Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 23 Perubahan Ferdi


__ADS_3

"Siapa Ve? Apa dia temanmu?" 


Suara itu mengagetkan Velicia yang sedang menatap kepergian Raymond.


Velicia menoleh ke samping dan ternyata Tania sudah duduk di kursi sebelahnya.


"Iya Tan, dia temanku. Apa kamu melihatnya?" Velicia bergantian bertanya pada Tania.


"Tidak, aku datang ke sini tadi sepertinya dia sudah berbelok, jadi aku tidak bisa melihatnya," jawab Tania sambil memainkan ponselnya.


"Ve, apa aku boleh meminta nomor ponselmu?" tanya Tania pada Velicia.


"Boleh saja Tan, kita kan sudah berteman," jawab Velicia sambil tersenyum.


"Berikan nomor HP mu," ucap Velicia sambil mengulurkan ponselnya di hadapan Tania.


Tania pun menerima ponsel Velicia dan memasukkan nomor ponselnya pada ponsel Velicia.


"Ini Ve Hp kamu. Itu nomorku, simpanlah," ucap Tania sambil memberikan kembali ponsel Velicia.


Velicia segera memberikan nama pada nomor yang telah dituliskan oleh Tania pada ponselnya.


"Permisi Kak, ini makanannya," ucap waiter yang mengantar makanan sambil meletakkan makanan yang dia bawa di atas meja.


Setelah meletakkan makanan tersebut, waiter itu pun berpamitan untuk pergi.


"Silahkan di nikmati."


"Terima kasih," ucap Velicia dan Tania secara bersamaan.


Kemudian mereka makan sambil bertanya jawab mengenai pekerjaan mereka hingga tak terasa makanan mereka pun sudah habis.


"Tania, aku pulangnya ke arah sana," ucap Velicia sambil menunjuk ke arah jalan rumahnya.


"Kalau rumahmu ke arah mana?" tanya Velicia kemudian sambil memandang Tania.


"Wah kebetulan sekali Ve. Rumahku juga ke arah sana. Kalau gitu kita jalan bareng aja ya," jawab Tania dengan senyuman bahagianya.


Mereka berdua berjalan bersama hingga perbatasan jalan yang membedakan arah rumah mereka.


Entah mengapa Tania tidak merasa kelelahan jika berjalan bersama Velicia. Berbeda dengan tadi pagi yang dengan cepatnya dia merasa lelah berjalan bersama Raymond, suaminya.

__ADS_1


"Sampai jumpa Tania. Hati-hati di jalan," ucap Velicia dengan melambaikan tangannya seolah berpisah dengan teman bermainnya.


"Sampai jumpa Ve. Kamu juga hati-hati ya," sahut Tania dengan melambaikan tangannya pada Velicia yang masih menghadap padanya.


Velicia menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berjalan santai menuju arah rumahnya.


"Ve!" teriak Tania untuk menghentikan langkah Velicia.


Velicia pun menghentikan langkahnya dan dia menoleh ke belakang menghadap Tania yang sedang berdiri di tempatnya tadi sebelum Velicia berjalan ke arah rumahnya.


"Ada apa Tania?" tanya Velicia dengan mengernyitkan dahinya.


"Apa besok aku boleh berkunjung ke sekolahan lagi?" tanya Tania sambil tersenyum lebar.


"Boleh saja Tania. Kamu bisa berkunjung ke sana kapanpun kamu mau," jawab Velicia sambil tersenyum manis pada Tania.


"Ok. Terima kasih Ve. Besok kita akan berjumpa lagi," ucap Tania sambil tersenyum lebar.


Velicia pun tersenyum menanggapinya. Kemudian mereka berjalan ke arah rumah mereka masing-masing.


"Huufffttt… akhirnya kita masuk ke dalam rumah ini lagi," ucap Velicia lirih setelah menghela nafasnya yang terasa berat ketika melihat bangunan yang menjadi tempat tinggalnya saat ini.


Velicia berdiri di depan rumahnya seolah enggan untuk masuk ke dalam rumah tersebut.


Tring!


Notifikasi ponsel Velicia terdengar nyaring karena suasana sedang sangat sepi di daerah tersebut.


Velicia mengambil ponselnya dari tas yang ada di tangannya. Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat pesan yang tertera pada layar ponselnya.


"Kenapa kamu sangat perhatian sekali Ray?" ucap Velicia sambil tersenyum setelah membaca pesan yang ternyata dikirimkan oleh Raymond.


Raymond mengirimkan pesan pada Velicia untuk menanyakan keadaannya saat ini. Dan anehnya itu membuat Velicia menjadi senang. 


Wanita mana yang tidak senang jika diperhatikan dan diperlakukan dengan manis oleh laki-laki. Begitupula dengan Velicia.


Sebenarnya dia tidak mengharapkan perhatian itu dari Raymond, hanya saja suaminya tidak pernah memperhatikan dan memperlakukannya seperti Raymond padanya.


"Bahkan suamiku saja tidak pernah ingat untuk menanyakan keadaanku baik melalui pesan ataupun telepon," ucap Velicia sambil tersenyum getir ketika melihat Ferdi berjalan mendekatinya.


Dengan percaya dirinya Ferdi berjalan menuju rumahnya dan tersenyum ketika melihat Velicia melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Baru pulang?" tanya Ferdi pada Velicia ketika sudah berdiri di dekatnya.


"Iya Mas. Tumben Mas Ferdi pulang jam segini?" ucap Velicia setelah mencium punggung tangan suaminya.


Ferdi memandang istrinya yang masih sedikit pucat meskipun sudah dipoles dengan makeup yang natural.


"Aku mengkhawatirkanmu. Aku ingin makan denganmu," jawab Ferdi sambil tersenyum manis pada Velicia.


Velicia tersenyum tipis karena dia bisa membuat Ferdi pulang lebih cepat hanya dengan merasakan sakit. Jika dia dalam keadaan sehat, dia tidak yakin jika suaminya itu mau pulang lebih cepat seperti saat ini.


"Ayo kita masuk ke dalam. Aku membawa makanan untuk kita makan bersama," ucap Ferdi sambil merangkul pundak Velicia untuk berjalan masuk ke dalam rumah bersamanya.


"Mas Ferdi mandi aja dulu, biar Ve siapkan makanannya," ucap Velicia ketika sudah berada di dalam rumah.


"Baiklah. Ini makanannya. Hangatkan saja jika menurutmu itu sudah dingin," tutur Ferdi sambil memberikan bungkusan yang dibawanya.


Velicia pun menerima bungkusan tersebut. Kemudian dia membawanya menuju dapur.


Dia tersenyum getir ketika melihat makanan yang dibeli oleh Ferdi adalah masakan dari tempat makanan yang sering mereka kunjungi.


Dan tempat itu kini menjadi kenangan buruk bagi Velicia. Bayangan Lani yang sedang menyuapi Ferdi terus terlihat di matanya.


"Apa kamu tadi makan siang di sana Mas?" ucap Velicia lirih sambil tersenyum getir menuang sayur dan beberapa lauk ke dalam wadah.


"Sudah dihangatkan sayurnya?" tanya Ferdi yang sedang berjalan menuju dapur.


"Belum Mas. Ini mau aku hangatkan. Memangnya Mas Ferdi kapan membelinya? Apa pada saat makan siang tadi?" tanya Velicia yang berniat untuk menyelidikinya.


"Aku tidak makan siang tadi, hanya menitip sandwich saja pada yang lainnya. Aku ingin segera menyelesaikan pekerjaanku agar aku bisa pulang tepat waktu. Dan makanan ini aku beli ketika perjalanan pulang," jawab Ferdi sambil memindahkan sayuran yang diletakkan oleh Velicia dalam wadah ke dalam panci kecil untuk menghangatkannya.


"Mandi lah dulu, aku akan mengurus ini," ucap Ferdi sambil menyalakan kompor.


Velicia memandang sejenak Ferdi sebelum dia berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Apa yang membuatmu sekarang berubah seperti pertama kali kita menikah Mas? Apa kamu sudah memutuskan hubunganmu bersama wanita itu? Atau mungkin kalian hanya bertengkar saja sehingga kamu kembali padaku? Ah… berpikir apa aku ini? Mungkin saja seperti apa yang dikatakan oleh Mas Ferdi, dia mengkhawatirkan ku. Semoga saja memang seperti itu yang terjadi.


Velicia berkata dalam hatinya sambil berjalan menuju kamarnya.


Setelah Velicia selesai mandi, mereka makan bersama di meja makan yang sudah ditata oleh Ferdi.


Tok… tok… tok…

__ADS_1


Velicia dan Ferdi saling melihat ketika mendengar pintu rumah mereka diketuk dari luar.


"Siapa Mas?" 


__ADS_2