
"Pak, kita jalan kaki saja," ucap Lani ketika melihat Ferdi membuka pintu mobilnya.
Ferdi menoleh ke arah Lani, kemudian dia berkata,
"Apa kamu tidak lelah?"
"Ehmmm… Bapak ini masa' tidak tau. Lebih baik jalan Pak, lebih romantis daripada naik mobil," jawab Lani sambil berjalan mendekati Ferdi dan melingkarkan tangannya pada lengan Ferdi.
Ferdi pun tersenyum mendengar ucapan dari Lani. Tanpa berkata-kata dia menuruti Lani dengan berjalan bersama menuju tempat makan yang akan mereka datangi.
Di sepanjang perjalanan, tangan Lani bergelayut manja pada lengan Ferdi. Sambil berceloteh tentang banyak hal, Lani berhasil membuat Ferdi tertawa.
Mereka berdua layaknya pasangan yang sangat bahagia. Berjalan bersama dengan bergandengan mesra dan bercanda di sepanjang perjalanan.
Hingga Ferdi teringat sesuatu ketika dia masih berjalan bersama Lani yang masih aktif dengan celotehannya.
Dulu aku pernah seperti ini bersama dengan Velicia. Tapi, rasanya itu sudah lama sekali, Ferdi berkata dalam hatinya.
Tiba-tiba dia teringat beberapa hari yang lalu dia mengecewakan istrinya yang sudah bersiap memakai pakaian pemberiannya untuk mengajaknya makan di luar. Dan dia membiarkan istrinya itu membeli makanan sendiri di malam hari dengan berjalan kaki.
Ah… jahatnya aku. Kenapa waktu itu aku menyuruhnya untuk membeli makanan sendiri dengan berjalan kaki? Dan sekarang, aku dengan senang hati mengantarkan Lani untuk membeli makanan, bahkan aku menawarinya untuk mengantarkannya dengan menggunakan mobil. Pantas saja Velicia akhir-akhir ini marah padaku. Apa dia kecewa padaku?
Lagi-lagi Ferdi berkata dalam hatinya. Dia menanyakan kebodohannya dalam hatinya sendiri.
"Pak, Pak. Pak Ferdi. Bapak tidak mendengar semua yang saya ucapkan tadi ya Pak?" tanya Lani sambil menggerak-gerakkan lengan Ferdi yang digandengnya.
Seketika Ferdi tersadar dari lamunannya. Dia salah tingkah ketika Lani bertanya padanya tentang apa yang dibicarakannya selama Ferdi melamun tadi.
"Kita makan saja di sana," ucap Ferdi sambil menunjuk food court yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.
Lani pun berwajah kesal karena Ferdi sengaja mengalihkan pembicaraannya dan tidak mendengarkan apa yang sedari tadi dibicarakannya.
Setelah itu mereka memakan makanan yang telah mereka pesan. Seperti yang sebelumnya, Lani tidak menyerah, dia tetap berusaha agar Ferdi mau berbicara padanya tentang apa saja dan dia juga berusaha membuat Ferdi tersenyum dan tertawa karena candaannya.
Usaha Lani pun berhasil. Ferdi melupakan rasa bersalahnya pada Velicia. Dia tertawa bersama dengan Lani. Bahkan dia tidak bisa menolak Lani yang selalu menggelayuti lengannya dengan manjanya.
Sesampainya di rumah, Ferdi berniat mengambilkan minuman untuk Lani dengan menyuruhnya duduk di kursi teras.
Namun, seperti biasa, Lani tidak bisa dilarang. Dia malah mengikuti Ferdi masuk ke dalam rumahnya.
"Cinta… Cinta…," Ferdi memanggil-manggil kucingnya ketika berjalan memasuki rumahnya.
__ADS_1
"Meow…," terdengar suara lirih dari Cinta yang mengeong sangat lemah.
"Cinta… Cinta… kamu kenapa?" tanya Ferdi sambil menggendong tubuh Cinta yang lemah dan tidak bergerak aktif seperti biasanya.
"Pak, lebih baik segera kita bawa ke klinik hewan saja sebelum keadaannya memburuk."
Tiba-tiba terdengar suara Lani yang mendekati mereka.
Tanpa berkata apa-apa, Ferdi segera menggendong Cinta dan membawanya keluar rumah.
"Tunggu Pak, biar saya saja yang menggendong Cinta. Bapak kunci saja pintu rumahnya," ucap Lani yang menghentikan Ferdi dengan berada di depannya.
Tanpa berpikir panjang, Ferdi menyerahkan Cinta pada Lani. Kemudian dia mengunci pintu rumahnya dan bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Lani duduk di kursi depan, sebelah Ferdi yang sedang mengemudikan mobilnya. Mobil itu dilajukan Ferdi dengan cepat agar Cinta segera mendapatkan pertolongan.
Sesampainya di depan sebuah klinik hewan yang terdekat dari rumahnya, Ferdi menghentikan mobilnya.
Dengan segera Ferdi berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil Lani. Mereka berdua bergegas masuk ke dalam klinik hewan tersebut.
"Dok, tolong kucing saya. Ketika saya pulang, saya menemukannya sudah lemas dok," ucap Ferdi dengan cemasnya.
Ferdi pun menganggukkan kepalanya. Dia menunggu di ruang tunggu dan dokter tersebut membawa Cinta ke ruang pemeriksaan.
Terlihat jelas kecemasan di wajah Ferdi. Dengan segera Lani mendekati Ferdi dan memberikan senyuman manisnya serta mengusap punggungnya untuk menenangkannya.
Velicia berjalan dengan rasa sedih menuju rumahnya. Perasaannya saat ini tidak bisa dijabarkan lagi. Dia hanya bisa merasakannya dan menyesali nasibnya. Dia merasa nasib telah mempermainkannya saat ini.
"Ve, baru pulang kamu?"
Velicia dikagetkan oleh suara yang tidak asing lagi di indra pendengarnya.
"Ibu?! Kenapa Ibu ada di luar? Kenapa Ibu tidak masuk saja, ada Mas Ferdi di dalam Bu," ucap Velicia dengan gugup karena terkejut dengan hadirnya ibu mertuanya.
"Kenapa kamu baru pulang? Dari mana saja kamu?" tanya Bu Anisa pada Velicia dengan tatapan menyelidik.
"Saya pulang dari acara reuni sekolah Bu. Oiya ada Mas Ferdi di dalam rumah, kenapa Ibu tidak masuk saja?"
Setelah menjawab pertanyaan dari Bu Anisa, Velicia sengaja bertanya pada ibu mertuanya itu agar Bu Anisa tidak lagi bertanya padanya.
"Sudah berkali-kali Ibu membunyikan bel rumah kalian, tetap saja tidak ada yang membukakan pintunya. Dan ponsel Ibu tertinggal di rumah, jadi Ibu tidak bisa menghubungi kalian berdua," jawab Bu Anisa sambil menghela nafasnya.
__ADS_1
"Sebentar Bu, saya akan menghubungi Mas Ferdi dulu," ucap Velicia seraya mengambil ponsel dari dalam saku celananya.
"Nanti saja, lebih baik kamu buka dulu saja pintu rumah kamu. Ibu lelah sedari tadi membawa ini," ucap Bu Anisa sambil menyodorkan goodie bag di depan Velicia.
"Apa ini Bu?" tanya Velicia sebelum mengambil alih goodie bag tersebut dari tangan ibu mertuanya.
"Obat herbal untuk kalian berdua agar kalian cepat memiliki keturunan," jawab Bu Anisa yang masih mengulurkan goodie bag tersebut di depan Velicia.
Velicia menghela nafasnya. Dia merasa sesak ketika mendengar obat herbal yang bertujuan untuk membuatnya memiliki keturunan. Sungguh hati Velicia berkecamuk mendengar itu semua.
"Ini, cepat ambillah dan jangan lupa diminum setiap-"
"Ibu, cukup! Tolong jangan lagi bicarakan masalah keturunan sebelum anak Ibu melakukan operasi kembali," sahut Velicia dengan setengah histeris di sela isakan tangisnya.
Sontak saja wajah Bu Anisa menegang. Dia terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh menantunya.
"A-apa maksudmu? Ferdi operasi? Operasi apa?" tanya Bu Anisa dengan gugup.
Velicia menghentikan tangisnya. Dia mengusap kasar air mata yang dengan lancangnya keluar di hadapan ibu mertuanya.
Selama ini Velicia masih bersikap tegar, dia tidak mau memberitahukan pada ibu mertuanya tentang putranya. Dan sekarang, air matanya dan tangisannya itu tidak bisa dicegahnya lagi.
Dengan hati dan perasaannya saat ini yang sangat bersalah pada Raymond dan suaminya, kini dia sedikit histeris ketika ibu mertuanya kembali menyinggungnya tentang keturunan.
Velicia menetralkan nafasnya agar tangisannya tidak lagi keluar. Sambil mengusap jejak air matanya dia berkata,
"Selama ini ternyata Mas Ferdi telah melakukan vasektomi. Pantas saja seperti apapun usaha saya untuk bisa hamil, tetap saja tidak berhasil."
Air mata Velicia kembali mengalir menceritakan tentang suaminya. Sepertinya sampai kapanpun dia tidak bisa memaafkan kebohongan suaminya meskipun dia sudah mencoba meyakinkan hatinya untuk bisa memaafkan suaminya itu.
Seketika badan Bu Anisa lemas, kepalanya terasa berat bahkan dia terkejut mendengar fakta yang disampaikan oleh menantunya itu.
Tangan kanannya memegang dadanya yang merasakan jantungnya berdegup dengan kencang. Nafasnya yang naik turun karena terkejut itu membuatnya harus diam sejenak untuk menetralkannya.
Velicia menangis sesenggukan di depan ibu mertuanya sambil berkata,
"Maaf Bu, Maafkan Ve."
Mendengar menantunya mengatakan maaf padanya membuat Bu Anisa iba padanya. Selama ini Bu Anisa menyalahkannya tanpa mengetahui permasalahan yang sebenarnya.
"Hubungi Ferdi sekarang juga dan setelah itu berikan ponselmu pada Ibu," ucap Bu Anisa sambil mengusap lembut rambut Velicia.
__ADS_1