Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 108 Tempat pelarian untuk beristirahat


__ADS_3

Raymond berniat akan pulang ke rumahnya untuk mengambil barang-barangnya. Semuanya sudah dikemasnya dan dia hanya perlu untuk mengangkutnya saja. Tidak banyak yang akan dibawanya. Yang akan dia bawa hanya barang pribadi miliknya seperti pada awal dia datang ke kota ini.


Tiba-tiba Raymond mengerem mobilnya secara mendadak. Dia melihat wanita yang dicintainya sedang tidak berdaya di tengah orang-orang yang memandangnya dengan sinis.


Diparkirnya mobil tersebut di tepi jalan. Dengan segera dia turun dari mobilnya dan dia berjalan cepat ke arah Velicia. Hatinya sangat sakit ketika mendengar semua hujatan yang mereka berikan pada Velicia.


Tangan kanan Raymond memegang tangan Velicia yang sedang menutupi telinganya. Raymond tidak bisa membiarkan wanita yang dicintainya menderita seorang diri. Dia ingin berbagi penderitaan itu bersamanya.


“Ayo kita pergi,” ucap Raymond sambil menggandeng tangan Velicia dan tersenyum padanya.


Dengan mata yang berkaca-kaca dan bibirnya yang bergetar menahan tangisnya, Velicia bangun dan berjalan mengikuti Raymond.


Tangan Raymond yang menggandengnya dengan erat itu membuat Velicia semakin yakin jika pria yang sedang menggenggam tangannya saat ini adalah pria yang tepat untuk pilihan hatinya. Cintanya memilih Raymond dan dia akan berusaha untuk menjaganya.


Keluarga, teman dan orang-orang yang berharga telah aku korbankan demi mencintai satu orang. Tapi kenapa aku tidak bisa melepaskan tangan orang ini? Velicia berkata dalam hatinya sambil berjalan dan melihat tangan Raymond yang menggandengnya.


Kemudian dia melihat ke arah belakang, di mana semua orang masih melihat ke arahnya dan menggunjingnya. Dalam hati dia berkata,


Tempat ini menjadi saksi di mana aku dihakimi oleh istri pria yang aku cintai. Dan sekarang tempat ini pula yang menjadi saksi di mana aku dihakimi oleh banyak orang dan diselamatkan oleh pria yang aku cintai.


Setelah itu dia beralih melihat ke arah Raymond yang berjalan dengan menggandeng tangannya. dalam hatinya dia kembali berkata,


Pria ini pilihanku. Dan dia benar-benar menjagaku, mengasihiku dan aku bisa merasakan cinta yang begitu besar untukku.


Di dalam mobilnya, satu tangan Raymond masih menggenggam erat tangan Velicia dan satu tangan yang lainnya memegang kemudi. Velicia menatap wajah pria yang sangat dicintainya sambil berkata dalam hati,


Aku tau cinta kita tidak abadi. Karena itulah momen ini sangat berarti bagiku. Jika cinta kita bukanlah cinta yang sebenarnya, maka cinta kita juga akan berakhir di suatu tempat, mungkin saja di ujung jalan ini. Maka, marilah kita tetap seperti ini sebentar saja. Saling menggenggam erat tangan dan saling mencintai, hingga takdir yang memisahkan kita.


...----------------...


Ferdi mencari di rumahnya saat itu juga dan dia tidak menemukan istrinya di mana pun. Semua ruangan yang berada di rumah itu terasa sunyi dan dingin. Tidak ada kehangatan yang terpancar di dalam rumah tersebut.

__ADS_1


Ferdi menghela nafasnya berat. Dia duduk di kursi tamu sambil menjambak rambutnya dengan frustasi dan berkata,


“Bunda… di mana kamu?!”


...----------------...


Di lain tempat, Tania sedang mengobrak-abrik rumah yang ditinggali oleh Raymond. Dia tidak menemukan apa pun di dalam rumah itu. Raymond tidak ada di dalam rumah itu. Bahkan barang-barang pribadi yang dimiliki oleh Raymond di ruang kerjanya sudah tidak ditemukannya. Semuanya tidak ada di tempatnya. Semua buku Raymond dan yang lainnya sudah dibawa oleh Raymond.


Tania kembali menghubungi Ferdi dan dia memberitahukan apa yang terjadi di rumah Raymond. Dia kini membutuhkan Ferdi untuk membantunya memisahkan Raymond dengan Velicia.


“Sepertinya mereka berdua pergi bersama. Raymond membawa semua barang-barangnya. Bagaimana dengan Velicia?” tanya Tania pada Ferdi melalui telepon.


Velicia tidak ada di rumah. Tapi barang-barangnya masih ada di rumah. Apa mungkin mereka kabur bersama? Aku harap mereka akan pulang nanti malam, seperti biasanya, jawab Ferdi dari seberang sana.


“Kabari aku jika istrimu sudah kembali,” ucap Tania sebelum dia mengakhiri teleponnya.


...----------------...


“Masuklah,” ucap Raymond sambil menyalakan lampu ruangan rumah tersebut.


Velicia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut. Dia sangat kagum pada setiap dekorasi rumah itu.


“Kamu tau Ve, ini adalah rumah persembunyianku,” ucap Raymond sambil tersenyum pada Velicia.


“Persembunyian?” tanya Velicia dengan memperlihatkan wajah bingungnya.


Raymond mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Velicia dan tersenyum padanya. Kemudian dia berkata,


“Rumah ini peninggalan dari orang tuaku. Mereka sangat menyukai rumah ini. Ibuku yang mendesain setiap ruangan rumah ini. Dan Ayahku yang mendesain dekorasinya. Sebab itulah aku tidak akan menjualnya sampai kapan pun. Aku ingin tinggal di sini dengan orang yang aku cintai. Dan aku ingin orang itu adalah kamu.”


Mata Velicia berkaca-kaca mendengar apa yang dikatakan oleh Raymond padanya. Perkataan Raymond itu membuat Velicia teringat akan keinginannya yang ingin mendengar hal seperti dari pria yang dicintainya.

__ADS_1


Raymond segera mengusap lembut air mata wanita yang sedang menangis bahagia di hadapannya. Entah mengapa dia merasa sangat mencintai wanita itu meskipun status mereka sudah tidak sendiri. Kini semua sudah menjadi bubur. Dia memutuskan untuk memperjuangkan cintanya dan kebahagiaannya.


“Apa kamu ingin melihat bagian yang terindah dari rumah ini?” tanya Raymond yang berusaha menghibur wanitanya itu.


Velicia menganggukkan kepalanya dan menerima uluran tangan Raymond. Kemudian Raymond mengajak Velicia menaiki tangga untuk menuju ke lantai dua.


Raymond mengajak Velicia masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar itu bisa memperlihatkan bagaimana seorang Raymond kecil yang belum pindah dari rumah tersebut. Barang-barang milik Raymond masih tertata rapi dan bersih seperti kebiasaannya selama ini.


Setelah itu Raymond membuka pintu yang menghubungkan antara kamarnya dengan balkon kamarnya.


“Kesinilah,” ucap Raymond sambil menarik lembut tangan Velicia.


“Wah… indahnya…,” ucap Velicia dengan mata yang berbinar melihat hamparan langit luas yang dihiasi gemerlap cahaya bintang.


Raymond menatap wajah Velicia yang tidak pernah bosan dipandanginya. Kemudian dia tersenyum melihat wanita yang dicintainya itu sedang memejamkan mata dan menghirup udara malam setelah terpesona oleh keindahan bintang di langit malam itu.


“Wah… ada bintang jatuh,” ucap Velicia setelah membuka matanya.


Sontak saja Raymond yang tadinya masih betah melihat wajah kekasih hatinya itu, beralih melihat ke arah langit yang sedang ada bintang jatuh saat itu.


“Aku akan membuat permohonan,” ucap Velicia sambil tersenyum manis pada Raymond.


Raymond menganggukkan kepalanya dan dia kembali menatap wajah cantik Velicia yang sedang memejamkan matanya dan berdoa dengan sangat khusyuk.


Mungkin bintang-bintang itu pelarian seperti kita. Mereka butuh tempat ini untuk beristirahat, sama seperti kita, Velicia berkata dalam hatinya.


Drrrttt… drrrtttt… drrrttt…


Drrrttt… drrrtttt… drrrttt…


Tiba-tiba ponsel Velicia dan Raymond bergetar. Mereka mengambil ponselnya masing-masing, kemudian mereka saling menatap.

__ADS_1


__ADS_2