Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 94 Kemarahan Tania


__ADS_3

Malam pun tiba. Raymond dan Velicia pulang ke rumah dengan hati yang berbunga-bunga. Mereka berdua merasakan kebahagiaan yang tidak pernah mereka rasakan bersama pasangannya.


Tania menunggu suaminya di rumahnya dengan lampu temaram dan masih dalam keadaan yang sama seperti tadi, tanpa mengganti bajunya yang basah hingga mengering dengan sendirinya.


Ceklek!


Raymond membuka pintu rumahnya. Matanya terbelalak ketika dia melihat barang-barang yang berserakan dan pecahan kaca di mana-mana. Badannya membungkuk untuk membersihkan pecahan kaca tersebut tanpa tahu jika istrinya duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat itu.


“Baru pulang Ray?” tanya Tania dengan aura dinginnya.


Raymond kaget dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ternyata di sana sudah ada istrinya yang memandangnya dengan tatapan dingin padanya.


“Aku akan membersihkan ini dulu sebelum ada yang terluka,” ucap Raymond sambil memunguti pecahan kaca di lantai.


Raymond memandang sekitar dan menghela nafasnya ketika melihat pecahan dan serpihan kaca terlihat berkilauan di lantai dengan lampu yang temaram. Sebenarnya dia ingin menanyakan apa yang terjadi, tapi diurungkannya karena dia tahu jika nantinya pasti akan ada perdebatan di antara mereka dan berakhir menjadi pertengkaran.


“Apa kamu


bersenang-senang bersama Velicia?” tanya Tania dengan ekspresi datar.


Sontak saja Raymond melihat ke arah istrinya yang sedang duduk dan bertanya padanya dengan wajah datar tanpa ekspresi dan beraura dingin.


“Aku dengar tidak ada acara camping bersama anak-anak. Lalu, kamu dan Velicia pergi ke mana?” tanya Tania kembali.


Raymond menghentikan gerakannya memunguti pecahan kaca tersebut. Kemudian dia berdiri dan memandang istrinya.


Tania mengambil gelas yang berisi minuman, meneguknya sedikit, lalu dia meletakkannya kembali di atas meja yang ada di hadapannnya.


“Sejak kapan?” tanya Tania dengan tenangnya.


“Sejak kapan hubunganmu dengan Velicia dimulai?” tanya Tania kembali sambil mencengkeram roknya.


Raymond menghela nafasnya mendengar pertanyaan dari istrinya. Dalam hati dia berkata,


Mungkin inilah saatnya aku mengatakan semuanya agar aku bisa mengakhiri hubungan palsu ini.


“Sejak kamu datang ke sini,” jawab Raymond sambil menatap intens manik mata istrinya agar istrinya tahu jika dia berkata jujur.


Tania tersenyum sinis dan menatap tajam pada suaminya. Kemudian dia berkata,

__ADS_1


“Apa kamu kesepian selama ini?”


“Tidak,” jawab Raymond singkat.


“Aku tau kamu hanya main-main. Ini bukan dirimu yang sebenarnya Ray, aku tau itu,” ucap Tania tanpa ekspresi.


“Tidak,” jawab Raymond singkat.


“Lalu kenapa kamu melakukan ini?” tanya Tania sambil menatap mata suaminya dengan intens.


“Jantungku berdebar untuk pertama kalinya,” jawab Raymond tanpa beban.


“Pertama kalinya? Lalu kenapa kamu menikah dengan wanita yang tidak kamu cintai?” tanya Tania lemah tanpa ekspresi.


Raymond menghela nafasnya dan memejamkan matanya untuk menyiapkan hatinya menjawab dengan jujur pertanyaan dari istrinya. kemudian dia berkata,


“Karena kasihan,” jawab Raymond.


Sedetik kemudian dia kembali menyambung perkataannya.


“Dan terpaksa. Kamu dijauhi teman-teman karena sikapmu. Dan juga karena kamu dan kedua orang tuamu yang memaksaku dan mengancamku jika tidak menikah denganmu.”


“Sekarang jawablah pertanyaanku. Apa kamu pernah cinta padaku? Apa kamu pernah menyukaiku?” tanya Tania dengan antusias.


Raymond hanya diam. Dia tidak mengatakan apa pun ataupun menggerakkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan istrinya.


“Tidak pernah? Benarkah tidak pernah sekali pun?” tanya Tania dengan bibirnya yang bergetar menahan tangisnya.


“Maaf. Aku  benar-benar minta maaf,” jawab Raymond dengan tatapan matanya penuh dengan penyesalan.


Brak!


Pyar!


Secepat kilat Tania menyambar gelas yang masih ada minumannya di atas meja yang ada di hadapannya dan melemparnya ke arah televisi, sehingga gelas tersebut mengenai layar televisi dan pecahlah gelas beserta layar televisi tersebut.


Raymond sangat terkejut melihat apa yang terjadi. Tapi dia tidak kaget dengan sikap istrinya yang memang nekat dan bisa menhancurkan apa pun jika sedang marah.


“Bodoh! Harusnya dalam situasi seperti ini kamu berbohong. Harusnya kamu bilang jika kamu menyukaiku sejak dulu dan mencintaiku sehingga kamu mau menikah denganku,” seru Tania sambil menatap suaminya.

__ADS_1


Raymond hanya diam tak berkutik. Bahkan dia tetap berada di tempatnya. Dia berdiri tanpa berkomentar apa pun untuk menanggapi perkataan istrinya.


“Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Apa wanita itu menyuruhmu untuk bercerai?” tanya Tania dengan menatap tajam pada suaminya.


“Tidak. Hanya saja aku tidak bisa hidup tanpanya,” jawab Raymond jujur sambil menatap istrinya.


Sontak saja Tania berdiri dari duduknya dan menatap tidak percaya pada suaminya dan berseru padanya.


“Ray, apa kamu sudah gila?! Dia wanita yang sudah bersuami. Kamu juga sudah bertemu dengan suaminya.”


“Aku tau. Itulah sebabnya membuatku semakin sesak dan tersiksa,” jawab Raymond dengan ekspresi wajah yang penuh dengan kesedihan.


Raymond menatap istrinya, dia mengiba padanya. Dan Tania menatap suaminya dengan pandangan tidak percaya.


“Tania, bisakah kamu melepaskanku? Aku mohon,” ucap Raymond dengan tatapan mengiba pada istrinya.


“Melepaskanmu? Bagaimana caranya? Kamu benar-benar ingin bercerai?” tanya Tania dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca.


“Iya. Lebih baik kita bercerai,” jawab Raymond lirih sambil menatap intens manik mata istrinya.


“Bercerai? Langkahi dulu mayatku, setelah itu kamu bisa menceraikanku,” ucap Tania dengan mengeratkan gigi-giginya.


“Lihat baik-baik, bagaimana aku bisa mati!” seru Tania sambil menekankan semua kata-katanya.


Tania menunduk mengambil pecahan kaca yang ada di sekitarnya, kemudian dia mengarahkannya pada pergelangan tangannya. Secepat kilat Raymond mengambil pecahan kaca tersebut dan merebutnya dari tangan Tania.


Tidak hanya berhenti di situ. Tania kembali mencari pecahan kaca yang lainnya. Dia akan mengulangi hal yang sama. Tapi hal itu tidak bisa dilakukannya. Dengan cepatnya Raymond memaksanya untuk berdiri dan memeluknya dengan erat agar istrinya itu tidak bisa bergerak.


Tangisan Tania terdengar dengan kerasnya. Dia terlihat lemah sekarang ini. Dalam hidupnya, baru kali ini dia dikalahkan oleh wanita lain. Bahkan dia juga tidak bisa merubah perasaan suaminya.


Raymond merasa sangat bersalah pada Tania. Dia tidak bisa melihat wajah istrinya yang sedang menangis. Dia takut akan kembali luluh karena kasihan padanya.


Matanya terbelalak melihat telapak kaki istrinya yang terlihat berdarah,kemudian dia melihat lantai sekitarnya yang terdapat bercak kaki yang bertintakan dengan darah.


Raymond menghela nafasnya. Dia tidak mengira jika akan sejauh ini. Telapak kaki Tania menginjak pecahan dan serpihan kaca sehingga banyak darah yang keluar dari telapak kakinya.


Segera Raymond menggendong istrinya yang sudah mulai lemah, mungkin karena dia kelelahan, hingga dia tidak memberontak sedikit pun ketika digendong oleh suaminya menuju mobil.


Setelah mendudukkan istrinya di dalam mobil, Raymond segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2