
Velicia menatap nyalang Ferdi yang seolah keberatan akan pemeriksaan dengan dokter spesialis kandungan yang disarankan oleh dokter tersebut.
"Kenapa Mas? Mas Ferdi gak suka kita punya anak? Apa Mas Ferdi ingin punya anak dari perempuan gatel tadi?" ucap Velicia dengan sinisnya.
"Ve! Jaga ucapanmu! Aku gak serendah itu," seru Ferdi menyangkal apa yang dituduhkan oleh Velicia padanya.
Velicia tersenyum sinis mendengar pembelaan diri dari Ferdi. Dia merasa geli dengan sikap Ferdi yang seolah benar-benar tidak berselingkuh.
Nyata-nyata aku melihatmu suap-suapan pada saat makan siang Mas, masih saja kamu bisa mengelak. Kamu pikir aku bodoh? Velicia berkata dalam hatinya sambil tersenyum sinis melihat Ferdi yang masih saja tidak terima dengan tuduhan perselingkuhannya.
"Kalau memang benar Mas gak selingkuh, mari kita temui dokter itu dan konsultasi padanya. Kecuali… jika memang Mas Ferdi gak mau mempunyai anak bersamaku," tutur Velicia sambil tersenyum getir.
Terlihat wajah Ferdi kebingungan, dia gugup seolah tidak menyukai pemeriksaan dan konsultasi untuk bisa mempunyai keturunan.
Namun, dia tidak ada pilihan lain selain menyetujui permintaan istrinya. Dengan berat hati dia menerimanya.
"Baiklah, kita akan melakukannya," ucap Ferdi dengan berat hati.
Sepulang dari klinik tersebut, Raymond menyempatkan dirinya untuk berhenti sejenak di taman bermain.
Di tempat itu dia benar-benar senang melihat anak-anak bermain dan berlarian ke sana kemari serta berkejar-kejaran dengan teman-temannya.
Seperti biasanya, dia mengambil beberapa foto anak-anak yang sedang bermain menggunakan kamera digitalnya yang selalu dia bawa ke mana pun.
Sekelebat bayangan Velicia terlihat dengan jelas di matanya. Segera dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan padanya.
Sengaja dia tidak menghubunginya karena takut mengganggunya. Dia hanya mengirimkan pesan untuk menanyakan keadaannya dan menanyakan apakah dia sudah makan saat ini.
Memang tidak dipungkirinya, Raymond khawatir pada Velicia. Entah kenapa dia seperti merasa prihatin padanya.
Yang dia tahu hanyalah dirinya merasa harus membantu Velicia karena mereka berteman sejak Raymond datang ke kota itu, di mana dia tidak memiliki siapa-siapa untuk bertanya ataupun hanya sekedar mengobrol.
Hari sudah mulai gelap, Raymond pun pulang ke rumahnya. Raymond mengernyitkan dahinya ketika melihat lampu rumahnya sudah menyala semua.
Ceklek!
Setelah membuka pintu rumahnya, Raymond kaget melihat istrinya sudah berdiri di hadapannya dengan wajah kesalnya.
"Loh kok sudah ada di rumah? Bukannya kamu pergi dengan temanmu?" tanya Raymond pada Tania sambil melepas sepatunya.
__ADS_1
"Bete, kesel deh. Masa' dia gak datang. Aku kan datang ke tempat kerjanya dan ternyata dia tidak masuk hari ini. Aku hubungi dia pagi tadi, tapi dia tidak mengangkat teleponnya sama sekali. Nyebelin kan. Apa dia sengaja menghindari aku? Apa dia tidak suka berteman denganku?"
Tania merajuk pada Raymond mengadukan tentang temannya yang tidak bisa ditemuinya pagi tadi.
Raymond ingat akan dirinya. Dia tidak bisa masuk kerja karena benar-benar ada kejadian yang tidak disengaja.
"Jangan begitu. Mungkin saja teman kamu itu benar-benar ada perlu yang sangat mendesak sehingga tidak bisa menghubungimu ataupun tidak bisa dihubungi. Atau mungkin bisa saja dia sedang dalam kesusahan. Jadi jangan kamu berpikiran buruk terlebih dahulu pada siapapun sebelum kamu tahu penyebabnya," tutur Raymond sambil melepas dasinya.
Tania yang sedari tadi mendengarkan penuturan dari suaminya merasa bangga padanya. Dia hanya diam dan memandang suaminya dengan penuh kekaguman.
"Baik banget sih suamiku," ucap Tania sambil meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi Raymond.
Raymond tersenyum dan melepaskan kedua tangan istrinya itu dari pipinya. Kemudian dia beranjak sambil berkata,
"Aku mau mandi dulu, gerah banget rasanya, lengket semua."
"Ya sudah, aku mau menghubungi temanku dahulu. Kali aja sekarang dia sudah bisa menerima teleponku," ucap Tania sambil mencari nama kontak telepon Velicia.
Selang beberapa detik setelah tombol telepon ditekan, sambungan telepon itu pun berhasil. Telepon Tania diangkat oleh Velicia.
"Halo, Ve kamu dari mana saja? Bukannya hari ini kita berjanji untuk bertemu dan makan siang bersama lagi?" tanya Tania pada Velicia di seberang sana yang belum sempat menyapanya, bahkan belum sempat mengatakan halo padanya.
"Ve, kamu benar-benar sakit? Suaramu lemah sekali. Kamu sakit apa Ve? Kamu di mana? Aku akan menjengukmu," Tania memberondong Velicia dengan banyak pertanyaan.
Velicia tersenyum lemah mendengar beberapa pertanyaan dari Tania. Kemudian dia berkata,
Aku baik-baik saja Tan. Kamu doakan saja agar aku cepat sembuh dan agar kita bisa segera bertemu lagi. Maafkan aku tidak bisa mengabarimu sedari tadi.
"It's ok Ve, aku mengerti. Tentu aku akan mendoakanmu agar cepat sembuh dan agar kita bisa bertemu lagi. Jangan lupa kabari aku jika kamu butuh teman untuk menjagamu atau jika kamu membutuhkan bantuanku," ucap Tania bersungguh-sungguh.
Velicia kembali tersenyum lemah, dia teringat akan sosok Raymond ketika mendengar ucapan Tania barusan.
Dia bersyukur telah dikelilingi oleh orang-orang baik meskipun baru saling mengenal.
Kamu baik sekali Tan. Kamu seperti temanku yang selalu saja mengatakan hal seperti itu padaku, ucap Velicia dengan suaranya yang lemah.
"Aku memang temanmu Ve. Jangan lupa itu," ucap Tania dengan nada sedikit kesal.
Iya Tan, aku tau. Hanya saja ucapanmu tadi mengingatkanku pada temanku yang lainnya. Dia juga selalu berkata seperti itu padaku. Dan aku bersyukur memiliki teman-teman yang baik seperti kalian, tutur Velicia dengan nada bijaknya.
__ADS_1
"Ya sudah Ve, aku tutup ya teleponnya. Suamiku sepertinya sudah selesai mandi," ucap Tania sambil menoleh ke arah kamarnya.
Iya Tan. Terima kasih ya, sahut Velicia dengan lemah dari tempatnya berada.
Setelah berhasil menghubungi Velicia, Tania merasa jika dia memang suaminya sangatlah benar.
Segera dia berjalan menuju kamarnya untuk menemui suaminya.
"Sayang… ternyata kamu benar. Temanku sedang sakit dan dia tidak bisa menghubungiku tadi," ucap Tania sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Raymond yang sedang memakai kaosnya menoleh pada Tania dan tersenyum padanya.
"Jadi kamu harus ingat, segala sesuatu jangan langsung mengambil kesimpulan tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi," tutur Raymond sambil menata rambutnya di depan cermin.
Tania berjalan mendekati Raymond dan memeluknya dari belakang sambil berkata,
"Iya… iya… akan aku ingat selalu. Sekarang kita akan makan di mana Sayang?"
Raymond melihat istrinya dari cermin dan berkata,
"Kamu tidak masak? Bukannya kamu di rumah seharian?"
Tania segera melepaskan pelukannya dan berkata,
"Kamu lupa jika aku tidak bisa masak?"
Raymond menghela nafasnya mendengar perkataan istrinya. Dia benar-benar lupa jika istrinya itu anak manja dari keluarga kaya raya, sehingga tidak diperkenankan untuk berada di dapur.
"Ya sudah, biar aku aja yang masak," ucap Raymond sebelum dia berjalan menuju dapur.
"Eh jangan. Lebih baik kita makan di luar saja ya Sayang. Ayolah…," rengek Tania sambil menarik-narik tangan Raymond.
"Tapi kita setiap hari sudah membeli makan di luar. Apa kamu tidak ingin kita makan di rumah saja?" ucap Raymond yang sebenarnya sedang malas untuk pergi keluar.
"Aku sedang ingin makan di suatu tempat. Ada cafe bagus di sana. Kemarin saja aku makan di situ bersama temanku. Ayolah Sayang… ya… ya… mau ya…," Tania kembali merengek pada suaminya.
Raymond kembali menghela nafasnya. Dan akhirnya dia harus kembali mengalah pada keinginan Tania.
"Ya sudah, kita makan di luar saja," ucap Raymond pasrah.
__ADS_1