
Raymond tidak bisa memejamkan matanya, dia masih saja memikirkan tentang Velicia. Hati dan pikirannya tidak luput dari kekhawatirannya pada wanita yang sudah bersuami itu.
Bahkan sekarang saat dia tidur pun matanya tidak dapat terpejam. Dia ingin sekali berlari menemui wanita yang sudah merajai hatinya.
Ve, sedang apa kamu sekarang? Apa kamu baik-baik saja? Aku merindukanmu, sangat… sangat merindukanmu, Raymond berkata dalam hatinya.
Tania yang tidur di sebelahnya merasakan kegundahan hati suaminya. Kecurigaannya semakin membuatnya ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi hingga dia hujan-hujanan seperti itu? Bukankah dia membawa payung? Apa dia bertemu dengan seseorang dan mereka berpayungan bersama sehingga Raymond yang mengalah dan kebasahan? Tapi bukankah seharusnya dia bahagia jika bertemu dengan seseorang? Tapi dia sebaliknya, dia seperti orang yang sedang patah hati. Apa mungkin hubungan mereka sudah berakhir? Tania berkata dalam hatinya sambil menatap nanar punggung suaminya yang tidur dengan posisi membelakanginya.
Di tempat lain, Ferdi merasakan jika sikap istrinya sudah berubah. Istrinya yang dulunya selalu pengertian dan penurut, kini berubah menjadi penentang.
Bahkan Ferdi merasa jika dirinya bisa dengan mudahnya merasa nyalinya menciut ketika istrinya itu sedang marah padanya.
Apa yang harus ku lakukan agar dia bisa kembali seperti Velicia yang manis dan penurut lagi seperti dulu? Apa aku harus segera melakukan operasi itu agar dia bisa kembali menurut padaku? Ferdi berkata dalam hatinya sambil menatap penuh tanda tanya pada punggung istrinya yang sedang tidur dengan posisi membelakanginya.
Beberapa detik kemudian, masih dalam posisi menatap punggung istrinya, dia kembali berkata dalam hatinya,
Sepertinya aku memang harus melakukannya. Aku tidak suka jika dia marah-marah padaku. Besok aku akan mengatakan padanya, Ferdi kembali berkata dalam hatinya.
Sedangkan Velicia, dia hanya memejamkan matanya saja, jiwa dan hatinya masih saja terjaga. Sedari tadi dia mencoba untuk tidur, sayangnya hanya raganya saja yang dalam keadaan terbujur di atas ranjang. Sedangkan hatinya masih memikirkan hubungannya dengan Raymond.
Pagi harinya Velicia beraktifitas seperti biasanya. Dia memasak sarapan untuk mereka berdua, membuat jus buah untuk mereka berdua dan membuatkan kopi untuk dibawa suaminya bekerja.
“Bunda, aku ingin bicara,” ucap Ferdi sambil duduk dan merapikan dasinya.
__ADS_1
Di hadapannya kini sudah ada sarapan dan jus buah segar seperti biasanya. Ferdi melihat yang terhidang di hadapannya dan beralih memandang wajah istrinya. Velicia tampak seperti biasa saja, tidak ada masalah dengannya. Tapi wajah Velicia terlihat datar dan tidak ada senyuman sedikitpun yang menghiasi wajah datarnya itu. Hingga terkesan dingin dan membuat Ferdi enggan mengatakan apapun pada istrinya.
“Bunda, aku akan melakukannya,” ucap Ferdi sambil memberanikan dirinya untuk menatap mata istrinya.
Velicia hanya menatap datar suaminya tanpa reaksi apapun. Tidak ada senyuman bahagia yang ditunjukkannya ataupun binar bahagia dari matanya ketika mendengar suaminya akan mengabulkan permintaannya.
“Lalu?” tanya Velicia dengan wajah datarnya.
Sontak saja Ferdi kaget melihat reaksi dan mendengar jawaban yang keluar dari mulut istrinya itu. Sama sekali dia tidak akan menyangka jika keputusannya itu akan ditanggapi istrinya dengan biasa saja.
Padahal dia membayangkan ketika dia mengatakan itu, istrinya akan tersenyum manis dengan binar bahagia terpancar di wajahnya. Dan semua itu menjadi kebalikannya. Sekarang dia merasa seperti sedang berada di tempat angker yang menguji nyalinya saat ini.
“Ya… kapanpun Bunda mengajakku ke rumah sakit, aku tidak akan menolaknya lagi,” jawab Ferdi dengan ragu dan nyalinya sedikit menciut ditatap seperti itu oleh istrinya.
Velicia mengeluarkan smirk nya. Dia tersenyum sinis mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya padanya. Kemudian dia berkata,
Glek!
Ferdi menelan ludahnya, sekarang ini dia merasa seperti sedang disidang oleh istrinya. Tapi dia sadar bahwa dirinya memang pantas untuk disalahkan dalam hal ini. Dia mencoba tersenyum agar istrinya tidak meragukannya. Sayangnya senyumannya itu malah terlihat kaku, sehingga orang yang melihatnya pasti akan meragukannya.
“Sepertinya sekarang aku sudah siap,” ucap Ferdi sambil tersenyum manis mencoba meyakinkan istrinya.
Supaya kamu dan juga Ibu tidak mengomeliku lagi. Dan supaya kamu tidak marah lagi padaku, Ferdi berkata dalam hatinya.
“Untuk siapa Mas Ferdi melakukan ini?” tanya Velicia dengan nada datar dan wajah dinginnya.
__ADS_1
Seketika Ferdi terhenyak mendengar pertanyaan dari istrinya. Dengan bingungnya dia menjawab,
“Hah?! Maksudnya?”
Velicia kembali mengeluarkan smirk nya. Dia seperti menertawakan kebodohan suaminya. Diletakkannya roti sandwich yang ada di tangannya itu di atas piring yang ada di hadapannya, kemudian dia berkata,
“Apa Mas Ferdi benar-benar menginginkan anak dariku? Atau mungkin….”
Perkataan Velicia terjeda, dia melihat reaksi suaminya. Dan dia kembali menertawakan raut wajah suaminya yang seperti sedang bingung karena ketahuan melakukan sesuatu.
“Mas Ferdi menginginkan anak dari wanita itu?” Velicia meneruskan perkataannya tadi sambil tersenyum meremehkan pada suaminya.
Sontak saja Ferdi membelalakkan matanya. Dia tidak pernah berpikir seperti yang dikatakan oleh istrinya karena dia sangat membenci perselingkuhan. Sama seperti Bu Anisa, ibunya itu sangat membenci perselingkuhan karena ayahnya lebih memilih pergi meninggalkannya dan membina rumah tangga dengan wanita kaya setelah semua usahanya gulung tikar dan menyalahkan Ferdi sebagai anak pembawa sial.
Namun, entahlah, dia juga tidak mengerti dengan perasaannya dan dengan apa yang dilakukannya saat ini. Dia tidak menolak Lani yang dengan nyata selalu mendekatinya dan selalu mencari perhatian darinya.
Pernah dia bertanya-tanya dalam hatinya tentang perasaannya dan perlakuannya pada Lani. Tapi dia hanya berasumsi jika dia hanya menikmati perhatian dari seorang wanita muda yang seolah tergila-gila padanya. Karena selama ini dia tidak pernah mendapatkan semua itu.
Selama ini dia menjadi orang yang seperti tersisihkan. Bahkan dia seperti tidak terlihat karena status sosialnya itu. Lalu, apa mungkin dengan status sosialnya itu dia bisa mendapatkan perhatian dari seorang perempuan? Bahkan teman saja dia tidak punya.
Oleh sebab itu, ketika dia bertemu dengan Velicia yang sangat cantik dan tidak sombong pada siapapun, dengan cepatnya dia mengajaknya menikah meskipun dia takut akan pernikahan yang nantinya pasti akan berujung dengan masalah keturunan.
Dan benar terbukti. Ibunya dan istrinya selalu meributkan masalah keturunan semenjak mereka menikah. Bahkan hanya dengan masalah keturunan saja berimbas buruk pada rumah tangganya.
“Bunda, kenapa Bunda menanyakan hal itu?” tanya Ferdi dengan tatapan tidak percaya pada istrinya.
__ADS_1
Velicia tidak menjawab. Dia hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban dari pertanyaan yang diberikan suaminya padanya.
“Aku tidak ada hubungan apapun dengan Lani. Kita hanya sebatas rekan kerja saja. Dan masalah anak, tentu saja aku ingin mendapatkan anak dari Bunda karena kamu adalah istriku,” tutur Ferdi dengan tegas agar istrinya percaya padanya.