
Velicia terkejut mendengar suara suaminya yang memanggil namanya. Hingga ponselnya terjatuh di lantai.
"Bunda… Bunda di mana?" seru Ferdi kembali.
Secepat kilat Velicia mengambil ponselnya dan memasukkannya di dalam kantongnya. Kemudian dia berpura-pura mengambil pakaiannya untuk dibawa keluar dari ruang cuci tersebut.
"Eh Mas, ada apa?" tanya Velicia sambil membawa pakaian yang belum disetrika ada di ruang cuci
"Bunda ngapain malam-malam gini ada di sini?" tanya Ferdi sambil melihat ke dalam ruangan tersebut.
"Ehmmm itu… ini, aku mengambil pakaian ini untuk besok. Tadi aku lupa menyetrikanya. Padahal besok akan aku pakai," jawab Velicia sambil memperlihatkan pada suaminya pakaian yang berada di tangannya.
Ferdi melihat pakaian tersebut, kemudian dia beralih menatap istrinya. Selang beberapa saat kemudian Ferdi menarik tangan istrinya sambil berkata,
"Sudah malam, sekarang tidur saja dulu, besok saja disetrika."
"Sebentar," ucap Velicia ketika Ferdi menarik tangannya agar ikut bersamanya.
Ferdi menghentikan langkahnya dan Velicia melepaskan tangan Ferdi dari tangannya.
Dia masuk kembali ke dalam ruangan tersebut untuk meletakkan kembali pakaian yang diambilnya tadi.
Kemudian dia kembali keluar dari ruangan tersebut dan ternyata Ferdi masih ada di sana. Dia menunggu Velicia agar kembali ke kamar mereka bersamanya.
Velicia menurut, dia berjalan beriringan dengan suaminya. Dalam hatinya dia berkata,
Kenapa Mas Ferdi jadi aneh gini? Kenapa dia jadi perhatian padaku? Lagian kenapa baru sekarang dia begini, kenapa gak sedari dulu saja?
Mereka kembali tidur di ranjangnya. Velicia mengambil posisi tidur seperti tadi, membelakangi suaminya. Dan Ferdi pun membelakangi Velicia.
Bukannya tanpa sebab Velicia seperti itu. Dia sudah terbiasa menghadap membelakangi suaminya karena suaminya lah yang selalu membelakanginya, seolah menolak berhubungan dengannya.
Kini dia sudah terbiasa dan kebiasaan itu susah diubahnya. Tapi, pada saat bersama dengan Raymond, dia tidak ingin melewatkan sedikit pun untuk tidak memandangnya.
Keesokan harinya, Velicia dan Raymond bertemu di taman biasanya. Mereka berdua saling melemparkan senyumannya ketika mereka baru saja bertemu di tempat itu.
Ingin rasanya mereka saling memeluk dan bergandengan tangan seperti kemarin, tapi itu tidak mungkin terjadi.
Di tempat umum yang terbuka seperti itu membuat mereka was-was. Mereka tidak bisa bebas mengapresiasikan perasaan mereka karena tempat tersebut masih sewilayah dengan rumah mereka.
Velicia duduk di kursi taman yang biasa ditempatinya. Sedangkan Raymond, dia duduk di samping Velicia dengan jarak kurang lebih satu meter. Velicia duduk di ujung kursi kanan dan Raymond duduk di ujung kursi kiri.
Lagi-lagi mereka tertawa melihat kelucuan anak-anak yang bermain di taman tersebut. Hingga ada sebuah bola yang mengenai kaki Raymond.
"Om, tolong lempar bolanya," seru salah satu anak laki-laki yang bermain bola pada Raymond.
__ADS_1
Bola pun ditendang oleh Raymond hingga sampai ke tengah lapangan bola yang ada di sisi kiri taman tersebut.
"Terima kasih Om. Apa Om mau main dengan kita?" tanya anak laki-laki tersebut pada Raymond dari tempatnya berdiri saat itu.
Raymond menoleh ke arah Velicia dan dia pun mendapatkan anggukan dari Velicia.
"Apa boleh Om ikut main?" tanya Raymond dari tempatnya saat ini.
"Boleh…," ucap semuanya yang bermain bola di sana bersamaan.
"Ve, aku ke sana dulu ya. Aku titip tasku," ucap Raymond sambil tersenyum bahagia.
Velicia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian Raymond berlari ke tengah lapangan untuk bermain bola bersama mereka.
Setelah beberapa saat, Raymond kembali duduk di bangku taman yang didudukinya bersama dengan Velicia tadi.
Velicia segera membuka tasnya dan mengambil tisu dari tasnya tadi. Dia mengusap keringat Raymond dengan pelan dan hati-hati.
Mata mereka saling beradu, sehingga membuat tangan Velicia berhenti mengusap keringat Raymond.
"Ve, apa kita perlu jalan-jalan disekitar sini dulu sebelum kita pulang?" tanya Raymond yang masih dalam posisi saling menatap dengan Velicia.
Mendengar apa yang ditanyakan Raymond padanya, membuat Velicia menyudahi kegiatan mengusap keringat Raymond.
Mereka berdua berjalan menyusuri jalan yang selalu mereka lewati. Kebetulan jalan tersebut jarang penghuninya sehingga mereka lebih nyaman melewatinya.
Velicia dan Raymond berjalan beriringan sambil sesekali melempar senyum dan saling menatap.
Dengan berjalan beriringan saja kami sudah sangat senang. Apalagi jika kami benar-benar bisa berjalan berdampingan dengan bergandeng tangan tanpa takut dengan pandangan orang lain? Velicia berkata dalam hatinya.
Apakah kita bisa menikmati seperti ini setiap saat? Aku ingin meraih tangan itu dan menggenggamnya erat hingga tidak ada seorang pun yang bisa melepaskannya, Raymond berkata dalam hatinya.
Tring!
Suara notifikasi dari ponsel Velicia mengganggu mereka.
Velicia mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Kemudian dia membaca pesan yang baru saja terima.
Tampak sekali wajah bingung Velicia setelah membaca pesan tersebut. Hal itu tidak luput dari perhatian Raymond.
"Ada apa Ve? Apa ada yang penting?" tanya Raymond pada Velicia yang masih menatap layar ponselnya.
"Emmm… sepertinya aku harus pergi terlebih dahulu Ray," ucap Velicia sambil menatap sedih pada Raymond.
"Apa ada hal yang penting?" tanya Raymond kembali.
__ADS_1
"Entahlah. Dari tadi temanku meminta untuk bertemu. Tapi aku bilang jika aku masih ada urusan. Dan sekarang dia memintaku kembali untuk bertemu dengannya. Dia akan datang ke rumahku jika aku tidak menemuinya sekarang," jawab Velicia dengan wajah sedihnya.
Raymond mengernyitkan dahinya setelah mendengarkan jawaban dari wanita pemilik hatinya itu. Kemudian dia berkata,
"Siapa dia? Apa dia seorang wanita?" tanya Raymond menyelidik.
Velicia tersenyum melihat reaksi kekasihnya itu. Dia sangat senang karena merasa jika Raymond sangat mencintainya sehingga dia cemburu padanya.
"Tentu saja Ray. Aku tidak punya teman laki-laki kecuali kamu," jawab Velicia disertai senyuman manisnya yang membuat hati Raymond sangat tenang.
Seketika senyum Raymond mengembang. Dia merasa lega mendengar jawaban dari Velicia. Dan dia merasa tenang melihat senyuman dari kekasih hatinya itu.
"Apa mau aku antarkan?" tanya Raymond sambil berjalan mendekati Velicia.
"Tidak usah Ray, aku dan temanku cuma akan bertemu di cafe daerah sini saja kok," jawab Velicia sambil tersenyum pada Raymond yang sudah berada di depannya.
Raymond masih menatap wajah wanita yang ada di hadapannya itu. Tatapannya itu membuat orang lain tahu akan kekhawatirannya, seolah dia enggan melepasnya sendirian.
"Tenang saja Ray, aku sudah hafal jalannya. Aku jamin deh, aku tidak akan nyasar," ucap Velicia sambil terkekeh.
Raymond tersenyum menanggapi candaan dari Kekasihnya itu. Kemudian dia menganggukkan kepalanya sambil berkata,
"Baiklah Ve, tapi jika ada apa-apa kamu harus menghubungiku," tutur Raymond dengan tegas.
"Pasti Ray," jawab Velicia sambil tersenyum manis pada kekasih hatinya.
Raymond maju selangkah tepat berada di depan Velicia, sehingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter saja.
Diraihnya tubuh mungil Velicia. Kini Velicia berada dalam pelukan Raymond. Pelukan itu sangat erat, sehingga Velicia merasakan kesungguhan Raymond yang tidak ingin kehilangannya.
Setelah beberapa saat, Raymond melepaskan pelukannya. Dengan menatap lekat manik mata Velicia, dia berkata,
"Hati-hati dan segera kabari aku jika sudah sampai."
Velicia menganggukkan kepalanya dan terlihat ada semburat merah pada wajahnya.
Raymond tersenyum sambil mengusap rona merah pada pipi Velicia. Dia tahu jika wanita dihadapannya ini sedang merasa malu dan bahagian saat ini.
Merasa Raymond mengetahui rasa malunya itu, Velicia segera melepas tangan Raymond dari pipinya sambil berkata,
"Aku berangkat sekarang."
Kemudian dia benar-benar berjalan meninggalkan Raymond yang masih memperhatikannya dari tempatnya saat ini.
__ADS_1