Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 29 Sudah menikah?


__ADS_3

Kepanikan Raymond melihat Velicia pingsan membuatnya lupa akan pekerjaannya.


Hingga dia menerima telepon dari sekolahan yang menanyakan keberadaannya.


"Maaf Pak, saya sedang ada di rumah sakit menolong orang yang pingsan di jalan pada saat saya berangkat tadi. Maaf sekali Pak, saya lupa memberi kabar," ucap Raymond pada orang yang meneleponnya.


Lalu, apa Pak Raymond akan datang ke sekolah sekarang? tanya orang yang ada di seberang melalui telepon.


"Maaf Pak, apa saya bisa ijin hari ini? Masalahnya yang pingsan ternyata adalah teman saya," ucap Raymond ragu dengan nada sungkan.


Baiklah Pak. Apa Bapak bisa memberikan tugas pada mereka agar tidak ada jam kosong? tanya orang tersebut kembali pada Raymond.


"Baik Pak. Akan saya kirim tugasnya sebentar lagi. Sekali lagi saya minta maaf Pak. Dan terima kasih telah mengijinkan saya," tutur Raymond yang merasa sangat bersalah telah lalai dalam pekerjaannya.


Dengan segera Raymond mengirimkan tugas yang diberikan untuk anak didiknya pada petugas sekolahan. Setelah itu dia mengurus perpindahan kamar Velicia.


Di dalam kamar perawatan itu, setelah beberapa saat mata Velicia mengerjap-ngerjap menyesuaikan binar cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.


Raymond menunggu Velicia sedari tadi duduk di kursi sebelahnya. Ketika melihat mata Velicia terbuka, dia sangat bahagia dan dengan segera dia mendekatinya.


"Ve, apa kamu sudah sadar? Apa ada yang sakit?" tanya Raymond yang terlihat sangat cemas pada Velicia.


Dengan wajah pucatnya itu Velicia tersenyum tipis pada Raymond sambil berkata,


"Aku di mana?"


"Kamu sekarang ada di Klinik yang waktu itu. Sebentar Ve, aku akan memanggil dokter terlebih dahulu," ucap Raymond sambil beranjak untuk memanggil dokter.


Ketika Raymond hendak membuka pintu ruangan tersebut, langkahnya terhenti karena dihentikan oleh Velicia.


"Ray," Velicia memanggil Raymond dengan suara lemahnya.

__ADS_1


Raymond pun menoleh menghadap ke belakang di mana Velicia berada.


"Terima kasih. Lagi-lagi kamu menolongku Ray," ucap Velicia dengan lemah dan suara lirihnya.


"Tidak usah sungkan Ve. Aku hanya kebetulan lewat saja di sana tadi. Dan mungkin untuk hari-hari sebelumnya pun aku juga secara kebetulan melewati jalan itu," tutur Raymond sambil terkekeh.


"Kebetulan yang sangat tepat ya Ray," ucap Velicia sambil tersenyum tipis menghiasi wajah pucatnya.


"Benar sekali," sahut Raymond sambil terkekeh.


"Sebentar ya Ve, aku akan memanggilkan dokter yang menanganimu. Kamu jangan terlalu banyak bergerak. Dan jika akan ke mana-mana lebih baik kamu meminta bantuanku," ucap Raymond sebelum meninggalkan kamar tersebut.


Velicia pun mengangguk dan dia kembali memejamkan matanya yang masih sedikit mengantuk.


Selang beberapa saat kemudian Raymond masuk ke dalam ruangan tersebut bersama dengan seorang dokter dan perawat.


Dokter memeriksa keadaan Velicia saat ini. Kemudian dia memberitahukan hasil pemeriksaannya dan hasil beberapa tes yang dilakukan tadi ketika Velicia belum sadarkan diri.


"Seperti yang saya duga. Pasien telah mengkonsumsi sesuatu yang membuat penyakit lambungnya semakin parah," tutur dokter tersebut sambil membaca hasil laporan medis milik Velicia.


Velicia mengingat-ingat apa yang telah dia makan atau dia minum tadi pagi sebelum dia berangkat bekerja.


Tiba-tiba matanya terbelalak mengingat jika tadi pagi dia mengkonsumsi obat herbal yang dibawakan oleh ibu mertuanya.


"Emmm sebenarnya tadi pagi makanan yang saya makan hampir sama seperti biasanya dok. Hanya saja, semalam sebelum saya tidur dan tadi pagi setelah saya sarapan, saya meminum obat herbal," tutur Velicia dengan mengingat-ingat tiap kejadian semalam dan pagi tadi.


Dokter menghela nafasnya berat. Kemudian dia berkata,


"Sepertinya obat herbal itu yang membuat penyakit lambung Ibu semakin sakit. Untuk kedepannya saya rasa Ibu harus hati-hati karena riwayat penyakit Ibu yang tidak bisa begitu saja kelelahan dan sekarang Ibu harus pandai-pandai memilih makanan yang bisa diterima oleh lambung Ibu," tutur dokter tersebut menjelaskan pada Velicia.


Velicia menghela nafasnya berat, kemudian dia berkata,

__ADS_1


"Tapi Ibu pasti akan marah dok. Obat herbal itu beliau beli dengan harga mahal dan katanya bisa membuat cepat hamil," ucap Velicia lirih meratapi nasibnya.


Dokter dan Raymond pun kaget mendengar kisah dari Velicia. Ingin sekali Raymond bertanya agar mengetahui semua beban hati Velicia, sayangnya diurungkannya karena bukan waktu yang tepat menurutnya jika bertanya padanya sekarang ini.


"Maaf Bu, Pak, apa kalian belum mempunyai anak? Dan sudah berapa lama hingga mengusahakan meminum obat herbal yang kandungannya bisa membuat lambung Ibu terancam?" tanya Dokter tersebut penasaran.


"Maaf Pak, kami bukan suami istri. Dan dia adalah teman saya. Anehnya dia selalu yang menemukan saya dalam keadaan sakit di jalan dan dia juga yang selalu mengantarkan saya datang ke sini dengan berbeda situasi," ucap Velicia sambil tersenyum tipis mengingat keinginannya untuk suaminya menjadi seseorang yang selalu menolongnya.


Terlihat sekali jika dokter tersebut kaget mendengarnya. Mulai dari awal Raymond mengantar Velicia beberapa hari yang lalu datang ke klinik tersebut, dokter dan perawat mengira mereka adalah pasangan suami istri yang baru menikah.


Dan ternyata kini mereka tahu jika Velicia dan Raymond hanya berteman biasa.


"Maaf Bu saya mau bertanya. Sudah berapa lama ibu menikah sehingga Ibu anda memerintahkan untuk meminum obat herbal itu tiap hari?" tanya dokter tersebut yang merasa penasaran pada kasus pasiennya.


"Emmm… itu… saya…," Velicia enggan menceritakan tentang rumah tangganya pada siapapun.


"Maaf jika saya lancang bertanya. Saya hanya mencoba menolong Ibu dan suami Ibu saja. Karena kebetulan istri saya adalah dokter spesialis kandungan. Jadi mungkin saja bisa membantu memberi solusi pada Ibu dan suami Ibu," tutur dokter tersebut kembali sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.


"Emmm… sebenarnya saya sudah sering periksa dan berkonsultasi dok, hanya saja sampai sekarang pun kami belum bisa mempunyai keturunan," ucap Velicia dengan air matanya yang sedikit menetes.


"Semuanya hanya atas kuasa Nya Bu. Tapi kita harus tetap berusaha. Siapa tahu Ibu akan mengetahui kebenarannya ketika kalian memeriksakan diri kalian pada dokter Anggun, istri saya," ucap dokter tersebut menjelaskan pada Velicia.


"Baiklah dok, akan saya coba nanti," ucap Velicia sambil tersenyum tipis.


"Baiklah, untuk saat ini diminum saja obatnya. Nanti akan saya periksa lagi pada jam kunjungan berikutnya," ucap dokter tersebut menanggapi ucapan dari Velicia.


 


Kemudian dokter tersebut keluar dari ruangan itu setelah mendapatkan anggukan dari Velicia.


"Ternyata kamu sudah menikah ya Ve?" tanya Raymond sambil tersenyum paksa.

__ADS_1


"Sangat panjang ceritanya Ray. Kapan-kapan saja akan aku ceritain," ucap Velicia mencoba mengulur waktu.


"Sepertinya kamu juga sudah menikah Ray," ucap Velicia ketika melihat cincin pernikahan terbersit senyuman kebahagiaan Raymond dan istrinya.


__ADS_2