Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 33 Pahitnya arti menunggu


__ADS_3

Sesampainya di klinik tempat Velicia dirawat, Lani segera menuju ke ruang UGD. Di sana dia mendapatkan perawatan untuk luka-luka ringannya dan dokter melakukan pemeriksaan untuk keluhan penyakitnya.


"Tidak ada yang serius. Pasien hanya sedang flu biasa saja Pak. Saya akan meresepkan obatnya agar pasien bisa cepat sembuh. Asalkan obatnya diminum dengan teratur, pasti akan cepat sembuh," tutur dokter tersebut pada Ferdi.


"Baik dok. Terima kasih," ucap Ferdi sambil menganggukkan kepalanya ketika dokter tersebut beranjak meninggalkannya.


"Pak, bantuin dong," ucap Lani sambil mengulurkan tangannya untuk mengharapkan bantuan dari Ferdi.


"Kamu hanya sakit flu, jangan manja," ucap Ferdi tanpa mau menerima uluran tangan Lani.


Pipi Lani menggembung dan wajahnya cemberut mendengar perkataan Ferdi. Baru saja dia senang karena Ferdi lebih memilih mendatanginya dibandingkan dengan menemani istrinya yang sedang sakit di klinik tersebut. Sekarang sikap Ferdi kembali seperti biasanya. Dan itu membuat Lani menjadi kesal.


"Kamu sudah bisa sendiri kan? Aku akan pergi ke ruangan istriku," ucap Ferdi sebelum berbalik arah untuk meninggalkan ruangan UGD tersebut.


Dengan segera Lani turun dari bed pasien dan berjalan mengikuti Ferdi.


Tiba-tiba seorang perawat menghentikan mereka dengan menghadang Ferdi tepat di hadapannya sambil berkata,


"Pak maaf, anda harus membayar tagihan perawatannya terlebih dahulu sebelum pasien keluar dari klinik ini."


Ferdi melihat ke belakang dan dia terkejut karena sudah ada Lani yang ada di belakangnya sambil tersenyum lebar.


"Uruslah pembayaranmu di kasir. Kamu masih bisa jalan kan? Aku pasti sudah ditunggu is-"


"Tolong bayarkan dulu Pak. Besok pasti akan saya ganti uangnya."


Dengan cepatnya Lani menyela ucapan Ferdi agar tidak mengeluarkan kata istri di hadapan perawat tersebut.


Ferdi menghela nafasnya, dia merasa selalu terganggu oleh Lani. Tapi bagaimanapun Lani mengganggunya, dia tidak pernah menolak permintaan Lani dan anehnya dia selalu menyetujuinya.


Ferdi menoleh ke arah perawat tersebut dan berkata,


"Di mana tempat membayarnya?"


"Di sebelah sana Pak, mari saya antar," ucap perawat tersebut sambil menunjuk arah kasir.


Ferdi dan Lani mengikuti perawat tersebut untuk membayar biaya perawatan Lani.


Setelah Ferdi membayar di kasir, dia segera berjalan menuju kamar inap istrinya tanpa menanggapi panggilan dari Lani.

__ADS_1


Dia berjalan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia merasa jika nanti istrinya akan marah padanya karena terlalu lama meninggalkannya.


Ceklek! 


Pintu kamar inap Velicia terbuka. Sontak saja Velicia yang memang belum bisa tidur karena cemas pada suaminya langsung menoleh ke arah pintu tersebut.


"Mas Ferdi! Mas Ferdi ke mana saja? Kenapa lama sekali? Mana minumnya Mas?" Velicia memberondong Ferdi dengan beberapa pertanyaan yang menunjukkan kecemasannya.


"Maaf, tadi aku-"


"Permisi, maaf saya mengganggu. Saya hanya ingin bertemu dengan istri Bapak."


Tiba-tiba seorang perempuan datang menyela pembicaraan Ferdi bersama Velicia.


Mata Ferdi terbelalak melihat Lani masuk ke dalam ruangan tersebut dan secara lancangnya berbicara tanpa meminta ijin padanya terlebih dahulu.


"La-Lani?! Ada apa kamu ke sini? Bukannya kamu sudah pulang?" tanya Ferdi pada Lani yang terkejut akan kedatangannya secara tiba-tiba.


"Belum Pak. Sudah malam. Apa saya boleh menginap di sini saja?" tanya Lani sambil tersenyum lebar pada Ferdi.


Velicia terperangah mendengar obrolan mereka berdua, suaminya membahas tentang kepulangan perempuan itu seolah tahu jam kepulangannya. Dalam hati Velicia memaki suaminya,


"Siapa dia Mas?" tanya Velicia dengan sekuat tenaga menahan kemarahannya.


"Dia-"


"Saya Lani Bu. Kita pernah bertemu sebelumnya di tempat makan pada saat makan siang beberapa hari yang lalu," sahut Lani dengan cepatnya menyela perkataan Ferdi.


Ferdi memejamkan matanya sambil menghela nafasnya. Dalam hatinya, dia merutuki kebodohannya telah membawa Lani ke klinik tersebut.


Harusnya tadi tidak aku biarkan dia ikut aku ke sini. Aku lupa jika dia orangnya sangat berani dan nekat.


Hati Velicia sangat sakit. Tangannya mengepal menahan amarahnya dan air matanya menggenang di pelupuk matanya.


Namun, dalam hatinya dia menertawakan kebodohannya telah mengkhawatirkan suaminya hingga dia menahan kantuknya yang teramat sangat karena efek dari obat yang diminumnya.


"Mana minumanku Mas? Dari tadi aku menunggumu sampai kehausan," ucap Velicia dengan suara yang tercekat menahan kesedihannya.


Ferdi menyerahkan kantong plastik warna hitam tersebut pada Velicia. 

__ADS_1


Velicia menerima kantong plastik tersebut dan mengambil botol besar mineral water yang dipesannya tadi.


Dahi Velicia mengkerut melihat botol mineral water tersebut hanya berisi tiga perempat botol saja. Dia memandang heran pada botol tersebut sambil berkata,


"Kenapa hanya tinggal segini Mas? Apa Mas Ferdi yang meminumnya?" 


"Itu-"


"Maaf Bu, tadi saya yang meminumnya. Saya lupa menggantinya. Padahal tadi pada saat saya datang ke sini sudah berniat untuk membelinya di luar," Lani menyela ucapan Ferdi.


Darah Velicia serasa mendidih mendengar apa yang dikatakan oleh Lani, perempuan yang menurut Velicia adalah selingkuhan Ferdi, suaminya.


Sontak saja Velicia melepaskan botol minuman tersebut karena kaget, hingga botol tersebut jatuh ke lantai.


"Ve, minumannya-"


"Buang saja. Aku gak mau," ucap Velicia dengan ketus dan suaranya bergetar menyela ucapan Ferdi.


Lagi-lagi Ferdi menghela nafasnya. Dia sama sekali tidak akan pernah mengira jika dia berada dalam keadaan seperti ini.


"Akan saya belikan Bu. Maaf saya lupa menggantinya," ucap Lani tanpa gentar sedikitpun.


Merasa tidak ada jawaban dari Velicia, Lani segera keluar dari ruangan tersebut untuk membelikan Velicia minuman.


Ferdi mendekati Velicia yang sedang memunggunginya.


"Ve, Bunda, maaf, tadi dia meneleponku meminta bantuanku pada saat aku membeli minuman untukmu. Dia tadi kecelakaan," tutur Ferdi sambil memegang pundak istrinya.


Velicia menghempaskan tangan Ferdi yang berada di pundaknya. Kemudian dia mengusap air mata yang dengan lancangnya keluar meskipun sudah ditahan sekuat tenaga olehnya.


"Kamu segera berlari menghampirinya ketika dia meneleponmu dan mengabarimu bahwa dia kecelakaan? Sedangkan aku, istri sah mu di sini sangat membutuhkanmu dan menunggumu sedari tadi. Huffffttt… aku gak nyangka Mas, kamu tega meninggalkan aku hanya demi perempuan yang bukan siapa-siapa kamu. Apa dia selingkuhanmu Mas?" ucap Velicia dengan suara bergetar dan air matanya kembali menetes ketika dia mengucapkan semua isi hatinya.


Menyakitkan, sangat menyakitkan bagi Velicia. Semua yang dilakukannya terasa percuma.


"Ve, kamu salah. Aku tidak bermaksud seperti itu. Dan aku tidak selingkuh," ucap Ferdi dengan tegas.


"Lalu apa? Bahkan minuman yang kamu beli untukku dengan mudahnya kamu berikan pada dia dan sisanya kamu berikan padaku? Apa itu suami yang mengutamakan istrinya?" Dengan suara lantang dan bergetar Velicia menyahuti ucapan suaminya.


"Ve, itu hanya masalah minuman. Dia kaget karena kecelakaan itu. Terpaksa aku memberikan minuman itu. Dan maaf, aku lupa membelinya lagi untukmu," ucap Ferdi sambil menatap penuh perasaan pada istrinya.

__ADS_1


"Lalu apa hubunganmu dengannya Mas?" tanya Velicia berapi-api.


__ADS_2