
Kepercayaan, satu hal yang harus dimiliki dalam sebuah hubungan. Jika kepercayaan itu sudah dilanggar, maka kepercayaan itu pun sirna begitu saja.
Lalu apa bisa sebuah hubungan tanpa adanya kepercayaan? Terlebih dalam hubungan rumah tangga. Bukankah dengan kepercayaan itu pasangan akan menjadi lebih nyaman?
Kini kepercayaan yang diberikan oleh Velicia bukan hanya retak, tapi sudah hancur berkeping-keping sehingga sulit untuk disatukan kembali meskipun menggunakan perekat yang super ampuh.
Tangan Velicia mendorong tubuh suaminya agar melepaskan pelukannya. Hanya saja tenaga Velicia tak sebanding dengan tenaga Ferdi. Pelukan itu masih bisa dipertahankan oleh Ferdi.
Tenaga Velicia yang sudah sangat lemah, membuatnya hanya pasrah berada dalam pelukan suaminya yang saat ini sangat dibencinya.
"Apa alasanmu melakukan itu Mas?" tanya Velicia yang masih dalam pelukan Ferdi dengan suara lirih.
Ferdi hanya diam dengan memejamkan matanya. Dia seolah tidak mengetahui arah pembicaraan istrinya.
"Lepaskan!" seru Velicia dengan suara yang bergetar.
Ferdi tetap memeluk Velicia, bahkan kini pelukannya lebih erat seolah dia tidak bisa melepaskan istrinya untuk pergi jauh darinya.
"Ceritakan padaku atau lepaskan aku untuk selamanya," ucap Velicia dengan suara yang tercekat dan air matanya kembali luruh tanpa permisi.
Ctaaaar!
Bagai tersambar petir, jantung Ferdi seperti berhenti berdetak ketika Velicisa mengatakan akan pergi dari sisinya untuk selamanya.
"Aku mohon Ve. Jangan tinggalkan aku," ucap Ferdi dengan suara yang terdengar sedih.
"Ceritakan! Apa alasanmu melakukan itu?" tanya Velicia kembali dengan suara yang lebih meninggi meskipun suaranya bergetar menahan tangisnya.
Perlahan Ferdi mengurai pelukannya. Dia merasa sudah tidak bisa mengelak lagi.
Didudukannya Velicia di atas tempat tidur pasien. Dan Ferdi duduk di tempat tidur itu dengan menghadap ke arah istrinya.
"Maaf," ucap Ferdi mengawali pembicaraan mereka setelah saling tenang dan berhadapan.
__ADS_1
Velicia menatap nyalang pada suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Air matanya menggenang di pelupuk matanya hingga jika dia hanya sekali berkedip saja, air mata itu pasti akan jatuh mengalir tak terbendung lagi.
"Bukan itu yang ingin aku dengar," sahut Velicia dengan sinis.
"Aku tidak berselingkuh," ucap Ferdi sambil menatap mata Velicia seolah dia ingin meyakinkannya.
Velicia tersenyum getir mendengar kata selingkuh keluar dari mulut Ferdi. Kemudian dia berkata,
"Aku tidak peduli apakah Mas Ferdi selingkuh atau tidak. Aku hanya ingin tau alasan Mas Ferdi melakukan vasektomi meskipun Mas tau jika aku dan Ibu sangat menginginkan kehadiran anak dalam rumah tangga kita," ucap Velicia dengan menahan amarah dan menekan kesedihannya sehingga terlihat jelas kemarahan itu dari matanya.
Hati Ferdi seolah ditusuk oleh belati mendengar kalimat tajam yang diucapkan oleh istrinya.
Tak dipungkiri, hatinya sangat sedih dan sakit saat ini ketika mendengar jika istrinya tidak lagi mempedulikan dirinya, terutama tentang tuduhan perselingkuhannya.
"Maaf," Ferdi kembali mengucap maaf dengan menundukkan kepalanya agar tidak melihat kemarahan yang terlihat jelas pada mata istrinya.
"Maaf, maaf. Kenapa hanya kata maaf yang bisa keluar dari mulutmu Mas?"
Velicia tidak bisa lagi menahan amarah dan tangisnya. Diusapnya air matanya itu dengan kasar. Setelah itu dia menghirup nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan dari mulutnya untuk menekan amarahnya.
"Aku belum siap," ucap Ferdi tanpa melihat ke arah istrinya, dia masih saja menundukkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Velicia dengan air mata yang kembali menetes di pipinya.
"Aku takut jika aku tidak bisa membahagiakan anak kita," jawab Ferdi dengan suara lirih dan kepalanya masih saja tertunduk, tidak berani menatap istrinya.
Velicia tersenyum kecut mendengar jawaban dari suaminya. Kemudian dia berkata,
"Lalu kenapa kita harus menikah jika Mas tidak mau mempunyai anak?"
"Karena aku tidak mau kehilangan kamu," jawab Ferdi dengan cepat dan reflek dia memandang istrinya untuk meyakinkannya.
"Buat apa menikah jika kita tidak memiliki anak ketika kondisi kita baik-baik saja? Dan alasan apa ini? Sangat tidak masuk akal sekali buatku. Sedangkan Mas sendiri tau keinginanku dan Ibu sangat besar untuk menghadirkan anak di tengah-tengah keluarga kita. Kamu egois Mas!" ucap Velicia dengan nafas yang terengah-engah melampiaskan rasa sakit hatinya.
__ADS_1
Ferdi kembali memejamkan matanya. Rasanya dia tidak ingin berada dalam kondisi seperti ini karena bukan ini yang dia inginkan.
"Aku… aku…," Ferdi tidak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya pada istrinya.
"Kenapa? Belum siap? Lalu, kapan Mas Ferdi siap memiliki anak?" tanya Velicia dengan bibirnya yang bergetar menahan tangisnya.
Ferdi menghela nafasnya. Kini dia merasa tidak bisa menyembunyikannya lagi. Ditatapnya mata istrinya itu dengan intens, lalu dia berkata,
"Aku trauma."
Sontak saja Velicia membelalakkan matanya mendengar kata trauma keluar dari mulut suaminya.
Velicia hanya diam, dia tidak menimpali ucapan suaminya. Tapi, dari tatapan matanya dia mengatakan agar suaminya itu meneruskan ucapannya.
"Huuuuffffttt…," Ferdi menghela nafasnya berat sebelum dia kembali mengatakan alasannya.
"Sebenarnya Ayahku meninggalkan Ibuku sewaktu aku masih dalam kandungannya. Alasan yang aku ketahui adalah nasib Ayahku berubah ketika Ibuku sedang mengandungku. Bisnis Ayahku gulung tikar dan semua yang diusahakannya tidak membuahkan hasil. Bahkan dia bangkrut di setiap usahanya. Dan kata yang keluar dari mulut orang-orang adalah, aku anak pembawa sial," tutur Ferdi sambil tersenyum getir mengingat apa yang dulu pernah terjadi pada dirinya.
Velicia terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia tidak menyangka sama sekali jika alasannya tidak mau memiliki anak karena alasan tersebut.
"Sejak kecil aku selalu menjadi bahan olokan semua orang. Bahkan anak-anak mereka yang seusiaku tidak mau bermain denganku," ucap Ferdi sambil tersenyum getir menceritakan masa kecilnya.
Tanpa bersuara, Velicia memegang tangan Ferdi untuk menguatkannya.
"Ferdi kecil itu tidak mempunyai teman. Dan aku sendirian di mana pun. Di rumah aku sendiri karena Ibu sibuk mencari uang untuk biaya hidup kami dan sekolahku. Di daerah rumahku, tentu saja semua tidak mengijinkan anak mereka untuk bermain denganku. Dan mereka mengolok-olokku dengan sebutan anak pembawa sial. Bahkan itu semua berlanjut hingga di sekolah. Aku hanya melampiaskan kesendirianku dengan belajar dan bertekad untuk bisa menjadi sukses dan membanggakan Ibuku," ucap Ferdi kembali.
"Lalu, kenapa Mas tidak mau mempunyai anak? Mas sudah bisa membuktikan bahwa Mas bukan anak pembawa sial. Buktinya Ibu sekarang mempunyai beberapa kos-kosan dan Mas Ferdi sekarang menjadi kepala divisi di suatu bagian bank swasta. Apa yang perlu Mas Ferdi khawatirkan?"
Velicia sudah tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya. Dia menanyakan apa saja yang ingin dia tanyakan sedari tadi.
"Bagaimana jika anak kita merasakan apa yang dulu aku rasakan? Dan kamu tau jika pem-bully-an jaman sekarang sangat menakutkan dibandingkan dengan jamanku waktu itu bukan? Aku tidak mau anak kita merasakan itu," ucap Ferdi dengan meneteskan sedikit air matanya.
Dengan segera Velicia memeluk suaminya. Dia tidak tega melihat air mata suaminya menetes di hadapannya.
__ADS_1
"Mas, bisakah aku meminta sesuatu padamu?" ucap Velicia ketika memeluk tubuh suaminya.