Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 7 Teman?


__ADS_3

Suara tawa Ferdi sampai pada indera pendengaran Velicia yang kebetulan berada di tempat tersebut. Bahkan obrolan Ferdi dengan Lani terlihat sangat dekat. Dan tawa mereka membuat semua orang berpikir bahwa mereka adalah pasangan yang sedang makan siang bersama.


"Mas Ferdi?!" celetuk Velicia dengan wajah terkejut melihat ke arah Ferdi yang duduk di samping Lani dalam satu meja yang sama.


Sontak saja dua teman Velicia yang sedang bersamanya mengikuti arah pandang Velicia. Mata mereka membelalak melihat Ferdi dengan seorang perempuan terlihat sangat dekat dan parahnya lagi Velicia melihatnya secara langsung.


Siapapun akan berpikiran bahwa Ferdi berselingkuh dengan Lani. Begitu pula dengan teman-teman Velicia, mereka juga berpikiran seperti itu.


"Itu… itu… bukankah itu-"


Vira, salah satu teman Velicia hendak menyebutkan nama Ferdi sambil tangannya menunjuk ke arah Ferdi. Dengan cepatnya Rani, teman Velicia yang lain membungkam mulut Vira agar tidak meneruskan ucapannya.


"Ve, apa kita pindah tempat makan saja?" tanya Rani pada Velicia yang masih tetap memandang ke arah Ferdi.


Vira dan Rani pun kembali melihat ke arah Ferdi. Mulut mereka menganga melihat Ferdi yang sedang disuapi oleh Lani. Tampak Ferdi yang enggan disuapi oleh Lani, tapi akhirnya Lani bisa membujuk Ferdi dan akhirnya masuklah satu sendok makanan tersebut pada mulut Ferdi.


Makanan dari piring Lani dengan sendok yang sama dipakai oleh Lani nyatanya tidak dapat ditolak oleh Ferdi.


Ternyata sedari tadi Velicia diam bukan hanya sedang menonton saja, dia merekam dan mengambil foto dari kamera ponselnya. Entah apa yang dipikirkan oleh Velicia. Saat itu dia tiba-tiba ingin mengabadikan momen indah suaminya bersama dengan seorang wanita yang bahkan tidak dikenal oleh Velicia.


Setelah dirasa cukup. Velicia segera melangkah keluar dari tempat makan tersebut. Saat di luar tempat makan itu, dia menelepon Ferdi.


Dari arah lain Velicia melihatnya. Suaminya itu melihat ponselnya, dia terlihat kaget melihat layar ponselnya. 


Setelah beberapa detik dia melihatnya, diangkatnya telepon tersebut oleh Ferdi.


"Mas Ferdi ada di mana?" tanya Velicia mengawali pembicaraan di telepon itu.


Aku sedang makan siang, jawab Ferdi yang terlihat gugup saat ini.


Velicia melihat Ferdi dengan jelas. Dia ingin melihat ekspresi Ferdi pada saat berbicara melalui telepon dengannya.


"Dengan siapa?" tanya Velicia dengan sekuat tenaga menahan kemarahannya.


"Dengan teman kerja. Tumben kamu tanya-tanya, ada apa?" Ferdi bertanya dengan raut wajah serius.


"Gak boleh ya Mas, istrimu ini bertanya?" tanya Velicia yang semakin geram melihat Ferdi sedang tersenyum pada Lani ketika sedang ingin menyuapi Ferdi kembali.


Bukan begitu, hanya saja biasanya kamu kan gak pernah- ucapan Ferdi yang sedang berbicara pada Velicia melalui telepon terpotong oleh Lani.

__ADS_1


Haaak… ini haak dulu…, Lani mencoba menyuapi Ferdi dengan mengulurkan sendok yang berisi makanan dari piringnya ke depan mulut Ferdi.


"Siapa itu Mas?" tanya Velicia dengan sedikit emosi.


Velicia benar-benar menahan emosinya melihat tingkah Ferdi bersama dengan Lani saat ini. Siapa yang tahan jika melihat suaminya disuapi oleh wanita lain dan membalas senyum wanita itu setelahnya. Apalagi saat itu dia sedang berbicara di telepon dengan istrinya.


Hati Velicia sangat hancur. Bahkan suaminya yang selama ini dikenal sebagai laki-laki paling cuek di kantor bisa dengan mudahnya bersikap manis pada wanita lain selain istrinya.


"Teman-temanku. Kami sedang makan siang bersama satu divisi," Ferdi mengatakannya dengan santai.


Velicia melihatnya, ternyata Ferdi memberi kode pada Lani dengan menempelkan jari telunjuknya pada bibir Lani agar dia tidak lagi berbicara.


"Oh, ya sudah," Velicia segera mengakhiri teleponnya, dia sudah tidak bisa menahan kekecewaannya pada suaminya.


Pantas saja dia kemarin sudah makan malam di luar. Pasti dia makan bersama wanita itu, Velicia berkata dalam hatinya.


"Ve, apa kita pergi sekarang?" tanya Vira pada Velicia yang sedari tadi setia berada di belakang Velicia.


"Kalau kalian mau pergi sekarang gapapa kok. Aku akan menunggu mereka keluar. Sepertinya mereka akan keluar sebentar lagi," jawab Velicia dengan matanya yang masih setia memandang ke arah suaminya.


"Kita menunggu kamu aja di sini," jawab Rani yang ikut melihat ke arah Ferdi.


"Iya, kita tunggu kamu aja Ve. Kita kan perginya barengan tadi," sahut Vira menimpali ucapan Rani.


"Ya sudah. Terima kasih ya," ucap Velicia tanpa melihat ke arah teman-temannya.


"Eh mereka berdiri tuh," ucap Vira lirih.


Mereka bertiga segera berpura-pura baru saja datang dan akan masuk ke dalam tempat makan tersebut. 


Ferdi dan Lani berjalan menuju pintu keluar setelah Ferdi membayar makanan mereka di kasir.


"Loh Mas… makan di sini?" tanya Velicia ketika berpura-pura berpapasan dengan Ferdi di pintu.


Ferdi terkejut, dia membuka mulutnya ketika Velicia memanggilnya pas di hadapannya.


"Eh iya, lagi makan siang. Kamu juga?" ucap Ferdi dengan gugup dan senyum yang dipaksakan.


"Siapa Pak?" tanya Lani pada Ferdi dengan menarik tangan Ferdi.

__ADS_1


Ferdi segera menghempaskan tangan Lani dan dia gugup karena Velicia sedari tadi hanya memandang Lani tanpa berkedip.


"Kenalkan, ini Velicia, istri saya," ucap Ferdi sambil tersenyum kikuk.


Tampak sekali perubahan wajah Lani sekarang ini. Dia yang tadinya sangat ceria, kini senyumnya memudar dan dia memandang Velicia dari atas hingga bawah.


Cantik, Lani berkata dalam hatinya.


"Dan ini-"


"Perkenalkan, saya Velicia, istri Ferdi," Velicia menyela ucapan Ferdi.


Dengan mengulurkan tangannya, Velicia memperkenalkan dirinya. Lani yang masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat, tangannya bergerak seolah dia sedang diperintah. 


"Lani," ucap Lani ketika berjabat tangan dengan Velicia.


"Katanya dengan teman-teman Mas yang satu divisi, mana mereka semua. Aku ingin menyapa mereka semua. Sudah lama aku gak ketemu sama mereka," ucap Velicia sambil tersenyum yang dibuat semanis mungkin.


Lani masih saja terpanah melihat Velicia yang benar-benar cantik. Dia masih saja melihat Velicia yang sedang berbicara dengan Ferdi.


Pantas saja semua orang mengatakan bahwa istri Pak Ferdi cantik. Memang dia benar-benar cantik, Lani kembali berkata dalam hatinya.


"Hmmm… mereka sudah kembali terlebih dahulu," jawab Ferdi dengan senyum yang terpaksa.


Velicia menanggapinya dengan senyum yang sangat manis agar suaminya itu tidak curiga jika dia mengetahui kebohongannya.


"Ya sudah Mas, kita mau makan dulu," ucap Velicia sambil menarik tangan kedua temannya.


Mata Ferdi mengikuti Velicia yang sedang berjalan. Dalam hatinya dia bersyukur karena Velicia tidak mengetahui jika dia berbohong.


"Istri Bapak cantik ya," ucap Lani dengan raut muka sedih.


Ferdi menoleh ke arah Lani yang berada di sebelahnya. Kemudian dia berkata,


"Karena itulah aku segera menikahinya. Selain dia cantik, dia juga wanita yang baik dan tidak banyak maunya. Aku sangat bersyukur memilikinya menjadi istriku."


"Tapi sayangnya kalian belum memiliki anak," sahut Lani tanpa sadar.


Ferdi yang mendengar perkataan Lani menjadi kesal. Dia segera pergi meninggalkan Lani yang masih berdiri di sekitar pintu tempat makan tersebut.

__ADS_1


 


"Pak…Pak… Pak Ferdi tunggu…!" Lani berseru sambil berlari kecil mengejar Ferdi yang berjalan cepat dengan langkah kaki lebarnya.


__ADS_2