
Velicia berada di ruang guru untuk menghindari semua orang. Dia enggan kembali ke ruang pendaftaran karena dia takut jika kehadirannya akan menjadi bahan keributan seperti tadi.
Setelah pendaftaran berakhir dan sekolahan sudah sepi, Rani dan Vira mendatangi Velicia di ruang guru yang masih sepi.
“Ve, kami tau jika semua itu tidaklah benar,” ucap Rani sambil mengusap pundak Velicia.
Velicia tersenyum getir, kemudian dia menundukkan kepalanya. Dia merasa tidak mampu menghadapi kekecewaan dari teman dekatnya.
“Kami tau apa yang terjadi Ve. Kamu tidak perlu membalas perbuatan suamimu. Cukup kamu meminta berpisah saja darinya,” sahut Vira kemudian sambil menatap iba pada Velicia.
Velicia menghela nafasnya, kemudian dia memandang ke arah mereka berdua dan memaksakan senyumnya. Beberapa detik kemudian dia berkata,
“Maaf jika aku mengecewakan kalian. Aku melakukannya bukan untuk membalas suamiku. Aku… aku memang mencintai pria itu. Dan kami berdua saling mencintai.”
“Ve…,” celetuk Rani dan Vira yang terlihat tidak percaya dengan apa yang mereka dengan dari mulut Velicia.
Velicia menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan untuk menguatkan dirinya sendiri. Kemudian dia memaksakan kembali senyumnya dan berkata,
“Awalnya kami hanya berteman. Kami saling bercerita, membantu dan menguatkan. Lambat laun rasa cinta itu tumbuh di antara kami. Dan kami tidak berdaya. Rasa cinta itu membuat kami ingin bersama. Sehingga kami merasa tersiksa karena status kami yang masih mempunyai pasangan. Maaf jika aku membuat kalian kecewa.”
“Sudahlah Ve, kamu jangan meminta maaf pada kami. Kamu jangan merasa bersalah seperti itu. Aku tau jika itu semua pilihan kalian berdua. Dan aku yakin jika kalian berdua sudah siap untuk menghadapinya,” tutur Rani sambil tersenyum menenangkan Velicia.
“Benar Ve. Kamu tidak membunuh orang, jadi kamu jangan merasa seperti itu,” sahut Vira sambil mengusap pundak Velicia untuk menenangkannya.
“Tidak. Semua ini memang salahku. Karena itulah aku tidak bisa mengatakan apa-apa pada mereka yang bertanya padaku tentang apa yang terjadi. Aku akan pulang terlebih dahulu. Maafkan aku,” ucap Velicia sambil menundukkan kepalanya, dia merasa malu melihat teman-temannya.
Rani memegang tangan Velicia yang akan melangkah pergi. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
“Ve, hidup ini singkat. Jalani saja apa yang kamu inginkan. Jangan pedulikan apa yang dipikirkan orang lain padamu.”
Velicia tersenyum tipis dan dia berpamitan kemabli pada kedua temannya itu sebelum dia meninggalkan mereka.
Di kantornya, Ferdi menerima tatapan aneh dari semua rekan kerjanya. Dia tidak mengerti apa yang terjadi, sehingga dia mengabaikan semua pasang mata yang sedang menatapnya.
“Lani, apa Pak Ferdi akan masuk hari ini?” tanya salah satu rekan kerja mereka yang satu ruangan dengan Lani dan Ferdi.
“Pasti masuk lah. Pak Ferdi kan tidak pernah lalai dalam pekerjaannya. Jadi, sangat tidak mungkin jika dia tidak masuk. Kecuali dia sedang sakit, seperti waktu itu,” jawab Lani dengan sangat yakin.
“Sssttt… Lihatlah sini, apa mungkin Pak Ferdi berangkat bekerja setelah ada kejadian seperti ini?” ucap salah satu dari mereka sambil memperlihatkan ponselnya pada Lani.
“Ini…,” ucapan Lani tidak bisa diteruskannya, dia kaget melihat video yang diperlihatkan temannya padanya.
“Ini istri Pak Ferdi kan?” sahut orang yang berada di sebelahnya ikut melihat video yang sedang viral itu.
“Istriku? Ada apa dengan istriku?”
Mereka semua saling menatap tanpa berani mengatakan apa pun pada Ferdi. Sayangnya, tingkah aneh dan tatapan aneh mereka itu membuat Ferdi curiga. Dia segera mendekati mereka dan mengambil ponsel tersebut.
Seketika mata Ferdi terbelalak melihat video yang sedang viral di beberapa media sosial saat ini. Dadanya bergemuruh merasakan kemarahan melihat video tersebut. Sontak saja dia meninggalkan ruangan itu setelah mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya.
Dengan kemarahan dan emosinya yang luar biasa Ferdi menuju ke suatu tempat. Dilajukannya mobilnya dengan kecepatan tinggi yang seolah menggambarkan kemarahannya. Di dalam kepalanya saat ini dia hanya ingin menemui seseorang.
Hanya beberapa menit saja Raymond sampai di tempat yang ditujunya. Tanpa menunggu lama, dia segera keluar dari mobilnya dan berlari menuju tempat yang sudah menjadi incarannya sejak tadi.
“Maaf Pak, bisa bertemu dengan Pak Raymond?” tanya Ferdi pada salah satu guru yang ada di ruang guru.
__ADS_1
“Maaf Bapak siapa ya?” tanya guru tersebut pada Ferdi.
“Saya wali murid dari salah satu murid Pak Raymond. Saya ada perlu dengan beliau. Di mana saya bisa menemuinya?” tukas Ferdi yang berusaha meyakinkan guru tesebut.
“Bapak tunggu saja di kelasnya. Sepertinya Pak Raymond akan kembali ke kelasnya setelah dari ruang kepala sekolah,” jawab guru tersebut tanpa bertanya apa-apa lagi pada Ferdi.
Ferdi berjalan dengan cepat menuju kelas Raymond dengan bertanya-tanya pada beberapa guru yang lewat di mana kelas Raymond berada.
“Kosong,” ucap Ferdi ketika masuk ke dalam ruang kelas sesuai dengan yang diberitahukan padanya.
Dia melihat seisi ruangan kelas tersebut sambil menunggu Raymond datang ke ruangan itu. Rasa amarah dan emosinya belum reda. Semuanya masih bergemuruh di dalam dadanya.
Beberapa menit kemudian, masuklah Raymond ke dalam ruangan kelas tersebut. Ferdi menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat. Semua amarah dan emosinya tergambar jelas pada wajah Ferdi.
Tangan Ferdi mengepal erat melihat Raymond yang terlihat tidak bersalah ketika bertemu dengannya. Dadanya naik turun mengikuti nafasnya yang memburu. Rahangnya mengeras ketika Ferdi mengeratkan giginya menahan emosinya.
Dengan cepatnya Ferdi berjalan mendekati Raymond dan menjatuhkan pukulannya pada wajah Raymond hingga dia jatuh terduduk di lantai.
“Bangun! Bangunlah Sialan!” seru Ferdi sambil menarik kerah kemeja Raymond.
Dia akan memukul kembali wajah Raymond, tapi diurungkannya karena melihat Raymond yang hanya diam saja.
“Kemarin aku sudah memohon padamu, tapi kamu abaikan. Lihat sekarang apa yang terjadi! Kamu hanya menyakitinya dan membuatnya menderita. Jangan temui Velicia lagi dan jangan ganggu Velicia lagi! Kami akan meninggalkan kota ini!”
Ferdi mengancam Raymond yang diam tidak mengatakan apa pun. Wajah Raymond mengatakan semuanya. Dia merasa sangat sedih dan merasa sangat bersalah pada Velicia.
Setelah itu Ferdi menghempaskan tubuh Raymond hingga membentur tembok. Kemudian dia keluar dari ruangan tersebut dengan emosi yang meledak-ledak.
__ADS_1
Raymond masih terduduk di lantai dengan bersandar pada dinding. Tak dirasakan olehnya rasa sakit karena dipukul dan terbentur tembok tadi. Dia menangis mengingat dirinya tidak akan bisa bertemu dengan wanita yang dicintainya lagi setelah ini. Dan dia merasa sangat bersalah telah membuat wanita pujaan hatinya itu merasakan sakit dan menderita karenanya.
“Ve, maafkan aku…,” ucap Raymond diiringi oleh air matanya yang menetes di pipinya.