Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 38 Fakta yang menyakitkan hati


__ADS_3

Ferdi mendatangi dokter yang menangani Velicia untuk mencari tahu tentang penyakit yang diderita oleh Velicia.


Dalam ruangan dokter tersebut, Ferdi diberitahukan tentang semuanya. Tentang penyakit Velicia dan penyebab semakin parahnya penyakitnya.


Ferdi diam dan dalam hatinya dia merasa sangat bersalah karena dirinya merasa menjadi penyebab dari bertambah parahnya penyakit istrinya.


Di dalam kamar inap Velicia, kini Rani dan Vira sedang menghiburnya. Mereka mengeluarkan candaan khas mereka bertiga agar Velicia merasa terhibur. 


Dari wajah Velicia, mereka berdua tahu jika temannya itu sedang bersedih dan mempunyai masalah.


"Ve, kita jalan-jalan di luar yuk," ucap Vira sambil menarik tangan Velicia seolah mengajaknya berdiri.


"Aku masih lemas Vir," ucap Velicia lirih.


Velicia memang benar-benar sangat lemas dan dia malas untuk keluar dari kamarnya karena di samping keadaan tubuhnya yang memang masih belum pulih, dia juga masih terbebani dengan peristiwa kemarin malam.


"Itu masalah gampang Ve. Aku ambilkan kursi roda buat kamu ya," ucap Rani sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Tapi Ran, aku-"


"Jangan menolak Ve. Kamu harus menghirup udara di luar sana agar lebih terasa hidup," Rani menyela ucapan Velicia bermaksud agar Velicia tidak menolak ajakannya.


"Iya Ve. Kamu cukup duduk manis di kursi roda, biar kami yang mendorongnya," ucap Vira menimpali perkataan Rani.


Velicia tersenyum dan akhirnya dia menganggukkan kepalanya, menyetujui ajakan teman-temannya.


Rani keluar dari kamar inap Velicia, beberapa saat kemudian dia masuk kembali dengan membawa kursi roda.

__ADS_1


"Ayo Ve aku bantu," ucap Vira sambil memegang kedua bahu Velicia.


Setelah Velicia duduk di kursi roda tersebut, Rani dan Vira membawa Velicia ke taman belakang klinik tersebut.


Setelah beberapa lama, Velicia merasa lelah dan sepertinya efek dari obat yang diminumnya sudah bekerja. Velicia merasa mengantuk, dia mengajak Rani dan Vita untuk mengantarkannya kembali ke dalam kamarnya.


Dalam perjalanan menuju kamarnya, Velicia yang sedang duduk di atas kursi roda dengan didorong oleh Vira dan Rani melihat Ferdi keluar dari ruangan dokter yang menangani Velicia.


Wajah Ferdi terlihat kusut keluar dari ruangan tersebut. Hal itu membuat Velicia merasa aneh dan takut akan diagnosa yang mungkin saja belum atau tidak dikatakan dokter tersebut padanya.


"Ran, Vir, tolong dekatkan aku ke ruangan dokter itu ya," ucap Velicia sambil menunjuk ruangan dokter tersebut.


"Kenapa Ve, kamu mau periksa?" tanya Rani sambil membungkuk sedikit ketika berbicara agar Velicia mendengarnya.


"Iya, jika memang memungkinkan," jawab Velicia sambil menoleh ke belakang untuk memandang Rani yang sedang berbicara dengannya.


Namun, ketika kursi roda Velicia sudah di dekat pintu ruangan tersebut, dia menghentikan kursi rodanya dengan memberikan kode pada kedua temannya yang sedang mendorong kursi rodanya.


Velicia membuka telapak tangannya dan mengarahkannya ke atas agar kedua temannya itu menghentikan kursi rodanya.


"Pokoknya aku gak mau jadi dokter konsultasi kandungan Bu Velicia," ucap seorang perempuan dari ruang dokter tersebut.


"Sayang, kamu kenapa sih? Mereka itu pasien aku dan mereka butuh bantuan kamu sebagai dokter spesialis kandungan," sahut seorang laki-laki yang ada dalam ruangan tersebut.


"Mas gak tau sih, mereka itu memang pasien aku sejak dulu. Dan mereka selalu konsultasi denganku. Hanya saja aku kasihan pada Bu Velicia. Dia tidak mengandung bukan karena tidak bisa, tapi karena suaminya yang tidak mau mempunyai anak," ucap perempuan tersebut dengan sedikit kesal.


Darrr!

__ADS_1


Bagai tersambar petir, Velicia sangat kaget hingga dia susah sekali bernafas. Air matanya mengalir tanpa permisi dan nafas Velicia tidak beraturan mendengar ucapan dari dokter perempuan yang selama ini menjadi dokter konsultasi kandungannya.


Dokter tersebut ternyata adalah istri dari dokter umum yang menangani Velicia saat ini. Dan di dalam ruangan tersebut, sepasang suami istri yang sama-sama sebagai dokter itu membicarakan tentang Velicia dan Ferdi. Mereka tidak tahu jika Velicia berada di dekat pintu ruangan tersebut.


"Maksud kamu apa?" tanya dokter laki-laki itu pada istrinya.


"Tanpa sepengetahuan Bu Velicia, Pak Ferdi melakukan vasektomi agar mereka bisa berhubungan tanpa khawatir akan mempunyai anak," jawab dokter perempuan tersebut yang selama ini menjadi dokter kandungan Velicia.


Hati Velicia semakin sakit mendengar fakta yang dikatakan oleh dokter perempuan tersebut. Air matanya lolos tak terhenti mendengarnya. Tangannya memegang dadanya karena terasa sesak menerima kenyataan yang ada.


Rani dan Vira terhenyak mendengar apa yang didengar dari dalam ruangan dokter tersebut. Mereka saling menatap dan menutup mulut mereka menggunakan tangan mereka agar ekspresi kaget mereka tidak terdengar dari dalam ruangan tersebut.


"Vasektomi? Kenapa Pak Ferdi melakukan itu? Bukankah mereka belum memiliki keturunan? Dan bukankah setiap orang yang menikah selalu ingin mempunyai keturunan?" dokter laki-laki tersebut menanyakan keheranannya pada istrinya yang menjadi dokter kandungan Velicia.


"Awalnya aku juga berpikiran sama seperti kamu Mas, oleh sebab itu ketika Pak Ferdi memintaku untuk melakukan vasektomi padanya, aku sangat menolaknya karena aku tau jika Bu Velicia sangat menginginkan kehadiran anak dalam keluarga mereka. Tapi, kemudian Pak Ferdi mengatakan alasannya. Dan ketika aku mengetahui alasannya, aku hanya menyimpulkan jika Pak Ferdi belum siap mempunyai anak. Dan aku mengatakan pada Pak Ferdi, aku mau melakukannya jika dia berjanji setelah dia siap mempunyai anak, dia akan kembali melakukan operasi agar bisa memiliki anak kembali. Karena menurut hasil dari tes mereka, keduanya subur dan tidak ada masalah. Jadi aku rasa Pak Ferdi bisa memiliki anak. Tentunya juga atas ijin yang kuasa," ucap dokter perempuan tersebut menjelaskan pada suaminya.


Dokter laki-laki tersebut menghela nafasnya begitu mendengar penjelasan dari istrinya.


Velicia mengusap kasar air matanya yang dengan lancangnya selalu mengalir membasahi pipinya.


"Lalu, kapan dia akan siap mempunyai anak? Kamu tau, jika Bu Velicia sekarang sedang sakit karena dipaksakan meminum obat herbal agar dia bisa hamil?" tanya dokter laki-laki tersebut dengan menghela nafas kesalnya.


Dokter perempuan itu membelalakkan matanya. Dia memang tidak menyangka jika Velicia akan menjadi korban keegoisan suaminya.


"Huffft… karena itulah aku menolak ketika kamu meminta bantuanku. Karena aku sudah gagal membujuk Pak Ferdi untuk melakukan operasi kembali agar mereka bisa mempunyai keturunan. Aku kasihan pada Bu Velicia. Dan aku tidak tahu harus melakukan apa. Jika aku mengatakan pada Bu Velicia, itu artinya aku mencampuri kehidupan rumah tangga mereka," ucap dokter perempuan tersebut sambil menghela nafasnya.


Cukup, cukup sudah. Aku gak mau dengar lagi. Ini sangat menyakitkan buatku. Tuhan… tolong kuatkan aku… Bantu aku agar bisa melewati cobaanmu ini.

__ADS_1


Velicia merintih dalam hatinya sambil mengusap kasar setiap air mata yang menetes di pipinya.


__ADS_2