Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 82 Menderita karena perpisahan


__ADS_3

Pagi itu suasana di dalam mobil menjadi hening. Velicia tidak berkata apapun pada suaminya. Sedangkan Bu Anisa masih saja menatap kesal pada Ferdi meskipun dia hanya bisa menatap punggung Ferdi dari belakang.


Bu Anisa turun di halte bus yang tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal mereka. Sedangkan Velicia turun tepat di depan sekolahnya. Dan tanpa kata-kata dari Velicia, Ferdi segera meninggalkan tempat tersebut untuk berangkat kerja.


Selama berada di sekolah, Velicia merasakan pusing dan kurang enak badan. Hingga siang harinya pada saat dia pulang dari bekerja, dia menyempatkan untuk memeriksakan dirinya ke klinik yang biasanya dia kunjungi.


Sayangnya klinik tersebut sedang dalam masa renovasi bangunan, sehingga klinik tersebut di tutup sementara.


Akhirnya Velicia menaiki ojek untuk bisa sampai ke rumah sakit kota. Sesuai dengan dugaannya, dirinya sedang flu karena sudah dua hari ini dia membiarkan dirinya bermandikan air hujan sangat lama.


Bahkan setelah itu dia tidak makan ataupun minum karena yang dirasakannya hanya kesedihannya hingga dia tidak merasa lapar.


“Ve, kamu di sini?”


Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang memanggil nama Velicia.


Menolehlah Velicia ke arah samping di mana suara tersebut berasal. Seketika wajah Velicia berubah menjadi tegang.


“Tania,” ucap Velicia sambil tersenyum kaku.


“Kamu sakit juga Ve?” tanya Tania sambil tersenyum mendekatinya.


Velicia tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berbalas tanya pada Tania,


“Kamu juga…,”


“Tidak Ve, bukan aku. Suamiku yang sedang menerima cairan infus di IGD sekarang,” jawab Tania sambil tersenyum.


“Oh…,” ucap Velicia dengan memperlihatkan wajah kaget dan bingung.


“Hanya kekurangan cairan karena flu. Kemarin tiba-tiba saja dia pulang dengan basah kuyup. Entah mengapa dia seperti anak kecil yang bermain hujan-hujanan dan setelah itu dia tidak mau makan. Bahkan dia hanya berdiam diri tidak mengatakan sesuatu. Mirip sekali dengan anak kecil kan?” ucap Tania sambil terkekeh.


Velicia merasa hatinya tidak tentu. Dia merasa khawatir pada Raymond yang sedang sakit. Tapi dalam hatinya dia juga tidak rela jika Raymond merasa bahagia karena Velicia merasa menderita setelah mengatakan perpisahan dengannya.


“Ve, aku tinggal ke apotek dulu ya. Aku ingin menebus obat untuk suamiku terlebih dahulu,” ucap Tania sambil menunjukkan kertas resep yang ada di tangannya.

__ADS_1


Velicia pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Tania. Setelah itu Tania melangkahkan kakinya untuk berjalan menuju apotek.


Tiba-tiba Tania teringat sesuatu. Dan dia menghentikan langkahnya, kemudian kembali menoleh ke belakang.


“Ve!” seru Tania memanggil Velicia yang baru saja berjalan selangkah.


Velicia pun menoleh kembali ke belakang di mana Tania berada dan memanggil namanya.


“Kamu belum menjelaskan tentang hari itu. Pada saat kamu meninggalkanku sendirian tanpa pamit di café,” ucap Tania dengan tatapan meminta penjelasan pada Velicia.


“Oh saat itu, maaf aku lupa jika suamiku sudah menungguku di rumah. Aku sudah berjanji akan ke rumah mertuaku,” jawab Velicia sambil tersenyum kaku pada Tania.


Tania menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan dari Velicia. Kemudian dia berkata,


“Baiklah, sebagai gantinya kita akan makan bersama di lain kesempatan.”


Velicia pun menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan dari Tania. Kemudian dia berjalan ke arah IGD setelah Tania berjalan menuju apotek.


Entah mengapa kaki Velicia mengantarkannya ke ruang IGD. Mungkin kakinya menuruti kata hatinya yang ingin melihat keadaan laki-laki yang dicintainya setelah dia mendengarnya sakit.


Hati Velicia bergemuruh melihat laki-laki yang dicintainya sedang tidur dengan tubuh lemahnya dan wajahnya terlihat sangat pucat.


Matanya berkaca-kaca dan tangannya menutupi mulutnya agar Raymond tidak mendengar suaranya apabila ada suara yang keluar dengan tidak sengaja dari mulutnya.


Jantung Velicia berdegup sangat kencang ketika Raymond sedikit membuka matanya. Dengan secepat kilat velicia bersembunyi di balik tirai. Kemudian dia berjalan cepat keluar dari ruang IGD tersebut.


Dalam perjalanan pulang, tak henti-hentinya air mata Velicia menetes. Hatinya merasa sangat sakit melihat laki-laki yang sangat dicintainya merasakan sakit karena dirinya. Dan kini dia merasa benar-benar menjadi wanita jahat yang melukai hati banyak orang.


Kenapa harus seperti ini Tuhan? Kenapa engkau memberiku ujian yang sangat berat buatku? Apa aku sanggup mengatasinya? Dan apa yang harus ku perbuat jika setiap hari jiwa dan hatiku ingin melompat untuk menemuinya? Tolong aku Tuhan…


Velicia berkata dalam hatinya disetiap langkahnya menuju rumahnya. Dia merutuki dirinya yang mendoakan Raymond agar tidak bahagia setelah perpisahan mereka karena dia juga merasa tidak bahagia dan menderita setelah mengatakan keputusannya.


Di rumah sakit tersebut Raymond menghabiskan satu bag cairan infus yang membantunya agar cepat pulih dan bisa kembali beraktifitas.


Meskipun begitu, Raymond masih merasa lemah dan tidak ingin melakukan apapun. Dia benar-benar terlihat sedih dan menderita.

__ADS_1


“Sayang, kamu kenapa sih? Kenapa kamu seperti orang yang tidak memiliki harapan untuk hidup?” tanya Tania sambil mengemudikan mobilnya tanpa menoleh ke arah suaminya.


Raymond enggan menjawab pertanyaan suaminya. Dia hanya diam seperti patung yang hanya bisa bernafas dan mengedipkan matanya.


Tania merasa heran pada suaminya yang akhir-akhir ini bersikap aneh menurutnya. Tadinya dia mencurigai suaminya berselingkuh dengan wanita lain, tapi setelah beberapa hari kebelakang ini dia tidak mencium tanda-tanda perselingkuhan suaminya. Oleh sebab itu dia merasa lega dan kembali mengurus pekerjaannya.


“Sayang, Papa sudah menyiapkan kursi untukmu di Yayasan. Kita nantinya akan bisa tetap bersama tanpa berjauhan lagi. Aku harap kali ini kamu tidak menolaknya,” tutur Tania pada Raymond.


Raymond menghela nafasnya setelah mendengar penuturan dari istrinya. Kemudian dengan suara lemahnya itu dia berkata,


“Aku menolaknya. Aku lebih suka dengan pekerjaanku saat ini. Jadi aku harap kamu tidak mencampuri pekerjaanku lagi.”


Tiba-tiba saja Tania mengerem mobilnya secara mendadak. Dia merasa kesal dan marah atas apa yang dikatakan oleh suaminya padanya.


Raymond yang dia kenal sebelumnya tidak pernah membantahnya. Bahkan suaminya itu tidak akan berani menaikkan nada suaranya didepannya.


Namun, Raymond yang sekarang berbeda dengan Raymond yang dulu sebelum tiga tahun mereka berada di negara yang berbeda.


“Sepertinya kamu sudah sehat. Kamu sudah bisa membantah istrimu ini,” ucap Tania dengan kesal.


Raymond kembali menghela nafasnya, badannya sungguh lemas dan dia tidak ingin meladeni kemarahan dari istrinya, karena sudah bisa dipastikan bahwa nantinya mereka akan berakhir dengan perdebatan.


“Sepertinya aku lupa jika sekarang ada janji dengan orang Yayasan cabang di kota ini. Kamu tidak keberatan bukan jika harus turun di sini?” ucap Tania dengan kesal.


Raymond kembali menghela nafasnya melihat sikap istrinya yang tidak pernah berubah sama sekali meskipun mereka sudah tidak bersama selama beberapa tahun.


Tanpa mengatakan apapun, Raymond turun dari mobil istrinya dan berjalan lirih menyusuri jalan tersebut.


Mobil Tania masih tetap berada di sana. Dia ingin melihat sejauh mana suaminya bisa berjalan. Tadinya dia hanya ingin suaminya memohon dan merayunya agar tidak diturunkan di tempat itu.


Sayangnya suaminya itu sepertinya sakit hati akan ucapannya sehingga merasa harga dirinya diinjak-injak olehnya, sehingga suaminya itu dengan lapang hati turun dari mobilnya.


Memang benar jika Tania sangat kesal saat ini dengan suaminya, tapi dia tidak tega melihat suaminya berjalan dengan badan lemah dan terlihat jelas dari cara berjalannya. Segera dilajukannya mobilnya itu dan berhenti di depan suaminya.


“Naiklah! Aku berubah pikiran,” seru Tania dari dalam mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2