasa risih ditatap seperti itu oleh suaminya. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Sebaiknya Mas Ferdi menata peralatan makannya saja di meja makan. Sebentar lagi nasi gorengnya sudah siap," ucap Velicia tanpa menoleh ke arah suaminya yang sedang menatapnya.
Dengan segera Ferdi beralih ke dapur untuk mengambil peralatan makan mereka dan menatanya di meja makan.
Dia bertindak seperti anak penurut terhadap ibunya. Dia ingin mengambil kembali hati Velicia agar hubungan mereka tidak seperti orang yang bermusuhan.
Velicia mengambilkan nasi goreng buatannya dan telur mata sapi untuk suaminya. Kemudian dia mengambil untuk dirinya sendiri.
Velicia benar-benar makan dengan diam. Dia tidak ingin berbicara apapun pada suaminya karena dia merasa jika suaminya telah membohonginya dan tidak menjaga janjinya.
Ferdi merasa tidak nyaman dengan keadaan mereka saat ini. Setelah dia menelan makanannya, dia berkata pada Velicia,
"Tadi Bunda ke mana saja? Apa kamu mengajar hingga sore hari?" tanya Ferdi yang berniat basa-basi, tapi Velicia merasa jika suaminya itu sedang menyelidikinya.
Velicia menghentikan makannya, dia menatap suaminya yang juga sedang menatapnya sambil menunggu jawaban darinya.
Kemudian dia menatap ke arah lain dan kembali memakan makanannya tanpa melihat ke arah suaminya.
Terlihat sekali Velicia sangat salah tingkah. Dia memang tidak bisa berbohong. Sangat ketara sekali jika dia berbohong. Dan Ferdi tahu akan hal itu.
Velicia memakan makanannya dengan cepat, seperti tidak dinikmati, hanya dikunyah dan ditelan saja.
Pada saat Ferdi akan membuka mulutnya bersiap untuk berbicara, dengan segera Velicia berdiri dari duduknya sambil membawa piring serta gelasnya menuju dapur.
Ferdi merasa jika Velicia bertindak aneh. Dia yakin jika Velicia tidak marah padanya. Karena sikapnya mengatakan hal lain, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Dengan berbekal spon dan sabun cuci piring, Velicia mencuci peralatan makannya sambil menggigit bibir bawahnya.
Dia merasa bersalah pada suaminya. Oleh karena itu dia tidak mau marah-marah pada suaminya.
Hanya saja dia masih merasa kesal pada suaminya yang dengan mudahnya membatalkan janji temu mereka berdua dengan dokter yang menangani operasi Ferdi selama ini.
"Bunda, apa kamu masih marah padaku?" tanya Ferdi sambil membawa piring dan semua peralatan bekas makannya.
Velicia menoleh ke arah belakang di mana suaminya sedang berdiri menunggunya selesai mencuci piring. Kemudian dia berkata,
"Apa aku kalah dengan Lili Mas?"
__ADS_1