Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 35 Kemarahan Velicia


__ADS_3

Ferdi merasa jika Velicia sangat marah padanya. Tapi dia juga tidak membenarkan sikap Velicia yang membentaknya di hadapan Lani dan menuduhnya selingkuh dengan Lani.


"Kamu cepatlah keluar dari sini. Ini ruangan saya dan saya berhak menerima siapa saja serta mengusir siapa saja dari ruangan ini," ucap Velicia sambil menatap tajam pada Lani.


"Sa-saya?" tanya Lani sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, siapa lagi yang tidak berhak ada di ruangan ini kecuali kamu," jawab Velicia dengan nafas yang terengah-engah menahan sekuat tenaga amarahnya.


"Tapi saya-"


"Kenapa kamu tidak peka sama sekali sih? Perempuan macam apa yang selalu berada di dekat suami orang?" 


Keluarlah sudah amarah Velicia yang sedari tadi ditahannya. Dia sama sekali tidak pernah berniat untuk merendahkan orang lain. Apalagi itu seorang perempuan. Karena menurutnya mereka sama-sama perempuan dan harus saling menghormati.


Namun, kini semua terasa sulit. Amarahnya sudah tidak bisa dikendalikannya lagi.


"Ve, jaga ucapan kamu!" seru Ferdi pada Velicia.


Velicia tersenyum sinis pada Ferdi. Kemudian dia berkata,


"Kenapa Mas? Mas Ferdi keberatan dengan apa yang aku katakan barusan? Jika memang Mas Ferdi keberatan, silahkan bawa perempuan itu keluar dari ruangan ini dan jangan sampai Mas Ferdi masuk lagi ke dalam ruangan ini. Karena aku tidak akan sudi mengakuimu sebagai suamiku lagi," ucap Velicia dengan berapi-api dan suaranya bergetar karena air matanya kembali menetes di pipinya.


Velicia mengusap kasar air matanya. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Lani dan Ferdi.


"Bukan begitu Ve. Aku hanya tidak suka jika kamu berkata kasar pada orang lain. Karena Velicia istriku tidak seperti itu," ucap Ferdi dengan suara lembut sambil menatap Velicia.


 Velicia mengeluarkan smirk nya. Dia tersenyum seolah mengejek Ferdi. Kemudian dia berkata,


"Velicia istrimu yang penurut itu sudah hilang sejak mengetahui perselingkuhanmu dengan perempuan tidak tau diri ini. Sekarang, aku minta keluarkan dia dari ruangan ini!"


Ferdi terbelalak kaget mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Dia sungguh tidak mengira jika istrinya benar-benar telah berubah.


Dan yang terpenting Velicia tidak mempercayai perkataannya tentang hubungannya dengan Lani. Padahal selama ini istrinya itu selalu percaya dengan apa yang dia ucapkan.


Tok… tok… tok…


"Permisi, kami akan melakukan pemeriksaan terakhir untuk hari ini," ucap seseorang yang mengetuk pintu ruangan tersebut.


Ceklek!

__ADS_1


Pintu kamar inap Velicia pun terbuka. Tampak seorang dokter yang tadi menanganinya dan seorang perawat yang mengikutinya.


Velicia, Ferdi dan Lani terdiam. Mereka saling diam dan menundukkan kepalanya.


"Bagaimana keadaan anda Bu?" tanya dokter tersebut sambil berjalan menuju bed Velicia.


"Maaf dok, apa dokter bisa menyuruh perempuan itu agar keluar dari ruangan ini? Dan saya harap perempuan ini tidak diperbolehkan masuk kapanpun itu, meskipun saya sedang tidur," ucap Velicia sambil menunjuk Lani menggunakan jari telunjuknya.


Dokter tersebut melihat ke arah Lani. Dia mencium ada yang tidak beres karena jawaban dari Velicia bukanlah jawaban dari pertanyaan yang diajukannya.


"Maaf, anda harus keluar dari ruangan ini karena pasien merasa terganggu dengan kehadiran anda," ucap dokter tersebut pada Lani.


Lani membelalakkan matanya mendengar ucapan dokter tersebut yang dengan terang-terangan mengusirnya. Dia sungguh tidak mengira jika dokter tersebut mengikuti kemauan Velicia.


Malu, Lani benar-benar malu diusir terang-terangan oleh dokter tersebut. Dia memandang ke arah Ferdi seolah meminta pertolongan padanya. Entah dengan cara membelanya ataupun mengantarkannya pulang.


Namun, keinginan Lani hanyalah keinginannya semata. Karena Ferdi tidak melakukan apapun untuknya. Bahkan kini Ferdi tidak melihat ke arahnya sama sekali.


Dengan langkah beratnya, Lani keluar dari ruangan tersebut dengan pandangannya masih tertuju pada Ferdi. Selangkah demi selangkah itu diperlambat sambil memandang Ferdi berharap dia menghentikannya.


Lagi-lagi Lani kecewa. Kini dia sudah berada di luar kamar inap Velicia tanpa ada suara atau tindakan dari Ferdi untuk menghentikannya.


"Huffftt… apa aku harus pulang? Sendirian? Ah… aku kesepian di rumah. Apa aku rawat inap saja ya di sini? Tapi, apa boleh hanya sakit flu saja bisa rawat inap?" Lani bermonolog sambil menatap pintu kamar inap Velicia yang sudah tertutup rapat untuknya.


"Naik apa nih malam-malam begini? Biasanya taksi sudah jarang jam segini," ucap Lani sambil berjalan keluar klinik tersebut.


Lani berdiri di depan klinik tersebut dan menatap bangunan yang bertuliskan KLINIK HEALTH di atas bangunan tersebut.


Dia menghembuskan nafasnya melihat bangunan klinik yang berdiri megah di hadapannya itu. Kemudian dia melihat kantong plastik yang ada di tangannya.


Lagi-lagi dia menghembuskan nafasnya melihat kantong plastik yang berisi obat-obatan untuk dirinya. Kemudian dia berkata,


"Aku kan gak suka minum obat. Kenapa aku harus mengambilnya tadi? Apa aku buang saja ya?" 


Tin… tin… tin…


Suara klakson mobil mengagetkan Lani. Seketika Lani menoleh ke arah mobil yang berada di belakangnya.


"Taksi Mbak?" ucap sopir taksi dari dalam taksi tersebut.

__ADS_1


Lani menghela nafasnya mendengar pertanyaan sopir taksi tersebut. Lalu dia kembali menoleh untuk melihat ke arah bangunan klinik tersebut. Kemudian dia berkata dalam hati,


Apa ini benar-benar takdir? Kenapa ketika aku tidak mau pulang, malah ada taksi menghampiriku? Seharusnya tidak ada taksi sama sekali agar aku bisa kembali masuk ke dalam untuk beralasan minta diantar oleh pak Ferdi.


"Cepat Mbak masuk. Argo nya terus jalan loh ini," ucap sopir taksi tersebut mencari cara agar penumpangnya mau masuk ke dalam taksinya.


"Eh… loh… tapi Pak, saya kan belum naik. Saya juga belum setuju akan-"


"Semakin lama kita gak berangkat-berangkat, semakin bertambah argo nya Mbak," sahut sopir tersebut menyela ucapan Lani.


Dengan segera Lani masuk ke dalam taksi tersebut untuk menghindari argo yang semakin bertambah.


Entah apa yang ada dalam pikiran Lani sehingga dia bisa dengan mudahnya dikelabui oleh sopir taksi tersebut.


Di dalam kamar inap Velicia, dokter memeriksanya dan memberitahukan hasilnya pada Velicia dan suaminya.


"Maaf Pak, apakah benar Bapak suami dari Ibu Velicia?" tanya dokter tersebut pada Ferdi.


"Iya dok, saya suaminya," jawab Ferdi dengan tegas.


"Maaf Pak, seharusnya Bapak tidak membiarkan Ibu Velicia meminum obat herbal yang berakibat buruk pada penyakitnya. Dan untuk makanannya seharusnya Bapak memberikan makanan yang mudah dicerna karena untuk sekarang ini tidak disarankan Ibu Velicia memakan makanan yang seperti biasanya. Mohon kerjasamanya Pak agar istri Bapak bisa cepat sembuh," tutur dokter tersebut pada Ferdi.


Ferdi melihat ke arah Velicia yang hanya diam dengan wajah dinginnya, tanpa senyuman manis yang selalu menghiasi wajahnya selama ini.


"Baik dok, saya akan menuruti perintah dokter. Maaf dok, untuk penyakit istri saya bagaimana?" ucap Ferdi dengan serius pada dokter tersebut.


"Untuk membicarakan itu saya harap Bapak bisa ke ruangan saya besok. Saya akan menjelaskan semuanya pada Bapak. Sekarang saya pamit untuk melakukan tugas saya dulu Pak. Permisi," tutur dokter tersebut sambil menganggukkan kepalanya untuk berpamitan pada Ferdi.


"Baik dok, terima kasih," ucap Ferdi sambil menganggukkan kepalanya menanggapi anggukan kepala dokter tersebut.


Baru selangkah dokter tersebut melangkah, dia kembali menoleh ke arah Ferdi sambil berkata,


"Oh iya Pak. Daripada meminum obat herbal, saya sarankan Bapak untuk menemui spesialis kandungan agar bisa berkonsultasi padanya. Kebetulan istri saya dokter spesialis kandungan dan banyak pasangan yang berhasil mempunyai keturunan setelah berkonsultasi padanya. Saya hanya memberi saran saja. Semoga Bapak dan Ibu bisa mendapatkan keturunan setelah berkonsultasi dengannya. Bagaimana Pak?" 


Sontak saja Ferdi menoleh pada Velicia. Dan Velicia hanya tersenyum dingin padanya.


"Kami mau dok. Tolong dokter atur pertemuan kami dengan dokter tersebut," ucap Velicia pada dokter tersebut.


"Baiklah Bu, akan saya atur pertemuan kalian. Sekarang saya permisi dulu. Selamat malam," ucap dokter tersebut sebelum meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


"Ve, kita kan sudah sering melakukan pemeriksaan-"


"Kenapa Mas? Mas Ferdi gak suka kita punya anak? Apa Mas Ferdi ingin punya anak dari perempuan gatel tadi?" ucap Velicia dengan sinisnya.


__ADS_2