
Raymond tidak bisa mencegah keinginan Tania untuk pergi dari rumah. Dia memang kecewa pada istrinya, tapi dia khawatir padanya. Apalagi meninggalkan rumah di saat malam seperti itu.
Disusulnya Tania yang berjalan menuju mobilnya. Bahkan Raymond berlari untuk bisa menghentikan langkah istrinya.
Grep!
Dipegangnya lengan Tania untuk menghentikannya yang sedang membuka pintu mobilnya.
"Sudah malam. Besok saja berangkatnya," ucap Raymond sambil terengah-engah.
Tania tersenyum sinis pada suaminya. Kemudian dia berkata,
"Kenapa? Bukannya kamu lebih suka jika aku tidak berada di rumah ini?"
Raymond menghela nafasnya mendengar perkataan istrinya. Dia menatap istrinya dengan mata sendunya.
"Jangan bahas itu lagi. Aku hanya belum terbiasa ada orang lain di rumahku," jawab Raymond dengan suara lembutnya.
"Orang lain? Aku istri kamu dan kamu mengatakan bahwa aku orang lain? Kamu sadar gak sih kalau kamu itu seorang suami yang tidak mengakui istrinya?" tanya Tania dengan meledak-ledak.
"Masuklah. Aku mohon kita berbicara di dalam saja. Sangat memalukan jika kita berdebat masalah seperti ini di luar rumah," ucap Raymond dengan wajah memelas.
Velicia kembali tersenyum sinis. Bahkan dia terkekeh setelah melihat wajah suaminya yang memohon padanya.
"Aku akan menuruti permintaanmu asalkan kamu mau menuruti permintaanku," ucap Tania setelah menghentikan tawanya.
"Apa?" tanya Raymond yang memandang istrinya dengan penuh tanya.
Tania menutup kembali pintu mobilnya. Kemudian dia melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil tersenyum licik dan berkata,
"Kita berangkat ke hotel sekarang juga."
Raymond mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh istrinya. Kemudian dia berkata,
"Untuk apa ke hotel? Kita punya rumah di sini," jawab Raymond sambil menoleh ke belakang dan menunjuk rumahnya menggunakan dagunya.
Tania mengeluarkan smirk nya dan berkata,
"Kita cari suasana baru agar kita cepat diberikan keturunan."
Seketika badan Raymond menegang. Dia tidak ingin melakukannya sekarang ini dengan istrinya. Karena dia tidak ingin menghilangkan kenangannya bersama dengan Velicia.
"Aku lelah sekarang. Aku harap kamu mengerti," ucap Raymond dengan suara lembutnya.
Setelah itu dia membalikkan badannya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Tania menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. Bahkan dia tersenyum kesal mendapati suaminya yang berbalik masuk ke dalam rumahnya tanpa membujuknya untuk ikut bersamanya.
Brak!
Raymond membalikkan badannya mendengar suara benda yang seperti dibanting.
Dia menghela nafasnya ketika tahu jika suara tersebut berasal dari pintu mobil yang ditutup dengan kerasnya oleh Tania.
Mobil itu kini melaju kencang meninggalkan halaman rumah Raymond.
Sebelum perasaannya disambut hangat oleh Velicia, dia berkeinginan agar mereka segera mendaftarkan pernikahan mereka agar sah secara hukum. Sayangnya, Tania menolaknya.
Dan kini, perasaannya sudah menyatu dengan Velicia. Sehingga dia enggan membohongi perasaannya lagi. Dia ingin meraih kebahagiaannya dan terlepas dari bayang-bayang keluarga Tania.
Suami mana yang mau dipandang rendah oleh istrinya? Begitulah apa yang dirasakan oleh Raymond selama ini.
Ketika pindah ke kota ini, harapan Raymond adalah secara perlahan menjauh dari keluarga Tania. Tapi tidak dengan Tania, dia akan tetap mencoba untuk menjadi suami baginya.
Bagi Raymond, pernikahan bukan main-main. Oleh karena itu dia berusaha keras agar hubungannya dengan Tanja bisa berjalan dengan baik.
Nyatanya, sikap Tania tidak bisa berubah meskipun Raymond sudah berusaha keras mengubahnya dan mengarahkannya.
Yang dia dapatkan hanyalah hinaan dan pandangan rendah karena posisinya.
Kini, di kota ini, dia telah menemukan cintanya. Seorang wanita yang bersifat dan bernasib sama sepertinya.
Kepergian istrinya malam itu membuat Raymond semakin yakin jika hatinya tidak akan bisa memilih istrinya. Hatinya sudah tertutup hanya untuk satu orang saja, Velicia.
Raymond tahu jika rasa cinta mereka terlarang, karena mereka berdua sudah memiliki pasangan. Tapi, mereka berdua sama-sama tidak bahagia.
Bahkan hatinya sangat sakit ketika melihat Velicia menangis di hadapannya karena suaminya. Sejak itulah Raymond memantapkan hatinya untuk memperjuangkan cintanya.
Mengingat nama Velicia, membuatnya rindu akan wanita yang dicintainya itu. Diambilnya ponsel miliknya yang tergeletak di meja.
Tangannya hendak menekan tombol menelepon, tapi segera dihentikannya karena mereka sudah berjanji jika tidak akan menelepon satu sama lain. Dan mereka hanya berhubungan melalui pesan saja.
Akhirnya Raymond mengirimkan pesan pada Velicia.
Apakah kamu sudah tidur? Aku ingin mendengarkan suaramu. Apa bisa aku meneleponmu?
Tring!
Suara notifikasi pesan terdengar dari ponsel Velicia.
Ferdi sudah tertidur dengan posisi memunggungi Velicia. Begitu pula dengan Velicia yang tidur dengan posisi memunggungi suaminya.
__ADS_1
Velicia menoleh ke arah suaminya. Setelah dia yakin suaminya telah tertidur dengan nyenyak, dengan perlahan dia mengambil ponselnya yang terletak di atas meja di sebelah ranjangnya.
Dibukanya pesan tersebut dengan melihat ke arah suaminya. Seketika senyumnya merekah melihat nama Raymond tertera di sana.
Setelah itu dia membawa ponselnya keluar dari kamarnya. Kini dia berada di tempat mencuci baju. Dengan segera dia membalas pesan Raymond agar meneleponnya sekarang juga.
Ketika panggilan telepon dari Raymond masuk, Velicia segera menerimanya. Ternyata mereka berdua sama-sama rindu.
Seperti pasangan muda yang baru saja berpacaran, begitulah yang mereka rasakan saat ini. Rasa ingin selalu bertemu dan bersama tanpa ada perpisahan.
Mereka diam selama beberapa menit, menikmati jantung mereka yang berdegup sangat kencang saat ini.
Ve, kamu belum tidur? tanya Raymond untuk membuka percakapan mereka.
"Emmm… aku gak bisa tidur Ray," jawab Velicia lirih dengan malu-malu.
Apa aku mengganggumu, tanya Raymond kembali.
Velicia menggelengkan kepalanya sambil berkata lirih,
"Tidak."
Mmm… Ve, aku merindukanmu. Apa kamu juga merindukanku? tanya Raymond dengan suara khasnya, lembut dan menenangkan.
Velicia tersenyum, entah mengapa dia merasa senang hanya dengan mendengar pertanyaan itu dari Raymond.
"Iya Ray. Sama," jawab Velicia lirih dengan pipinya yang bersemu merah.
Seandainya waktu tidak menghalangi kita untuk bisa bertemu. Alangkah senangnya kita, ucap Raymond sambil tersenyum mengatakannya.
Velicia pun tersenyum mendengar perkataan Raymond. Dia pun membayangkan betapa senangnya jika mereka bisa bertemu kapan saja tanpa terhalang dengan waktu.
Kamu tau Ve, aku membayangkan kita berdua bisa berjalan bersama, bergandengan bersama, bercanda bersama, tanpa takut ketahuan oleh siapapun. Akankah itu bisa terjadi? tanya Raymond dari seberang sana yang sedang menerawang jauh, membayangkan perkataannya.
Velicia terdiam. Bulir air matanya menetes di pipinya. Sungguh dia ingin merasakan apa yang dikatakan oleh Raymond. Dia ingin memiliki kebahagiaannya tanpa merasakan tangis dan sakit hati yang berkepanjangan setiap harinya.
Dalam hatinya dia berkata,
Tuhan… aku ingin bahagia. Tolong berikan aku kebahagiaan dalam hidupku.
"Bunda… Bunda… di mana kamu?! Bunda…!"
Bang!
Ponsel Velicia jatuh ke lantai ketika mendengar suara suaminya yang berseru memanggil namanya.
__ADS_1
Ve! Velicia! Ve!
Raymond berseru memanggil Velicia setelah mendengar ponselnya jatuh di lantai, sehingga membuatnya cemas dan tidak berhenti mengkhawatirkannya.