
Raymond terkejut dengan pertanyaan dari istrinya. Dia tidak mengira jika sikapnya bisa membuat istrinya mencurigainya.
Tanpa menjawab apapun pertanyaan yang diberikan oleh istrinya padanya, Raymond menutup buku-bukunya dan dia beranjak dari duduknya.
Digapainya pundak istrinya itu, lalu diarahkannya untuk berjalan bersamanya menuju kamar tanpa mengatakan apapun.
Raymond melepaskan pundak Tania ketika sudah berada di dalam kamar. Segeralah Raymond merebahkan badannya di atas ranjang dan menyelimuti badannya sebatas pinggangnya.
Tania berdiri mematung di depan ranjang mereka. Dia tidak percaya melihat suaminya yang sudah bersiap untuk tidur.
Dia menatap suaminya itu sambil tersenyum sinis. Sepertinya harapannya untuk melakukan hubungan suami istri malam ini gagal. Padahal dia sudah memakai lingerie yang sangat memanjakan mata orang yang melihatnya.
"Tidurlah, sudah malam. Kesinilah. Ayo kita tidur sekarang," ucap Raymond sambil menepuk ranjang tempat tidur Tania yang berada di sebelahnya.
Tania tidak bisa berkata-kata lagi. Dia beranjak menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya di sebelah suaminya.
Raymond sadar jika istrinya kecewa padanya. Diraihnya tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya untuk mengurangi rasa kecewa istrinya pada dirinya.
Tania tidak menolak. Bahkan dia mengeratkan pelukannya pada pinggang suaminya dan kepalanya disandarkan pada dada suaminya.
Mata mereka saling terpejam dan tidur dalam posisi berpelukan.
Di tempat lain, lebih tepatnya di klinik hewan. Setelah mendapatkan obatnya, Cinta diperbolehkan pulang oleh dokternya.
Bu Anisa masih saja menatap sinis pada Lani. Dan Lani tetap saja tersenyum pada Bu Anisa meskipun Bu Anisa bersikap sinis dan berkata menyakitkan padanya.
Dasar perempuan gak tau diri. Sudah jelas-jelas kehadirannya tidak dibutuhkan di sini, masih saja dia tetap bertahan di sini. Merepotkan saja, Bu Anisa berkata dalam hatinya sambil menatap sinis ke arah Lani yang berdiri tidak jauh dari Ferdi.
Cinta digendong oleh Ferdi menuju mobilnya. Bu Anisa, Velicia dan Lani mengikuti Ferdi menuju mobilnya.
Velicia berjalan dengan hati yang tidak karuan. Dia marah pada kehadiran Lani, tapi dia juga merasa bersalah pada suaminya.
"Mbak, Mbaknya ngapain ngikutin kita?" tanya Bu Anisa dengan ketus pada Lani.
__ADS_1
Lani menoleh ke arah Bu Anisa dan tersenyum kikuk padanya. Kemudian dia menjawab,
"Saya hanya memastikan Cinta sampai rumah dengan selamat."
Velicia tersenyum sinis mendengar jawaban dari Lani. Sedangkan Bu Anisa, dia tertawa mendengar jawaban Lani yang menurutnya tidak masuk akal.
"Bilang saja kamu ingin diantar pulang sama Ferdi," ucap Bu Anisa dengan ketus.
"Bolehkah Bu? Kalau boleh, dengan senang hati saya akan menerimanya," ucap Lani sambil tersenyum lebar pada Bu Anisa.
Seketika mata Bu Anisa terbelalak. Dia tidak menyangka jika perempuan di hadapannya itu sangat bebal dan tidak tahu malu.
Sedangkan Velicia, dia kembali tersenyum sinis dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dalam hatinya dia menertawakan kebodohannya yang merasa bersalah pada suaminya.
Kenapa aku harus merasa bersalah pada Mas Ferdi yang jelas-jelas bersama perempuan ini? Sepertinya aku harus mengenyahkan rasa bersalahku ini, Velicia berkata dalam hatinya.
Bu Anisa menggandeng tangan Velicia sambil tersenyum padanya. Dan Velicia pun membalas senyumannya.
Tapi, bagaimana dengan Ibu? Apa aku harus mengecewakan hatinya? Kasihan Ibu yang terlalu berharap pada pernikahan kami, Velicia kembali berkata dalam hatinya.
Bu Anisa duduk di kursi belakang bagian kanan dan Bu Anisa kaget ketika Velicia duduk di kursi belakang bagian kiri, tepat di sebelah Bu Anisa.
"Loh Ve, kenapa kamu duduk di sini?" tanya Bu Anisa pada Velicia yang sudah duduk manis tepat di sebelahnya.
Velicia tersenyum pada Bu Anisa tanpa menjawab pertanyaan ibu mertuanya itu.
Sedangkan Lani, dia masih berdiri tepat di luar pintu mobil bagian kursi yang ada di sebelah pengemudi. Dia tidak berani masuk karena takut dengan tatapan Bu Anisa padanya dari dalam mobil.
"Bunda, duduklah di depan bersama dengan Cinta. Dia membutuhkan Bundanya," ucap Ferdi dengan suara lembut mencoba membujuk istrinya.
"Bunda yang mana? Bukannya Bundanya Cinta sedang berdiri di luar mobil ya?" sahut Velicia sambil tersenyum sinis.
Glek!
__ADS_1
Ferdi menelan ludahnya sendiri. Dia lupa jika tadi istrinya itu mendengar Lani menyebut dirinya sendiri sebagai Bundanya Cinta.
Bu Anisa tidak bisa berkata-kata. Dia menatap tajam pada Ferdi yang sedang melihat Velicia dan ibunya yang berada di belakangnya dari kaca spion yang ada di tengah.
"Biarkan saja Cinta dipangku oleh Bundanya yang memberikan Cinta padamu Mas. Toh selama ini juga dia sering duduk di kursi itu. Bahkan di saat hari pertama mobil ini dibeli, dia sudah meninggalkan lipstik dan cermin riasnya," ucap Velicia dengan sinis mengeluarkan kekesalan hatinya.
"Betul itu Ferdi?!" seru Bu Anisa yang sudah tidak bisa menahan emosinya mendengar fakta yang sebenarnya.
Ferdi memejamkan matanya dan menghela nafasnya. Dia merasa terpojok saat ini.
"Kita bicarakan nanti di rumah. Sekarang kita pulang saja dulu," ucap Ferdi dengan gugup.
Velicia kembali tersenyum sinis mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Sepertinya harapannya untuk memperbaiki hubungan mereka kini hanya tinggal lima puluh persen saja. Karena lima puluh persennya lagi diisi oleh kekecewaan Velicia pada suaminya
"Apa Mas Ferdi akan membiarkan perempuan itu berdiri di luaran sendirian? Bukannya Mas Ferdi khawatir padanya?" Velicia menanggapi ucapan suaminya dengan sinis.
"Bunda duduk saja di depan sini dengan Cinta. Biar dia duduk di belakang dengan Ibu," ucap Ferdi sambil menoleh ke belakang, menatap secara langsung istrinya.
"Bukannya tadi kalian berangkat bersama ke klinik ini? Pasti dia duduk di kursi itu. Aku tidak mau duduk di kursi bekas wanita itu," ucap Velicia dengan ketus dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Apa benar itu Fer? Bagaimana bisa kamu bersama dengan perempuan itu? Kamu ingat Ferdi, Ibu tidak suka dengan perselingkuhan. Ibu akan sangat membencimu jika kamu memang berselingkuh dengan perempuan itu," tutur Bu Anisa dengan kilatan emosi yang terlihat pada matanya.
Deg!
Jantung Velicia berdetak dengan cepat. Perkataan ibu mertuanya itu seolah menusuk ke dalam jantungnya.
Apa Ibu akan membenciku jika dia mengetahui kedekatanku bersama dengan Ray? Apa kami tergolong berselingkuh? Velicia bertanya-tanya dalam hatinya.
"Maaf, saya duduk di mana?"
Tiba-tiba Lani membuka pintu mobil dekat pengemudi dan bertanya pada Ferdi.
Sontak saja semua mata mengarah padanya. Terutama Bu Anisa yang memandangnya dengan tatapan kesal dan tidak suka padanya.
__ADS_1
"Duduk saja di depan. Bukannya kamu selalu duduk di depan?" ucap Velicia sambil tersenyum sinis padanya.
Lani memandang ke arah Ferdi dan tidak ada jawaban dari Ferdi. Tanpa pikir panjang lagi, Lani masuk dan mengambil Cinta yang ada di kursi tersebut untuk dipangkunya.