Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 89 Operasi


__ADS_3

"Pak Ferdi harus menginap dulu untuk mempersiapkan kembali operasinya," ucap dokter yang menangani operasi Ferdi.


"Loh dok, kok pakai acara menginap? Bukannya bisa langsung saja dok?" tanya Ferdi pada dokter tersebut.


Dokter tersebut tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Ferdi. Kemudian dia berkata,


"Kami harus menjadwalkannya dulu Pak, tidak bisa mendadak. Lagi pula Bapak harus tinggal di sini sebelum operasi dilaksanakan agar saya bisa memantau kesehatan Bapak sebelum operasi dilakukan," ucap dokter tersebut pada Ferdi.


Maaf Pak, bukannya saya menjadikan Bapak sebagai seorang tawanan, saya hanya ingin memastikan saja. Saya tidak ingin Bapak berubah pikiran sebelum operasi dilakukan, dokter tersebut berkata dalam hatinya.


Ferdi merasa aneh dengan apa yang dikatakan oleh dokter tersebut. Karena itulah dia hanya diam tanpa mengatakan apa pun.


"Terima kasih dok," ucap Velicia sambil tersenyum pada dokter tersebut.


Dokter itu pun tersenyum dan berpamitan keluar dari ruangan tersebut. Kini di ruangan inap itu hanya ada Ferdi dan Velicia.


"Kalau menginap begini, bagaimana dengan pekerjaanku?" ucap Ferdi menggerutu.


Velicia yang sedang menata minuman dan makanan di meja, kini menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah suaminya. Kemudian dia berkata,


"Apa kita batalkan saja Mas?"


Seketika Ferdi terkejut. Pasalnya selama ini istrinya itu sangat menginginkan jika dia segera melakukan operasi. 


Bukankah dia sangat menginginkan ini? Kenapa dia jadi berubah pikiran? Apa ada sesuatu yang membuatnya berubah pikiran? Ferdi berkata dalam hatinya.


Tiba-tiba Ferdi teringat istrinya yang sedang menelepon di tengah malam sambil tersenyum bahagia.


Dalam hati Ferdi merasakan kejanggalan dan ingin sekali dia bertanya pada istrinya. Tapi keinginannya itu diurungkannya karena dia tidak yakin dengan apa yang sedang ada dalam pikirannya.


Velicia selalu menemani suaminya di dalam ruang inapnya. Dan Ferdi selalu menyuruhnya untuk membantunya melakukan sesuatu jika istrinya sedang asik dengan ponselnya.


Selalu seperti itu hingga keesokan harinya Ferdi memasuki ruang operasi untuk dioperasi sesuai dengan ketentuan yang sudah diberikan dokter padanya.


"Bunda, aku masuk dulu ya. Doakan operasinya berjalan dengan baik dan kita bisa mempunyai keturunan," ucap Ferdi sebelum masuk ke dalam ruang operasi.

__ADS_1


Velicia tersenyum paksa dan dia menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan suaminya.


Masuklah Ferdi ke dalam ruang operasi dengan rasa was-was karena ketakutannya untuk melakukan operasi.


Sedangkan Velicia, dia hanya menatap ruang operasi tersebut dengan hati yang bertanya-tanya.


Kenapa rasanya biasa-biasa saja? Bahkan aku tidak merasa senang sama sekali. Harusnya aku merasa senang ketika Mas Ferdi melakukan operasi kembali. Apa artinya ini aku masih menginginkan Raymond? Velicia berkata dalam hatinya.


Drrrttt… drrrttt… drrrttt…


Ponsel Velicia bergetar dan tertera nama Raymond pada layar ponselnya.


Dia segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dari ruang operasi tersebut.


Jantungnya berdebar ketika mendengar suara laki-laki yang sangat dirindukannya. Mereka berbicara banyak dan saling tersenyum mendengar kekasih hatinya berbicara. 


Mereka berdua memang benar-benar seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Mereka lupa akan sekitar mereka. Yang mereka tahu saat ini hanyalah mereka merasa seolah tidak bisa bernafas jika mereka tidak bersama.


Setelah beberapa lama, mereka menyudahi percakapan melalui telepon itu karena Raymond harus mengerjakan pekerjaannya dan Velicia harus menemani Ferdi yang sudah keluar dari ruang operasi.


Keesokan harinya, Ferdi sudah diperbolehkan pulang. Dan dia masih mengambil cuti, sehingga dia belum kembali bekerja.


"Bunda, temani aku di rumah. Jangan masuk kerja dulu," ucap Ferdi yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV dan memangku Cinta, kucing kesayangannya.


Velicia yang sedang menyiapkan sarapan dan obat untuk suaminya itu, kini mengalihkan perhatiannya pada suaminya dan berkata,


"Tapi Mas, sudah-"


"Bunda masuk kerjanya barengan aja kalau aku sudah mulai bekerja. Mungkin besok aku sudah mulai bekerja kembali," ucap Ferdi sambil mengusap-usap bulu lembut Cinta yang sedang tidur di pangkuannya.


Velicia menghela nafasnya. Dia tidak bisa membantah suaminya karena kewajibannya untuk merawat suaminya sesudah melakukan operasi.


Sepertinya aku harus menyibukkan diri hari ini. Sebaiknya aku mulai dari bersih-bersih rumah saja. Setelah itu mencuci baju, menyetrika dan membersihkan area dapur, Velicia berkata dalam hatinya.


"Huffftttt… semangat Ve," ucap Velicia lirih sambil mengepalkan tangannya di depan dadanya untuk menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Hari itu pun Velicia tidak bekerja dan dia hanya sibuk di rumah untuk mengurusi Ferdi dan mengerjakan pekerjaan rumah tangganya.


Ketika sore hari, Raymond mengirimkan pesan padanya.


Ve, aku merindukanmu. Bisakah kita bertemu di taman biasanya? Di taman tempat anak-anak bermain.


Bibir Velicia tiba-tiba melengkung ke atas ketika membaca pesan tersebut. Bahkan binar bahagia tersirat di wajahnya saat ini.


Ingin sekali dia berlari sekarang juga ke arah Raymond. Sayangnya, dia ragu untuk pergi bertemu dengan Raymond karena suaminya yang pasti tidak akan memperbolehkannya pergi saat ini.


Velicia menoleh ke arah Raymond yang sedang tertidur di sofa bersama dengan Cinta. Dengan segera dia keluar dari rumahnya dan berlari menuju taman yang ada di sekitar rumahnya.


Aku rasa kini aku sudah gila. Aku berlari sekuat tenagaku meninggalkan suamiku yang sedang ada di rumah untuk menemui laki-laki lain yang kini ada dalam hatiku, Velicia berkata dalam hatinya sambil menopang kedua lututnya dengan kedua tangannya, berusaha menetralkan nafasnya yang ngos-ngosan.


Dilihatnya ke arah depan yang sudah ada sosok laki-laki yang tersenyum manis padanya.


Berlarilah dia ke arah laki-laki tersebut dan memeluknya dengan kedua tangannya yang melingkar pada leher laki-laki itu.


Semua itu memperlihatkan betapa bahagia dan tidak sabarnya Velicia untuk bertemu dengan Raymond, laki-laki yang menempati hatinya saat ini.


Raymond yang tidak siap dengan pelukan itu merasa kaget, untung saja dia bisa menahannya sehingga mereka tidak terjatuh saat ini.


Mereka berdua saling memandang dan tersenyum bahagia bersama, seolah dunia yang mereka tempati ini hanya milik mereka berdua. Dan udara yang mereka hirup saat ini hanya untuk mereka berdua saja.


Bahagia, rasa itu sedang mereka berdua rasakan. Bahkan mereka merasa sangat bahagia.


Raymond tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya pada Velicia. Dan Velicia pun menyambut uluran tangan itu dengan hangatnya dan senyuman manisnya.


Mereka berdua duduk di tempat duduk yang biasanya mereka tempati. Banyak hal yang mereka bicarakan. Tawa dan canda mereka memperlihatkan kebahagiaan mereka saat ini.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kantor, Lani sedari tadi tidak bisa fokus bekerja. Selama jam kerja dia selalu melihat ke arah meja kerja Ferdi.


Dia menghela nafasnya dan seketika matanya berbinar sambil berkata dalam hatinya,


Lebih baik aku ke rumahnya saja sambil membawa mainan untuk Cinta.

__ADS_1


__ADS_2